Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Blimey, Hermione, aku melupakan satu hal kecil – “ “Kau menyadarinya, kan, bahwa tidak ada tempat yang lebih berbahaya di seluruh dunia untuk kita saat ini daripada Kementrian… “

“Kita bergerak besok,” kata Harry.

Hermione terdiam, rahangnya membuka dengan kaku. Ron tersedak supnya.

“Besok?” ulang Hermione. “Kau tidak serius, kan, Harry?”

“Aku serius,” kata Harry. “Tidak ada bedanya persiapan kita saat ini atau setelah kita mengintai Kementrian sampai bulan depan. Semakin lama kita menunda, bisa jadi liontin itu semakin jauh. Ada kemungkinan Umbridge membuangnya. Karena ia tidak bisa membuka liontin itu.”

“Kecuali,” kata Ron, “dia telah menemukan satu cara untuk membukanya dan dia sedang di bawah pengaruh liontin itu.”

“Tidak ada bedanya, dari awal dia memang sudah jahat,” ujar Harry seraya mengangkat bahu.

Hermione menggigiti bibirnya, sibuk berpikir.

“Kita tahu semuanya penting,” lanjut Harry pada Hermione. “Kita tahu mereka tidak lagi ber-Apparate keluar masuk Kementrian. Sekarang kita tahu hanya pegawai senior yang bisa menyambungkan Jaringan Floo ke rumah mereka, karena Ron mendengar dua orang Unspeakable itu mengeluh tentangnya. Dan kurang lebih kita tahu di mana kantor Umbridge, karena apa yang kalian pernah dengar seorang pria berjanggut berkata pada temannya –

“’Aku harus ke tingkat satu, Dolores ingin menemuiku,’“ kata Hermione tiba-tiba.

“Tepat,” kata Harry. “Dan kita tahu kita masuk menggunakan koin aneh, tanda, atau apalah namanya itu, karena aku melihat penyihir itu meminjam satu dari temannya –“ “Tapi kita tidak punya satupun!” “Kalau rencana kita berjalan lancar, kita akan punya,” lanjut Harry dengan tenang. “Entahlah, Harry, entah… Mungkin saja terjadi kesalahan, kita terlalu bergantung pada keberuntungan…”

“Sama saja walau kita menghabiskan tiga bulan lagi untuk bersiap-siap,” kata Harry. “Ini saatnya untuk bergerak.” Dari wajah Ron dan Hermione, Harry tahu kalau mereka ketakutan. Ia sendiri tidak percaya diri, namun ia yakin bahwa memang sudah waktunya untuk menjalankan rencana mereka.

Mereka sudah menghabiskan empat minggu bergantian bersembunyi di bawah Jubah Gaib dan memata-matai pintu masuk utama Kementrian yang sudah diketahui Ron, terima kasih pada Mr Weasley, sejak kecil. Mereka mengekor pegawai Kementrian, menguping obrolan mereka, dan mempelajari di mana mereka muncul di satu tempat di satu waktu yang sama. Terkadang mereka bisa mengambil Daily Prophet dari tas salah satu pegawai. Perlahan, mereka bisa menggambarkan sebuah peta dan catatan penting yang sekarang tergeletak di depan Hermione.

“Baiklah,” kata Ron perlahan, “kalau kita memang pergi besok… aku rasa lebih baik hanya aku dan Harry yang pergi.”

“Oh, jangan mulai lagi!” desah Hermione. “Kukira kita sudah selesai membahasnya.”

“Kita tidak hanya akan melewati pintu masuk di bawah Jubah, ini berbeda, Hermione.” Ron menunjuk-nunjuk ke atas Daily Prophet sepuluh hari lalu. “Kau ada dalam daftar kelahiran Muggle yang tidak hadir untuk wawancara!”

“Dan kau seharusnya sedang sekarat karena spattergroit di the Burrow! Kalau ada orang yang seharusnya tidak pergi, orang itu adalah Harry. Dia punya harga sepuluh ribu Galleon di kepalanya –”

“Baik, aku akan tinggal di sini,” kata Harry. “Jangan lupa beritahu aku kalau kalian sudah berhasil mengalahkan Voldemort, oke?”

Saat Ron dan Hermione tertawa, bekas luka di dahi Harry terasa sakit. Tangannya spontan memegangnya, tapi Harry melihat Hermione memerhatikan dan Harry melanjutkan gerakan tangannya berpura-pura menyapu rambut yang menutupi matanya.

“Kalau kita bertiga pergi, kita harus ber-Disapparate sendiri-sendiri,” kata Ron. “Sudah tidak cukup lagi bila kita semua ingin bersembunyi di bawah Jubah Gaib.”

Bekas luka Harry semakin terasa sakit. Ia berdiri. Kreacher langsung mendatanginya.

“Master belum menghabiskan supnya, apakah Master lebih suka sup kental yang enak, atau Master lebih suka tart karamel kesukaan Master?”

“Terima kasih, Kreacher, tapi aku akan kembali sebentar lagi – er – kamar mandi.”

Tahu bahwa Hermione menatap curiga padanya, Harry bergegas menaiki tangga menuju aula dan kemudian ke lantai satu, di mana ia masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu. Sambil menahan rasa sakitnya, Harry bersandar pada wastafel hitam dengan kran berbentuk ular yang membuka mulutnya, lalu ia memejamkan mata.

Ia sedang berjalan di jalanan yang temaram. Bangunan di kedua sisi jalan memiliki atap kayu yang tinggi, dan terlihat seperti rumah kue jahe. Ia menuju salah satunya, lalu melihat tangannya yang berjari panjang dan pucat mengetuk pintu. Ia merasakan semangat yang semakin menggebu.

Pintu terbuka: seorang wanita yang sedang tertawa muncul. Raut wajahnya berubah begitu ia melihat wajah Harry: kesenangan hilang, ketakutan menggantikannya…

“Gregorovitch?” ujar sebuah suara yang tinggi dan dingin. Wanita itu menggelengkan kepalanya, lalu ia berusaha untuk menutup pintu. Tangan putih itu menahan pintu, mencegah wanita itu untuk menutupnya.

“Er wohnt hier nicht mehr!” teriak wanita itu sambil menggelengkan kepalanya. “Dia

tidak tinggal di sini! Dia tidak tinggal di sini! Aku tak tahu dia!” Menyerah untuk berusaha menutup pintu, wanita itu mundur ke ruang tengah yang gelap. Harry mengikutinya, mendekati wanita itu, dan tangannya yang berjari panjang menarik sebuah tongkat.

“Di mana dia?” “Das weiß ich nicht! Dia pindah! Aku tak tahu, aku tak tahu!”Tangan putih itu mengacungkan tongkatnya. Wanita itu berteriak. Dua anak kecil berlari

masuk ke ruang tengah. Wanita itu berusaha untuk melindungi mereka dengan tangannya. Lalu terlihat kilatan cahaya berwarna hijau.

“Harry! HARRY!” Harry membuka matanya; ia telah terbaring di lantai. Hermione sedang menggedor-gedor pintu.

“Harry, buka!” Ia pasti berteriak-teriak tadi, Harry tahu itu. Ia berdiri dan membuka pintu. Hermione hampir saja terjatuh, dan begitu ia mendapat kembali keseimbangannya, Hermione

menatap curiga. Ron berada tepat di belakangnya, tampak waspada dengan mengacungkan tongkatnya ke sudut-sudut kamar mandi yang dingin. “Apa yang kau lakukan?” tanya Hermione tegas. “Kau pikir apa yang aku lakukan?” tanya Harry sedikit menantang. “Kau berteriak-teriak kesetanan!” kata Ron.

“Oh, ya… aku pasti tertidur atau… “”

“Harry, tolong jangan anggap kami bodoh,” kata Hermione sambil menarik nafas dalamdalam. “Kami tahu kalau bekas lukamu terasa sakit di bawah tadi, dan kau sangat pucat.” Harry duduk di pinggiran bak mandi. “Baiklah. Aku baru saja melihat Voldemort membunuh seorang wanita. Mungkin sekarang ia sedang membunuh seluruh keluarga wanita itu. Padahal ia tidak harus

melakukannya. Seperti Cedric, mereka hanya ada di sana…”“Harry, kau seharusnya tidak membiarkan hal ini terjadi lagi!” raung Hermione, suaranya bergema di dalam kamar mandi. “Dumbledore ingin kau menggunakan Occlumency! Dia memberitahu bahwa koneksi itu berbahaya – Voldemort dapat menyalahgunakannya, Harry! Apa bagusnya melihat dia membunuh dan menyiksa orang? Bagaimana hal itu bisa membantu kita?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.