Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

puluh

empat jam. Siapa yang akan memantrai Harry?”

Hermione tidak membalas. Harry merasa bersalah. Benarkah ia yang menyebabkan Pelahap Maut menemukan mereka? ‘‘Jika aku tidak menggunakan sihir dan kalian tidak bisa menggunakan sihir di dekatku,

sepertinya kita harus…” kata Harry. ‘‘Kita tidak akan berpisah!” kata Hermione tegas. ‘‘Kita butuh tempat yang aman untuk bersembunyi,” kata Ron. ‘‘Kita butuh waktu untuk

berpikir.” ‘‘Grimmauld Place,” kata Harry. Ron dan Hermione tercengang. ‘‘Jangan bodoh, Harry, Snape bisa masuk ke sana!” ‘‘Ayah Ron bilang mereka sudah menyiapkan kutukan untuk Snape–-bila itu tidak dapat

menahannya,” lanjut Harry, saat melihat Hermione yang ingin menentang, ‘‘memang

kenapa? Sungguh, tak ada yang lebih kuinginkan daripada bertemu Snape!”

‘‘Tapi…”

‘‘Hermione, apa ada tempat lain? Itu satu-satunya kesempatan kita. Snape hanya seorang Pelahap Maut. Kalau aku masih meninggalkan jejak, mereka semua akan datang ke mana pun kita pergi.”

Hermione tidak dapat membalas, walau sepertinya ia sangat ingin membalas. Saat Hermione membuka kunci pintu, Ron menekan Deluminator untuk mengembalikan cahaya café. Lalu, dalam hitungan ketiga, mereka mengangkat mantra dan sebelum Pelahap Maut dan sang pelayan merasakan sesuatu yang tidak lebih dari rasa kantuk yang luar biasa, mereka bertiga menghilang dalam

kegelapan sekali lagi.

Beberapa detik kemudian, Harry bernafas lega saat membuka matanya. Mereka berdiri di depan bangunan kecil dan lusuh yang sudah mereka kenal. Mereka bisa melihat bangunan nomor dua belas itu, karena mereka telah diberitahu oleh Dumbledore, sang Pemegang Rahasia. Mereka langsung berlari sambil memeriksa apakah mereka diikuti atau dimata-matai. Mereka bergegas menaiki tangga batu, dan Harry mengetukkan tongkatnya ke pintu.

Terdengar suara denting logam dan rantai, lalu pintu berderak terbuka dan mereka bergegas masuk. Saat Harry menutup pintu, lampu gas bermodel lama langsung menyala, memberi cahaya di sepanjang lorong panjang. Tetap sama seperti yang Harry ingat, penuh jaring laba-laba dan terdapat pajangan kepala peri rumah yang berjajar di dinding. Tirai gelap panjang menutup potret ibu Sirius. Satu hal yang tidak pada tempatnya hanya tempat payung berbentuk kaki Troll yang sekarang tergeletak, sepertinya Tonks menyandungnya terakhir kali.

‘‘Aku rasa ada orang yang pernah datang kemari,” bisik Hermione.

‘‘Tidak mungkin kalau anggota Orde sudah meninggalkannya,” gumam Ron membalas.

‘‘Jadi di mana kutukan yang disiapkan untuk Snape?” Tanya Harry.

‘‘Mungkin aktif kalau dia yang datang,” tebak Ron.

Mereka masih berdiri di atas keset tepat di depan pintu, tidak berani masuk lebih dalam.

‘‘Kita tidak bisa diam saja di sini,” kata Harry yang melangkah maju.

‘‘Severus Snape?”

Suara Mad-Eye Moody berbisik dalam kegelapan, membuat mereka bertiga melompat kaget. ‘‘Kami bukan Snape!” teriak Harry sebelum udara dingin menyapunya dan membuat lidahnya bergulung membuatnya tidak bisa bicara. Sebelum Harry bisa merasakan lidahnya lagi, lidah itu kembali seperti semula.

Ron dan Hermione juga sepertinya merasakan hal yang tidak menyenangkan yang sama. Ron seperti ingin muntah. Hermione tergagap, ‘‘Itu p-pasti K-Kutukan Pengikat L-Lidah yang Mad-Eye siapkan untuk Snape!”

Harry memberanikakn diri untuk melangkah lagi. Sesuatu bergerak dalam bayangan di ujung lorong, dan sebelum mereka bisa berkata sesuatu, sebuah sosok muncul dari bawah karpet, tinggi, keabuan, dan menakutkan. Hermione berteriak, begitu pula nyonya Black, tirainya terbuka. Sosok keabuan itu melayang ke arah mereka, dengan rambut dan janggut sepanjang pinggang yang melambai, wajahnya tirus seakan tak berdaging, dengan rongga matanya yang kosong. Sosok mengerikan tapi sudah dikenalnya itu mengangkat tangan, menunjuk Harry.

‘‘Tidak!” teriak Harry, walaupun sosok itu mengangkat tongkatnya, tidak ada mantra terlepas darinya. ‘‘Tidak! Bukan kami! Kami tidak membunuhmu…”

Bersamaan dengan kata ‘membunuhmu’ sosok itu meletup menghilang, meninggalkan kumpulan awan debu. Harry terbatuk dan matanya berair. Hermione berjongkok dengan tangannya memegangi kepala. Ron yang bergetar hebat menepuk bahu Hermione dan berkata, ‘‘TT-tidak apa-apa… s-sudah pergi.”

Debu masih beterbangan membentuk kabut tipis, dan nyonya Black masih berteriak.

‘‘Darah lumpur, sampah, kotoran memalukan yang menodai rumah ayahku…”

‘‘DIAM!” teriak Harry yang mengacungkan tongkatnya, dan dengan ledakan dan percikan merah, tirai itu menutup dan membuatnya terdiam.

‘‘Itu… itu…” rengek Hermione saat Ron membantunya berdiri.

‘‘Ya,” kata Harry, ‘‘tapi itu bukan dia, kan? Hanya sosok untuk menakut-nakuti Snape.”

Harry penasaran apakah semua itu bisa berhasil, atau Snape akan menyingkirkan sosok menakutkan tadi, sama seperti saat ia membunuh Dumbledore? Rasa takut masih tertinggal saat mereka terus berjalan, bersiapsiap bila ada sesuatu lain yang akan terjadi, tapi hanya ada tikus yang berjalan merapat di dinding.

‘‘Sebelum lebih jauh, lebih baik kita memeriksanya dulu,’‘ bisik Hermione yang mengangkat tongkatnya dan berkata, ‘‘Homenum revelio!”

Tidak terjadi apa-apa.

‘‘Kau baru saja mengalami shock berat,” kata Ron berbaik hati. ‘‘Memang harusnya apa yang terjadi?”

‘‘Itulah yang seharusnya terjadi!” kata Hermione sedikit tersinggung. ‘‘Tadi itu mantra untuk menunjukkan keberadaan manusia, dan tidak ada seorang pun di sini selain kita!”

‘‘Dan si Dusty* tua,” kata Ron sambil memandangi bagian karpet di mana sosok tadi muncul.

‘‘Ayo naik,” kata Hermione yang memandangi tempat yang sama penuh ketakutan. Hermione mendahului untuk menaiki tangga yang berderak menuju ruang tamu di lantai satu.

Hermione mengayunkan tongkatnya untuk menyalakan lampu yang kemudian menerangi ruangan. Hermione duduk di sofa dengan tangan memeluk tubuhnya erat. Ron berjalan menuju jendela dan membuka tirai beludru sedikit.

‘‘Tidak ada orang di luar,” Ron melaporkan. ‘‘Dan kalau Harry masih meninggalkan Jejak, mereka pasti sudah mengejar kita kemari. Aku tahu kalau mereka tidak masuk ke dalam rumah, tapi – ada apa, Harry?”

Harry meringis kesakitan. Bekas lukanya terasa terbakar lagi. Dan dalam pikirannya ia bisa melihat pantulan cahaya di atas air dan merasakan amarah yang bukan miliknya memenuhi tubuhnya, begitu garang dan cepat seperti tersengat listrik.

‘‘Apa yang kau lihat?” tanya Ron sambil mendekati Harry. ‘‘Apa kau melihatnya di rumahku?”

‘‘Tidak, aku hanya merasa marah – dia benar-benar marah.”

‘‘Tapi bisa saja dia di the Burrow,” kata Ron. ‘‘Apa lagi? Apa kau tidak melihat yang lain? Apa dia sedang menyiksa seseorang?”

‘‘Tidak, aku hanya merasa marah – aku tidak tahu…”

Harry merasa kebingungan dan Hermione pun tidak membantu saat ia bertanya dengan suara ketakutan, ‘‘Bekas lukamu lagi? Ada apa? Kukira koneksi itu sudah tertutup.”

‘‘Tadinya,” gumam Harry, bekas lukanya masih terasa sakit dan membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. ‘‘Aku–-aku rasa koneksi itu terbuka lagi saat dia kehilangan kendali, makanya…”

‘‘Kalau begitu tutup pikiranmu!” kata Hermione nyaring. ‘‘Harry, Dumbledore tidak ingin kau menggunakan koneksi itu, dia ingin kau menutupnya, itu sebabnya kau belajar Occlumency! Atau Voldemort akan menanamkan penglihatan yang salah, ingat…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.