Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

menyadari bahwa ia tidak akan pernah melihat Hogwarts, atau tidak akan pernah melihat

keluarganya lagi. “Ini… ini…” gumam Harry, berusaha mencari kata yang sepadan dengan rasa marah yang ada dalam dirinya, tapi Lupin mengatakan, “Aku tahu.”

Lupin terlihat ragu.

“Aku mengerti kalau kau tidak akan menjelaskannya Harry, tapi sepertinya para anggota Orde mengira bahwa Dumbledore memberimu sebuah misi.” “Memang,” jawab Harry, “Ron dan Hermione terlibat dan mereka ikut denganku.” “Bisakah kamu menceritakan padaku misi apa itu?” Harry menatap wajah tirus itu, dengan rambut tebal berwarna abu-abu, dan berharap ia

bisa mengatakan jawaban yang berbeda.

“Maaf, aku tak bisa, Remus. Jika Dumbledore tidak menceritakannya kepadamu, kupikir aku juga tak bisa.” “Aku berpikir kau akan mengatakan hal itu,” kata Lupin, terlihat kecewa. “Tetapi

mungkin aku masih berguna untukmu. Kau tahu siapa aku dan apa yang dapat aku lakukan. Aku bisa ikut dengan kalian untuk melindungi kalian. Tidak perlu menceritakan padaku apa yang kalian lakukan.”

Harry terlihat ragu. Itu adalah penawaran yang sangat menggoda, walau pun entah bagaimana caranya untuk menjaga rahasia misi mereka bila Lupin bersama mereka sepanjang waktu.

Hermione terkejut. “Tetapi bagaimana dengan Tonks?” tanya Hermione. “Memang ada apa dengannya?” jawab Lupin. “Yah,” kata Hermione memasang muka masam, “kau sudah menikah! Bagaimana

perasaannya bila kau ikut dengan kami?” “Tonks akan baik-baik saja,” kata Lupin, “Ia akan tinggal di rumah orangtuanya.” Ada yang aneh dari nada bicara Lupin, nada bicaranya dingin. Juga ada salah dengan

gagasan bahwa Tonks akan aman bersembunyi di rumah orang tuanya, karena Tonks adalah anggota Orde, dan setahu Harry, Tonks adalah orang yang tidak bisa diam dan selalu ingin ikut beraksi.

“Remus,” kata Hermione, “apakah semuanya baik-baik saja… kau tahu… antara dirimu dan – ”

“Semuanya baik-baik saja, terima kasih,” kata Lupin cepat. Wajah Hermione memerah. Mereka semua diam, lalu dengan nada aneh dan sedikit malu,

Lupin berkata, seakan ia mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan, “Tonks akan memiliki seorang bayi.”

“Oh bagus sekali!” seru Hermione. “Luar biasa!” kata Ron gembira. “Selamat,” kata Harry. Lupin tersenyum, tapi senyumnya terkesan dibuat-buat, yang membuatnya terlihat seperti

menyeringai, lalu berkata, “Jadi… apakah kalian setuju dengan penawaranku? Akankah tiga menjadi empat? Aku tidak yakin Dumbledore akan menolaknya, ia memberikanku jabatan sebagai guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam kalian. Dan aku harus menceritakan padamu bahwa aku percaya kita akan menghadapi sihir-sihir yang tidak pernah kita bayangkan.”

Hermione dan Ron menatap Harry.

“Hanya – hanya untuk memperjelas,” kata Harry, “Kau ingin meninggalkan Tonks di rumah orang tuanya dan ikut dengan kami?” “Ia akan baik-baik saja disana, mereka akan menjaganya,” kata Lupin. Ia bicara dengan

nada yang berbeda, “Harry, aku yakin James menginginkanku untuk ikut denganmu.”

“Yah,” kata Harry pelan. “Tapi menurutku tidak begitu. Aku yakin ayahku ingin tahu mengapa kau tidak bersama anakmu sendiri.” Wajah Lupin memucat. Suhu di dapur seakan-akan turun sepuluh derajat. Ron

memandang ruangan itu seakan ingin mengingat semua kejadian yang terjadi. Sementara mata Hermione bergerak cepat antara Harry dan Lupin. “Kau tidak mengerti,” kata Lupin. “Jelaskan, kalau begitu,” kata Harry.

Lupin menelan ludah. “Aku – aku membuat kesalahan yang parah dengan menikahi Tonks. Aku kira aku telah melakukan hal yang benar tapi ternyata malah menjadi hal yang paling kusesali.”

“Oh, aku tahu,” kata Harry, “jadi sekarang kau mencampakkan ia dan anaknya dengan lari bersama kami?”

Lupin tersentak berdiri, kursinya bergerak ke belakang, dan ia menatap tajam pada Harry. Dan untuk pertama kalinya Harry melihat bayangan serigala pada wajah manusia.

“Apakah kau tidak mengerti apa yang sudah kulakukan pada istriku dan anakku yang belum lahir? Aku seharusnya tidak menikahinya, aku membuatnya menjadi sampah masyarakat.”

Lupin menendang kursi itu.

“Kau hanya mengenalku sebagai anggota Orde dan dalam perlindungan Dumbledore di Hogwarts! Kau tidak pernah tahu bagaimana dunia sihir melihat makhluk sepertiku! Saat mereka tahu penderitaanku, mereka bahkan tidak mau bicara denganku! Tidakkah kau tahu apa yang telah kuperbuat? Bahkan keluarganya jijik dengan pernikahan kami. Orang tua mana yang ingin anak mereka menikah dengan manusia serigala? Dan anakku – anakku…”

Lupin mencengkram rambutnya sendiri; ia kelihatan sedikit kacau.

“Makhluk sepertiku tidak seharusnya kawin! Anakku akan menjadi seperti aku, aku yakin

– bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri, saat aku tahu aku akan menurunkan keadaanku pada anak yang tidak bersalah? Dan bila ia, dengan sebuah keajaiban, tidak seperti aku, dan akan lebih baik, beratus-ratus kali lebih baik, tanpa ayah yang akan membuatnya malu”

“Remus!” bisik Hermione, matanya berkaca-kaca. “Jangan berkata seperti itu itu – bagaimana bisa seorang anak akan malu memiliki ayah sepertimu?”

“Oh, entahlah, Hermione,” kata Harry. “Aku akan malu padanya.”

Harry tidak tahu darimana kemarahan itu datang, tetapi itu mendorongnya

untuk berdiri juga. Lupin terlihat seakan Harry baru saja memukulnya.

“Jika pemerintahan yang baru menganggap kelahiran Muggle sudah cukup buruk,” kata Harry, “apa kata mereka dengan seorang anak setengah manusia serigala dan orang tua mereka adalah anggota Orde? Ayahku meninggal karena melindungi ibuku dan aku, dan kau kira dia akan berharap kau akan meninggalkan anakmu untuk pergi bersama kami?”

“Berani-beraninya kau!” kata Lupin. “Ini bukan tentang keinginan akan – akan bahaya atau kemuliaan – beraninya kau menyarankan seperti – ”

“Aku rasa kau memang suka menantang bahaya,” kata Harry, “ Kau ingin tahu bagaimana rasanya berada dalam sepatu Sirius…”

“Harry, jangan!” Hermione memohon padanya, tetapi Harry tetap memandang marah pada wajah Lupin yang pucat pasi.

“Aku tidak pernah percaya ini,” kata Harry. “Orang yang mengajarkanku cara melawan Dementor – ternyata seorang pengecut.”

Lupin menarik tongkatnya begitu cepat bahkan sebelum Harry sempat menyentuh tongkatnya. Terdengar suara ledakan keras dan Harry merasakan dirinya terpelanting mundur dan menghantam dinding dapur dan meluncur turun ke lantai. Harry masih sempat melihat sekilas ujung jubah Lupin melambai menghilang ke arah pintu.

“Remus, Remus, kembali!” Hermione menangis, tetapi Lupin tidak menggubrisnya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu dibanting.

“Harry!” ratap Hermione. “Bisa-bisanya kau -”

“Itu mudah,” kata Harry. Ia berdiri dan dapat merasakan memar yang muncul di kepala yang menghantam dinding. Harry masih bergetar penuh rasa marah.

“Jangan menatapku seperti itu!” bentak Harry ke Hermione.

“Jangan mulai dengannya!” geram Ron.

“Tidak – tidak – kita tidak harus bertengkar!” kata Hermione, berdiri di antara mereka.

“Kau seharusnya tidak mengatakan hal itu pada Lupin,” kata Ron kepada Harry.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.