Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Mendengar namanya disebut, Ron seperti mendapat dorongan. Ia menelan ludah, menarik napas panjang lewat hidungnya yang juga panjang, ia mendekati batu

”Beritahu aku saatnya,” sahut Ron parau. ”Pada hitungan ketiga,” sahut Harry, memandang kembali liontin itu, menyipitkan matanya, berkonsentrasi pada huruf S, membayangkan seekor ular, sementara isi liontin itu bergemeletuk seperti kecoa terperangkap. Akan sangat mudah untuk mengasihaninya, kalau saja leher Harry tak hangus karena cekikannya tadi.

”Satu … dua … tiga … buka.”

Kata terakhir keluar sebagai desisan dan geraman, jendela keemasan liontin

keemasan itu terbuka lebar dengan suara klik. Di kedua jendela kaca masing-masing ada mata yang hidup, gelap dan tampan seperti

mata Tom Riddle sebelum mata itu berubah merah dan pupilnya terbelah. ”Tebas Sekarang,” sahut Harry, memegangi liontin dengan kuat di atas batu. Ron mengangkat pedang dengan tangan gemetar, ujungnya yang tajam memantulkan

bayangan mata tersebut, dan Harry mencengkeram liontin itu kuat-kuat, menyiapkan diri dan sudah membayangkan darah tertumpah dari jendela kaca yang kosong. Tapi kemudian sebuah suara mendesis keluar dari Horcrux itu. ”Aku sudah melihat isi hatimu, dan itu milikku.”

”Jangan dengarkan!” kata Harry, keras, ”Sabet dia!” “Aku telah melihat mimpi-mimpimu, Ronald Weasley, dan aku sudah melihat ketakutanmu. Semua yang kau inginkan bisa terkabul, tapi rasa takutmu juga bisa terkabul…”

”Sabet!” teriak Harry, suaranya bergaung di pepohonan sekeliling, mata pedang bergetar, dan Ron memandang pada mata Riddle.

“Paling tidak dicintai, oleh ibu yang menginginkan anak perempuan … paling tidak dicintai oleh gadis yang lebih memilih temanmu … selalu nomer dua, selalu berada dibawah bayang-bayang …”

“Ron, sabet sekarang!” Harry berteriak; ia dapat merasakan liontin itu bergetar dalam genggamannya, dan ia takut pada apa yang akan muncul dari dalamnya. Ron masih mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dan saat ia melakukan itu, mata Riddle berkilat merah.

Dari dua sisi liontin yang terbuka, dari kedua mata, muncul dua gelembung aneh, kepala Harry dan kepala Hermione, wajah mereka tak keruan.

Ron berteriak terkejut dan mundur saat sosok-sosok itu muncul dari liontin,

mulanya dada, pinggang, kaki, sampai sosok-sosok itu berdiri di atas liontin, berdampingan seperti pohon dengan akar yang sama, bergoyang melampaui Ron, dan Harry yang asli sudah melepas jemarinya dari liontin, sekarang memutih karena panasnya.

”Ron!” Harry berteriak, tapi Riddle-Harry sekarang berbicara dengan suara Voldemort, dan Ron menatap, terpesona pada wajahnya.

“Kenapa kembali? Kami lebih baik tanpamu, lebih bahagia tanpamu, senang akan ketidakhadiranmu … kami menertawakan kebodohanmu, kepengecutanmu, kesombonganmu—“

“Kesombongan,” suara menggema dari Riddle-Hermione, jauh lebih cantik tapi lebih mengerikan dari Hermione asli; ia bergoyang, berbicara dekat Ron, yang terlihat ngeri dan terpaku, pedang terjuntai di sampingnya. “Siapa yang mau melihatmu,siapa yang akan memperhatikanmu, di samping Harry Potter? Apa yang sudah pernah kamu lakukan, dibanding dengan Yang Terpilih? Siapa kau, dibandingkan dengan Anak Yang Bertahan Hidup?”

“Ron, sabet dia, SABET DIA!” Harry berteriak, tapi Ron tidak bergerak, matanya melebar, Riddle-Harry dan Riddle-Hermione tercermin dari matanya, rambut mereka berseliweran seperti nyala api, mata mereka memerah, suara mereka bersatu dalam duet yang keji.

“Ibumu mengakui,” seringai Riddle-Harry sementara Riddle-Hermione mencemooh, “Ibumu lebih suka memilihku sebagai anaknya daripada kau, akan sangat gembira dengan pertukaran itu …”

“Siapa yang akan memilihmu? Wanita mana yang akan memilihmu? Kau sama sekali tak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia,” suara Riddle-Hermione merayu, dan dia melilit seperti ular, merapat pada Riddle-Harry, memeluknya erat dan bibir mereka bersatu.

Di depan mereka, wajah Ron penuh amarah, ia mengangkat pedangnya tinggitinggi, tangannya gemetar.

”Lakukan, Ron!” Harry berteriak.

Ron memandang Harry, matanya meninggalkan jejak memerah.

”Ron—”

Pedang itu berkelebat, terlempar; Harry melempar dirinya, suara logam berbenturan dan jeritan panjang mengerikan. Harry berputar, terpeleset di salju, bersiaga dengan tongkat untuk membela diri, tapi tak ada apapun. Versi yang dahsyat dari dirinya dan Hermione sudah tak ada; hanya Ron, berdiri dengan pedang terpegang kendur, melihat pada bekas-bekas liontin di atas batu.

Perlahan Harry berjalan mendekatinya, tak tahu harus berkata apa atau harus berbuat bagaimana. Ron bernafas dengan berat, matanya tidak lagi berwarna merah sama sekali, tapi mata biru normalnya terlihat basah.

Harry berhenti, bersikap seolah-olah Ia tidak ada, dan mengambil Horcrux yang rusak tersebut. Ron telah menghancurkan kaca tersebut: mata Riddle telah hilang, dan noda di liontin tersebut mengeluarkan asap tipis. Sesuatu yang hidup dalam Horcrux itu sudah lenyap; menyiksa Ron adalah hal yang terakhir dilakukannya.

Pedang berkelontang saat Ron menjatuhkannya. Ron jatuh berlutut, tangannya di kepala. Ia gemetar, tetapi Harry sadar, bukan karena kedinginan. Harry menjejalkan liontin rusak itu ke dalam sakunya, berlutut di samping Ron, menempatkan sebelah tangan hati-hati di bahu Ron. Ron tidak menepisnya.

”Setelah kau pergi,” Harry berkata dalam suara rendah, bersyukur bahwa wajah Ron tersembunyi, ”Hermione menangis terus selama seminggu. Mungkin lebih, hanya dia tak ingin aku tahu. Malam-malam di mana kami sama sekali tak berbicara. Karena kepergianmu …”

Harry tak dapat menyelesaikannya. Ron sudah ada di sini lagi, Harry menyadari bahwa ketidakhadirannya berakibat banyak bagi mereka.

”Dia sudah seperti saudara,” Harry meneruskan, ”Aku menyayanginya seperti saudara dan kuperhitungkan perasaannya sama padaku. Selalu begitu. Kukira kau juga tahu.”

Ron tidak menjawab tapi memalingkan muka dari Harry, dan membersit hidungnya dengan lengan baju. Harry berdiri dan menuju tempat ransel Ron tergeletak, beberapa yard jauhnya, terlempar saat Ron berlari ke kolam untuk menyelamatkan Harry agar tidak tenggelam. Harry mengangkatnya di pundak dan kembali pada Ron. Ron berusaha bangkit saat Harry mendekat, matanya merah karena lelah tetapi sekarang sudah kembali tenang.

“Maafkan aku,” suaranya parau, “Aku menyesal sudah pergi. Aku tahu aku—aku— ”

Ron melihat sekeliling di kegelapan, berharap muncul kata yang cukup mengerikan akan menyambarnya. ”Kau sudah membayarnya malam ini,” sahut Harry, ”Mendapatkan pedang.

Menghancurkan Horcrux. Menyelamatkan hidupku.” “Itu membuatku terdengar lebih ‘cool’ dari biasanya,” Ron berkomat-kamit. ”Hal-hal seperti itu kedengarannya selalu lebih keren dari kenyataan,” sahut Harry, ”Aku

sudah mencoba untuk mengatakannya padamu selama bertahun-tahun ini.”

Secara bersamaan mereka mendekat dan saling merangkul. Harry mencengkeram punggung jaket Ron yang masih basah. “Dan sekarang,” sahut Harry ketika mereka sudah melepaskan rangkulan, “yang harus

kita lakukan adalah menemukan tenda.” Tapi itu tidak susah. Walau perjalanan menembus hutan yang gelap bersama rusa betina nampak jauh, tapi dengan Ron di sisinya, perjalanan kembali secara mengejutkan, hanya

sebentar. Harry tidak bisa menunggu untuk membangunkan Hermione, dengan rasa gembira ia memasuki tenda, Ron melambat di belakangnya. Rasanya hangat setelah suasana di kolam, di hutan, penerangan di tenda hanya cahaya

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.