Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Setelah lima belas menit mencari, Harry terpaksa harus menyimpulkan bahwa sisa surat ibunya tidak ada. Apakah sisa surat itu hilang begitu saja setelah enam belas tahun, atau telah diambil oleh seseorang yang telah menggeledah kamar ini? Harry membaca lembar pertama surat itu lagi, kali ini mencoba mencari petunjuk yang mungkin menunjukkan isi lembar kedua. Sapu terbang mainannya mungkin akan menjadi petunjuk menarik bagi Pelahap Maut… petunjuk paling potensial hanyalah tentang Dumbledore. Rasanya tidak dapat dipercaya kalau Dumbledore – apa?

“Harry? Harry! Harry!” “Aku di sini!” jawab Harry. “Ada apa?” Terdengar derap kaki di luar dan Hermione memasuki ruangan. “Kami bangun dan tak tahu kau ada di mana!” kata Hermione yang kehabisan

nafas. Hermione menoleh dan berteriak, “Ron! Aku sudah menemukannya!” Terdengar suara Ron menjawab dan menggema dari lantai bawah. “Bagus! Katakan padanya kalau dia kurang ajar!” “Harry, tolong jangan menghilang begitu saja! Kami khawatir! Lagipula

mengapa kau naik ke kamar ini?” Hermione memandangi kamar yang berantakan. “Apa yang kau lakukan?”

“Lihat apa yang baru saja kutemukan.” Harry mengacungkan surat ibunya. Hermione mengambil dan membacanya sementara Harry memperhatikan. Saat Hermione selesai membaca, ia menatap Harry.

“Oh, Harry…” “Dan ini.” Harry menyodorkan foto sobek dan Hermione tersenyum saat melihat seorang

bayi yang terbang keluar masuk foto di atas sapu mainan. “Aku sudah mencari sisa suratnya,” kata Harry, “Tapi tidak ada.” Hermione memandangi ke sekeliling ruangan. “Apakah kau yang membuat ruangan ini berantakan, atau memang sudah

seperti ini sebelum kau kemari?”

“Seseorang sudah mengobrak-abrik dan sedang mencari sesuatu sebelumnya,” kata Harry. “Sudah kuduga. Setiap ruangan yang aku masuki juga berantakan. Menurutmu

apa yang mereka cari?”

“Informasi tentang Orde, bila itu Snape.”

“Tapi dia sudah mendapatkan semuanya, maksudku, dia ada dalam Orde, kan?”

“Kalau begitu,” kata Harry yang ingin terus mendiskusikan teori ini, “bagaimana kalau informasi tentang Dumbledore? Yang ada dalam lembar kedua surat ini. Kau pasti mengenal Bathilda yang ibuku sebutkan.”

“Siapa?”

“Bathilda Bagshot, penulis…”

“Sejarah Sihir,” kata Hermione yang mulai tertarik. “Jadi orang tuamu mengenalnya? Bathilda adalah seorang sejarahwan sihir yang luar biasa.”

“Dan dia masih hidup,” kata Harry, “dan dia tinggal di Godric Hollow. Bibi Muriel berbicara tentangnya di pesta pernikahan. Dia juga berbicara tentang keluarga Dumbledore. Topik yang menarik, kan?.”

Hermione tersenyum mengerti akan apa yang Harry maksudkan. Harry mengambil surat dan foto itu, lalu memasukkannya ke dalam kantung yang menggantung melingkar di lehernya, sehingga ia tidak perlu menatap Hermione, lalu ia berpaling.

“Aku mengerti mengapa kau senang berbicara dengan Muriel tentang ayah dan ibumu, juga Dumbledore,” kata Hermione. “Tapi itu tidak begitu membantu kita untuk menemukan Horcrux, kan?” Harry tidak menjawab dan Hermione langsung melanjutkan, “Harry, aku tahu kau ingin pergi ke Godric Hollow, tapi aku takut… aku takut bagaimana mudahnya para Pelahap Maut menemukan kita seperti kemarin. Dan hal itu yang makin membuatku ingin menghindari tempat orang tuamu dimakamkan, aku yakin mereka berharap kau akan pergi ke sana.”

“Bukan itu,” kata Harry yang masih menghindar untuk menatap Hermione. “Muriel mengatakan sesuatu tentang Dumbledore di pesta pernikahan. Dan aku ingin kebenaran…”

Harry memberitahu Hermione semua yang Muriel ceritakan. Saat Harry selesai, Hermione berkata, “Tentu, aku mengerti mengapa kau kecewa, Harry…”

“Aku tidak kecewa,” kata Harry berbohong, “aku hanya ingin tahu apakah cerita itu benar atau…”

“Harry, apa kau pikir kau bisa mendapatkan kebenaran dari wanita tua kejam seperti Muriel atau Rita Skeeter? Bagaimana bisa kau percaya pada mereka? Kau kenal Dumbledore!”

“Aku pikir aku kenal,” gumam Harry.

“Tapi kau tahu berapa banyak kebenaran yang Rita tulis tentangmu! Doge benar, bagaimana mungkin kau biarkan orang-orang seperti mereka merusak kenanganmu tentang Dumbledore?”

Harry memandang ke arah lain, mencoba untuk tidak mengingkari amarah yang ia rasakan. Hal itu lagi, memilih yang kita percaya. Harry menginginkan kebenaran. Mengapa setiap orang ingin agar Harry tidak mengetahui kebenaran?

“Lebih baik kita turun ke dapur,” usul Hermione setelah jeda beberapa saat. “Kita harus mencari sarapan.”

Harry setuju walau enggan, lalu mengikuti Hermione keluar dan melewati pintu kamar kedua. Di pintu terdapat goresan yang cukup dalam di bawah sebuah tanda yang tidak Harry sadari saat keadaan gelap tadi. Harry berhenti di ujung tangga untuk membacanya. Sebuah tanda larangan kecil yang ditulis dengan tulisan tangan yang rapi. Tanda larangan seperti yang Percy Weasley gantung di depan pintu kamarnya.

Dilarang Masuk Tanpa Izin Langsung Dari Regulus Arcturus Black

Rasa senang memenuhi darah Harry, walau ia sendiri tidak tahu mengapa. Ia membaca tanda larangan itu sekali lagi. Hermione sudah ada di tangga di lantai bawah.

“Hermione,” kata Harry, dan ia begitu terkejut karena suaranya begitu tenang. “Kembalilah ke atas.”

“Ada apa?”

“R.A.B. kurasa aku menemukannya.”

Terdengar suara terkejut dan Hermione berlari kembali ke atas.

“Dalam surat ibumu? Tapi aku tidak melihat…”

Harry menggelengkan kepalanya, lalu menunjuk tanda larangan milik Regulus. Hermione membacanya, lalu menggamit tangan Harry dan berkedip-kedip tidak percaya.

“Adik Sirius?” bisik Hermione.

“Dia seorang Pelahap Maut,” kata Harry, “Sirius menceritakannya padaku. Dia menjadi Pelahap Maut dalam usia yang sangat muda lalu ketakutan dengan apa yang akan dia lakukan sebagai Pelahap Maut dan ingin keluar – jadi mereka membunuhnya.”

“Pas sekali!” pekik Hermione. “Kalau dia seorang Pelahap Maut, dia punya akses ke Voldemort, dan saat dia sadar, dia ingin menjatuhkan Voldemort!”

Hermione melepaskan pegangannya, berjalan ke arah pegangan tangga, dan berteriak, “Ron! RON! Cepat naik!”

Ron muncul, terengah-engah, beberapa menit kemudian, dengan tongkat siap di tangan.

“Ada apa? Kalau laba-laba raksasa lagi, aku ingin sarapan sebelum…”

Ron berdiri membeku menatap tanda larangan yang ditunjuk oleh Hermione.

“Apa? Ini kamar adik Sirius, kan? Regulus Arcturus… Regulus… R.A.B.! Liontin – apa kau pikir?”

“Ayo cari tahu,” kata Harry. Harry mendorong pintu, tapi terkunci. Hermione mengarahkan tongkatnya ke pegangan pintu dan berkata, “Alohomora.” Terdengar suara click dan pintu terbuka.

Mereka masuk bersamaan dan memandang sekeliling. Kamar tidur Regulus lebih kecil daripada kamar Sirius, tapi memiliki kemegahan yang sama. Sementara Sirius menekankan betapa berbedanya dirinya dengan anggota keluarganya, Regulus bersikap sebaliknya. Warna Slytherin yang perak dan hijau memenuhi ruangan, menutupi tempat tidur, dinding, dan jendela. Logo keluarga Black dilukis dengan begitu teliti di atas kepala tempat tidur, lengkap dengan moto mereka, TOUJOURS PUR. Di bawahnya tertempel potongan koran yang sudah menguning yang membentuk sebuah kolase yang tidak teratur. Hermione berjalan melintasi ruangan untuk melihatnya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.