Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Hermione mengambil nafas panjang. Dia kelihatannya hampir menangis.

“Harry, kukira kita tidak akan bisa kembali kesana.”

“Apa yang kau – “

“Ketika kita ber-Disapparate, Yaxley menangkapku dan aku tidak bisa melepaskan diri darinya. Dia terlalu kuat, dan dia masih memegangku ketika kita sampai di Grimmauld Place, dan kemudian – well, kukira dia pasti sudah melihat pintunya, dan berpikir kita berhenti disana, dia mengendurkan pegangannya dan aku berusaha melepasnya, kemudian aku membawa kita kemari sesegera mungkin!”

“Lalu, dimana dia? Sebentar… Maksudmu dia tidak di Grimmauld Place kan? Dia kan tidak bisa masuk kedalam?”

Mata Hermione berkilau oleh airmata yang tertahan ketika dia mengangguk.

“Harry, kurasa dia bisa. Kupaksa ia untuk melepas dengan mantra perubahan, tapi aku terlanjur membawanya kedalam perlindungan mantra Fidelius. Sejak Dumbledore meninggal, kitalah pemegang rahasia, jadi aku telah menunjukkan rahasianya, ya kan?”

Tanpa berpura-pura, Harry yakin Hermione benar. Itu suatu serangan yang serius. Jika Yaxley sekarang bisa masuk ke dalam rumah, jelas tidak mungkin mereka bisa kembali. Bahkan sekarang, ia bisa saja membawa Pelahap Maut lain kesana dengan ber-Apparate. Walaupun terasa suram dan menyesakkan dada sebelumnya, tempat itu telah menjadi tempat mengungsi mereka yang aman; sekarang dengan Kreacher yang lebih bahagia dan ramah, lebih terasa sebagai rumah. Dengan tusukan penyesalan yang tidak ada hubungannya dengan makanan, Harry membayangkan peri rumah itu menyibukkan diri dengan stik dan pai oval yang tidak pernah dinikmati Harry, Ron dan Hermione.

“Harry, maafkan aku, aku sangat menyesal.”

“Jangan bodoh, itu bukan kesalahanmu! Jika sesuatu terjadi, itu adalah salahku…”

Harry memasukkan tangan ke sakunya, dan mengeluarkan mata gaib Mad-Eye. Hermione mundur, tampak terkejut.

“Umbridge memasang di pintu kantornya, untuk memata-matai orang. Aku tak bisa meninggalkannya disana, tapi dengan begitu mereka tau ada penyusup.”

Sebelum Hermione bisa menjawab, Ron mengerang dan membuka matanya. Ia masih terlihat keabuan dan mukanya bersimbah peluh.

“Bagaimana perasaanmu?” Hermione berbisik.

“Parah,” jawab Ron parau, mengernyit merasakan lengannya yang terluka. “Dimana kita?”

“Di hutan dimana mereka menyelenggarakan Piala Dunia Quidditch,” ujar Hermione. “Aku menginginkan suatu tempat yang tertutup, tersembunyi, dan ini yang – “

“- tempat pertama yang terpikir olehmu,” Harry menyelesaikan ucapan Hermione, memandang sekilas sekeliling pada sesuatu yang tampaknya lapangan di tengah rimba yang sunyi. Ia tak tahan mengingat terakhir kali mereka ber-Apparate ke tempat yang pertama terlintas di benak Hermione – bagaimana Pelahap Maut menemukan mereka dalam hitungan menit. Apakah itu Legilimens? Apakah Voldemort atau kroninya tahu, kemana Hermione membawa mereka?

“Apakah kau mempertimbangkan kita seharusnya pindah?” Ron bertanya kepada Harry, dan Harry bisa mengatakan dari cara Ron memandang bahwa ia berpikir hal yang sama.

“Aku tak tahu.”

Ron masih kelihatan pucat dan berkeringat. Ia bahkan tidak berusaha untuk duduk dan tampaknya memang ia terlalu lemah untuk melakukannya. Kemungkinan untuk memindahkannya tampaknya kecil.

“Kita tinggal disini dulu,“ kata Harry.

Terlihat pulih, Hermione melompat berdiri.

“Kemana kamu?“ Tanya Ron.

“Jika kita tinggal, kita harus memberi peningkatan perlindungan di sekitar tempat ini,“ ia menjawab, dan mengangkat tongkatnya, dia mulai berjalan membentuk lingkaran besar di sekitar Harry dan Ron, menggumamkan mantra-mantra selagi ia bergerak. Harry melihat gangguan kecil di udara sekeliling; itu menunjukkan bahwa Hermione telah membuat udara panas diatas tanah terbuka mereka.

”Salvio Hexia….Protego Totalum….Repello Muggletum…. Muffliato….Kau bisa mengeluarkan tendanya, Harry….”

“Tenda?“

“DI dalam tas!“

“Di dalam….tentu saja,“ ujar Harry.

Ia tidak bersusah payah untuk memasukkan tangannya ke dalam kali ini, tapi langsung memakai mantra pemanggil.

Tenda itu muncul, dalam bentuk kanvas, tali-tali dan tiang-tiang yang banyak dan tidak halus. Harry mengenalinya, sebagian karena bau kucing, yaitu tenda yang sama yang mereka gunakan tidur di malam Piala Dunia Quidditch.

“Kupikir ini milik Perkins si orang Kementrian?“ Dia bertanya, mulai menguraikan pasak-pasak.

“Tampaknya dia tidak menginginkannya lagi, lumbagonya sangat parah,“ ujar Hermione, sekarang menampilkan bentuk-delapan gerakan yang rumit dengan tongkatnya, “jadi ayah Ron bilang aku boleh meminjamnya. Erecto!“ Dia menambahkan, mengarahkan tongkatnya pada kanvas yang kurang serasi, dalam satu aliran gerakan naik ke udara dan terselesaikan, penuh gagasan, menuju ke tanah didekat Harry, terlepas dari siapa yang mendaratkan dari ketinggian, ke daerah dimana akhir dari talinya.

“Cave Inimicum,” Hermione mengakhiri dengan lambaian ke angkasa. “Itu yang bisa kulakukan. Paling tidak, kita seharusnya tahu jika mereka datang. Aku bisa menjamin ini akan menjaga kita dari Vol-“

“Jangan sebut namanya!“ Ron memotong ucapannya, suaranya parau.

Harry dan Hermione saling pandang.

“Maafkan aku,” ucap Ron, sedikit merintih ketika ia mengangkat dirinya dan memandang mereka. “tapi ini terasa seperti – nasib sial atau semacamnya. Bisakah kita memanggilnya Kau-Tahu-Siapa –kumohon?”

“Dumbledore bilang takut akan nama-“ Harry mulai.

“Jika kau tidak menyadari, teman, memanggil Kau-Tahu-Siapa dengan namanya tidak memberi Dumbledore akhir hidup yang baik,” Ron membalas. “Hanya – hanya agar sedikit menghargai Kau-Tahu-Siapa, mau kan?”

“Menghargai?” Harry mengulangi. Hermione memberinya pandangan memperingatkan, tampaknya dia tidak ingin berdebat dengan Ron sementara kondisinya sangat lemah.

Harry dan Hermione setengah membawa, setengah menyeret Ron melewati pintu masuk tenda. Interiornya sama persis seperti yang diingat Harry; flat kecil, lengkap dengan kamar mandi dan dapur kecil. Ia mendorong ke samping kursi berlengan tua dan meletakkan Ron dengan hati-hati di bagian bawah tempat tidur susun. Bahkan perjalanan yang sangat singkat ini masih juga membuat Ron memucat, dan ketika mereka meletakkannya diatas matras dia menutup matanya lagi dan sementara tidak berbicara.

“Aku akan membuat teh,” kata Hermione menahan napas, mengambil ketel dan cangkir dari dalam tasnya dan menghadap dapur.

Harry merasa minuman panas membuka dirinya seperti firewhiskey di malam Mad-Eye meninggal; tampaknya telah mengurangi sedikit rasa takut di dalam dadanya. Setelah semenit atau dua menit, Ron memecah kesunyian.

“Apa yang menurutmu terjadi pada keluarga Cattermole?”

“Dengan sedikit keberuntungan, mereka mungkin telah pergi,” ujar Hermione, mengenggam cangkirnya untuk kenyamanan. “Sepanjang Mr. Cattermole mengikuti akal sehatnya, ia pasti telah memindahkan Mrs. Cattermole dengan ber-Apparate bersamasama dan mereka pasti sedang terbang melewati negara ini bersama anak-anaknya. Itu yang Harry sarankan padanya untuk dilakukan.”

“Ya ampun, kuharap mereka berhasil melarikan diri,” ujar Ron, bersandar kembali di bantalnya. Tampaknya teh telah membuatnya lebih baik; sebagian kecil warna kulitnya telah kembali. “Aku tidak merasa bahwa Reg Cattermole adalah orang yang bisa berpikir cepat, melihat bagaimana orang berbicara kepadaku ketika aku menjadi dia. Tuhan, kuharap mereka berhasil…. Jika mereka berakhir di Azkaban karena kita…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.