Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Saat mereka tiba, Hermione langsung melepaskan tangan Harry dan menjauh darinya. Hermione duduk di sebuah batu besar, menatap lututnya sendiri, dan mulai menangis. Harry menatapnya, seharusnya ia datang dan menenangkan Hermione, tapi ada sesuatu yang mencegah Harry dan membuatnya tetap terdiam di tempatnya. Tubuhnya dingin dan tegang saat ia mengingat ekspresi wajah Ron yang merendahkannya. Harry berjalan melangkahi bunga-bunga heather, berjalan dalam sebuah lingkaran besar dengan Hermione sebagai titik pusatnya, mengucapkan mantera yang biasa Hermione ucapkan untuk memasang perlindungan.

Mereka tidak membicarakan Ron dalam beberapa hari ke depan. Harry memutuskan untuk tidak menyebutkan nama itu lagi, dan Hermione tahu bahwa tidak ada gunanya untuk membicarakan hal itu. Terkadang di malam-malam saat Hermione mengira Harry sudah pergi tidur, Harry dapat mendengarnya menangis. Sementara Harry memeriksa Peta Perompak di bawah cahaya tongkatnya. Menanti saat muncul satu titik berlabel Ron akan muncul di salah satu koridor di Hogwarts, yang membuktikan bahwa Ron telah kembali ke kastil yang nyaman, dan dilindungi oleh status darah murninya. Tapi tetap saja nama Ron tidak muncul di peta, dan Harry malah terus-terusan mengikuti nama Ginny yang kini berada di asrama putri. Berharap bahwa tatapannya ke titik itu dapat memasuki mimpi Ginny, membuatnya tahu bahwa ia sedang memikirkannya, berharap bahwa Ginny baik-baik saja.

Di siang hari, Harry dan Hermione terus saja menebak-nebak lokasi yang mungkin menjadi tempat persembunyian pedang Gryffindor. Tapi semakin sering mereka membicarakan tempat di mana Dumbledore munkin menyembunyikannya, semakin putus asa mereka. Memaksa otaknya untuk bekerja, Harry tetap tidak dapat mengingat apakah Dumbledore pernah menyebutkan suatu tempat di mana ia bisa menyembunyikan sesuatu. Dan ada beberapa saat di mana Harry merasa begitu marah, entah pada Ron atau Dumbledore. Kami pikir kau tahu apa yang akan kau lakukan… kami pikir Dumbledore telah memberitahumu semua yang harus kau lakukan… kami pikir kau punya rencana yang sebenarnya!

Harry tidak bisa berpura-pura lagi. Ron benar, bisa dibilang Dumbledore tidak meninggalkannya apa pun. Mereka berhasil menemukan satu Horcrux, tapi tidak bisa menghancurkannya. Sedangkan Horcrux lain entah ada di mana. Rasa putus asa membawa Harry jatuh ke jurang yang dalam. Sekarang, Harry merasa goyah saat memikirkan keputusannya untuk menerima tawaran sahabatnya untuk ikut bersamanya ke dalam perjalanan tanpa tujuan ini. Ia tidak tahu apa-apa, ia tidak punya ide, dan ia terus-terusan merasa bahwa Hermione juga akan meninggalkannya.

Mereka menghabiskan hampir tiap malam dalam kesunyian. Hermione mengeluarkan potret Phineas Nigellus dan menyandarkannya pada kursi, berpikir dapat mengisi kekosongan yang Ron tinggalkan. Dan tidak sesuai dengan kata-katanya, Phineas Nigellus tidak dapat menahan diri untuk datang dan mencari tahu apa yang Harry lakukan, dengan penutup mata, setiap beberapa hari sekali. Bahkan Harry senang saat Phineas Nigellus berkunjung, karena ada seorang teman bicara, walau ia congkak dan sering mengejek. Mereka menerima semua berita terbaru dari Hogwarts, walau sebenarnya Phineas Nigellus bukan informan yang baik, karena ia memuja Snape, kepala sekolah Slytherin pertama sejak dirinya. Harry dan Hermione belajar untuk berhati-hati, tidak mengomentari, dan tidak berkata tidak sopan terhadap Snape, atau Phineas akan pergi dari potretnya.

Tapi tetap saja Phineas memberikan potongan-potongan berita penting. Snape sepertinya terus-terusan menerima aksi pemberontakan kecil-kecilan dari para murid. Ginny bahkan tidak mendapat izin untuk kunjungan ke Hogsmeade. Dan Snape telah meniru dekrit lama Umbridge, yaitu melarang pertemuan lebih dari tiga siswa, atau perkumpulan siswa yang tidak resmi.

Dari semua berita ini, Harry menyimpulkan bahwa Ginny, Neville, dan Luna berusaha sebisa mungkin untuk melanjutkan kegiatan Laskar Dumbledore. Potongan-potongan berita ini membuat Harry ingin bertemu Ginny hingga perutnya terasa sakit, tapi hal itu juga membuatnya teringat tentang Ron, Dumbledore, dan Hogwarts, yang begitu ia rindukan seperti mantan pacarnya. Saat Phineas Nigellus bercerita tentang tindakan keras yang diambil oleh Snape, Harry merasakan sebuah kegilaan sesaat tentang bagaimana ia kembali ke sekolah dan berada di bawah kekuasaan Snape yang tidak stabil, dengan makanan lezat dan ranjang hangat, sepertinya hal itu adalah hal terbaik di dunia. Tapi ia ingat bahwa ia adalah Yang Paling Tidak Diinginkan dengan sepuluh ribu Galleon di atas kepalanya, dan berada di Hogwarts sama berbahayanya dengan saat ia menoerobos masuk ke Kementrian Sihir. Terkadang Phineas mencoba bertanya tentang di mana Harry dan Hermione berada, dan Hermione langsung memasukkan potret itu ke dalam tas maniknya setiap Phineas bertanya. Lalu Phineas tidak akan berkunjung selama beberapa hari karena merasa tersinggung dengan perpisahan tidak sopan itu.

Suhu mulai bertambah dingin. Membuat Harry dan Hermione tidak berani tinggal di satu tempat dalam waktu yang lama. Dan membuat mereka menghindari bagian selatan Inggris, karena tanah di sana membeku. Mereka melanjutkan perjalanan mereka berkeliling negeri. Ke lereng gunung, di mana salju menghujani tenda. Ke daerah rawarawa yang luas, di mana air rawa yang dingin membanjiri tenda. Dan, ke sebuah pulau kecil di tengah danau di Skotlandia, di mana tenda mereka terkubur salju.

Mereka dapat melihat pohon Natal yang berkelip-kelip dari jendela di beberapa rumah, sebelum akhirnya menghabiskan malam di jalan yang sudah tidak digunakan di suatu kota dan makan enak. Hermione pergi ke supermarket dengan Jubah Gaib (dan meninggalkan uang di kasir saat ia keluar) dan Harry berpikir akan lebih mudah mempengaruhinya dalam keadaan perut penuh dengan spaghetti Bolognaise dan buah pir kalengan. Harry bahkan belajar dari masa lalu dan membuat mereka untuk beberapa jam tidak memakai Horcrux yang sekarang berada di ujung ranjangnya.

“Hermione?”

“Hm?” Hermione sedang meringkuk di salah satu kursi malas dengan Dongeng Beedle si Penyair. Harry tidak tahu apa yang bisa Hermione dapat dari buku itu, karena buku itu tidak terlalu tebal. Tapi sepertinya Hermione sedang menguraikan sesuatu, karena Kamus Spellman terbuka di sebelahnya.

Harry berdeham. Harry merasa sedang melakukan hal yang sama seperti beberapa tahun yang lalu, saat ia mencoba untuk meminta izin dari profesor McGonagall untuk bisa pergi ke Hogsmeade karena paman Vernon tidak menandatangani surat izinnya.

“Hermione, aku sedang berpikir, dan…” “Harry, bisakah kau bantu aku?” Sepertinya Hermione tidak sedang mendengarkan Harry. Hermione maju dan

menyorongkan Dongeng Beedle si Penyair ke arah Harry.“Lihat simbol ini,” kata Hermione sambil menunjuk bagian atas halaman. Di mana terdapat, yang Harry anggap sebagai, judul cerita (karena Harry tidak dapat membaca

huruf rune). Terdapat sebuah simbol segitiga dengan lingkaran di dalamnya, yang terbelah oleh sebuah garis lurus. “Aku tidak pernah belajar Rune Kuno, Hermione.” “Aku tahu, tapi ini bukan huruf rune dan juga tidak ada di kamus. Selama ini aku

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.