Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

‘‘Ya, aku ingat, terima kasih,” kata Harry dengan gigi terkatup. Harry tidak butuh Hermione untuk mengingatkannya bahwa Voldemort pernah menggunakan koneksi mereka untuk menjebaknya, yang kemudian berakhir dengan kematian Sirius. Harry berharap ia tidak pernah mengatakan apa yang ia lihat dan katakan. Karena membuat Voldemort lebih menakutkan, dan sepertinya Voldemort sedang melihat mereka dari jendela. Bekas lukanya makin terasa sakit dan Harry mencoba untuk melawannya.

Harry memunggungi Ron dan Hermione, berpura-pura memperhatikan permadani pohon keluarga Black yang terpampang di dinding. Lalu Hermione terpekik. Harry langsung mengeluarkan tongkatnya dan saat ia menoleh, ia melihat Patronus keperakan menembus jendela dan mendarat di lantai di depan mereka, dan memadat menjadi musang yang berbicara dengan suara ayah Ron.

‘‘Keluarga selamat, jangan membalas, kami dimata-matai.”

Patronus itu menghilang. Ron mengeluarkan suara antara rengekan dan perasaan lega, dan menjatuhkan diri ke sofa. Hermione mendekat dan memegangi tangannya.

‘‘Mereka baik-baik saja!” bisik Hermione. Ron tertawa kecil dan memeluknya.

‘‘Harry,” kata Ron dari balik bahu Hermione, ‘‘aku…”

‘‘Tidak apa-apa,” kata Harry, rasa sakit masih menerpa kepalanya. ‘‘Itu keluargamu, tentu saja kau khawatir. Aku pun akan merasakan hal yang sama.” Harry teringat akan Ginny. ‘‘Aku memang merasakan hal yang sama.”

Rasa sakit di bekas lukanya memuncak dan terasa terbakar sepert saat di kebun di The Burrow. Samar-samar Harry mendengar Hermione berkata, ‘‘Aku tidak ingin sendirian. Bisakah kita tidur di kantung tidur yang aku bawa dan tidur di sini?”

Harry mendengar Ron menyetujui. Harry sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya. Ia ingin menyerah.

‘‘Kamar mandi,” gumamnya sambil meninggalkan ruangan secepat mungkin tanpa harus berlari.

Harry hampir berhasil, menggerendel pintu dengan tangannya yang gemetar hebat. Ia memegangi kepalanya yang kesakitan dan jatuh ke lantai. Lalu, dalam ledakan kesakitan, ia merasakan amarah yang bukan miliknya. Ia melihat ruangan yang panjang dan hanya diterangi oleh perapian. Pelahap Maut berambut pirang itu terbaring di lantai, berteriak, dan menggeliat. Dan ada sosok yang berdiri di depannya, mengangkat tongkat, sementara Harry berkata dalam suara tinggi, dingin, dan tak berbelas kasihan.

‘‘Lagi, Rowle, atau harus kami sudahi dan memberikanmu pada Nagini? Lord Voldemort tidak akan mengampunimu kali ini… Kau memanggilku hanya untuk mengatakan bahwa Harry Potter telah meloloskan diri lagi? Draco, berikan Rowle rasa kesakitan… lakukan, atau kau akan merasakan kemarahanku!”

Sepotong kayu dimasukkan ke dalam perapian, dan api memerah. Cahayanya jatuh pada wajah pucat yang ketakutan – seakan baru keluar dari kedalaman air, Harry menarik nafas dalam dan membuka matanya.

Harry bergelung di lantai marmer hitam yang dingin. Hidungnya hampir menyentuh ekor ular perak yang menyangga bak mandi besar. Ia duduk. Wajah Malfoy yang cekung dan ketakutan terpatri di dalam matanya. Harry merasa muak atas apa yang baru ia lihat, apa yang Voldemort perintahkan pada Draco.

Terdengar ketukan keras di pintu dan Harry melompat saat mendengar suara Hermione.

‘‘Harry, kau mau memakai sikat gigimu?”

‘‘Ya, terima kasih,” kata Harry menjaga agar suaranya terdengar seperti biasa. Lalu ia berdiri dan membukakan pintu untuk Hermione.

======================

* Dusty bisa menjadi nama orang, bisa juga berarti berdebu.

* Ditch ginger dalam pengertian ini dinyatakan sebagai nama minuman. Kita masih menerima saran atas pengertian dari ditch ginger.

 

Bab 10 KISAH KREACHER

Harry bangun lebih dulu keesokan paginya, terbungkus kantung tidur di lantai ruang tamu. Langit terlihat dari celah tirai. Langit tampak biru tenang, masih antara malam dan fajar. Begitu sepi, yang terdengar hanya nafas berat dan pelan dari Ron dan Hermione yang masih tertidur. Harry menatap sosok gelap yang tertidur di sebelahnya. Ron telah bersikap ksatria dan memaksa Hermione tidur di sofa. Bayangan Hermione menutupi Ron. Tangan Hermione menggantung, dan jarinya hampir menyentuh jari Ron. Harry berpikir apakah mereka tertidur dengan saling berpegangan tangan. Bayangan itu tibatiba membuatnya merasa sendiri.

Harry menatap langit-langit yang gelap, ke arah lampu gantung yang dipenuhi jaring laba-laba. Kurang dari dua puluh empat jam yang lalu, ia sedang berdiri di bawah sinar matahari di depan pintu masuk tenda, menunggu para tamu untuk menunjukkan tempat duduk mereka. Sepertinya sudah lama sekali. Apa yang akan terjadi sekarang? Ia terbaring di lantai dan memikirkan Horcrux, misi yang rumit dan sulit, yang telah Dumbledore berikan… Dumbledore…

Keberanian yang muncul sejak kematian Dumbledore mulai berubah. Tuduhan yang diberikan Muriel di pesta pernikahan telah bersarang di pikirannya dan seperti penyakit yang menginfeksi kenangan tentang penyihir yang diidolakannya. Apakah Dumbledore akan membiarkan hal itu terjadi? Apakah iaseperti Dudley yang tidak peduli selama hal itu tidak mengganggunya? Apakah ia meninggalkan saudarinya yang terpenjara dan disembunyikan?

Harry memikirkan Godric Hollow, memikirkan makam yang tidak pernah Dumbledore ceritakan. Harry memikirkan benda misterius yang diwariskan Dumbledore tanpa penjelasan. Dan rasa marah Harry terus membesar dalam kegelapan. Mengapa Dumbledore tidak memberitahu? Mengapa Dumbledore tidak menjelaskan? Apakah Dumbledore benar-benar peduli pada Harry? Atau Harry sekadar alat yang terpoles dan terasah, tapi tidak pernah dipercaya?

Harry tidak tahan untuk tetap terbaring dan memikirkan hal-hal pahit itu. Ia harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya. Ia keluar dari kantung tidurnya, mengambil tongkatnya, dan berjalan perlahan keluar ruangan. Di ujung tangga ia berbisik “Lumos,” dan pelan-pelan ia menaiki tangga diterangi cahaya dari ujung tongkatnya.

Di lantai dua ada kamar dimana ia dan Ron pernah tidur saat terakhir kali mereka kemari. Harry memandangi bagian dalam kamar itu. Pintu lemari terbuka dan seprai tertarik lepas dari tempat tidur. Harry teringat dengan tempat payung Troll yang tergeletak jatuh. Seseorang telah mengobrak-abrik tempat ini sepeninggal anggota Orde. Snape? Atau Mundungus, yang melucuti barangbarang di rumah ini baik sebelum dan sesudah kematian Sirius? Harry menatap potret yang terkadang diisi oleh Phineas Nigellus Black, kakek buyut Sirius. Tapi potret itu kosong, meninggalkan sebidang latar belakang berwarna lumpur. Phineas Nigellus tentu sedang menghabiskan malamnya di kantor kepala sekolah di Hogwarts.

Harry menaiki tangga lagi hingga di lantai teratas yang hanya diisi oleh dua pintu. Satu pintu dengan papan nama Sirius. Harry belum pernah masuk ke kamar bapak baptisnya. Harry mendorong pintu sambil mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, memperluas jangkauan cahaya dari ujung tongkatnya. Kamar itu luas dan, pasti sebelumnya, indah. Ada tempat tidur besar dengan kayu ukiran di bagian kepala, jendela tinggi yang ditutupi oleh tirai beludru, dan tempat lilin gantung yang tertutup debu dengan lilin yang masih tertancap di tempatnya ditemani sisa tetesan lilin yang membeku. Debu melapisi gambar yang terpasang di dinding dan di atas tempat tidur. Jaring laba-laba terbentang dari lampu gantung ke atas lemari kayu. Harry memasuki kamar itu dan terdengar suara tikus yang berlari.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.