Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Semuanya tentang Voldemort,” kata Hermione. “Sepertinya Regulus telah menjadi fans Voldemort selama bertahun-tahun sebelum dia bergabung menjadi Pelahap Maut.”

Debu beterbangan dari tempat tidur saat Hermione duduk di atasnya untuk membaca kliping-kliping itu. Sementara Harry, menemukan foto lain, tim Quidditch Hogwarts yang sedang tersenyum dan melambaikan tangan mereka. Harry mendekat dan melihat lambang ular menghiasi dada mereka. Slytherin. Regulus mudah sekali dikenali, seorang anak yang duduk di tengah di barisan depan, dia memiliki rambut hitam dan wajah arogan yang sama seperti kakaknya, walau ia lebih pendek, kurus, dan tidak setampan Sirius.

“Dia seorang Seeker,” kata Harry.

“Apa?” kata Hermione tidak jelas, karena ia masih membenamkan diri dalam kliping tentang Voldemort.

“Dia duduk di tengah di barisan depan, itu tempat Seeker… sudahlah,” kata Harry, menyadari bahwa tidak seorang pun mendengarkan. Ron sedang membungkuk mencoba mencari sesuatu di bawah lemari. Harry melihat berkeliling mencoba mencari tempat untuk menyembunyikan sesuatu. Tapi sepertinya sudah ada yang menggeledah tempat ini sebelum mereka. Isi laci berantakan, debu-debu sudah tersentuh, tapi tidak ada yang berharga di sana, hanya pena bulu tua, buku pelajaran tua yang sudah diperlakukan kasar, sebotol tinta yang baru saja dipecahkan yang isinya sudah mengental menutupi sebagian isi laci.

“Ada cara yang lebih mudah,” kata Hermione saat Harry mengelap jarinya yang terkena tinta ke celana jeansnya. Hermione mengangkat tongkatnya dan berkata, “Accio Liontin!”

Tidak terjadi sesuatu. Ron yang sedang mencari di lipatan tirai, terlihat kecewa.

“Jadi sekarang sudah jelas, kan? Benda itu tidak ada di sini?”

“Oh, bisa saja masih di sini, tapi dilindungi oleh kontra-mantera,” kata Hermione. “Mantera yang mencegah agar sesuatu tidak dapat dipanggil dengan sihir.”

“Seperti yang Voldemort lakukan pada baskom batu di gua,” kata Harry, mengingat saat ia tidak bisa memanggil Liontin palsu.

“Bagaimana cara kita menemukannya kalau begitu?” tanya Ron.

“Kita cari secara manual,” kata Hermione.

“Ide bagus,” kata Ron sambil memutar matanya, lalu melanjutkan memeriksa tirai.

Mereka menyisir tiap senti ruangan itu selama lebih dari satu jam, tapi akhirnya, dengan terpaksa, mereka harus menyimpulkan bahwa Liontin itu tidak ada di sana.

Matahari sudah benar-benar terbit sekarang. Cahayanya bahkan tetap menyilaukan walau sudah ditahan oleh jendela suram yang berdebu.

“Tetap saja ada kemungkinan liontin itu disembunyikan di rumah ini,” kata Hermione berharap, saat berjalan menuruni tangga. Saat Harry dan Ron mulai kehilangan semangat, Hermione malah semakin tertarik. “Entah apakah dia berhasil menghancurkannya atau tidak, dia pasti ingin menyembunyikannya dari Voldemort, kan? Ingat semua hal buruk yang terjadi saat kita kemari terakhir kali? Jam yang menyemburkan baut-bautnya pada tiap orang dan jubah-jubah tua yang mencoba mencekik Ron. Mungkin saja Regulus yang menyiapkannya untuk melindungi tempat persembunyian liontin itu, walau kita tidak menyadarinya saat… saat…”

Harry dan Ron menatap Hermione. Satu kaki Hermione melayang di antara anak tangga, tatapannya seperti orang yang baru terkena Mantra Ingatan, matanya menjadi tidak fokus.

“… saat itu,” Hermione menyelesaikan kalimatnya dalam bisikan.

“Ada yang salah?” tanya Ron.

“Ada di lemari kaca di ruang tamu. Tidak ada yang bisa membukanya. Dan kita… kita…”

Harry merasa ada sebuah bata yang memaksa masuk ke dalam dada dan perutnya. Harry ingat, ia bahkan sempat memegangnya saat setiap orang mencoba untuk membukanya. Lalu liontin itu dibuang ke karung sampah, bersamaan dengan sekotak bubuk Wartcap dan kotak musik yang membuat setiap orang mengantuk…

“Kreacher menyelinapkan banyak barang dari kita,” kata Harry. Hanya itu satu-satunya harapan yang ada, harapan tipis yang mereka miliki, ysng tidak akan mereka lepaskan. “Dia menyembunyikan semua barang-barang itu di lemarinya di dapur. Ayo!”

Harry berlari menuruni tangga dengan melompati dua-dua anak tangga sekaligus, Ron dan Hermione juga berlari di belakangnya. Keramaian yang mereka buat bahkan membangunkan potret ibu Sirius saat mereka melewati ruang tengah.

“Kotoran! Darah Lumpur! Sampah!” ibu Sirius meneriaki mereka saat mereka berlari menuju dapur di lantai dasar dan menutup pintu di belakang mereka.

Harry berlari menyebrangi ruangan. Tergelincir sedikit saat mencoba berhenti di depan lemari Kreacher dan Harry membukanya. Terdapat sebuah sarang kotor yang di atasnya terdapat selimut tua yang pernah digunakan si peri rumah untuk tidur, tapi tidak ada lagi barang-barang atau perhiasan-perhiasan kecil yang Kreacher selamatkan. Satu-satunya yang tersisa hanyalah buku Alam Kebangsawanan: Silsilah Para Penyihir. Menolak untuk mempercayai penglihatannya, Harry menarik selimut itu dan mengoyanggoyangkannya. Seekor tikus mati jatuh dan terlempar ke atas lantai. Ron mengerang dan menjatuhkan diri ke atas kursi, dan Hermione menutup matanya.

“Belum selesai,” kata Harry, ia lalu meninggikan suaranya dan memanggil, “Kreacher!”

Terdengar suara crack keras dan si peri rumah yang Harry warisi dari Sirius muncul begitu saja di depan perapian yang kosong dan dingin. Bertubuh hanya separuh tinggi manusia, kurus, kulitnya yang berkeriput, dan banyak rambut putih yang mencuat dari telinganya yang berbentuk saperti sayap kelelawar. Ia masih memakai kain kotor yang

sama saat mereka pertama kali bertemu, dan dengan tatapan menghina ia menunduk pada Harry untuk menunjukkan sikap santunnya pada sang majikan.

“Tuan,” kata Kreacher dengan suaranya yang seperti kodok, dan ia membungkuk dalamdalam, lalu menggumam pada lututnya, “kembali ke rumah Nyonya bersama Weasley si Darah Pengkhianatdan si Darah Lumpur…”

“Aku melarangmu untuk menyebut seseorang dengan “Darah Pengkhianat” atau “Darah Lumpur”,” geram Harry. Kreacher, dengan hidung yang seperti moncong babi dan mata merahnya, bukanlah makhluk menggemaskan dan mudah disukai, bahkan bila si peri rumah tidak mengkhianati Sirius demi Voldemort.

“Aku punya beberapa pertanyaan untukmu,” kata Harry, jantungnya berdetak cukup kencang saat ia melihat si peri rumah, “dan aku menyuruhmu untuk menjawabnya dengan jujur. Mengerti?”

“Ya, Tuan,” kata Kreacher sambil membungkuk lebih dalam. Harry melihat bibir Kreacher bergerak-gerak tanpa suara, jelas ia mengucapkan hinaan yang Harry larang.

“Dua tahun lalu,” kata Harry, jantungnya berdetak kencang hingga terasa memenuhi rusuknya, “ada sebuah liontin emas di ruang tamu. Kami membuangnya. Apa kau mengambilnya?”

Terjadi kebungkaman sesaat, lalu Kreacher mengangkat wajahnya dan menatap wajah Harry. Lalu ia berkata, “Ya.”

“Di mana liontin itu sekarang?” tanya Harry yang merasa senang, Ron dan Hermione pun tampak lega.

Kreacher menutup matanya seakan ia tidak sanggup untuk melihat reaksi mereka saat mendengar jawabannya.

“Hilang.”

“Hilang?” suara Harry menggema, rasa senang itu langsung menguap. “Apa maksudmu, liontin itu hilang?”

Peri rumah itu gemetar.

“Kreacher,” kata Harry tajam, “aku menyuruhmu untuk…”

“Mundungus Fletcher,” teriak si peri rumah, matanya masih tertutup rapat. “Mundungus Fletcher mencuri segalanya. Potret nona Bella dan nona Cissy, sarung tangan nyonya, piala Order of Merlin, Tingkat Pertama, dengan logo keluarga, dan, dan…” Kreacher terengah-engah mencari udara. Dadanya kembang kempis, bergerak cepat, lalu matanya membuka dan ia berteriak-teriak.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.