Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Harrry dan Hermione merasa bahwa jalan terbaik adalah tidak tinggal di satu tempat dalam waktu yang lama, dan Ron setuju, dengan syarat bahwa tujuan selanjutnya berhubungan dengan roti isi daging asap. Hermione melepaskan sihir perlindungan yang telah ia pasang, sementara Harry dan Ron menghilangkan semua tanda yang menunjukkan bahwa mereka pernah berkemah di sini. Lalu mereka ber-Disapparate ke daerah pinggiran kota.

Begitu mereka mendirikan tenda di bawah naungan pohon-pohon dan memasang sihir perlindungan baru, Harry berkeliling mencari makanan di bawah Jubah Gaib. Namun semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Harry baru saja memasuki kota saat ia merasakan rasa dingin yang tidak normal, kabut tipis, dan kegelapan yang tiba-tiba menutup langit, membuat Harry berdiri terdiam.

“Tapi kau hebat dalam menciptakan Patronus!” protes Ron, saat Harry kembali ke tenda tanpa membawa apa-apa, kehabisan nafas, dan mengucapkan satu kata “Dementor.”

”Aku… tidak bisa,” engah Harry sambil memegangi sisi tubuhnya. “Tidak… berhasil.”

Melihat ekspresi khawatir dan kecewa di wajah sahabatnya, Harry merasa malu. Itu adalah mimpi buruk, melihat Dementor melucur dalam kabut dan menyadari, saat udara dingin mencekik paru-parunya dan teriakan memenuhi telinganya, bahwa Harry tidak dapat melindungi dirinya sendiri. Bahkan butuh semua kekuatan agar Harry bisa lari dan meninggalkan Dementor tanpa mata bergerak di antara Muggle yang tidak bisa melihat mereka, tapi bisa merasakan keputusasaan yang Dementor tebarkan.

”Jadi kita tidak punya makanan.”

”Diam, Ron,” hardik Hermione. ”Harry, apa yang terjadi? Mengapa kau tidak bisa membuat Patronus? Kau melakukannya dengan baik kemarin!”

”Aku tidak tahu.”

Harry duduk di salah satu kursi tangan tua, dan makin merasa malu. Ia takut terjadi sesuatu yang salah dengan dirinya. Kemarin rasanya masa lalu, hari ini ia merasa seperti saat ia berusia tiga belas tahun, saat ia satu-satunya anak yang pingsan di Hogwarts Express.

Ron menendang kursi.

”Apa?” Ron menggeram pada Hermione. ”Aku kelaparan! Yang aku makan sejak aku hampir mati kehabisan darah hanya kotoran kodok!”

”Pergi dan lawan Dementor-Dementor itu, kalau begitu,” sengat Harry.

”Tentu, tapi tanganku terbebat, bila kau tak melihatnya!”

”Kebetulan sekali.”

”Apa maksudmu berkata…”

”Tentu saja,” teriak Hermione sambil memukulkan tangan ke dahinya dan mengejutkan Harry dan Ron sehingga mereka terdiam. ”Harry, berikan liontin itu! Ayo!” kata Hermione tidak sabar, menjentikkan jarinya di depan Harry yang tidak bereaksi, ”Horcruxnya, Harry, kau masih mengenakannya!”

Hermione menjulurkan tangannya dan Harry melepaskan kalung emas melalui kepalanya. Saat liontin dan kalung itu tidak lagi menyentuh kulit Harry, ia merasa bebas dan ringan. Harry tidak menyadari bahwa dirinya tertekan atau ada beban berat yang yang membebani perutnya, hingga sensasi itu terangkat.

”Lebih baik?” tanya Hermione.

”Sangat jauh lebih baik!”

”Harry,” kata Hermione, berjongkok di depan Harry dan menggunakan nada suara yang Harry artikan sebagai nada yang digunakan saat berbicara pada orang yang sedang sakit, ”kau tidak mengira kau telah dirasuki, kan?”

”Apa? Tidak!” kata Harry mempertahankan diri. ”Aku ingat semua yang aku lakukan saat memakainya. Aku tidak tahu yang aku lakukan bila aku sedang dirasuki, kan? Ginny memberitahuku bahwa ada banyak waktu di mana ia tidak bisa mengingat apa pun.”

”Hm,” kata Hermione yang menatap ke arah liontin itu. ”Kalau begitu, tidak seharusnya kita memakainya. Kita akan menyimpannya di tenda saja.”

”Kita tidak akan membiarkan Horcrux itu tergeletak begitu saja,” kata Harry berkeras. ”Kalau kita kehilangannya, kalau ada yang mencurinya…”

”Oh, baik, baik,” kata Hermione dan mengalungkan liontin itu di lehernya dan memasukkannya ke dalam kaus. ”Tapi kita harus bergiliran memakainya, jadi tidak ada yang memakainya terlalu lama.”

”Bagus,” kata Ron marah, ”karena kita sudah menemukan masalahnya, bisakah kita pergi mencari makanan?”

”Baiklah, tapi kita harus mencarinya ke tempat lain,” kata Hermione. ”Tidak ada gunanya tinggal kalau kita tahu banyak Dementor berkeliaran.”

Akhirnya mereka bermalam di tanah lapang di sebuah peternakan terpencil, di mana mereka berhasil mendapatkan telur dan roti.

”Ini tidak bisa dibilang mencuri, kan?” tanya Hermione ragu, saat mereka menghabiskan telus dadar dan roti panggang. ”Bukan mencuri kalau aku meninggalkan uang di kandang ayam, kan?”

Ron memutar matanya dan berkata, dengan pipi menggembung, ”Er-my-knee, hangang helawu hemaf. Henangwah!”

Dan, ternyata, memang lebih mudah untuk bersikap tenang dengan perut kenyang. Perdebatan tentang Dementor terlupakan dengan tawa di malam hari, bahkan Harry merasa ceria dan penuh pengharapan saat ia mendapat giliran pertama berjaga.

Untuk pertama kalinya mereka menyadari bahwa perut penuh berarti semangat baru, dan perut kosong berarti kemurungan dan pertengkaran. Harrylah yang peling terkejut dengan kenyataan ini, karena ia pernah merasakan masa-masa hampir kelaparan saat tinggal bersama keluarga Dursley. Sementara Hermione mampu melewati malam-malam dengan buah beri atau biskuit basi, walau sedikit mudah tersinggung dan sering terdiam. Sedangkan Ron, yang terbiasa tiga kali makan enak sehari, oleh masakan ibunya ata peri rumah Hogwarts, rasa lapar membuatnya tidak bisa berpikir dan cepat naik darah. Saat masa makanan menipis bertemu dengan saat Ron memakai liontin, ia berubah menjadi begitu menyebalkan.

”Jadi ke mana selanjutnya?” adalah kalimat favorit Ron. Ia sepertinya tidak memiliki pemikiran sendiri, dan berharap Harry dan Hermione telah siap dengan rencana sementara ia duduk dan berkomentar tentang sedikitnya jumlah makanan. Sementara, Harry dan Hermione menghabiskan waktu menduga di mana kemungkinan Horcrux lain berada dan bagaimana cara menghancurkan Horcrux yang sudah ada di tangan mereka. Dan mereka terus mengulang percakapan yang sama karena mereka tidak mendapatkan berita baru.

Saat Dumbledore memberitahu Harry bahwa ia percaya bahwa Voldemort menyembunyikan Horcrux di tempat yang penting baginya. Dan mereka terus mengulang pembicaraan itu, tempat-tempat di mana Voldemort pernah tinggal atau kunjungi. Panti asuhan, di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Hogwarts, di mana ia belajar. Borgin and Burke, tempat ia bekerja untuk pertama kali. Lalu, Albania, di mana ia mengasingkan diri selama bertahun-tahun, dan di sinilah mereka terus berspekulasi.

”Ya, ayo ke Albania. Tidak akan sampai sore untuk mencari ke seluruh negeri,” kata Ron kasar.

”Tidak mungkin ada sesuatu di sana. Dia sudah membuat lima Horcrux sebelum ia pergi mengasingkan diri, dan Dumbledore yakin bahwa ular itu adalah yang keenam,” kata Hermione. ”Kita tahu bahwa ular itu tidak di Albania dan tidak pernah jauh dari Vol…”

”Bukankah sudah kuminta untuk tidak menyebut namanya?”

”Baik! Ular itu berada dekat dengan Kau-Tahu-Siapa¬ – senang?”

”Tidak juga.”

”Aku rasa dia juga tidak menyembunyikan sesuatu di Borgin and Burke,” kata Harry, yang pernah mencapai titik ini sebelumnya, dan tetap mengulang katakatanya, ”Borgin dan Burke adalah ahli barang Hitam, mereka pasti langsung mengenali sebuah Horcrux.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.