Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

bluebell masih bersinar di mangkuk di lantai. Hermione masih tertidur lelap, meringkuk di bawah selimut dan tidak bergerak sampai Harry berulang kali menyebut namanya.“Hermione.”Ia bergerak, lalu secepat kilat duduk, merapikan rambut di wajahnya.“Ada apa? Harry? Kau tak apa-apa?””Semua baik-baik saja. Lebih dari baik. Hebat malah. Ada seseorang di sini.”

”Apa yang kau maksud? Siapa—”

Ia melihat Ron, yang berdiri memegang pedang, air menetes di karpet usang. Harry mundur ke sudut, menurunkan ransel Ron dan berusaha membuat dirinya nyaman di dalam tenda.

Hermione meluncur turun dari tempat tidurnya dan bergerak seperti orang yang berjalan dalam tidur menuju Ron, matanya menuju pada wajah pucat Ron. Ia berhenti tepat di depan Ron, bibirnya sudah membuka, matanya melebar. Senyum Ron lemah, berharap,

dan tangannya sudah terangkat. Hermione langsung maju dan memukuli setiap inci tubuh Ron yang mungkin ia raih. “Ouch—ow—gerroff*! Apa—? Hermione—ow!” Kau—benar-benar—menyebalkan—Ronald—Weasley!” Ia menandai tiap kata dengan pukulan. Ron mundur, melindungi kepalanya saat

Hermione maju.

”Kau—merangkak—kembali—ke sini—setelah—berminggu-minggu—oh, mana tongkatku?” Hermione terlihat maju untuk merebut tongkatnya dari tangan Harry, dan Harry bertindak

naluriah. “Protego!” Pelindung kasat mata muncul di antara Ron dan Hermione; kekuatannya membuat

Hermione terpantul mundur hingga ke lantai. Sambil mengeluarkan rambut yang masuk ke mulutnya, Hermione maju lagi.

”Hermione,” sahut Harry, ”Tenang—” ”Aku tidak akan tenang!” ia berteriak. Harry belum pernah melihatnya kehilangan kendali seperti ini, seperti orang yang kesurupan.

”Kembalikan tongkatku! Kembalikan!” ”Hermione, tolong—” ”Jangan katakan padaku apa yang seharusnya kulakukan, Harry Potter!” Hermione

melengking, ”Jangan berani-berani! Kembalikan sekarang! Dan KAU!”

Ia menunjuk Ron, menuduh dengan mengerikan; suaranya seperti laki-laki, dan Harry tidak bisa menyalahkan Ron karena mundur beberapa langkah.”Aku mengejarmu! Aku memanggilmu! Aku memohon agar kau kembali!””Aku tahu,” sahut Ron, ”Hermione, aku menyesal. Aku sungguh—””Oh, kau menyesal!”Hermione tertawa, nada suaranya tinggi, tidak terkendali. Ron melihat Harry minta tolong, tapi Harry cuma nyengir tak berdaya.

“Kau kembali setelah berminggu-minggu—berminggu-minggu—dan kau pikir semua akan beres hanya dengan kata-kata maaf darimu?”

“Apa lagi yang bisa kukatakan?” teriak Ron, dan Harry senang melihat Ron membalas.

”Oh, aku tak tahu!” pekik Hermione dengan kasar. “Gunakan otakmu, Ron, itu hanya perlu waktu beberapa detik—”

”Hermione,” sela Harry, ”dia baru saja menyelamatkan—”

”Aku tak peduli,” teriak Hermione, ”aku tak peduli apa yang ia perbuat! Bermingguminggu, kita bisa saja mati saat itu—”

”Aku tahu kalian tidak mati!” teriak Ron, menenggelamkan suara Hermione untuk pertama kalinya, mendekat sebisanya dengan adanya Mantra Pelindung di antara mereka. ”Harry selalu ada di Prophet, di radio, mereka mencarimu di manamana, semua kabar burung dan cerita gila, aku tahu aku akan dengar langsung kalau kau mati, kau tak tahu seperti apa—”

”Memangnya seperti apa menurutmu?”

Suara Hermione sekarang sangat melengking sampai-sampai mungkin hanya kelelawar yang bisa mendengarnya, tapi dia sudah mencapai batas kemarahan sehingga untuk sementara tak bisa bicara apa-apa, Ron memanfaatkan kesempatan itu.

”Aku sudah akan kembali pada saat aku ber-Disapparate, tapi aku bersinggungan dengan segerombolan Penjambret, Snatchers, Hermione, sehingga tidak bisa ke mana-mana.”

”Segerombolan apa?” tanya Harry, dan Hermione melempar diri ke kursi dengan tangan dan kaki terlipat sangat rapat seperti tidak akan dibuka bertahuntahun.

”Penjambret, Snatchers,” sahut Ron, ”Mereka ada di mana-mana, gerombolan yang mencari emas dengan menyerahkan Muggle-Born atau Darah Pengkhianat, ada hadiah dari Kementrian bila berhasil menangkap mereka. Aku sendirian, terlihat usia anak sekolah, mereka kegirangan mengira aku Muggle-Born yang sedang sembunyi. Aku harus bergerak cepat atau diseret ke Kementrian.”

”Apa yang kau bilang pada mereka?”

”Aku mengaku sebagai Stan Shunpike. Orang pertama yang kuingat.”

”Dan mereka percaya?”

”Mereka tidak terlalu pintar. Aku bahkan sangat yakin kalau salah satu dari mereka merupakan setengah-Troll, Dari baunya…”

Ron melirik Hermione, sangat berharap kalau-kalau Hermione melunak dengan adanya lelucon itu, tetapi ekspresi Hermione tetap terlihat mengerikan.

”Mereka kemudian meributkan apakah aku Stan atau bukan. Sangat menyedihkan memang, tapi jujur saja, mereka berlima sedangkan aku sendiri, mereka merebut tongkatku. Lalu dua di antara mereka berkelahi, dan saat perhatian teralih, aku memukul salah seorang dari mereka yang memegangiku, merebut tongkatnya, Melucuti yang memegang tongkatku, dan ber-Disapparate. Aku tidak melakukannya dengan baik, Splinch lagi—” Ron mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan dua kukunya yang hilang; Hermione mengangkat alisnya dingin, ”—dan aku muncul bermil-mil jauhnya dari tempat asal. Saat aku kembali ke tepian sungai itu … kalian sudah pergi.”

”Cerita yang mengesankan,” sahut Hermione, dengan suara angkuh yang dipakainya kalau dia bermaksud melukai perasaan seseorang, ”Kau pasti sangat ketakutan. Sementara itu kami pergi ke Godric’s Hollow, dan sebentar, apa yang terjadi, Harry? Oh ya, ularnya Kau-Tahu-Siapa muncul, hampir membunuh kami berdua, Kau-Tahu-Siapa sendiri muncul dan nyaris menangkap kami, tapi luput hanya dalam hitungan detik.”

”Apa?” sahut Ron, melongo pada Hermione, lalu pada Harry, tapi

Hermione mengacuhkannya. ”Bayangkan, kehilangan kuku, Harry! Penderitaan kita tidak bisa dibandingkan dengannya, kan?”

”Hermione,” sahut Harry pelan, ”Ron baru saja menyelamatkanku.” Namun kelihatannya Hermione tidak mendengarkan. ”Satu hal yang ingin kuketahui,” sahut Hermione memusatkan mata pada satu

kaki di atas kepala Ron, ”Bagaimana bisa kau menemukan kami malam ini? Ini penting. Kalau kita tahu penyebabnya, kita bisa memastikan agar kita tidak lagi dikunjungi oleh orang yang tidak kita inginkan.”

Ron memandangi Hermione, menarik benda kecil perak dari saku jeansnya. ”Ini.” Hermione terpaksa memandang Ron agar bisa melihat apa yang ditunjukkannya. ”Deluminator?” ia bertanya, sangat terkejut sehingga lupa bersikap dingin dan

kejam. ”Benda itu bukan hanya untuk mematikan dan menyalakan lampu saja,” sahut Ron, ”aku tidak tahu bagaimana cara kerjanya, atau mengapa berfungsi pada saat itu sedang pada saat lain tidak, karena aku sudah ingin kembali dari saat

aku pergi. Tapi aku sedang mendengarkan radio Natal pagi sekali, dan aku dengar … aku dengar kau.” Ron memandang Hermione. ”Kau mendengarkan aku di radio?” Hermione meragukan. ”Tidak. Aku mendengar suaramu keluar dari saku. Suaramu,” ia mengangkat Deluminator itu lagi, ”keluar dari sini.”

”Dan aku mengatakan apa?” tanya Hermione, suaranya setengah tak percaya setengah ingin tahu. ”Namaku. ’Ron’. Dan kau mengatakan … sesuatu tentang tongkat …” Wajah Hermione merah padam. Harry teringat: itu saat nama Ron pertama kali disebut oleh mereka berdua sejak Ron pergi; Hermione menyebut namanya saat mereka membicarakan tentang memperbaiki tongkat Harry.

”Jadi aku mengambilnya,” Ron meneruskan, memandang Deluminator itu, ” dan benda itu tidak nampak berbeda, atau jadi apa ’gitu, tapi aku yakin aku mendengarnya. Jadi aku menekannya. Dan ada cahaya keluar di kamarku, tapi ada cahaya lain muncul tepat di luar jendela.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.