Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Tolong lepaskan sepatu Anda, Master Harry, dan cucilah tangan sebelum makan malam,” kata Kreacher sambil menerima Jubah Gaib Harry dan menggantungnya di kait yang ada di dinding, di sebelah sejumlah jubah tua yang baru saja dicuci.

“Apa yang terjadi?” tanya Ron cemas. Ia dan Hermione sedang membaca sekumpulan peta dan catatan tulisan tangan yang terkumpul di ujung meja dapur yang panjang, tapi sekarang mereka menatap Harry selagi ia melangkah ke arah mereka dan menjatuhkan koran di atas tumpukan perkamen.

Sebuah foto dengan wajah pria berhidung bengkok, berambut hitam, menatap pada mereka semua, di bawah tajuk yang berbunyi:

SEVERUS SNAPE DIANGKAT SEBAGAI KEPALA SEKOLAH HOGWARTS.

“Tidak!” jerit Ron dan Hermione.

Hermione lebih cepat, ia merenggut koran itu dan mulai membaca cerita yang mengiringi dengan nyaring.

“Severus Snape, yang telah lama bekerja sebagai guru Ramuan di Sekolah Sihir Hogwarts, hari ini ditunjuk sebagai Kepala Sekolah dan menjabat sebagai staf tertinggi di sekolah itu. Dengan adanya pengunduran diri guru Telaah Muggle sebelumnya, Alecto Carrow akan mengisi posisi tersebut. Dan saudaranya, Amycus, mengisi posisi guru Pertahanan Ilmu Hitam.“

“’Aku menerima kesempatan untuk menegakkan tradisi dan adat para penyihir – ‘ Seperti melakukan pembunuhan dan memotong telinga orang, kukira! Snape, kepala sekolah! Snape di ruang kerja Dumbledore – demi celana Merlin!” pekik Hermione, membuat Harry dan Ron melompat. Ia berdiri dan bergegas keluar ruangan, sambil berteriak, “Aku akan kembali sebentar lagi!”

“’Demi celana Merlin?’” ulang Ron yang terpesona. “Dia pasti kecewa.” Ia menarik koran ke hadapannya dan membaca dengan teliti artikel tentang Snape.

“Guru-guru lain tidak akan tinggal diam, McGonagall, Flitwick, dan Sprout tahu kejadian sebenarnya, mereka tahu bagaimana Dumbledore meninggal. Mereka tidak akan menerima Snape menjadi sebagai sekolah. Dan siapa para Carrows ini?”

“Pelahap Maut,” jawab Harry. “Ada foto mereka di dalam. Mereka juga ada di puncak menara saat Snape membunuh Dumbledore, jadi seperti reuni. Dan,” lanjut Harry dengan sengit sambil menarik sebuah kursi, “sepertinya guru-guru lain tak punya pilihan lain selain tinggal dan bertahan. Kalau Kementrian dan Voldemort mendukung Snape, pilihan mereka hanya tinggal dan mengajar, atau menghabiskan beberapa tahun di Azkaban – dan itu pun kalau mereka beruntung. Aku rasa mereka akan tetap tinggal dan berusaha untuk melindungi para siswa.”

Kreacher datang terburu-buru ke meja dengan sebuah mangkuk besar di tangannya, lalu menyendokkan sup ke dalam mangkuk saji sambil bersiul.

“Terima kasih, Kreacher,” kata Harry sambil membalik koran agar tidak perlu melihat wajah Snape. “Yah, setidaknya kita tahu dengan pasti di mana Snape berada sekarang.”

Harry mulai menyendokkan sup ke dalam mulutnya. Kualitas masakan Kreacher meningkat dramatis sejak ia diberi liontin Regulus. Bahkan bawang gorengnya terasa enak.

“Masih banyak Pelahap Maut yang mengawasi rumah ini,” kata Harry sambil melanjutkan makannya, “lebih banyak dari biasanya. Sepertinya mereka mengharapkan kita berbaris dengan membawa koper sekolah kita dan menuju Hogwarts Express.”

Ron melirik jamnya.

“Aku telah memikirkannya seharian. Sudah enam jam lalu kereta itu berangkat. Aneh rasanya, kita tidak di kereta saat ini.”

Harry seakan dapat melihat mesin uap berwarna merah bergerak di antara bukit dan pertanian, bergerak seperti ulat berwarna merah. Ia yakin saat ini Ginny, Neville, dan Luna duduk dalam satu kompartemen, mungkin sedang menduga-duga di mana ia, Ron, dan Hermione berada, atau sedang berdebat apa cara terbaik untuk meruntuhkan rezim Snape.

“Mereka hampir melihatku kembali tadi,” kata Harry. “Aku mendarat begitu buruk di anak tangga teratas, dan Jubahku tersingkap.”

“Aku selalu melakukannya. Oh, itu dia,” tambah Ron membenahi posisi duduknya agar bisa melihat Hermione yang memasuki dapur. “Dan demi celana kolor Merlin, apa itu?”

“Kebetulan aku ingat ini,” kata Hermione terengah-engah.

Ia membawa sebuah lukisan berbingkai besar, yang kini diletakkannya di lantai sebelum mengambil tas manik kecilnya dari laci dapur. Hermione membuka tasnya dan memaksa lukisan itu masuk, dan terlepas dari fakta bahwa benda itu jelas terlalu besar untuk bisa masuk ke dalam tas sekecil itu, dalam beberapa detik ia menghilang, seakan begitu mudahnya, ke kedalaman tas yang tak terduga.

“Phineas Nigellus,” Hermione menerangkan setelah ia meletakkan tas di atas meja diiring suara dentaman yang cukup keras.

“Maaf?” kata Ron, tapi Harry mengerti. Lukisan diri Phineas Nigellus Black dapat berpindah antara potretnya di Grimmauld Place dan satunya yang tergantung di ruang kepala sekolah di Hogwarts: ruangan bundar di puncak menara di mana Snape tanpa diragukan lagi sedang berada sekarang, dalam kemenangannya atas koleksi Dumbledore, barang-barang perak magis, Pensieve, Topi Seleksi, dan, kecuali benda itu sudah dipindahkan, pedang Godric Gryffindor.

“Snape bisa saja mengirim Phineas Nigellus untuk melihat keadaan rumah ini untuknya,” Hermione menjelaskan pada Ron setelah ia duduk kembali. “Tapi coba saja, yang bisa Phineas Nigellus lihat sekarang hanyalah isi tasku.”

“Pemikiran bagus!” kata Ron, tampak terkesan.

“Terima kasih,” Hermione tersenyum dan mulai memakan supnya. “Jadi, Harry, apa lagi yang terjadi hari ini?”

“Tidak ada,” kata Harry. “Tujuh jam aku berdiri mengintai pintu masuk Kementrian, tidak ada tanda-tanda dari wanita itu. Tapi tadi aku melihat ayahmu, Ron. Dia kelihatan baik-baik saja.”

Ron mengangguk, memperlihatkan apresiasinya atas berita itu. Mereka setuju bahwa terlalu berbahaya untuk berkomunikasi dengan Mr Weasley selama ia keluar masuk Kementrian, karena ia selalu dikelilingi oleh pekerja-pekerja Kementrian lain. Tapi tetap saja melegakan untuk melihatnya, walau ia selalu tampak tegang dan gelisah.

“Dad bilang kebanyakan pegawai Kementrian menggunakan Jaringan Floo untuk datang bekerja,” kata Ron. “Itu sebabnya kita tidak pernah melihat Umbridge,

dia tidak pernah lewat pintu masuk, dia pikir dirinya terlalu penting.”

“Dan bagaimana dengan penyihir tua aneh dan penyihir kecil yang mengenakan jubah biru laut itu?” tanya Hermione.

“Oh ya, orang dari Pemeliharaan Sihir,” jawab Ron. “Bagaimana kau tahu kalau ia bekerja untuk Pemeliharaan Sihir?” tanya Hermione, sendoknya tetap terangkat.

“Dad bilang semua orang dari Pemeliharaan Sihir memakai jubah biru laut.” “Kau tidak pernah bilang pada kami!” Hermione menjatuhkan sendoknya, lalu menarik berkas catatan dan peta yang sedang ia dan Ron periksa saat Harry baru memasuki dapur.

“Tidak ada satu pun catatan tentang jubah biru laut di sini, tidak ada!” kata Hermione sambil membolak-balik halaman demi halaman dengan tergesagesa. “Well, memangnya penting?” “Ron, semuanya penting! Kalau kita ingin masuk ke Kementrian dan tidak ingin

menyerahkan diri di saat mereka selalu berjaga-jaga kalau ada penyusup, setiap detil kecil menjadi penting! Sudah kukatakan berkali-kali, maksudku, tidak ada gunanya kita mengintai terus-terusan kalau – “

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.