Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Tidak begitu baik, sebenarnya,” jawab pria kecil itu. Ia terlihat putus asa.

Saat Hermione dan pria itu berjalan ke jalan besar, Harry dan Ron mengikuti mereka.

“Aku turut sedih mendengarnya,” kata Hermione saat pria itu akan menceritakan masalahnya. Sangat penting untuk mencegahnya mencapai jalanan. “Ini, makanlah permen.”

“Eh? Oh, tidak, terima kasih.”

“Aku memaksa,” kata Hermione dengan agresif sambil menyorongkan sekantung permen ke wajah pria itu. Merasa tersudut, pria itu mengambil satu.

Efeknya terjadi begitu cepat. Sesaat setelah pastiles menyentuh lidahnya, pria itu langsung muntah-muntah, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa Hermione telah mencabut beberapa helai rambutnya.

“Ya ampun!” kata Hermione saat pria itu memenuhi gang dengan muntahannya. “Mungkin kau sebaiknya mengambil cuti!”

“Tidak – tidak!” pria itu tersedak dan muntah lagi. Ia berusaha untuk berjalan tapi tidak bisa. “Aku harus – hari ini – harus pergi…”

“Tapi itu konyol!” kata Hermione gusar. “Kau tidak bisa bekerja dengan keadaan seperti ini – kurasa lebih baik kau ke St Mungo agar bisa disembuhkan.”

Pria itu terjatuh, tapi tetap merangkak, berusaha keluar ke jalan.

“Kau tidak bisa pergi bekerja kalau begini!” teriak Hermione.

Akhirnya pria itu menerima pernyataan Hermione. Dibantu Hermione, pria itu kembali mencoba berdiri mencari tempat lalu menghilang, tidak meninggalkan apapun selain tasnya yang diambil Ron, dan genangan muntah.

“Urgh,” kata Hermione sambil mengangkat ujung jubahnya menghindari muntahan itu. “Tidak akan berantakan seperti ini kalau kita membuatnya pingsan.”

“Ya,” kata Ron yang muncul dari bawah Jubah sambil memegangi tas pria tadi, “tapi kupikir setumpuk orang tidak sadar akan lebih menarik perhatian. Dia giat sekali bekerja, ya? Berikan rambut dan Ramuannya.”

Dalam dua menit, Ron sudah berdiri sebagai seorang pria kecil berwajah seperti musang dan menggunakan jubah biru laut yang terlipat dalam tas pria itu.

“Aneh, mengapa dia tidak pakai seragam, padahal tadi dia sangat ingin pergi kerja, kan? Aku Reg Cattermole, menurut label di belakang jubah ini.”

“Sekarang tunggu di sini,” kata Hermione pada Harry yang masih di bawah Jubah Gaib, “dan kami akan membawakan rambut untukmu.”

Harry menunggu sepuluh menit, tapi rasanya lebih lama dari itu, berdiri sendirian di dalam gang yang penuh muntahan, di sebelah pintu yang menyembunyikan Mafalda yang pingsan. Akhirnya, Ron dan Hermione muncul.

“Kami tidak tahu siapa dia,” kata Hermione, memberikan beberapa helai rambut keriting hitam, “tapi dia harus pulang karena mimisan parah! Ini, orang itu cukup tinggi, kau akan butuh jubah yang lebih besar.”

Hermione mengeluarkan jubah tua yang baru dicuci Kreacher. Harry mengganti jubahnya dan meminum Ramuannya.

Setelah transformasi yang menyakitkan, tinggi Harry mencapai dua meter, lengannya berotot, dan berjanggut. Setelah menyimpan Jubah Gaib dan kacamata dalam jubahnya yang baru, ia bergabung bersama Ron dan Hermione.

“Blimey, itu menakutkan,” kata Ron, menatap Harry yang kini jauh lebih tinggi dari pada dirinya.

“Ambil satu koin Mafalda,” kata Hermione pada Harry, “ayo, sudah hampir jam sembilan.”

Mereka keluar dari gang itu bersama-sama, setelah berjalan lima ratus meter di jalanan yang ramai, terdapat dua baris pegangan berwarna hitam yang mengapit dua tangga, satu bertuliskan PRIA dan satu lagi WANITA.

“Sampai jumpa,” kata Hermione gugup. Ia menuruni tangga mengikuti pegangan untuk WANITA. Harry dan Ron bergabung dengan segerombolan pria berpakaian aneh yang ternyata mereka mengarah ke toilet umum bawah tanah, yang diberi keramik hitam putih.

“Pagi, Reg!” kata seorang pria dengan jubah biru laut, lalu ia masuk ke dalam salah satu [color = orange]petak[/color] dengan memasukkan koin emas ke dalam lubang di pintu. “Bikin susah, ya? Memaksa kita berangkat kerja seperti ini! Mereka pikir siapa yang akan datang, Harry Potter?”

Pria itu menertawakan leluconnya sendiri. Ron tertawa terpaksa.

“Ya,” kata Ron. “Bodoh sekali, ya?”

Ron dan Harry masuk ke petak masing-masing.

Lalu Harry mendengar suara siraman. Harry membungkuk, menoleh ke kanan dan mengintip dari celah di bawah petak, ia melihat sepasang kaki naik ke atas toilet. Ia menoleh ke kiri dan melihat Ron sedang berkedip padanya.

“Apa kita harus menyiram diri kita sendiri?” bisik Ron.

“Sepertinya,” balas Harry dalam suara bisikan yang berat dan dalam.

Mereka berdua berdiri. Merasa begitu bodoh, Harry naik ke atas toilet.

Harry tahu seketika kalau ia sudah melakukan hal yang benar, karena walau ia berdiri di dalam air, sepatu, kaki, dan ujung jubahnya tetap kering. Harry meraih rantai, menariknya, dan beberapa saat kemudian ia merosot turun dan muncul di salah satu perapian Kementrian Sihir.

Harry begitu canggung dengan tubuhnya, ia tidak terbiasa mengendalikan tubuh sebesar itu. Atrium Kementrian terlihat lebih gelap daripada yang Harry ingat. Sebelumnya, di tengah atrium terdapat air mancur emas, memancarkan cahaya berkilauan di atas lantai dan dinding kayu yang mengkilap. Sekarang, sebuah patung hitam besar dari batu menggantikannya. Patung itu cukup menakutkan, merupakan pahatan seorang penyihir pria dan wanita yang duduk di atas singgasana yang penuh ukiran, melihat ke bawah, ke arah pegawai Kementrian yang bermunculan dari perapian. Di dasar patung itu terukir tulisan sebesar setengah meter dengan ucapan: SIHIR ADALAH KEKUATAN.

Harry merasa ada dorongan dari belakang, seorang pria baru saja muncul di perapian yang sama.

“Minggir, tak dapatkah kau – oh, maaf, Runcorn!”

Ketakutan, pria botak itu bergegas pergi. Rupanya orang yang sedang Harry tirukan, Runcorn, adalah orang yang suka mengintimidasi.

“Psst!” terdengar suara dan Harry melihat seorang wanita berambut ikal dan pria seperti musang dari Pemeliharaan Sihir memanggilnya dari sebelah patung. Harry segera mendekati mereka.

“Kau bisa masuk dengan lancar, kan?” bisik Hermione pada Harry.

“Tidak, dia tersangkut di rawa-rawa itu tadi,” kata Ron.

“Oh, lucu sekali… mengerikan, ya?” kata Hermione pada Harry yang sedang memandangi patung. “Kau tahu mereka duduk di atas apa?”

Harry memerhatikan ukiran patung itu dan yang ia kira hanya ukiran singgasana ternyata pahatan tumpukan manusia. Beratus-ratus manusia telanjang, pria, wanita, dan anakanak. Semua dalam wajah jelek, sedikit bodoh, dan kebingungan. Mereka terhimpit menjadi satu, menahan berat penyihir berjubah yang tampan.

“Muggle,” bisik Hermione. “Dalam posisi yang tepat. Ayo, pergi.”

Mereka bertiga mengikuti arus para penyihir yang berjalan menuju gerbang emas di ujung atrium, dan diam-diam mencari sosok Dolores Umbrige yang tidak juga mereka temukan. Mereka melewati gerbang, masuk ke dalam aula yang lebih kecil di mana terdapat barisan-barisan di depan dua puluh lift dengan pintu teralis emas. Mereka ikut mengantri, lalu terdengar suara memanggil, “Cattermole!”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.