Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

”Diam!” kata Harry yang kini berdiri dan mengangkat kedua tangannya. ”Diam! Sekarang!” Hermione terihat marah.

”Harry, bisa-bisanya kau membelanya, dia bahkan tidak pernah…”

”Hermione, tenanglah, aku mendengar sesuatu!”

Harry berusaha mendengarkan, tangannya masih terangkat, memperingatkan yang lain agar tetap diam. Lalu terdengar suara ribut dari arah sungai, dan Harry mendengar suara lagi. ia melihat Sneakoscope. Benda itu tidak bergerak.

”Kau memasang Muffliato, kan?” bisik Harry pada Hermione.

”Aku pasang semua,” jawab Hermione dalam bisikan, ”Muffliato, Mantra Penolak Muggle, Mantra Dissilusionment, semuanya. Tidak ada yang bisa mendengar atau melihat kita, siapa pun mereka.”

Terdengar suara terseret, dan suara batu dan patahan ranting. Dan membuat mereka tahu ada beberapa orang sedang menuruni turunan curam dari hutan di lereng bukit ke daerah pinggiran sungai, di mana mereka mendirikan tenda. Mereka mengeluarkan tongkat, dan menunggu. Perlindungan di sekitar mereka rasanya cukup untuk melindungi mereka dari Muggle dan penyihir. Bila yang datang adalah Pelahap Maut, sepertinya perlindungan mereka akan diuji oleh Sihir Hitam untuk pertama kalinya.

Suara itu semakin keras tapi tetap terdengar tidak jelas saat sekelompok orang itu mencapai pinggiran sungai. Harry memperkirakan bahwa mereka berjarak kurang dari enam meter dari mereka, tapi suara riak sungai membuat mereka tidak dapat memastikannya. Hermione mengambil tas maniknya dan mulai mengaduk-aduk bagian dalamnya. Setelah beberapa saat, mereka mengeluarkan tiga Telinga Terjulur dan memberikannya pada Harry dan Ron, yang langsung memasukkan ujung benang berwarna kulit itu ke telinga mereka dan melemparkan ujung yang lain ke luar tenda.

Dalam hitungan detik, Harry dapat mendengar suara pria yang kelelahan.

‘Seharusnya ada salmon sekarang, atau masih terlalu dini untuk musimnya? Accio salmon!”

Terdengar bunyi cipratan air dan hentakan ikan yang meloncat keluar dari air. Lalu terdengar suara orang menggumam senang. Harry menekankan Telinga Terjulur lebih dalam. Berusaha menangkap suara di atas suara riak sungai, tapi mereka tidak berbicara dalam bahasa manusia, bahkan yang belum Harry dengar. Suara mereka kasar dan tidak berirama, seperti suara gumaman bergeretak dan parau, dan sepertinya ada dua orang yang sedang berbicara, salah satu di antaranya bersuara lebih pelan daripada yang lain.

Api berderak di luar tenda mereka. Tercium bau sedap dari salmon bakar yang tertiup ke arah mereka. Lalu terdengar suara denting pisau dan garpu, lalu seseorang berkata lagi.

“Ini, Griphook, Gornuk.”

“Goblins!” Hermione membisikkannya dan Harry mengangguk.

“Terima kasih,” kata dua Goblin lain.

“Jadi, kalian juga sedang melarikan diri? Sudah berapa lama?” kata suara baru yang lembut dan menyenangkan, dan terdengar tidak asing bagi Harry, seorang pria bertubuh tambun dengan wajah ceria.

”Enam minggu… tujuh… aku lupa,” kata sura yang terdengar kelelahan. ”Bertemu dengan Griphook setelah beberapa hari, lalu bergabung dengan Gornuk tak berapa lama kemudian. Cukup menyenangkan kalau ada teman seperjalanan.” Lalu mereka berhenti, sementara terdengar suara pisau ditaruh di atas piring dan gelas diangkat dan diletakkan kembali di atas tanah. ”Apa yang membuatmu kabur, Ted?” lanjut pria tadi.

”Aku tahu mereka sedang mencariku,” jawab suara lembut itu, dan Harry tahu siapa orang itu. Ayah Tonks. ”Ku dengar Pelahap Maut ada di sekitar rumahku dan aku memutuskan untuk melarikan diri. Aku menolak untuk mendaftarkan diri

sebagai kelahiran Muggle, tahulah, jadi ini hanya masalah waktu untuk melarikan diri. Istriku akan baik-baik saja, dia darah murni. Lalu aku bertemu Dean, kapan, beberapa hari yang lalu, kan, nak?”

”Ya,” kata suara lain, dan Harry, Ron, dan Hermione saling bertukar pandang, senang dalam kebungkaman mereka, karena mengenali suara teman Gryffindor mereka, Dean Thomas.

”Kelahiran Muggle, eh?” tanya pria pertama.

”Aku tidak yakin,” kata Dean. ”Ayahku meninggalkan ibu waktu aku masih kecil. Dan aku tidak punya bukti kalau dia seorang penyihir.”

Tidak terdengar suara apa pun selain suara mengunyah, lalu Ted berbicara lagi.

”Harus kukatakan, Dirk, aku terkejut bisa bertemu denganmu. Senang, tapi terkejut. Banyak yang bilang mereka menangkapmu.”

”Memang,” kata Dirk. ”Aku sedang dalam perjalanan menuju Azkaban saat aku berhasil melarikan diri, memingsankan Dawlish dan mengambil sapunya. Ternyata lebih mudah daripada yang kau bayangkan. Aku rasa dia memang sedang tidak dalam keadaan baik. Di bawah sihir Confundus mungkin. Kalau memang benar, aku ingin menjabat tangan penyihir yang telah melakukannya, karena telah membuatku dapat meloloskan diri.”

Lalu yang terdengar hanya suara derak api dan riak sungai. Lalu Ted berkata, ”Lalu apa yang kalian berdua lakukan di sini? Aku pikir – er – kalian semua memihak Kau-Tahu-Siapa.”

”Kau salah,” kata goblin yang bersuara lebih tinggi. ”Kami tidak memihak. Ini adalah perang para penyihir.”

”Kalau begitu mengapa kalian bersembunyi?”

”Aku rasa ini adalah tindakan yang bijaksana,” kata goblin yang bersuara rendah. ”Aku menolak apa yang aku anggap sebagai peemintaan kurang ajar, dan aku tahu bahwa hidupku dalam masalah.”

”Apa yang mereka minta padamu?” tanya Ted.

”Pekerjaan yang tidak sesuai dengan martabat ras kami,” jawab si goblin, suaranya terdengar kasar. ”Kami bukan peri rumah.” ”Bagaimana denganmu, Griphook?” ”Alasan serupa,” kata goblin bersuara tinggi. ”Gringotts tidak lagi dipimpin oleh ras

kami. Dan aku tidak mengenal kepemimpinan lain.” Lalu ia menambahkan dengan bahasa Gobbledegook dan Gornuk tertawa. ”Apa leluconnya?” tanya Dean. ”Dia bilang,” jawab Dirk, ”penyihir juga tidak banyak mengenali hal lain.” Tidak ada yang bersuara. ”Aku tidak mengerti,” kata Dean. ”Aku punya sedikit dendam saat aku pergi,” kata Griphook. ”Goblin baik,” kata Ted. ”Tidak berhasil mengunci salah satu Pelahap Maut dalam ruangan penyimpanan tua berkeamanan tinggi, rupanya?”

”Kalau pun aku bisa, bahkan pedang itu tidak bisa membantunya keluar dari sana,” jawab Griphook. Gornuk tertawa dan bahkan Dirk tertawa kecil. ”Dean dan aku sepertinya masih ketinggalan berita,” kata Ted. ”Severus Snape, sepertinya dia tidak mengenalinya juga,” kata Griphook, dan kedua goblin itu tertawa menggila.

Di dalam tenda, Harry bernafas penuh ketertarikan. Ia dan Hermione bertukar pandang, lalu mencoba mendengarkan lagi. ”Apa kau tidak tahu, Ted?” tanya Dirk. ”Tentang anak-anak yang mencoba mencuri

pedang Gryffindor dari kantor Snape di Hogwarts?”Rasanya Harry tersengat listrik, setiap syaraf dan otot Harry terbangun. ”Tidak sama sekali,” kata Ted. ”Tidak dimuat dalam Prophet, ya?”

“Tentu saja,“ kekeh Dirk. “Griphook yang memberitahu aku, dia tahu dari Bill Weasley yang bekerja untuk bank. Salah satu dari anak-anak itu adalah adik perempuannya.“

Harry menatap ke arah Ron dan Hermione yang memegang erat-erat Telinga Terjulur mereka.

”Dia dan beberapa temannya masuk ke kantor Snape dan memecahkan kaca tempat penyimpanan pedang itu. Snape menangkap mereka saat mereka mencoba menyelundupkan pedang itu.“

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.