Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

baru kelas enam SD. Ilham gemar pelajaran bahasa Inggris seperti dirinya. Enong selalu senang berada di dekatnya, senang dengan cara yang tak mampu ia jelaskan.

Semula aku hanya mengenal Matarom dari reputasinya—sebagai seorang pecatur yang tangguh dan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan. Tak pernah kulihat macam apa rupanya. Namun, dengarlah namanya itu: Matarom. Bukankah menimbulkan perasaan segan?
Reputasi Matarom merupakan kombinasi ketenaran dan kesemena-menaannya memanfaatkan nama besar untuk melestarikan hobinya sebagai lelaki hidung belang. Ia bergabung dengan klub catur legendaris Di Timoer Matahari yang dipimpin Mitoha.
Sudah dua kali berturut-turut Matarom meraup piala catur kejuaraan 17 Agustus. Sekarang ia bersiap-siap menggondol piala untuk ketiga kalinya. Jika itu terjadi, ia akan meraih piala abadi. Kepala kampung bisa kalah pamor darinya.
Karena lelaki Melayu gemar berlama-lama di warung kopi, dan yang mereka lakukan di sana selain minum kopi dan menjelek-jelekkan pemerintah adalah catur, maka kejuaraan catur 17 Agustus amat digemari dan tinggi gengsinya di kampung kami, tak kalah dari sepak bola. Kejuaraan itu memberi kehormatan pada juaranya sekaligus hadiah yang besar, yaitu piala setinggi anak berusia 11 tahun, selembar piagam yang ditandatangani Pak Camat, kipas angin, bola voli, setengah lusin pinggan, perlengkapan salat, radio transistor 2 band, batu baterai, dan bibit kelapa hibrida.
Matarom sangat kondang karena Rezim Matarom, begitu golongan pecatur warung kopi menamai teknik serangan catur ciptaannya sendiri yang kejam tiada ampun. Konon ia menciptakannya dengan meniru taktik perang tentara Nazi lightning attack atau serangan halilintar. Nazi menerkam Polandia secara sangat tiba-tiba waktu negeri itu belum bangun tidur.
Selain itu, ia kondang karena papan catur peraknya yang melegenda, yang telah menjadi perlambang kehebatannya. Papan catur dan buah-buahnya terbuat dari perak. Ia pesan khusus dari seorang empu pengrajin perak di Melidang. Papan catur perak itu adalah medan tempurnya dan ia tak pernah kalah di medan tempurnya sendiri. Bentuk kudanya benar-benar seperti kuda. Raja bermahkota megah. Menteri dibuat berbentuk manusia yang gagah bak jenderal Dinasti Tang. Luncus seperti sepasang bidadari dari kayangan. Pion-pion disepuh serupa prajurit terakota.
Orang-orang Melayu yang tak pernah mengenyam pendidikan percaya bahwa ilmu hitam telah mengambil bagian dalam urusan papan catur perak itu. Konon Matarom takkan pernah bisa dikalahkan jika berlaga dengan papan catur perak itu dan memegang buah hitam.
Desas-desusnya, sang empu dari Melidang telah meniupkan sukma raja berekor, yakni raja

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.