Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

”Kreacher meminta maaf atas lamanya waktu membawa si pencuri, Tuan,” kata si peri rumah. ”Fletcher tahu bagaimana menghindari penangkapan, punya banyak tempat bersembunyi dan kaki tangan. Tapi Kreacher akhirnya berhasil mendapatkannya.”

”Kau telah melakukannya dengan baik, Kreacher,” kata Harry dan si peri rumah membungkuk rendah.

”Kami punya beberapa pertanyaan untukmu,” kata Harry pada Mundungus yang langsung berteriak, ”Aku panik, oke? Aku enggak pernah mau ikutan, enggak bermaksud menyinggung, sobat, tapi aku enggak mau mati muda buat kamu. Dan Kau-Tahu-Siapa langsung terbang ke aku, kalian semua pasti kabur, aku kan sudah bilang aku enggak mau ikutan…”

”Agar kau tahu, kami semua tidak ber-Dissaparate,” kata Hermione.

”Yah, kalian kan emang pahlawan. Tapi aku enggak pernah mau pura-pura siap buat bunuh diri…”

”Kami tidak tertarik mengapa kau kabur dari Mad-Eye,” kata Harry, yang sekarang mengarahkan tongkatnya ke mata berkantung Mundungus yang merah. ”Kami sudah tahu bahwa kau hanya sampah yang tidak dapat diandalkan.”

”Kalau gitu, kenapa aku dikejar sama peri rumah? Atau masalah piala itu lagi? Sudah enggak ada, sudah habis, atau kau…”

“Juga bukan masalah piala, walau kau hampir mendekati masalahnya” kata Harry.

”Sekarang diam dan dengarkan.” Rasanya menyenangkan saat harus melakukan sesuatu, menemukan orang yang bisa memberi sedikit kebenaran. Tongkat Harry kini begitu dekat dengan hidung Mundungus

yang menjadi sedikit juling agar tetap bisa melihat ujung tongkat Harry.

”Saat kau membersihkan rumah ini dari benda-benda berharga,” kata Harry memulai, tapi Mundungus memotongnya lagi.

”Sirius enggak peduli sama sampah…” Terdengar derap langkah dan terlihat kilatan tembaga, lalu terdengar suara logam dan jeritan kesakitan. Kreacher telah berlari ke arah Mundungus dan memukul kepalanya dengan panci.

”Ber’enti, ber’enti, dia harus diikat!” teriak Mundungus ketakutan saat Kreacher mengangkat panci yang berat itu lagi. ”Kreacher, jangan!” teriak Harry. Tangan kecil Kreacher gemetar karena berat panci masih terangkat tinggi. ”Mungkin sekali lagi, Tuan Harry, untuk keberuntungan?”

Ron tertawa. “Kami membutuhkannya dalam keadaan sadar, Kreacher, tapi bila dibutuhkan sedikit paksaan, kau dapat kehormatan untuk melakukannya,” kata Harry.

”Terima kasih banyak, Tuan,” kata Kreacher sambil membungkuk. Lalu ia mundur

beberapa langkah. Mata besarnya tetap menatap Mundungus jijik. “Saat kau membongkar rumah ini dan mengambil barang-barang berharga,” Harry memulai lagi, “kau mengambil setumpuk barang dari lemari dapur. Salah satunya adalah sebuah liontin.” Mulut Harry tiba-tiba kering dan ia bisa merasakan ketegangan Ron dan Hermione. “Apa yang kau lakukan dengan liontin itu?”

”Kenapa?” tanya Mundungus. “Emangnya penting?” “Kau masih menyimpannya!” teriak Hermione. ”Tidak,” kata Ron. ”Dia hanya ingin meminta uang lebih untuk liontin itu.” ”Uang lebih?” kata Mundungus. ”pasti susah… aku kasih gratis, tahu! Enggak ada pilihan lain.”

”Apa maksudmu?” ”Aku lagi jualan di Diagon Alley, terus dia datang dan tanya apa aku punya izin jualan artifak sihir. Wanita sialan. Dia suka sama liontin itu. Dia bilang

mau ngelepasin aku kalau aku ngasih liontin itu dan aku kira aku lagi beruntung.” ”Siapa wanita ini?” tanya Harry. ”Enggak tau, nenek sihir dari Kementrian kaya’nya.” Mundungus mencoba mengingatnya, alisnya bertaut. ”Wanita pendek, pake pita di kepala.” Mundungus terdiam lalu menambahkan, ”Kaya’ kodok.” Harry menjatuhkan tongkatnya dan mengenai hidung Mundungus yang menembakkan bunga api merah, mengenai alis Mundungus dan mulai menyala.

”Aguamenti!” teriak Hermione, dan air memancar keluar dari ujung tongkatnya, menyemprot dan membuat Mundungus tersedak. Harry menatap Ron dan Hermione yang sama terkejutnya. Bekas luka di punggung tangan kanannya terasa gatal. *Thanks Myu untuk koreksinya.

 

Bab 12 Sihir adalah Kekuatan*

Di bulan Agustus, petak rumput yang tidak terawat di depan Grimmauld Place mulai layu di bawah sinar matahari hingga menjadi rapuh dan kecokelatan. Penghuni rumah nomor dua belas tidak pernah dilihat oleh siapapun di rumahrumah sekitarnya, tidak juga nomor dua belas itu sendiri. Muggle yang tinggal di Grimmauld Place sendiri sudah lama terbiasa dengan kesalahan penomoran memalukan yang menyebabkan rumah nomor sebelas bersebelahan dengan rumah nomor tiga belas.

Deretan rumah itu telah menarik beberapa pengunjung karena keanehan yang ada. Bahkan selama beberapa hari para pengunjung itu datang ke Grimmauld Place tanpa alasan lain, atau kelihatannya begitu, selain bersandar ke susuran tangga yang berhadapan dengan rumah nomor sebelas dan tiga belas, mengamati dinding penghubung antara kedua rumah itu. Para pengintai itu berganti tiap dua hari, meskipun mereka semua berbagi ketidaksenangan pada pakaian normal. Orang-orang London yang melewati mereka mengira mereka hanya suka berpakaian aneh dan hanya melihat sekilas, walau pun ada juga yang menatap mereka lekat-lekat, penasaran mengapa ada orang yang mau memakai jubah di suhu sepanas ini.

Para pengamat itu terlihat tidak begitu puas dengan penjagaan mereka. Awalnya mereka memulai dengan penuh semangat, seakan-akan mereka telah melihat sesuatu yang menarik pada akhirnya, hanya untuk mundur dengan wajah kecewa.

Pada satu September, datang lebih banyak orang lagi yang memata-matai deretan rumah itu. Setengah lusin pria dengan jubah panjang berdiri dalam diam dan waspada, memandangi rumah nomor sebelas dan tiga belas, tapi sepertinya yang mereka tunggu tidak juga muncul. Ketika malam tiba membawa hujan deras dan hawa dingin yang tidak terduga untuk pertama kalinya dalam bermingguminggu, muncullah momen yang tak dapat dijelaskan ketika mereka nampaknya telah melihat sesuatu yang menarik. Seorang pria dengan wajah kebingungan menunjuk dan temannya, seorang pria gemuk dan pucat, mulai maju, namun beberapa saat kemudian mereka kembali ke posisi semula, diam, terlihat frustasi dan kecewa.

Sementara itu, di dalam rumah nomor dua belas, Harry baru saja masuk ke aula. Ia hampir saja kehilangan keseimbangan saat ber-Apparate di anak tangga teratas, tepat di depan pintu, dan berpikir bahwa salah seorang Pelahap Maut mungkin melihat sekilas saat sikutnya terlihat. Harry menutup pintu dengan hati-hati, lalu membuka Jubah Gaibnya, dan bergegas melintasi lorong yang suram yang menuju ke ruang bawah tanah, sebuah gulungan Daily Prophet curian ada di genggaman tangannya.

Bisikan rendah “Severus Snape” yang biasa menyambutnya, sapuan angin dingin menerpanya, dan untuk sesaat lidahnya menggulung.

“Aku tidak membunuhmu,” kata Harry begitu lidahnya tidak lagi terikat, lalu menahan nafas sejenak saat sosok debu itu meletup. Ia menunggu hingga ia setengah jalan menuruni tangga yang menuju dapur, di luar jangkauan telinga Mrs. Black, menepis kabut debu yang tersisa, sebelum berkata, “Aku dapat berita, dan kalian tidak akan suka.”

Dapur hampir tidak dapat dikenali lagi. Setiap senti kini berkilau; panci dan wajan tembaga berkilau kemerahan; meja kayu tampak mengkilap; gelas piala dan piring yang sudah disiapkan untuk makan malam memantulkan cahaya dari perapian yang di dalamnya terdapat kuali yang mendidih. Bagaimanapun, tak ada sesuatu di ruangan itu yang berbeda lebih dramatis daripada seorang peri rumah yang kini datang terburu-buru pada Harry, memakai handuk putih bersih, rambut telinganya pun sebersih dan sehalus kapas, liontin Regulus menggantung di dadanya yang kurus.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.