Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

menyelamatkan Harry dari gedung yang terbakar. “Kita berangkat tidak?” teriak paman Vernon yang sudah muncul lagi di ruang tamu. “Aku kira kita punya sedang diburu waktu!”

“Ya, ya, tentu saja,” kata Dedalus Diggle yang sedang terkagum-kagum melihat apa yang terjadi. Tapi ia memaksakan diri, “Kami harus berangkat, Harry…”

Dedalus melangkah maju dan menjabat tangan Harry dengan kedua tangannya. “… semoga beruntung. Semoga kita berjumpa lagi. Nasib dunia sihir berada di pundakmu.”

“Oh,” kata Harry “iya. Terima kasih.”

“Hati-hati Harry,” kata Hestia, yang juga menjabat tangannya. “Kami selalu bersamamu.” “Semoga semuanya akan baik-baik saja,” kata Harry sambil memandang ke

arah Bibi Petunia dan Dudley.

“Oh, aku yakin kami akan baik-baik saja,” kata Diggle riang, melambaikan topinya saat meninggalkan ruangan. Hestia mengikutinya. Perlahan Dudley melepaskan diri dari pelukan ibunya dan berjalan mendekati

Harry, lalu menyodorkan tangannya yang besar. “Ya ampun, Dudley,” kata Harry, “apakah Dementor mengubah kepribadianmu?” “Entahlah,” kata Dudley. “Sampai jumpa, Harry.” “Yah…” kata Harry, yang kemudian menyambut tangan Dudley dan

menjabatnya. “Mungkin. Hati-hati, Big D.” Dudley tersenyum tipis, lalu berlalu meninggalkan ruangan. Harry dapat

mendengar langkah beratnya menuju mobil, dan terdengar suara pintu ditutup. Bibi Petunia yang menutupi wajahnya dengan saputangan, tidak menyangka

hanya ia yang tertinggal sendiri bersama Harry. Ia langsung memasukkan saputangannya yang basah ke dalam tas dan berkata, “Baiklah, sampai jumpa,” dan ia berjalan keluar tanpa mau melihat Harry.

“Sampai jumpa,” kata Harry.

Ia berhenti dan menoleh. Untuk beberapa saat Harry merasakan perasaan teraneh saat melihat bibinya menatap dirinya, wajah bibinya tampak aneh dan gemetar, dan tampaknya ia akan mengatakan sesuatu, tapi ia menggelengkan kepalanya dan segera meninggalkan ruangan mengikuti suami dan anaknya.

 

Bab 4 TUJUH ORANG POTTER

Harry berlari kembali ke kamarnya, melihat mobil keluarga Dursley melalui jendela kamarnya. Ia dapat melihat ujung topi Dedalus di antara kepala bibi Petunia dan Dudley di kursi belakang. Mobil itu berbelok ke kanan di ujung jalan Privet Drive, jendelanya memantulkan cahaya kemerahan dari matahari yang mulai terbenam, lalu mobil itu tak tampak lagi.

Harry mengambil sangkar Hedwig, Firebolt, dan ranselnya. Untuk terakhir kali ia melihat kamarnya yang, tidak seperti biasanya, terlihat rapi dan kembali ke ruang tamu dengan rasa enggan. Lalu ia meletakkan sangkar, sapu, dan tasnya di ujung tangga. Cahaya matahari di luar mulai menghilang membuat ruang tamu dipenuhi engan bayangan di bawah terangnya malam. Rasanya aneh berdiri di sana dalam diam dan tahu bahwa ia akan meninggalkan rumah itu untuk selamanya. Dulu, ia sangat menikmati saat ditinggal keluarga Dursley sendirian di rumah, suatu hal yang jarang terjadi. Mengenang saat mengambil sesuatu yang enak di kulkas dan menikmatinya sambil memainkan komputer Dudley, atau menonton televisi dan mengubah saluran sesuka hati. Hal ini membuatnya merasakan suatu hal yang aneh saat ia mengingat saatsaat itu, seperti mengenang saudara yang sudah tiada.

“Tidak inginkah kau melihat tempat ini untuk terakhir kalinya?” tanya Harry pada Hedwig, yang masih menyembunyikan kepalanya di bawah sayap. “Kita tak akan pernah kembali ke sini lagi. Apakah kau tak ingin mengenang masa lalu? Maksudku, lihatlah keset itu. Dudley muntah di sana sesaat setelah aku menyelamatkannya dari Dementor, dan dia berterima kasih padaku, percayakah kau? Dan, musim panas lalu, Dumbledore datang kemari…”

Namun Harry tidak dapat mengingat kelanjutannya dan Hedwig tidak membantunya, ia tetap diam dengan kepala di bawah sayap. Harry berjalan di lorong.

“Dan di bawah sini, Hedwig,” Harry membuka pintu ruang bawah tangga, “dulu aku tidur di sini! Kau belum bertemu denganku saat itu… Ya Tuhan, kecil sekali, aku tak ingat…”

Harry melihat setumpuk sepatu dan payung di sana, mengingat bagaimana dulu ia terbangun di pagi hari dan langsung melihat bagian dalam dari tangga, yang biasanya dihiasi oleh sarang laba-laba. Hari-hari di saat sebelum ia tahu siapa dirinya sebenarnya, sebelum ia benar-benar tahu bagaimana orang tuanya meninggal, atau sebelum ia mengerti mengapa banyak kejadian aneh terjadi di sekitarnya. Namun Harry masih bisa mengingat jelas mimpi yang selalu menghantuinya, bahkan hingga saat ini. Mimpi yang membingungkan tentang kilatan cahaya berwarna hijau, dan mimpi – yang membuat paman Vernon hampir menabrakkan mobilnya saat Harry bercerita – tentang sepeda motor terbang…

Tiba-tiba terdengar deru suara yang memekakkan telinga. Harry langsung mengangkat kepalanya dan membuatnya terantuk kusen pintu yang rendah. Ia menahan suara saat ia hampir memakai sumpah serapah yang biasa paman Vernon katakan. Ia berjalan sempoyongan ke arah dapur. Sambil memegangi kepalanya ia melihat melalui jendela ke arah halaman belakang.

Kegelapan sepertinya dapat bersuara, bahkan udara pun bergetar. Lalu, satu persatu sosok muncul. Terlihat Hagrid dengan helm dan kacamatanya, ia duduk di atas sepeda motor yang sangat besar, di sebelahnya tampak gandengan motor hitam berkilat. Diikuti oleh orang-orang yang turun dari sapu mereka, juga dua ekor kuda tengkorak berwarna hitam. Harry membuka pintu belakang dan bergegas mendatangi mereka. Terdengar isakan Hermione yang langsung mengalungkan tangannya pada Harry, dan Ron menepuk punggungnya, dan Hagrid berkata, “Smua baik, Harry? Siap tuk brangkat?”

“Tentu saja,” kata Harry, sambil melihat semua orang yang ada di sana. “Tapi aku tidak tahu akan begitu banyak orang yang akan datang!”

“Perubahan rencana,” geram Mad-Eye, yang sedang memegangi dua buah kantung yang sangat besar, dan mata sihirnya berputar sangat cepat saat melihat langit gelap, rumah, lalu kebun. “Ayo masuk supaya aku bisa menjelaskannya padamu.”

Harry mengajak mereka masuk ke dapur di mana mereka langsung mengobrol dan bercanda, duduk di kursi atau di atas meja masak bibi Petunia yang berkilau atau bersandar di lemari yang tanpa noda. Ron yang tinggi kurus. Hermione dengan rambut panjang dan tebalnya yang dijalin rapi. Fred dan George yang sama-sama nyengir. Bill dengan luka parut dan rambut panjangnya. Tuan Weasley yang botak dengan wajahnya yang ramah dan kacamatanya yang agak miring. Mad-Eye yang siap tempur dengan satu kaki dan mata sihir biru cerahnya yang tak berhenti berdesing. Tonks dengan rambut pendek berwarna merah muda. Lupin yang tampak lebih tua dan lebih kurus. Fleur yang cantik dan ramping dengan rambut panjangnya yang berwarna pirang keperakan. Kingsley yang hitam, botak, dan berbahu bidang. Hagrid dengan rambut dan janggutnya yang awut-awutan, berdiri membungkuk agar kepalanya tidak menyentuh langitlangit. Dan, Mundungus Fletcher yang kecil dan dekil, dengan matanya yang mengantuk dan rambutnya yang lepek. Jantung Harry berdetak kencang, ia merasa sangat senang saat melihat mereka semua. Bahkan Mundungus, yang ingin ia cekik saat terakhir kali bertemu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.