Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Mozaik 35

Probabilitas

TIBA-TIBA, pertandingan menjadi aneh. Beberapa pecatur yang kuat, kalah secara mudah. Aziz Tarmizi sang pembuat tahu misalnya, dikalahkan secara mengenaskan—sehingga akhirnya gugur—oleh Maksum juru taksir. Padahal di atas kertas, Aziz jauh lebih bagus dari Maksum.

Kejanggalan kian kentara. Ini pasti akibat gelas keempat Jumadi dan Mitoha tempo hari. Kubu kami mencium gelagat yang tak beres, namun sulit menarik benang merah persekongkolan sebab jumlah peserta masih sangat banyak. Seorang yang cerdas diperlukan untuk mengurai soal ini, dan aku tahu siapa orang itu. Kutemui ia di dermaga.

“Apa kabarmu, Lintang?”

Ia menyalamiku. Genggaman tangannya kuat, sama seperti ia menyalamiku di hari pertama kami masuk ke SD Laskar Pelangi dulu. Ia menatapku. Secepat apa engkau berlari, Kawan? Begitulah makna tatapannya, masih sama seperti dulu.

Kuterangkan situasi yang kami hadapi. Inilah momentum yang selalu kurindukan, yaitu saat ia tercenung memikirkan suatu soal. Kecerdasannya tergambar di dalam soal matanya, serupa permadani yang hijau. Si genius yang rendah hati itu berkata.

“Aku coba membuat hitungan kecil-kecilan, ya. Tapi, berhasilnya hitunganku tergantung dari lengkapnya data.”

Lalu Detektif M. Nur sibuk mengumpulkan data pecatur yang tersisa dan kemungkinan kalah dan menang di antara mereka. Data itu kuserahkan pada Lintang. Pertemuan berikutnya, Lintang membuat kami terkejut.

“Sebenarnya Mitoha sedang menggiring Maryamah menuju Patriot Trikora.”

Na! siapa pula itu Patriot Trikora? Di daftar peserta, Patriot Trikora—yang dinamai aneh begitu oleh bapaknya demi mengenang peristiwa Trikora—berada di nomor urut pendaftaran 7, sedangkan Maryamah di nomor ur ut 75, begitu jauh jaraknya, bagaimana
Lintang bisa sampai pada kesimpulan seperti itu?

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.