Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Minggir—dari—dia!” Ron berteriak. Terdengar suara yang tidak diragukan lagi adalah suara buku-buku jari menghantam daging: Ron menggerung kesakitan dan Hermione berteriak, “Jangan! Tinggalkan dia sendiri, tinggalkan dia sendiri!”

“Pacarmu akan jadi lebih buruk dari ini kalau dia ada di daftarku,” kata sebuah suara parau mengerikan yang terdengar familiar. “Gadis yang lezat… traktiran bagus… Aku akan menikmati kelembutan kulitnya…”

Perut Harry jungkir balik. Dia tahu siapa ini, Fenrir Greyback, manusia serigala yang diizinkan memakai jubah Pelahap Maut sebagai bayaran atas keikutsertaannya.

“Cari ke seluruh tenda!” ujar suara yang lain.

Harry dilempar ke tanah dengan muka lebih dulu. Suara gedebuk memberitahunya bahwa Ron telah dilumpuhkan di sebelahnya. Mereka bisa mendengar suara langkah kaki dan suara benda bertabrakan; orang-orang itu menyingkirkan kursi-kursi di dalam tenda saat mereka mencari.

“Sekarang, mari kita lihat siapa yang kita dapat,” kata suata tamak Grayback dari atas kepala mereka, dan Harry diputar punggungnya. Sorotan sinar dari tongkat menyinari wajahnya dan Greyback tertawa.

“Aku bakal perlu butterbeer untuk mencuci ini. Apa yang terjadi padamu, jelek?”

Harry tidak segera menjawabnya.

“Kubilang,” ulang Greyback, dan Harry menerima pukulan di perutnya yang membuat rasa sakitnya berlipat ganda. “Apa yang terjadi padamu?”

“Disengat,” Harry bergumam. “Tadi tersengat.”

“Yeah, sepertinya sih,” kata suara kedua.

“Siapa namamu?” gertak Greyback.

“Dudley,” jawab Harry.

“Dan nama depanmu?”

“Aku—Vernon. Vernon Dudley.”

“Cek daftarnya, Scabior,” kata Greyback, dan Harry mendengar dia malahan bergerak ke samping melihat Ron.

“Dan kau, jahe?”

“Stan Shunpike,” kata Ron.

“Jangan bohong,” kata pria yang dipanggil Scabior. “Kami tahu Stan Shunpike, dia bergabung dengan kami.”

Terdengar suara pukulan lagi. “Aku Bardy,” jawab Ron, dan Harry bisa bilang mulutnya penuh dengan darah.

“Bardy Weasley.”

“Seorang Weasley?” teriak Greyback kasar.

“Jadi kau berhubungan dengan darah pengkhianat meski kau bukan Darah-Lumpur. Dan terakhir, temanmu yang cantik…” nafsu makan dalam suaranya membuat Harry merinding.

“Tenang, Greyback,” kata Scabior ditimpali ejekan yang lain.”Oh, aku tak akan mengigitnya dulu. Kita lihat apakah dia lebih cepat mengingat namanya daripada Barny. Siapa namamu, cewek?”

“Penelope Clearwater,” jawab Hermione. Suaranya terdengar ketakutan, tetapi meyakinkan. “Apa status darahmu?”

“Darah-campuran,” kata Hermione. “Cukup mudah untuk dicek,” kata Scabior. “Tapi mereka semua kelihatannya masih dalam usia ‘ogwarts—”

“Kami keluar,” kata Ron. “Keluar, kau bilang, jahe?” kata Scabior. “Dan kalian memutuskan untuk kemping? Dan kau pikir, ‘anya untuk tertawaan, kau mengucapkan nama Pangeran Kegelapan?”

“Bugan derdawaan,” kata Ron. “Gecelagaan.””Kecelakaan?” lebih banya ejekan lain yang terdengar.”Kau tahu, siapa yang sering mengucapkan nama Pangeran Kegelapan, Weasley?” geram

Greyback, “Orde Phoenix. Apa itu berarti sesuatu buatmu?” “Didak.” “Mereka tidak menunjukkan penghormatan yang seharusnya pada Pangeran Kegelapan, jadi namanya dilarang. Beberapa anggota Orde dilacak dengan cara begitu. Kita lihat nanti. Ikat mereka dengan dua tawanan lain!” Seseorang merenggut rambut Harry, menyeretnya sebentar, mendorongnya ke posisi duduk, kemudian mulai mengikatnya dengan punggung berhadap-hadapan dengan tawanan lain. Harry masih setengah buta, hanya bisa melihat sedikit melalui matanya yang bengkak. Saat akhirnya orang yang mengikat mereka menjauh, Harry berbisik pada tawanan lainnya.

“Ada yang masih punya tongkat?” “Tidak,” jawab Ron dan Hermione dari kedua sisinya. “Ini semua salahku. Aku mengucapkan namanya. Maaf—” “Harry?” Terdengar suara baru, tetapi familiar, dan sumbernya dari tepat di belakang Harry, dari orang yang diikat di sisi kiri Hermione. “Dean?” “Itu kau! Kalau mereka tahu siapa yang mereka dapat -! Mereka penjambret, mereka hanya mencari pembolos untuk dijual demi emas –” “Tidak buruk untuk malam ini,” terdengar Greyback berkata, bersamaan dengan suara boot berpaku yang terdengar berjalan di dekat Harry dan mereka mendengar lebih banyak suara benturan dari dalam tenda. “Seorang Darah-Lumpur, Goblin pelarian, dan para pembolos ini. Sudah kau cek nama mereka di daftar, Scabior?” raungnya.”Yeah, tak ada Vernon Dudley di sini, Greyback.””Menarik,” kata Greyback. “Itu menarik.”Dia menunduk di sebelah Harry, yang melihat, meski melalui celah kecil yang tertinggal di atara kelopak matanya yang bengkak, wajah yang ditutupi rambut dan kumis abu-abu gelap, dengan gigi runcing kecoklatan dan luka di sudut mulutnya. Greyback berbau seperti waktu di menara saat Dumbledore meninggal: bau lumpur, keringat dan darah.

“Jadi kau tidak diinginkan, kalau begitu, Vernon? Atau kau ada di daftar dalam nama yang berbeda? Kau di asrama mana di Hogwarts?”

“Slytherin,” jawab Harry otomatis.

“Lucu bagaimana mereka semua berpikir kita ingin mendengar itu,” ejek Scabior dari balik baying-bayang. “Tapi tak ada satupun dari mereka yang bisa memberitahu kami dimana ruang rekreasinya.”

“Ruang rekreasinya di bawah tanah,” kata Harry jelas. “Kau masuk melalui dinding. Dindingnya penuh tengkorak dan benda lain dan terletak di bawah danau, jadi cahayanya hijau semua.” Hening sejenak.

“Well, well, sepertinya kita benar-benar menangkap Slytherin kecil,” kata Scabior. “Bagus untukmu, Vernon, karena tak banyak Slytherin berdarah Lumpur. Siapa Ayahmu?”

“Dia bekerja di Kementrian,” Harry berbohong. Dia tahu bahwa seluruh ceritanya akan runtuh dengan penyelidikan terkecil, tapi di sisi lain, dia hanya punya kesempatan sampai wajahnya pulih kembali sebelum permainan selesai karena alasan apapun. “Departemen Bencana dan Kecelakaan Sihir.”

“Kau tahu, Greyback,” ujar Scabior. “Kurasa ada Dudley di sana.”

Harry hampir tak bisa bernapas: Bisakah keberuntungan, keberuntungan tipis, membebaskan kereka dari situasi ini?

“Well, well,” kata Greyback, dan Harry bisa mendengar setitik keraguan di suaranya yang tanpa belas kasihan, dan tahu kalau Greyback sedang penasaran apakah dia baru saja menyerang dan menawan anak Pegawai Kementrian. Jantung Harry berdetak kencang dibalik tali yang melingkari dadanya; dia tak akan terkejut kalau Greyback bisa melihatnya. “Kalau kau memberitahukan yang sebenarnya, jelek, kau tak perlu takut kalau kita pergi ke Kementrian. Kuharap ayahmu akan memberi hadiah karena kami menjemputmu.”

“Tapi,” kata Harry, mulutnya kering, “kalau kau membiarkan kami—”

“Hei!” Terdengar seruan dari dalam tenda. “Lihat ini, Greyback!”

Sesosok gelap datang tergesa-gesa ke arah mereka, dan Harry melihat kilatan cahaya perak dari cahaya tongkat mereka. Kereka telah menemukan pedang Gryffindor.”Sa-a-ngat bagus,” ujar Greyback senang, mengambil pedang itu dari rekannya. “Oh, benar-benar bagus. Buatan-goblin, sepertinya, ini. Dari mana kau dapat benda seperti ini?”

“Itu punya Ayahku,” Harry berbohong, berharap pada harapan bahwa sekarang terlalu gelap bagi Greyback untuk melihat nama yang dipahat tepat di bawah pangkalnya. “Kami meminjamnya untuk memotong kayu bakar –” “Tunggu sebentar, Greyback! Lihat ini, di Prophet!” Saat Scabior berbicara, bekas luka Harry, yang tertarik kencang sepanjang dahinya yang bengkak, terbakar hebat. Lebih jelas daripada yang bisa dia lihat di sekelilingnya, dia melihat sebuah bangunan yang menjulang tinggi, sebuah benteng suram, berwarna hitam pekat dan terlarang: pikiran Voldemort tiba-tiba menjadi setajam pisau cukur lagi; dia meluncur menuju bangunan raksasa itu dengan perasaan tenang tapi bertujuan…Sangat dekat… sangat dekat…

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.