Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Kau takkan pernah tahu,” ucap Ron tertahan, “di bagian atas Flagley terdapat sebuah desa penyihir, dia mungkin pernah menginginkan untuk tinggal disana. Ayo kita kesana dan berkeliling”

Seringnya mendatangi wilayah-wilayah sihir membuat mereka dilirik sesekali oleh para Perampas.

“Beberapa diantara mereka sepertinya seburuk Pelahap Maut,” ucap Ron, “kebanyakan yang menangkapku sedikit menyedihkan, tapi Bill meyakinkanku beberapa diantara mereka benar-benar berbahaya. Mereka mengatakannya di Potterwatch…”

“Di apa?” tanya Harry

“Potterwatch, bukankah sudah kubilang kalau itu namanya? Program yang selalu aku cari di radio, yang memberikan informasi yang benar tentang apa yang terjadi! Hampir semua program mendukung Kau-Tahu-Siapa, semua kecuali Potterwatch, aku benar-benar ingin mendengarnya, tapi agak sulit untuk melacaknya…”

Ron menghabiskan sore demi sore menggunakan tongkatnya untuk untuk menghentikan melodi yang keluar dari atas radio saat tombolnya dia putar. Kadang-kadang mereka menangkap siaran yang menerangkan saran bagaimana memperlakukan ramuan Naga, dan sesekali beberapa baris “Sekuali Penuh Cinta Panas dan Pekat” saat dia mencari, Ron terus mencoba menemukan kata sandi yang benar, membisikan kata-kata secara acak dalam nafasnya .

“Mereka biasanya ada hubungannya dengan Orde,” dia memberitahu mereka. “Bill dapat dengan tepat menebak mereka. Aku yakin akan menemukannya pada akhirnya…”

Tapi tak sampai Maret akhirnya keberuntungan menghampiri Ron. Saat itu Harry sedang duduk di pintu masuk tenda, dalam tugasnya berjaga, memandang dengan malas seonggok buah yang mirip anggur yang hampir mendekati dinginnya tanah, dan Ron pun berteriak dengan kegirangan dari dalam tenda.

“Aku menemukannya, Kata sandinya ‘Albus’! Masuklah Harry!”

Untuk pertama kalinya dia bangkit setelah seharian menyendiri mendalami Deathly Hallows, Harry buru-buru masuk kedalam tenda dan menemui Ron dan Hermione yang berlutut di lantai dekat sebuah radio kecil. Hermione, yang baru saja membersihkan pedang Gryffindor karena tak ada kerjaan, duduk ternganga, memandang speaker kecil, dimana sebuah suara yang tak asing berbicara.

“…Maafkan kami yang harus sementara absen di udara, karena di wilayah kita sibuk menghadapi para Pelahap Maut yang menawan.”

“Tapi itu kan Lee Jordan!” ucap Hermione.

“Aku tahu,” jawab Ron. “Keren kan?”

“…kini kita kita telah menemukan tempat lain yang aman,” kemudian Lee melanjutkan, “dan dengan bangga aku beritahukan pada anda kalau dua kontributor kita telah bergabung denganku sore ini, Selamat sore, Kawan!”

”Hai.”

“Selamat sore, River.”

“’River’,” “itu Lee,” terang Ron. “Mereka mempunyai nama samaran, tapi kau biasanya dapat membe…”

“Ssst,” potong Hermione.

“Tapi sebelum kita mendengarkan Royal dan Romulus,” Lee melanjutkan, “mari kita dengar laporan siapa saja yang telah meninggal yang oleh Wizarding Wireless Network News dan Daily Prophet dirasa tidak terlalu penting untuk disebutkan. Dengan sangat menyesal kita sampaikan kepada para pendengar mengenai meninggalnya Ted Tonks dan Dirk Cresswell.”

Harry terkejut dan merasakan perutnya seperti dililit. Dia, Ron dan Hermione saling memandang dengan ngeri.

“Goblin dengan nama Gornuk juga telah terbunuh. Kelahiran-Muggle Dean Thomas dan goblin kedua, yang dipercaya telah bepergian dengan Tonks, Creswell dan Gornuk, mungkin masih selamat. Bila Dean mendengarkan, atau bila anda mengetahui dimana posisinya, orang tua dan saudara perempuannya sangat mengharapkan berita darinya.

“Sementara itu, di Gaddley, satu keluarga Muggle yang terdiri atas lima orang ditemukan mati dalam rumahnya. pihak muggle mencurigai adanya kebocoran gas, tapi para anggota Orde Phoenix menginformasikan bahwa itu adalah Mantra Pembunuh– bukti tambahan, bila dibutuhkan, tentang kenyataan bahwa pembantaian muggle tidak lebih telah dijadikan sebagai olahraga penghibur dibawah rezim baru.”

“Terakhir, dengan sangat menyesal kami beritakan pada para pendengar bahwa sisa-sisa tubuh dari Bathilda Bagshot telah ditemukan di Godric Hallow. Bukti menunjukkan bahwa dia telah mati beberapa bulan lalu. Dan informasi dari Orde Phoenix mengungkapkan bahwa ditubuhnya terdapat luka-luka yang diakibatkan oleh sihir hitam.”

“Para pendengar, kami ingin mengajak anda semua untuk bersama-sama kami dalam satu menit mengheningkan cipta untuk mereka: Ted Tonks, Dick Creswell, Bathilda Bagshot, Gornuk dan yang tak dapat disebut, juga simpati yang sama bagi para Muggle yang dibunuh oleh Pelahap Maut.”

Kesunyian pun datang, Harry, Ron dan Hermione pun terdiam. Separuh dari diri Harry sangat ingin mendengar lebih banyak, tapi separuhnya lagi sangat takut dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Ini adalah pertama kalinya dia merasa sepenuhnya terhubung dengan dunia luar setelah sekian lama.

“Terimakasih,” ucap Lee, “dan kini kita bisa kembali ke kontributor kita Royal, untuk berita terbaru mengenai bagaimana pengaruh tatanan dunia sihir baru terhadap dunia Muggle”

“Terimakasih River,” terdengar suara yang jelas, dalam, teratur, mengayomi.

“Kingsley!” ucap Ron semangat.

“Kami Tahu,” ucap Hermione mendiamkannya.

“Para Muggle masih belum mengetahui sebab penderitaan yang membuat mereka terusmenerus menjadi korban,” ucap Kingsley, “bagaimanapun juga, kita masih terus mendengar cerita-cerita yang penuh inspirasi tentang penyihir yang mau mengorbankan keselamatan dirinya demi melindungi teman-teman dan tetangga Muggle, tanpa sepengetahuan Muggle tersebut. Aku ingin mengajak kepada semua pendengar untuk mencontoh mereka, mungkin dengan memberikan mantra pelindung di sekitar tempat tinggal Muggle di daerah anda. Banyak nyawa yang bisa diselamatkan bila hal-hal sederhana biarpun kecil, bisa kita lakukan”.

“Dan apa yang ingin kau sampaikan, Royal, kepada para pendengar yang berpendapat bahwa di saat-saat berbahaya ini, seharusnya ‘penyihir duluan’ menjadi prioritas?” tanya Lee.

“Menurutku ini hanya langkah pendek dari ‘Penyihir duluan’ ke ‘Darah Murni duluan’ dan kemudian menjadi ‘Pelahap Maut’” jawab kingsley, “kita semua manusia kan? Setiap kehidupan punya hak sama, dan berhak untuk diselamatkan”.

“Jawaban yang sempurna, Royal, dan kau mendapatkan suaraku untuk menjadi Menteri Sihir bila nanti kita berhasil keluar dari kemelut ini,” ucap Lee lagi, “dan kini, kita beralih ke Romulus yang kita ketahui sebagai ‘Teman Dekat Potter’.”

“Terimakasih River, sahut suara lain yang juga tak asing. Ron mulai berbicara lagi, tapi Hermione mencegahnya dengan bisikan.

“Kita tahu itu Lupin.”

“Romulus, apakah kau tetap berkeras, dalam setiap kehadiranmu di program kami kau selalu yakin kalau Harry Potter masih hidup?”

“Ya,” ucap Lupin tegas, “tiada keraguan sedikitpun, menurut saya kematiannya akan disebarkan seluas mungkin oleh Pelahap Maut, bila itu terjadi, karena hal ini dapat mejatuhkan moral orang-orang yang menentang rezim baru. ‘Anak yang Bertahan Hidup’ adalah sebuah simbol dari semua perlawanan kami: kemenangan bagi kebaikan, kekuatan bagi yang tak bersalah, pentingnya untuk tetap melawan.”

Campuran dari ucapan terimakasih dan malu berseteru dalam diri Harry, apakah Lupin telah memaafkannya atas semua kekasaran kata-katanya saat terakhir dia bertemu dengannya?

“Dan apakah yang ingin anda katakan pada Harry siapa tahu dia sedang mendengarkan, Romulus?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.