Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Sebuah pintu terbuka dan ibunya masuk, mengucapkan kata yang tidak dapat didengarnya, rambutnya yang panjang jatuh di sekitar wajahnya. Sekarang ayahnya menggendong anak itu dan memberikannya kepada sang ibu. Laki-laki itu melempar tongkatnya ke atas sofa dan menguap…

Pagar berderit sedikit ketika dia mendorongnya terbuka, tapi James Potter tidak mendengarnya. Tangan putihnya menarik tongkat sihir di bawah jubahnya dan menunjuk ke pintu, yang meledak terbuka.

Dia berada di ambang pintu ketika James datang sambil berlari cepat ke ruang depan. Ini mudah, sangat mudah, dia bahkan tidak perlu mengambil tongkatnya…

“Lily, ambil Harry dan pergi! Itu dia! Pergi! Lari! Aku akan menahannya!”

Menahannya, tanpa sebuahh tongkat sihir di tangannya?… Dia tertawa sebelum mengucapkan kutukan…

“Avada Kedavra!”

Cahaya hijau memenuhi seluruh ruang depan, kutukan itu melempar kereta bayi ke dinding, membuat sandaran tangga terbakar seperti cambuk yang menyala, dan James Potter jatuh seperti boneka marionete yang dipotong talinya…

Dia dapat mendengar teriakan perempuan dari ruangan atas, terjebak, tapi dia berpikir, dia, akhirnya, tidak merasakan ketakutan lagi… dia memanjat anak tangga, mendengarkan hiburan jemu pada saat perempuan itu melindungi dirinya… perempuan itu juga tidak memegang tongkat sihir… betapa bodohnya mereka, dan betapa mudah percayanya, berpikir bahwa keselamatan mereka ada pada seorang teman, bahwa senjata-senjata dapat disepelekan bahkan hanya untuk sementara…

Dia membuat pintu terbuka, menyingkirkan kursi dan kotak-kotak yang menghalanginya ke samping dengan satu lambaian malas tongkat sihirnya… dan di sana perempuan itu berdiri, anak itu ada di dekapannya. Akhirnya perempuan itu menatapnya, dia meletakkan anaknya di meja di belakangnya dan merentangkan tangannya, berharap ini bisa berguna, yang dia pilih dengan segera dan berharap dapat melindungi anak ini dari pandangan…

“Jangan Harry, jangan Harry, kumohon jangan Harry!”

“Minggir kau perempuan bodoh… minggir sekarang.”

“Jangan Harry, kumohon jangan, bunuh aku sebagai gantinya.”

“Ini peringatanku yang terakhir.”

“Jangan Harry! Kumohon… jangan sakiti dia… kasihanilah dia… Jangan Harry! Jangan Harry, kumohon… aku bersedia melakukan apapun.”

“Minggir. Minggir, perempuan.”

Dia tidak dapat membuat perempuan ini minggir dari depan meja, tapi kelihatannya menyenangkan untuk menghabisi mereka semua…

Cahaya hijau berkilatan di sekitar ruangan dan perempuan itu terjatuh seperti suaminya. Anak itu tidak menangis selama ini terjadi. Dia dapat berdiri, mencengkram pinggiran mejanya dan melihat keatas ke wajah si penyusup dengan ketertarikan yang besar, mungkin berpikir bahwa itu adalah ayahnya yang berada di bawah jubah, membuat cahaya indah, dan ibunya akan meloncat sebentar lagi, tertawa.

Dia menunjukkan tongkatnya dengan hati-hati ke wajah anak itu. Dia ingin melihatnya terjadi, penghancuran kali ini, bahaya yang tidak dapat dipahami. Anak itu mulai menangis. Dia telah melihat bahwa si penyusup bukan James. Dia tidak senang anak itu menangis, dia tidak pernah berselera mendengar rengekan anak yatim piatu.

“Avada Kedavra!”

Dan kemudian dia hancur; dia bukan apa-apa, tak ada yang lain selain rasa sakit dan teror, dan dia harus menyembunyikan dirinya, bukan di sini di puingpuing rumah runtuh, di mana anak itu terperangkap dan menjerit, tapi jauh… pergi sangat jauh…

“Tidak,” dia meratap

Sang ular berdesir di lantai yang kotor dan bau, dan dia telah membunuh anak itu, dan kemudian dia adalah anak kecil itu…

“Tidak…”

Dan sekarang dia berdiri di jendela rumah Bathilda yang rusak, terbenam dalam kenangan kegagalannya yang terbesar, dan di kakinya seekor ular besar berdesir di antara kaca dan porselen yang rusak… dia melihat ke bawah dan melihat sesuatu… sesuatu yang luar biasa…

“Tidak…” “Harry, tidak apa-apa, kau baik-baik saja?”

Dia menjangkau kebawah, dan mengambil sebuah foto yang terlempar. Itu dia, pencuri yang sedang dia cari…

“Tidak… aku menjatuhkannya…aku menjatuhkannya…” “Harry, tidak apa-apa, bangun, bangun!” Dia adalah Harry… Harry, bukan Voldemort… dan sesuatu yang berdesir itu bukan seekor ular… dia membuka matanya. “Harry,” Hermione berbisik. “Apa kau ba… baik-baik saja?” “Ya,” katanya. Dia di dalam tenda, berbaring di salah satu ranjang rendah di bawah timbunan selimut.

Dia menduga bahwa hari hampir fajar karena suasana senyap dan dingin, cahaya datarpun terlihat dari celah tenda. Harry basah kuyup oleh keringat, dia dapat merasakannya di atas seprai dan selimut.

“Kita berhasil lolos.” “Ya,” kata Hermione, “aku telah menggunakan Mantra Melayang untuk mengangkatmu ke atas ranjang, aku tak dapat mengangkatmu. Kau telah menjadi… well, kau tidak lagi…”

Ada rona ungu dibawah mata coklatnya dan Harry menyadari sebuah busa di tangannya. Hermione telah mengelap wajah Harry.

“Kau terluka,” dia melanjutkan, “cukup terluka.”

“Berapa lama kita meninggalkan tempat itu?

“Beberapa jam yang lalu, hari hampir fajar.”

“Dan aku telah… apa, pingsan?”

“Tidak juga” kata Hermione tidak nyaman, “ kau berteriak dan meratap dan…sesuatu,” dia menambahkan dalam nada yang membuat Harry gelisah. Apa yang telah dilakukannya? Meneriakkan kutukan seperti Voldemort, menangis seperti bayi dalam ayunan?

“Aku tidak dapat melepaskan Horcrux darimu.” Hermione berkata, dan dia tahu dia ingin mengalihkan perhatian. “Horcrux itu tersangkut, tersangkut di dadamu. Itu membuat bekas di dadamu; aku menyesal, aku telah menggunakan mantra potong untuk melepasnya. Ular itu menggigitmu juga, tapi aku telah membersihkan lukanya dan memberikan sedikit dittany di atasnya.”

Harry melepaskan kaos berkeringat yang telah dipakainya dari tubuhnya dan melihat ke bawah. Ada semacam bentuk lonjong merah padam diatas jantungnya di mana kalung itu membakarnya. Dia juga dapat melihat tusukan setengah sembuh di tangan kanannya.

“Di mana kau meletakkan Horcrux-nya?”

“Dalam tasku. Aku pikir kita seharusnya menyimpannya untuk sementara.”

Dia berbaring lagi di bantalnya dan melihat ke wajah Hermione yang kelabu bekas terjepit.

“Kita tidak seharusnya pergi ke Godric’s Hollow. Ini salahku, ini semua salahku, Hermione, aku minta maaf.”

“Ini bukan salahmu, aku juga ingin pergi, aku sangat yakin Dumbledore mungkin meninggalkan pedang itu di sana untukmu.”

“Yah, well… kita salah, kan?”

“Apa yang terjadi, Harry? Apa yang terjadi ketika dia membawamu ke atas? Apakah ular itu bersembunyi di suatu tempat? Apakah ular itu datang dan membunuhnya dan menyerangmu?”

“Tidak,” dia berkata, “dia adalah ularnya… atau ular itu adalah dia… begitulah.” “Ap… Apa?” Dia menutup matanya. Dia masih dapat mencium rumah Bathilda. Ini membuat semua bayangan yang mengerikan menjadi hidup. “Bathilda pasti sudah mati sebelumnya. Ular itu ada… ada di dalam tubuhnya. Kau-Tahu-Siapa meletakkannya di Godric’s Hollow, untuk menunggu. Kau benar. Dia tau aku kembali.”“Ular itu di dalam tubuhnya?”Harry membuka matanya lagi. Hermione kelihatannya jijik dan muak. “Lupin mengatakan ada sihir yang tidak bisa kita bayangkan,” Harry berkata, “Bathilda tidak mau berbicara di depanmu, karena bahasanya adalah Parseltongue, semuanya Parseltongue, dan aku tidak menyadarinya, tapi tentu saja aku memahaminya. Ketika kami berada di atas, ular itu mengirim berita pada Kau-Tahu-Siapa. Aku mendengar itu terjadi di dalam kepalaku, aku merasa Voldemort menjadi tertarik, dia berkata untuk menahanku di situ… dan kemudian…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.