Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Harry merasa sangat senang karena akan pergi ke Godric’s Hollow keesokan harinya, tapi Hermione berpikiran lain. Hermione yakin bahwa Voldemort mengharapkan Harry akan kembali ke tempat di mana orang tuanya meninggal, dan Hermione tidak ingin pergi ke sana hingga mereka telah mempersiapkan penyamaran terbaik yang bisa mereka lakukan. Baru seminggu kemudian – setelah mereka berhasil mengambil beberapa helai rambut sepasang Muggle yang sedang berbelanja untuk Natal, dan berlatih ber-Apparate dan ber-Disapparate bersama di bawah Jubah Gaib – Hermione setuju untuk berangkat.

Mereka ber-Apparate saat hari sudah gelap, sehingga mereka meminum Ramuan Polyjuice saat senja. Harry berubah menjadi Muggle berusia baya yang botak, dan Hermione berubah menjadi istrinya yang kecil dan tampak seperti tikus. Tas manik yang berisi semua bawaan mereka (tidak termasuk Horcrux yang sedang menggantung di dada Harry) berada dalam kantung mantel Hermione. Harry memakaikan Jubah Gaib pada mereka berdua, dan sekali lagi mereka berada dalam kegelapan yang mencekik.

Harry membuka mata, jantungnya terasa meloncat ke tenggorokannya. Mereka berdiri di jalan bersalju di bawah langit biru gelap yang dihiasi oleh bintang yang berkelap-kelip lemah. Pondok-pondok berdiri berjajar di samping jalanan yang tidak terlalu panjang itu, hiasan Natal menghiasi jendela. Tak jauh di depan mereka, berdiri lampu jalan yang bercahaya keemasan sebagai titik tengah desa itu.

“Salju!” bisik Hermione di bawah Jubah. “Mengapa kita bisa lupa dengan salju? Dengan semua penyamaran ini, kita tetap meninggalkan jejak! Kita harus menghapusnya – kau berjalan di depan, dan aku yang akan…”

Harry tidak ingin masuk ke desa itu dengan kuda Troya. Bersembunyi di bawah semua penyamaran ini dan menghapusi jejak.

“Lepaskan saja Jubahnya,” kata Harry dan saat melihat Hermione yang cemas, “ayolah, kita tidak tampak seperti kita, dan tidak ada orang di jalanan.”

Harry menyimpan Jubah Gaib di dalam jaketnya dan berjalan tanpa hambatan. Angin dingin menerpa wajah mereka saat mereka berjalan melewati pondokpondok itu, pondok di mana mungkin Lily dan James pernah tinggal, atau tempat Bathilda tinggal. Harry memperhatikan setiap pintu, atap yang tertutup salju, dan beranda depan pondok-pondok itu, berharap akan mengenali salah satunya, walau ia tahu kalau hal itu hampir tidak mungkin. Karena ia baru berumur satu tahun saat ia meninggalkan tempat ini. Harry bahkan tidak yakin kalau ia akan bisa melihat pondok tempat tinggalnya dulu, karena ia tidak tahu apa yang terjadi pada Mantra Fidelius bila subyek yang dimantrai meninggal. Lalu saat mereka berjalan di jalanan yang berbelok ke kiri menuju jantung desa, terlihat sederetan bangunan.

Dihiasi dengan lampu berwarna-warni, di tengah-tengahnya tampak sesuatu seperti monumen perang, berbentuk seperti pohon Natal yang tertiup angin. Di sekitarnya terdapat beberapa toko, kantor pos, sebuah café, dan gereja di mana cahaya dari jendela mereka menerangi bangunan itu.

Salju di jalanan itu berbeda dengan salju di sepanjang jalan tadi. Salju di sana keras dan licin karena telah diinjak-injak banyak orang. Para penghuni desa berlalu lalang diterangi oleh lampu jalan. Harry dan Hermione dapat mendengar orang-orang tertawa dan musik pop saat pintu café dibuka tutup, dan mereka juga mendengar lagu pujian dari gereja.

“Harry, aku rasa sekarang Malam Natal!” kata Hermione.

“Benarkah?”

Harry sudah tidak lagi memerhatikan tanggal, mereka juga sudah berminggu-minggu tidak membaca koran.

“Iya,” kata Hermione sambil menatap gereja. “Mereka… mereka pasti ada di sana, kan? Ayah dan ibumu? Aku bisa melihat pemakaman di belakang sana.”

Harry merasakan sesuatu yang lebih besar dari rasa senangnya, seperti rasa takut. Sekarang setelah begitu dekat, Harry ragu apakah ia akan pergi. Mungkin Hermione tahu perasaannya, karena Hermione meraih tangan Harry dan mengajaknya. Di tengah jalan, Hermione tiba-tiba berhenti.

“Harry, lihat!”

Hermione menunjuk monumen perang itu. Saat mereka melewatinya, mereka dapat melihat bentuknya. Bukannya tugu yang dipenuhi nama-nama, monumen itu berupa patung tiga manusia. Seorang pria berkaca mata dengan rambut berantakan. Seorang wanita berambut panjang dengan wajah cantik dan ramah. Dan, seorang bayi yang berada dalam gendongan ibunya. Salju menghiasi kepala mereka layaknya topi putih.

Harry berjalan mendekat, memandangi wajah orang tuanya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa mereka dijadikan patung… rasanya aneh melihat dirinya sebagai batu berbentuk bayi tanpa bekas luka di dahinya…

“Ayo,” kata Harry setelah puas memandanginya. Dan mereka berjalan menuju gereja. Saat mereka menyebrangi jalan, Harry menoleh dan melihat bahwa patung itu telah berubah menjadi monumen perang lagi.

Lagu-lagu pujian semakin keras terdengar saat mereka mendekati gereja, dan membuat tenggorokan Harry tercekat. Membuatnya teringat akan Hogwarts. Teringat akan Peeves yang menyanyikan lagu pujian kasar karangannya sendiri dari dalam baju besi. Teringat akan Great Hall dengan dua belas pohon Natal. Teringat akan Dumbledore yang memakai pita yang ia dapat dari petasan. Teringat akan Ron memakai sweater rajutan…

Terdapat sebuah pintu gerbang yang tertutup di pintu masuk pemakaman. Hermione mendorongnya sepelan mungkin agar tidak bersuara dan mereka berjalan masuk. Di tiap sisi jalan setapak licin menuju gereja, terdapat tumpukan salju tebal yang tidak tersentuh. Mereka keluar dari jalan setapak dan berjalan di atas salju. Meninggalkan parit yang cukup dalam saat mereka mengitari gereja, berjalan di bawah bayangan jendela.

Di belakang gereja, berbaris-baris nisan yang dihiasi salju dengan pantulan warna biru gelap dan pantulan cahaya berwarna merah, emas, hijau, atau warna apa pun yang terpantul dari jendela ke atas salju. Menjaga tangannya sedekat mungkin dengan tongkatnya, Harry berjalan menuju nisan terdekat.

“Lihat! Abbot! Bisa jadi keluarga jauh Hannah!”

“Rendahkan suaramu,” pinta Hermione.

Mereka menjelajahi semakin dalam di pemakaman itu, ditemani bayangan gelap mereka yang jatuh di atas salju, berhenti di setiap nisan untuk melihat tulisan di atasnya, lalu berkedip dalam kegelapan memastikan tidak ada yang mengikuti.

“Harry, kemari!”

Hermione berada dua baris jauhnya. Jantung Harry berdegup kencang.

“Apakah itu…”

“Bukan, tapi coba lihat!”

Hermione menunjuk ke sebuah nisan. Harry menatap sebuah nisan granit yang ditumbuhi lumut yang membeku, dengan tulisan Kendra Dumbledore dan di bawahnya ada tanggal lahir dan tanggal kematiannya, tulisan dan putrinya, Ariana. Dan sebuah kutipan:

Di mana harta karunmu berada, di sanalah hatimu berada.

Jadi, Rita Skeeter dan Muriel ada benarnya juga. Keluarga Dumbledore pernah tinggal di sini, dan meninggal di sini.

Melihat langsung sebuah makam lebih buruk daripada hanya mendengarnya. Harry tidak dapat berhenti berpikir bahwa ia dan Dumbledore terikat dengan pemakaman ini, dan seharusnya Dumbledore memberitahukannya, walau Harry tidak tahu mengapa. Harry dan Dumbledore bisa saja mengunjungi tempat ini bersama-sama. Untuk sesaat Harry membayangkan bagaimana ia pergi kemari bersama Dumbledore, merasakan ikatan di antara mereka, dan betapa berartinya hal itu baginya. Tapi, menurut Dumbledore, fakta bahwa keluarga mereka terbaring di pemakaman yang sama bukanlah hal yang penting, dan mungkin, tidak ada hubungannya dengan misi yang harus Harry selesaikan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.