Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Cahaya menerangi mereka semua.

“Apa ini?” ujar sebuah suara dingin wanita.

“Kami di sini untuk bertemu Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut!” teriak Greyback parau.

“Siapa kau?”

“Kau kenal aku!” terdengar kejengkelan dalam suara mausia serigalanya. “Fenrir Greyback! Kami menangkap Harry Potter!”

Greyback menangkap Harry dan menyeretnya agar menghadap cahaya, memaksa tahanan lain ikut terseret juga.

“Aku ta’u dia bengkak, Ma’am, tapi ini dia!” teriak Scabior. “Kalau Anda melihat lebih dekat, Anda bisa lihat bekas lukanya. Dan ini, lihat perempuan ini? Darah Lumpur yang diketahui bepergian dengan Harry Potter, Ma’am. Tidak ragu lagi, ini dia, dan kita dapat tongkatnya juga! Ini, Ma’am –”

Melalui kelopak matanya yang bengkak Harry melihat Narcissa Malfoy meneliti dengan cermat. Scabior menyodorkan tongkat blackthorn padanya. Dia menaikkan alisnya.

“Bawa mereka masuk,” katanya.

Harry dan yang lain didorong dan ditendang menaiki tangga batu lebar memasuki aula yang dindingnya penuh lukisan.

“Ikuti aku,”kata Narcissa, memimpin jalan melewati aula. “Anakku, Draco, ada di rumah untuk liburan Paskah. Kalau itu Harry Potter, dia akan tahu.”

Ruang tamu terlihat menyilaukan setelah kegelapan di luar; bahkan dengan matanya yang hampir tertutup Harry bisa melihat ruangan dengan cukup jelas. Sebuah tempat lilin dari kristal tergantung di langit-langit, dan lebih banyak lagi lukisan tergantung di dinding berwarna ungu gelap. Dua sosok bangkit dari kursi di depan perapian marmer penuh hiasan dan ornamen saat para tahanan didorong ke ruangan oleh para Penjambret.

“Apa ini?”

Sebuah suara yang sangat dikenal Harry, suara Lucius Malfoy yang terdengar dipanjangpanjangkan terdengar di telinga Harry. Dia panik sekarang. Dia bisa melihat tak ada jalan keluar, dan lebih mudah, saat ketakutannya meluap, untuk menutup pikiran Voldemort, meski bekas lukanya masih terasa terbakar.

“Mereka bilang mereka mendapat Potter,” ujar suara dingin Narcissa. “Draco, kemari.”

Harry tidak berani menatap langsung Draco, tapi melihatnya sekilas; sosok langsing yang lebih tinggi dari sebelumnya, bangun dari kursi berlengan, wajahnya pucat dan tersamarkan dibawah rambut pirang keperakannya.

Greyback mendorong para tahanan untuk berbalik lagi agar Harry berada tepat dibawah tempat lilin.

“Well, nak?” kata si manusia serigala parau.

Harry menghadap ke sebuah cermin di seberang perapian, benda berkilau besar dengan bingkai berbelit rumit. Melalui celah di matanya dia melihat bayangan dirinya sendiri untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Grimmauld Place.

Wajahnya besar, bersinar, dan kemerahan, setiap bagiannya berubah garagara mantera Hermione. Rambut hitamnya mencapai bahu dan ada bayangan gelap di bawah rahangnya. Kalau saja dia tidak tahu siapa yang berdiri di sana, dia akan heran siapa yang memakai kacamatanya. Dia memutuskan untuk tidak berbicara, dia yakin suaranya akan dikenali; meski dia masih menghindari kontak mata dengan Draco saat dia tiba.

“Well, Draco?” kata Lucius Malfoy. Dia terdengar sangat tertarik. “Apa itu dia? Apa itu Harry Potter?”

“Aku tidak –Aku tidak yakin,” kata Draco. Dia menjaga jarak dengan Greyback dan terlihat sama takutnya seperti Harry takut melihatnya.

“Tapi lihat baik-baik, lihat! Ayo mendekat!”

Harry tidak pernah mendengar Lucius setertarik ini.

“Draco, kalau kita orang yang menyerahkan Harry Potter pada Pangeran Kegelapan, semua akan dimaaf—”

“Sekarang, kita tak akan lupa siapa yang sebenarnya menangkap dia, Mr. Malfoy?” kata Greyback mengancam.

“Tentu tidak, tentu tidak!” kata Lucius tidak sabar. Dia mendekati Harry, sangat dekat sehingga Harry bisa melihat wajah bertampang lesu, pucat dengan detail yang tajam meski melalui matanya yang bengkak. Dengan wajah bengkaknya yang seperti topeng, Harry merasa seperti dia mengintip lewat jeruji sel.

“Apa yang kau lakukan padanya?” Lucius bertanya pada Greyback. “Bagaimana dia bisa jadi begitu?”

“Bukan kami.”

“Kelihatannya seperti Kutukan Sengat bagiku,” kata Lucius.

Mata abu-abunya menusuri kening Harry.

“Ada sesuatu di sana,” bisiknya. “Bisa jadi bekas luka, tertarik ketat… Draco, kemari, lihat baik-baik! Bagaimana menurutmu?”

Harry melihat wajah Draco terangkat dekat sekarang, tepat disamping ayahnya. Mereka benar-benar mirip, kecuali sementara ayahnya memandang Harry dengan ketertarikan, ekspresi Draco terlihat sangat enggan, bahkan seperti takut.

“Aku tidak tahu,” katanya, dan dia berjalan menjauh menuju perapian dimana Ibunya berdiri memperhatikan.

“Sebaiknya kita yakin, Lucius,” Narcissa memanggil suaminya dalam suaranya yang dingin dan jelas. “Benar-benar yakin bahwa itu Potter, sebelum kita memanggil Pangeran Kegelapan… Mereka bilang ini miliknya” –dia meneliti tongkat blackthorn itu– “tapi ini tidak menyerupai deskripsi Ollivander…Kalau kita salah, kalau kita memanggil Pangeran Kegelapan kesini tidak untuk apapun… Ingat apa yang dia lakukan pada Rowle dan Dolohov?”

“Bagaimana dengan Darah Lumpurnya, kalau begitu?” geram Greyback. Harry hampir terlempar saat para Penjambret mendorong para tahanan lagi, sehingga cahaya menerangi Hermione sekarang.

“Tunggu,” kata Narcissa tajam. “Ya – ya, dia ada di Madam Malkin’s dengan Potter! Aku melihat fotonya di Prophet! Lihat, Draco, bukankah ini si Granger itu?”

“Aku…mungkin…yeah.”

“Dan lagi, itu si Weasley!” teriak Lucius, meluncur mengelilingi tahanan yang diikat untuk menghadap Ron. “Itu mereka, teman-teman Potter –Draco, lihat dia, bukankah itu anak Arthur Weasley, siapa namanya –?”

“Yeah,” ujar Draco lagi, punggungnya menghadap para tahanan. “Bisa jadi.”

Pintu ruang tamu terbuka di belakang Harry. Seorang wanita berkata, dan suaranya menaikkan rasa takut Harry.

“Apa ini? Apa yang terjadi, Cissy?”

Bellatrix Lestrange berjalan perlahan di sekitar para tahanan, dan berhenti di sebelah kanan Harry, menatap Hermione melalui matanya yang berpelupuk tebal.

“Tapi tentu saja,” katanya pelan, “Ini cewek Darah Lumpur itu? Ini Grander?”

“Ya, ya, ini Granger!” jerit Lucius, “Dan disampingnya, kami kira, Potter! Potter dan teman-temannya, akhirnya tertangkap!”

“Potter?” Bellatrix tertawa terbahak-bahak, dan dia mundur, agar bisa melihat Harry lebih jelas.

“Apa kau yakin? Kalau begitu, Pangeran Kegelapan harus diberi tahu segera!”

Dia menarik lengan baju kirinya: Harry melihat Tanda Kegelapan dibakarkan di lengannya, dan tahu dia akan menyentuhnya, untuk memanggil Master yang dipujanya

“Aku baru saja mau memanggil dia!” kata Lucius, dan tangannya langsung mendekati pergelangan tangan Bellatrix, mencegah dia menyentuh Tanda Kegelapan-nya. “Aku akan memanggilnya, Bella. Potter sudah dibawa ke rumahku, dan dia disini dibawah kekuasaanku –” “Kekuasaanmu!” dia menyeringai, dalam usahanya merenggut tangannya dari genggaman Lucius. “Kau kehilangan kekuasaanmu saat kau kehilangan tongkatmu, Lucius! Beraninya kau! Lepaskan tanganmu!”

“Tak ada urusannya denganmu, kau tidak menangkap anak itu –”

“Mohon maaf, Mr. Malfoy,” sela Greyback. “Tapi kami yang menangkap Potter, dan kami yang akan mengklaim emasnya –”

“Emas!” Bellatrix tertawa, masih berusaha melepaskan diri dari saudara iparnya, tangannya yang bebas meraba-raba sakunya mencari tongkatnya. “Ambil emasmu, pemakan bangkai kotor, apa urusanku dengan emas? Aku hanya mencari penghormatan darinya – untuk –”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.