Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Apakah ada sesuatu yang ingin anda berikan untuk saya?” Harry bertanya untuk ketiga kalinya, lebih kuat.

“Di sini,” dia berbisik, menunjuk ke sudut. Harry mengangkat tongkatnya dan melihat sebentuk meja tulis yang berantakan di bawah jendela bertirai.

Kali ini Bathilda tidak membimbingnya. Harry berjalan ke pinggir di antara Bathilda dan tempat tidur yang berantakan, tongkatnya terangkat. Dia tidak mau jauh-jauh darinya.

“Apa itu?” dia bertanya ketika dia sampai di meja tulis, yang terlihat dan baunya seperti tumpukan pakaian kotor.

“Di situ,” dia berkata, menunjuk ke suatu benda yang tidak berbentuk.

Dan segera setelah dia melihatnya, mata Harry mengerling sebuah pangkal pedang yang berantakan, berbutir ruby, Bathilda bergerak aneh; dia melihatnya dari sudut matanya; kepanikan membuatnya berbalik dan dia menyaksikan tubuh tua itu rebah dan seekor ular besar keluar dari tempat di mana lehernya berada.

Ular itu menabraknya ketika dia mengangkat tongkatnya. Gigitan kuat pada tangan kanannya membuat tongkatnya terpental ke langit-langit; cahayanya berputar memusingkan di sekitar ruangan dan kemudian padam. Lalu sebuah pukulan yang kuat dari ekor ular ke rongga dadanya telah membuatnya kehabisan napas. Dia merasa jatuh ke belakang ke atas meja tulis, ke gundukan pakaian busuk-

Harry berguling ke samping, sedikit menghindar dari ekor ular yang memukul ke bawah dari atas meja ke tempat di mana dia berada beberapa detik sebelumnya. Pecahan kaca berjatuhan di atasnya ketika dia mengenai lantai. Dari bawah dia mendengar Hermione memanggil, “Harry?”

Dia tidak mempunyai cukup napas di paru-parunya untuk menjawab. Kemudian suatu benda yang berat memukulnya ke lantai dan dia merasakan ular itu melata di atasnya, sangat kuat dan berotot.

“Tidak!” dia terengah-engah, tertahan di lantai.

“Ya,” bisik suara itu, “Yaaa… menahanmu… menahanmu…”

“Accio… Accio Tongkat…”

Tapi tidak ada yang terjadi dan dia membutuhkan tangannya untuk mencoba melepaskan ular itu dari tubuhnya karena ular itu telah membelit sekeliling dadanya, mencengkram udara darinya, menekan keras Horcrux ke dadanya, sebuah kalung sedingin es yang berdenyut hidup, beberapa inchi dari jantungnya yang kalut, dan otaknya dibanjiri rasa dingin, cahaya putih, semua pikiran lenyap, napasnya ditenggelamkan, langkah di kejauhan, semuanya menjadi…

Sebuah jantung besi bersuara keras di luar dadanya, dan sekarang dia melayang, melayang dengan kemenangan jantungnya, tanpa membutuhkan sapu atau thestral…

Harry terbangun dengan tiba-tiba dalam kegelapan yang berbau masam; Nagini telah membebaskannya. Dia bangkit dengan ketakutan dan melihat sosok ular itu berlawanan dengan cahaya di lantai. Ular itu menabrak dan Hermione melompat ke pinggir sambil menjerit, kutukan yang dia lontarkan mengenai jendela bertirai, yang kemudian hancur. Udara beku mengisi ruangan ketika Harry menunduk untuk menghindari hujan pecahan kaca yang lain dan kakinya terpeleset sesuatu yang seperti pensil — tongkatnya.

Dia membungkuk dan menyambarnya, tapi ruangan sekarang dipenuhi ular, ekornya memukul; Hermione tidak terlihat di manapun dan untuk sesaat Harry memikirkan sesuatu yang buruk, tetapi kemudian ada ledakan keras dan kilatan cahaya merah, dan ular itu terpental ke udara, menabrak muka Harry, bergulung gulungan demi gulungan naik hingga ke langit-langit. Harry mengangkat tongkatnya, tetapi ketika dia melakukannya, bekas lukanya menjadi sangat sakit, lebih sakit dari pada tahun-tahun sebelumnya.

“Dia datang! Hermione, dia datang!”

Ketika dia berteriak, ular tersebut mendesis liar. Sumuanya kacau balau; Harry menabrak rak di dinding, dan serpihan keramik China berserakan ke mana-mana ketika Harry meloncat melewati tempat tidur dan menabrak suatu sosok gelap yang dia tahu adalah Hermione.

Hermione menjerit kesakitan ketika Harry menariknya melewati tempat tidur. Ular itu membebatnya lagi, tapi Harry tahu bahwa sesuatu yang lebih buruk telah datang, mungkin sudah sampai di gerbang, kepalanya serasa terbuka dengan rasa sakit di bekas lukanya.

Ular itu menyerbu ketika dia mengambil langkah untuk berlari, menarik Hermione bersamanya; ketika menabrak, Hermione menjerit, “Confringo!” dan mantranya terbang di sekitar ruangan, meledakkan kaca hias, dan memantul ke arah mereka, melompat dari lantai ke langit-langit; Harry merasakan rasa panas menghanguskan bagian belakang tangannya. Kaca menggores lehernya, sambil menarik Hermione, dia meloncat dari tempat tidur ke meja tulis dan langsung mendobrak jendela ke luar, teriakan Hermione bergaung di udara malam ketika mereka berputar di tengah udara.

Dan kemudian bekas lukanya serasa meledak, dia menjadi Voldemort dan dia berlari melintasi kamar tidur yang bau, jari panjangnya yang putih mencengkram kusen jendela ketika dia melihat sekilas seorang pria botak dan perempuan kecil berputar dan menghilang, dan dia menjerit dengan kemarahan, jeritan yang bercampur dengan jeritan si perempuan, yang bergaung sepanjang kebun gelap diiringi dentang bel gereja di hari natal.

Dan jeritannya adalah jeritan Harry… rasa sakitnya adalah rasa sakit Harry… yang bisa terjadi di sini, di mana pernah terjadi sebelumnya… di sini, dalam pandangan rumah itu di mana dia telah datang begitu dekat untuk mengetahui apakah dia telah mati… mati…sakitnya sungguh mengerikan… merobek tubuhnya… tetapi jika dia tidak mempunyai tubuh, mengapa kepalanya sangat sakit; jika dia telah mati, bagaimana bisa dia merasa sangat sakit yang tak tertahankan, bukankah rasa sakit berhenti bila mati, bukankah ia hilang.

Malam yang lembab dan berangin, dua orang anak berpakaian labu berjalan terhuyunghuyung melintasi perempatan, dan jendela toko ditutupi oleh jaring laba-laba, semua perangkap muggle semu tapi tidak berharga menjebak dunia yang tidak mereka percayai… dan dia meluncur, suatu perasaan untuk tujuan dan kekuatan dan kebenaran dalam dirinya yang selalu dia ketahui untuk urusanurusan ini… bukan kemarahan… yang hanya diperuntukkan untuk jiwa yang lebih lemah darinya… tapi kemenangan, ya… dia telah menanti hal ini, dia telah mengharapkannya…

“Kostum keren, Tuan!”

Dia melihat laki-laki kecil tersenyum ragu ketika dia berlari cukup dekat untuk melihat yang ada di bawah penutup kepala jubah, rasa takut terbayang di wajahnya. Kemudian anak kecil itu berbalik dan lari… di bawah jubah, dia memegang tongkat sihirnya… dengan gerakan yang sederhana dan anak itu tidak akan bertemu lagi dengan ibunya… tapi tidak perlu, sangat tidak perlu…

Dan sepanjang jalan yang baru dan gelap, dia berjalan, dan akhirnya sampai ke tempat tujuannya, Mantra Fidelius rusak, ia pikir mereka pasti belum tahu… dan dia membuat sedikit suara yang melebih suara keresekan daun mati di sepanjang jalan aspal ketika menaiki undakan pagar gelap dan menyingkirkannya…

Mereka belum menutup tirainya; dia melihat mereka cukup jelas di dalam ruang duduk mereka yang kecil, pria tinggi berambut hitam dengan kacamata, membuat asap berwarna keluar dari tongkat sihirnya untuk menghibur anak kecil berambut hitam yang memakai piyama biru. Anak itu tertawa dan mencoba untuk menangkap asap itu, menangkapnya dengan jemarinya yang kecil…

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.