Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Salju berderak di bawah kaki Harry, tapi rusa itu tidak menimbulkan bunyi saat melewati pepohonan, itu karena ia tak lebih dari cahaya. Semakin jauh rusa itu menuntun Harry kedalam hutan semakin cepat pula Harry berjalan, percaya kalau rusa itu berhenti, rusa itu akan mengijinkannya untuk mendekatinya. Lalu rusa itu akan berbicara, mengatakan apa yang perlu Harry ketahui.

Akhirnya rusa itu berhenti. Ia menolehkan kepalanya yang cantik pada Harry sekali lagi, Harry berlari, sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya, tapi saat Harry membuka mulut untuk bertanya, rusa itu lenyap.

Walau kegelapan telah menelan rusa betina itu, bayang-bayang cahayanya masih jelas tercetak di selaput mata Harry, pandangannya kabur, namun menjadi terang saat ia merendahkan kelopak matanya, penglihatannya menjadi sedikit kacau. Saat ini ketakutan muncul, kehadiran rusa betina tadi menjanjikan keselamatan.

”Lumos!” ia berbisik, dan ujung tongkatnya menyala.

Jejak bayang rusa betina itu manjadi samar-samar dan menghilang sejalan dengan tiap kedipan matanya, saat Harry berdiri di sana, mencoba mendengarkan suara hutan, gemeretak ranting di kejauhan, desir salju yang terdengar lembut. Apakah ia akan diserang? Apakah rusa betina itu membawanya menuju perangkap? Ataukah hanya bayangannya saja, bahwa di luar jangkauan cahaya tongkat ada seseorang yang sedang mengawasinya?

Harry mengangkat tongkat lebih tinggi. Tak seorangpun menyerangnya, tak ada percikan cahaya hijau dari balik pepohonan. Kalau begitu, mengapa rusa betina itu menuntunnya ke tempat ini?

Sesuatu terlihat berkilauan di bawah cahaya tongkat. Harry berputar, yang dia lihat adalah sebuah kolam kecil, beku, permukaannya retak dan gelap berkilat saat Harry mengangkat tongkat lebih tinggi untuk memeriksanya.

Ia maju mendekat, lebih waspada, dan melihat ke bawah. Es memantulkan bayangan yang tak sempurna dari Harry dan kilauan cahaya tongkatnya, tapi jauh di kedalaman lapisan kerang yang tebal berwarna kelabu ada sesuatu yang lain. Berkilat, seperti salib perak yang besar…

Jantungnya berdetak kencang. Harry berlutut di sisi kolam, mengarahkan tongkatnya untuk menerangi kolam itu. Kilau merah tua … sebuah pedang dengan batu rubi di pangkalnya … pedang Gryffindor tergeletak di dasar kolam hutan itu.

Nyaris tak bernapas, Harry mengamatinya. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin pedang itu bisa tergeletak di kolam hutan, sedekat ini ke tempat mereka berkemah? Apakah ada sihir tertentu yang menarik Hermione ke tempat ini, apakah rusa betina, yang ia anggap sebagai Patronus, adalah semacam penjaga kolam ini? Atau apakah pedang itu diletakkan di kolam setelah mereka tiba, tepatnya karena mereka berada di sini? Apapun alasannya, di manakah orang yang berniat memberikannya pada Harry? Harry mengarahkan lagi tongkatnya ke pepohonan dan semak-semak, mencari sosok manusia, kilatan mata, namun ia tak dapat menemukan seorangpun. Semuanya terlihat sama, sedikit rasa takut bercampur dengan rasa girangnya saat ia kembali menaruh perhatiannya pada pedang yang tergeletak di dasar kolam beku.

Harry mengacungkan tongkat pada benda keperakan itu dan bergumam, ”Accio pedang.”

Pedang itu tak bergeming. Seperti yang sudah diduganya. Kalau memang semudah itu, pedang itu pasti sudah tergeletak di tanah menunggu untuk dipungut, bukan di kedalaman kolam yang beku. Harry berjalan mengelilingi es, berpikir keras mengenai saat terakhir pedang itu menyerahkan diri pada Harry. Harry saat itu berada dalam bahaya mengerikan, dan memerlukan pertolongan.

”Tolong,” gumam Harry, tapi pedang itu tetap berada di dasar kolam, tak tergoyahkan, tak bergerak.

Apa maksudnya, Harry bertanya pada dirinya sendiri (sambil berjalan lagi) , yang dikatakan Dumbledore padanya saat terakhir kalinya ia memperoleh pedang itu? Hanya seorang Gryffindor sejati yang dapat menarik pedang itu keluar dari Topi. Dan apa kualitas yang menggambarkan seorang Gryffindor

sejati? Sebuah suara kecil di kepala Harry menjawabnya: keberanian, keteguhan hati, & sikap ksatria adalah hal yang membedakan seorang Gryffindor dari yang lain.

Harry berhenti berjalan, menghembuskan nafas panjang, uap napasnya buyar dengan cepat di udara beku. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Jujur saja, pikiran ini yang muncul pertama kali saat melihat pedang itu di bawah es.

Ia mengamati berkeliling lagi, tapi ia yakin sekarang bahwa tidak akan ada yang menyerangnya. Mereka punya kesempatan menyerang saat ia berjalan sendiri di hutan, mereka punya banyak kesempatan saat ia memeriksa kolam. Satu-satunya alasan untuk menunda hanyalah karena kesempatannya sama sekali tidak tepat.

Dengan tangan gemetar Harry melepas bajunya yang berlapis-lapis. Saat ini adalah saat untuk menunjukkan sifat ‘kekesatriaan’, dan dengan menyesal ia pikirkan, walaupun tidak terlalu yakin, bahwa ’kekesatriaan’ disini adalah termasuk tidak memanggil Hermione untuk menggantikannya.

Seekor burung hantu entah di mana ber-uhu pelan saat Harry melepas pakaiannya, membuatnya kembali memikirkan Hedwig dengan hati pedih. Dia gemetar kedinginan sekarang, giginya gemeletuk, dan dia terus melepaskan pakaiannya hingga tinggal pakaian dalamnya, kaki telanjang di tengah salju. Ia meletakkan kantong berisi tongkatnya yang patah, surat ibunya, pecahan cermin Sirius, dan Snitch tua di atas pakaiannya, lalu mengarahkan tongkat Hermione pada es.

“Diffindo.”

Es itu berderak dengan suara seperti peluru memecah keheningan; permukaan kolam retak dan potongan es gelap mengguncang air hingga beriak. Dugaan Harry, kolam itu tidak dalam, tapi untuk memperoleh pedang itu, ia harus menyelam.

Memikirkannya lama-lama tidak akan membuat hal tersebut makin mudah atau membuat air menjadi hangat. Harry melangkah ke tepi kolam, meletakkan tongkat Hermione di atas tanah, masih menyala. Lalu tanpa mencoba membayangkan rasa dingin seperti apa yang akan Ia hadapi nanti atau seperti apa dia akan gemetar, dia melompat.

Tiap lobang pori-pori tubuhnya menjerit protes; udara di paru-parunya padat membeku saat ia terbenam sampai bahu di dalam air beku. Sulit sekali bernapas; gemetar begitu hebatnya hingga air menepuk-nepuk tepi kolam, ia merasa seperti ada mata pisau di kakinya yang kebas. Ia hanya ingin menyelam sekali.

Harry menunda saat menyelam dari detik ke detik, terengah-engah dan gemetar, hingga ia mengatakan pada diri sendiri bahwa ini harus dilakukan, mengumpulkan keberanian, dan menyelam.

Rasa dingin itu seperti siksaan; menyerang Harry seperti api. Otaknya serasa membeku saat ia menembus air yang gelap hingga ke dasar, meraba-raba dan menjangkau pedang. Jemarinya menggenggam pedang; ia menariknya.

Kemudian sesuatu mencekik lehernya. Semula ia mengira itu ganggang, walau ia tak merasa ada yang menyapunya saat ia menyelam. Ia mengangkat tangannya yang kosong untuk membebaskan diri. Itu bukan ganggang, rantai Horcrux telah mengetat dan perlahan menjerat saluran tenggorokannya.

Harry menendang kesana-kemari dengan liar, mencoba untuk kembali ke permukaan, tapi justru mendorong dirinya ke bagian berbatu karang di kolam itu. Menggelepar, kekurangan udara, ia berjuang melawan rantai yang mencekik, jemarinya yang membeku tidak berhasil melonggarkannya, dan sekarang sedikit cahaya meletup dalam benaknya, Ia akan tenggelam, tak akan ada lagi yang tersisa, tak ada yang bisa ia lakukan, dan lengan yang melingkar di dadanya pastilah Kematian …

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.