Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Hermione melihat Harry, dan Harry senang bahwa wajahnya tersembunyi dalam gelap. Harry membaca kutipan itu lagi. Di mana harta karunmu berada, di sanalah hatimu berada. Ia tidak mengerti maksud kalimat itu. Jelas Dumbledore yang telah memilihnya, sebagai anggota keluarga tertua setelah ibunya meninggal.

“Kau yakin Dumbledore tidak pernah…” mulai Hermione. “Tidak,” potong Harry. “Ayo kita teruskan mencari,” dan Harry berpaling, berharap ia

tidak pernah melihat batu nisan itu. Tidak ingin campur aduk rasa senang, takut, dan keragu-raguannya dinodai dengan kemarahan. “Ini!” teriak Hermione beberapa saat kemudian dari dalam gelap. “Oh, bukan, maaf! Aku

kira Potter.”

Hermione menggosok batu nisan kotor yang sudah hampir hancur, menatapnya, dan terlihat terkejut. “Harry, kembalilah kemari.” Harry tidak ingin menyimpang dari tujuannya lagi, dan dengan kesal ia berjalan kembali

mendekati Hermione.

“Apa?” “Lihat ini!” Batu nisan itu begitu tua, membuat Harry kesulitan untuk melihat nama di atasnya.

Hermione menunjukkan sebuah lambang di sana. “Harry, ini lambang yang ada di buku!” Harry menatap ke arah yang Hermione tunjuk. Batu itu begitu usang dan membuat Harry

susah untuk melihat apa yang terukir di atasnya, tapi ia bisa melihat lambang segitiga di dekat nama yang tidak terbaca. “Bisa jadi…” Hermione menyalakan tongkatnya dan mengarahkannya ke nama di batu nisan itu. “Tertulis, Ig-Ignotus, sepertinya…”

“Aku akan mencari nisan orang tuaku,” kata Harry pada Hermione, dan Harry pergi melanjutkan pencariannya, meninggalkan Hermione sendiri bersama nisan tua itu.

Selanjutnya Harry terus menemukan nama keluarga, seperti Abbott, yang juga ia temukan di Hogwarts. Terkadang ada juga beberapa generasi keluarga penyihir yang dimakamkan di pemakaman itu, Harry dapat melihatnya dari tanggal kematian yang tertulis di sana. Tapi mungkin ada juga anggota keluarga yang tidak lagi tinggal di Godric’s Hollow. Harry berjalan semakin dalam di pemakaman, dan setiap ia melihat batu nisan baru, ia berjalan lebih lambat dan sedikit berharap.

Kegelapan dan keheningan tiba-tiba semakin pekat. Harry memerhatikan sekitar, merasa cemas, takut akan adanya Dementor. Lalu ia sadar bahwa lagulagu pujian telah berhenti dinyanyikan, dan obrolan para jemaat gereja perlahan menghilang saat mereka kembali ke jalanan, dan seseorang yang berada di dalam gereja telah mematikan lampu.

Lalu suara Hermione memanggil lagi untuk yang ketiga kalinya dari dalam kegelapan.

“Harry, di sini… mereka di sini.”

Dan Harry tahu bahwa Hermione telah menemukan makam ayah dan ibu Harry kali ini. Harry berjalan dengan dipenuhi perasaan berat yang membebani dadanya. Perasaan yang sama saat Dumbledore meninggal, rasa sedih yang membebani jantung dan paru-parunya.

Makam itu hanya berjarak dua baris dari nisan milik Kendra dan Ariana. Nisannya terbuat dari marmer putih, sama seperti nisan Dumbledore, dan membuatnya lebih mudah untuk dibaca, karena terlihat terang dalam gelap. Harry bahkan tidak butuh berlutut dan mendekat untuk membaca tulisan yang terukir di atasnya.

James Potter, lahir 27 Maret 1960, meninggal 31 Oktober 1981 Lily Potter, lahir 30 Januari 1960, meninggal 31 Oktober 1981

Musuh yang terakhir yang akan dihadapi adalah kematian.

Harry membaca kutipan itu perlahan, seakan ia hanya punya satu kesempatan untuk memahami kalimat itu, lalu ia mengulanginya dengan suara keras.

“’Musuh yang terakhir yang akan dihadapi adalah kematian’…” Sebuah pemikiran mengerikan muncul dan membuatnya sedikit ketakutan. “Bukankah terdengar seperti pemikiran para Pelahap Maut? Mengapa mereka menggunakan kutipan itu?”

“Artinya bukan menghadapi kematian seperti para Pelahap Maut, Harry,” kata Hermione, suaranya begitu lembut. “Artinya adalah… hidup setelah mati. Kehidupan setelah kematian.”

Tapi mereka tidak hidup, pikir Harry, mereka sudah pergi. Kata-kata itu tidak menutupi kenyataan bahwa orang tuanya terbaring di dalam tanah, di bawah batu dan salju. Dan air matanya menetes bahkan sebelum Harry menyadarinya, terasa hangat lalu berubah dingin saat menyentuh wajahnya. Dan Harry tidak ingin menghapusnya dan berpura-pura. Ia membiarkan air matanya menetes, bibirnya terkatup kuat, menatap ke arah salju yang menutupi tempat di mana Lily dan James terbaring, sebagai tulang belulang, atau mungkin debu. Tidak tahu bahwa putra mereka berdiri begitu dekat, dengan jantung yang masih berdegup. Masih hidup karena pengorbanan mereka. Mereka juga tidak tahu kalau putranya, untuk sesaat, juga ingin berbaring di bawah salju bersama mereka.

Hermione meraih tangan Harry lagi dan menggenggamnya erat. Harry tidak bisa menatapnya, dan hanya balas menggenggam. Ia menghirup dalam-dalam udara malam yang dingin, mencoba untuk menenangkan diri. Seharusnya Harry membawa sesuatu untuk diletakkan di atas nisan mereka, tapi Harry lupa. Sedangkan setiap tanaman di pemakaman itu tidak lagi berdaun dan telah membeku. Tapi Hermione mengangkat tongkatnya, mengayunkannya, dan muncul seikat mawar mekar. Harry menangkapnya dan meletakkannya di atas nisan orang tuanya.

Setelah Harry berdiri, ia merasa ingin cepat-cepat pergi. Harry merasa kalau ia tidak akan tahan untuk berada di sana. Harry merangkul bahu Hermione, dan Hermione merangkul pinggang Harry, dan mereka berjalan dalam diam, melewati makam ibu dan adik Dumbledore, kembali ke gereja yang sudah gelap, menuju pintu gerbang yang tertutup.

 

Bab 17 Rahasia Bathilda

“Harry, berhenti.”

“Ada apa?”

Mereka baru saja sampai di makam Abbot yang tidak dikenal.

“Ada seseorang di sana. Aku yakin seseorang sedang memperhatikan kita. Di sana. Di belakang semak.”

Mereka berdiri diam, saling berpegangan tangan, sambil memandang ke kegelapan yang pekat di sekitar pemakaman. Harry tidak dapat melihat apapun.

“Apa kau yakin?”

“Aku melihat sesuatu bergerak, aku bersumpah aku…”

Dia melepas tangan Harry dan segera menyiapkan tongkat di tangannya.

“Kita terlihat seperti muggle,” kata Harry.

“Muggle yang meletakkan bunga di atas makam ayahmu? Harry, aku yakin ada seseorang di sana!”

Harry teringat Sejarah Sihir, makam yang angker, bagaimana jika -? Tapi kemudian dia mendengar suara berkeresekan dan melihat salju berjatuhan dari semak yang ditunjuk Hermione. Hantu takkan dapat menggerakan salju.

“Itu seekor kucing,” kata Harry, setelah beberapa saat, “Atau seekor burung. Jika itu Pelahap Maut, kita sudah mati sekarang. Tapi, ayo pergi dari sini, dan pakai Jubah Gaib.”

Mereka kembali berjalan melalui jalan ke pemakaman. Harry, yang sekarang merasa tidak seyakin ketika meyakinkan Hermione, merasa senang ketika sampai di pagar dan jalan yang licin. Mereka menyelubungi diri mereka sendiri dengan Jubah Gaib. Rumah minum terlihat lebih penuh daripada sebelumnya: terdengar suara-suara yang menyanyikan pujian yang sama seperti yang mereka dengar saat mendekati gereja. Untuk beberapa saat, Harry ingin menyarankan untuk masuk ke sana, tetapi sebelum dia dapat mengatakan apapun, Hermione berbisik, “Ayo lewat sini!” sambil mendorong Harry turun ke jalan gelap yang mengarah ke desa yang berlawanan dengan jalan dari tempat mereka datang. Harry dapat menebak kemana pondok-pondok berakhir dan jalan itu menuju ke daerah terbuka lagi.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.