Baca Novel Online

Catatan Hati Seorang Istri – Asma Nadia

Lalu datanglah anugerah bagi sang istri. Lembaga tempat dia bekerja paruh waktu, menawarkan program training ke luar negeri. Awalnya sang istri ragu, sebab dia khawatir meninggalkan anak-anak selama beberapa pekan. Tetapi lelaki yang dicintainya memberikan support dan mendorongnya untuk pergi, “Ini pengalaman bagus buat Mama,” kata lelaki itu.

Dan ketika dia ingin membantah, lelaki itu menggelengkan kepalanya, “Perempuan lain ingin mendapatkan pengalaman berharga seperti ini. Mama harus pergi. Gak apa. Ada mbak yang menjaga anak-anak.”

Dengan setengah hati perempuan berwajah manis itu meninggalkan keluarganya. Masa-masa berjauhan dilaluinya dengan rindu yang menyiksa, dan perasan berat karena selalu terbayang anak-anak.

Naluri keibuannya rupanya tidak bisa dibohongi.

Meskipun sang suami selalu berkata semua baik-ba ik saja, perempuan itu merasakan ada sesuatu yang terjadi. Dan perasaannya benar.

Anak ketiga mereka dirawat di rumah sakit karena demam berdarah! Suami yang takut membuatnya panik, baru menjelaskan ketika istrinya pulang ke tanah air.

“Maafkan Papa, takut Mama bingung.”

Perempuan itu menangis. Syukurlah kondisi putri mereka membaik. Tapi ada hal lain yang terjadi. Hal yang tak pernah diduganya, hal yang membuat jantungnya luruh.

Suaminya jatuh cinta.

Perempuan itu sungguh tak percaya, ketika mendengarkan ibu mertuanya menangis tersedu-se du menjelaskan apa yang terjadi.

Dunia bahagia yang selama ini dibangunnya seakan runtuh. Apalagi ketika mengetahu gadis cantik yang membuat suaminya jatuh hati, adalah baby sitter yang mereka sewa.

Kami hanya berpegangan tangan. Tak lebih. Elak suaminya.

Tapi hati perempuan itu telanjur hancur. Hara pan-harapan yang dibangunnya seakan menguap.

Suaminya berpaling. Lelaki yang telah membuatnya merasa seperti seorang putri, jatuh cinta lagi.

Allah… apa maksudMu dengan ini semua? Batin sang istri yang terkoyak.

Dengan hati hempas, dia memanggil baby sitter mereka.

Baru kali ini si perempuan memandang le kat-lekat gadis berusia sembilan belas tahun itu.

Meskipun dari desa, wajahnya memang cantik dan ayu.

Kulitnya bersih, rambutnya yang panjang tampak begitu mengilat. Dulu dia tak mengira kalau kecantikan lugu itu akan

memorak-morandakan rumah tangga mereka.

Perempuan itu duduk berhadapan dengan baby sitter yang tertunduk salah tingkah.

“Sudah sejauh apa?’

Baby sitter itu mengelak. Tak mau berbicara lebih jauh.

“Apakah kamu menyukai Bapak?”

Baby sitter itu diam. Ragu. Lalu kepalanya pelan menggeleng.

“Saya tak keberatan jika Bapak menyukaimu, dan kamu menyukai Bapak,”

Saya kaget. Saya berada di sana, menemani perempuan yang telah lama menjadi sahabat saya. Tetap saja kalimat terakhirnya mengejutkan.

Si baby sitter cantik menggeleng. Lagi-lagi salah tingkah.

Saat itu suami si perempuan sedang berada di kantor, sehingga mereka leluasa berbicara. Tidak jauh dari mereka, mertua sahabat saya tampak menangis sesenggukan.

Sebaliknya wajah sahabat saya tampak sangat tegar.

Ketegaran itu baru runtuh ketika kami hanya berdua.

Sahabat saya menangis. Betul-betul menangis.

“Saya sedih,” bisiknya, “salahkah?”

Saya menggeleng. Kesedihan adalah teman manusia.

Tak apa.

“Ibu tadi cerita, bahkan ketika Andin sakit, papanya memilih menemani perempuan itu berobat, meski hanya flu biasa, dan meninggalkan Andin diperiksa hanya ditemani ibu.”

Ah, lelaki. Begitu mudahkah larut dalam pesona?

Saya kehilangan kata-kata. Percuma mengibur, apalagi berlagak mengerti perasaannya. Saya tak ingin berbasa-basi yang tidak perlu.

Kehidupan berlanjut. Suami perempuan itu mengakui kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulangi. Lelaki itu memohon-mohon agar sang istri mau memaafkannya.

“Bisakah?” tanya saya suatu hari. Ketika itu tahun-tahun sudah berlalu begitu banyak.

“Saya tidak tahu,” jawab sahabat saya.

Selalu dan selalu, matanya yang cerah meredup setiap teringat kisah itu. Barangkali memang ada beberapa luka yang tak bisa sembuh, bahkan oleh waktu.

Enam bulan setelah kejadian itu, sahabat saya bercerita perasaannya setiap kali suaminya mendekati.

“Saya merasa jijik,” ujarnya dengan wajah bersalah.

“Tak apa, semua perlu waktu. Lagi pula yang terjadi tidak sejauh itu. Jangan menyiksa pikiran,”

“Tapi siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi?”

Saya diam. Perempuan manis itu benar. Hanya suaminya dan si baby sitter yang tahu segala. Mereka terkadang pergi ke luar rumah berdua. Dulu terasa biasa saja, toh mereka hanya ke warung, atau apotik. Entahlah.

Ketika saya meminta izin menuliskan cerita ini, sahabat saya mengiyakan, meski dia masih belum lagi sembuh dari kesedihan. Memang tidak ada perceraian. Sang suami tampak bersungguh-sungguh menjaga keutuhan keluarga mereka. Apalagi ada anak-anak diantara keduanya.

“Dia bapak yang baik!” papar sahabat saya suatu hari.

Kehidupan memang terus berjalan. Satu peristiwa, satu hati yang berdarah. Satu hati yang belum juga sembuh.

“Kami masih tidak bisa bersama,” jelasnya. Saya mengerti. Peristiwa itu seolah membekukan semua kehangatan dan keceriaannya sebagai seorang istri. Sang suami tak memaksa. Menjalani saja kehidupan apa adanya.

Anak-anak lebih penting.

Entah sampai kapan mereka bisa bertahan, saya tidak tahu. Tak juga mau menduga-duga.

Saya senang akhirnya sahabat saya bisa mendapatkan kepercayaan diri yang sempat hancur ketika menyadari sosok perempuan yang telah merebut hati suaminya, tak hanya lebih cantik tapi juga jauh lebih muda. Perlahan dia mencoba melupakan yang terjadi. Padahal dunia sempat terasa berhenti baginya.

“Sampai saya sadar, Asma. Di luar sana, banyak pengalaman yang jauh lebih buruk, menimpa istri-is tri lain.

Apa yang terjadi pada saya, barangkali tak seujung kuku yang dialami perempuan-perempuan lain.”

Hubungan normal layaknya suami istri memang sudah patah, akan sulit merekatkannya kembali. Tapi saya mengagumi semangatnya mempertahankan pernikahan, dan tetap menjalaninya penuh syukur. Perempuan itu bahkan pasrah jika karena ketidak- mampuannya sekarang, dikarenakan ulah sang suami, mungkin justru mengakibatkan sang suami menikah di belakangnya.

“Dulu hal itu perkara besar buat saya, tapi sekarang…

sahabat saya itu tertawa.

Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan padanya.

Apakah dia bahagia? Apakah suaminya bahagia? Kenapa tidak bercerai dan sama-sama memulai yang baru Sebagian orang mungkin akan berpikir begitu. Hidup terlalu singkat untuk larut dalam ketidakbahagiaan.

Betapapun saya menghormati komitmen keduanya. Juga perkataannya yang akan selalu saya ingat,

“Ada hati-hati kecil yang harus dijaga, Asma. Setiap mengingat mereka, maka luka-luka lain menjadi kalah penting. Kebahagiaan saya sempat runtuh, tapi kebahagiaan ketiga anak saya, tidak. Dan saya harus bisa menjaganya.

Sekuat saya.”

–o0o–

Catatan 6

Suami Yang Membuatku Disini

“Akhirnya saya malah kerja di sini, mbak. Tempat yang dulu sering dikunjungi laki saya…”

Kamar sempit dengan penerangan yang minim.

Tempat tidur kecil memanjang adalah satu-satu nya benda yang ada di ruangan itu. Di atasnya tampak hamparan sprei berwarna putih yang sudah kusam dan tampak kotor dengan noda di mana-ma na. Saya menahan perasaan ketika mengambil posisi duduk di atasnya,agar berhadap-hadapan dengan seorang perempuan yang usianya barangkali sebaya saya.

Categories:   Roman

Comments

  • Posted: August 2, 2016 06:37

    Buku Penerbitan

    bagus novelnya
  • Posted: January 12, 2017 05:37

    Cerita silat

    Catatan hati seoarang isteri. Lebih banyak seperti diary. Ya namanya aja catatan.. Tapi sungguh menakjubkan isinya banyak mengandung pelajaran bagi laki laki maupun perempuan
  • Posted: August 1, 2017 04:17

    celina melia ariesta

    sangat menyukai karya karya mba asma nadia.
  • Posted: September 9, 2017 03:57

    roni ilhamdi

    Assalamualikum mbak penulis. mungkin tulisan saya tidak lah serapi yang lain menulis. tapi sebelumnya saya perkenalkan diri saya. mudah2 ini bermanfaat untuk saya atau yang lain yang mengalami ini. saya RONI ILHAMDI umur 30 tahun. saya menikah diusia 24 tahun. sekarang alhamdulillah sudah memiliki 2 orang putra. yang sulung 4 tahun dan bungsu 1 tahun. banyak luku2 dan perbedaan bahkan pertrngkaran yang terjadi. kalo dijabarkan sangatlah panjang. akhir2 ini dengan begitu panyak cobaan. pikiran saya terusik. bahkan logika dan perasaan ini bekerjasama memberontak akan niat saya untuk mempertahankan pernikahan ini. jujur, kepercayaan saya terhadap istri saya sudah sirna. berkali2 sudah saya coba untuk memberi kesempatan dan peluang. bahkan sekuat kemampuan, saya sudah membimbingnya. dari cerita2 yang penulis sampaikan. saya berfikir (maaf. ini bukanlah keyakinan saya, akan tetapi pemikiran logika saya menganaliasa). kenapa wanita beranggapan semua pemikirannya dan keluh kesahnya merupakan hal yang benar. bukankah kalau kita melihat masalah dari segala arah akan menghasilkan kesimpulan yang lebih baik? bukankah akan lebih baik bisa di bicarakan dengan terbuka pada pasangan kita untuk mengambil sebuah keputusan dan arah rumah tangga mereka. munkin ini gambaran saya terhadap istri saya. kalo diajak bicara malah tidak totalitas. bila di minta pendapat sama.cuma bicara ala kadarnya. tapi bila pemikirannya sudah tidak samggup menampung, maka meluap dalam kemarahannya yang.......... bila saya melihat dari tingkah laku istri saya sudah mulai berubah, berarti saya harus mempersiapkan diri dengan guncangan gempa dari letusan gunung. saya sudah berusaha berkominikasi agar luapan itu tidak terjadi, alhasil sama. ndakmau bicara totalitas. alakadarnya. tapi sampaikapan saya bisa menerima guncangan2 dari ledakan itu. saya berfiki, walaupun salah. saya merasa wajar melihat seseorang laki2 memperlakukan istrinya seperti cerita2 yang mbak sampaikan. pemikiran wanita2 yang mengalami hal2 tersebut sangatlah banyak saya temukan. apa haruskah kita berpikir kalaulah semua ini takdir atau semacamnya? bukankah kita diberi kesempatan untuk memperbaikinya? banyak hal yang ingin saya sampaikan. tapi kepala saya sudah mulai pusing.mobil yang saya tumpangi sudah melitkan kegersikannya mendaki bukit barisan sumatera. bacaanku akan kisah2 mbak terundur. tapi saya mungin ndak sabar ingin memberi pendapat dan pemikiran saya. semangat........

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.