Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Harry yang baru saja meminum Butterbeernya, tersedak. Doge menepuk-nepuk pungung Harry, sambil memandangi bibi Muriel dengan mata marah. Saat Harry sudah baikan, ia bertanya, “Bathilda Bagshot tinggal di Godric Hollow?”

“Oh, ya, dia sudah tinggal lama di sana! Bahkan saat keluarga Dumbledore pindah ke sana setelah Percival dipenjara. Dan mereka bertetangga.”

“Keluarga Dumbledore tinggal di Godric Hollow?”

”Ya, Barry, kan baru aku bilang tadi!” kata bibi Muriel.

Harry merasa kosong. Selama enam tahun, Dumbledore tidak pernah memberitahunya kalau mereka berdua pernah tinggal dan kehilangan orang terkasih mereka di Godric Hollow. Mengapa? Apakah Lily dan James Potter dimakamkan denkat dengan ibu dan saudari Dumbledore? Apakah Dumbledore pernah mengunjungi makam mereka? Tapi Dumbledore tidak pernah memberitahu… tidak merasa perlu bercerita…

Dan mengapa hal ini begitu penting, Harry juga tidak tahu. Tapi Harry menganggap bahwa Dumbledore telah berbohong dengan tidak pernah mengatakan bahwa mereka berdua pernah tinggal di tempat yang sama dan mengalami hal yang sama. Harry menerawang tidak memerhatikan sekitarnya sampai Hermione muncul dari kerumunan dan duduk di sebelahnya.

”Aku sudah tidak kuat berdansa lagi,” kata Hermione lelah. Ia melepaskan salah satu sepatunya dan menggosok tumitnya. ”Ron sedang mengambil Butterbeer. Tadi aku melihat Viktor pergi dari ayah Luna setelah marah-marah padanya. Aneh, kan. Sepertinya mereka bertengkar…” Hermione menurunkan nada suaranya dan menatap Harry, ”Harry, kau baik-baik saja?”

Harry tidak tahu bagaimana ia harus memulai, tapi itu tidak penting. Karena saat itu, sesuatu yang besar dan keperakan telah turun menembus kanopi, tepat di atas lantai dansa. Anggun dan berkilauan, seekor lynx mendarat membuat orang-orang terpesona. Semua menoleh dan terdiam melihatnya. Lalu mulut Patronus itu membuka lebar dan terdengat suara nyaring, dalam, dan lambat, milik Kingsley Shacklebolt.

”Kementrian telah dikuasai. Scrimgeour mati. Mereka datang.”

 

Bab 9 TEMPAT PERSEMBUNYIAN

Semuanya berjalan lambat dan membingungkan. Harry dan Hermione meloncat dari kursi dan mengeluarkan tongkat mereka. Banyak orang yang baru menyadari suatu hal aneh telah terjadi. Mereka masih tampak kebingungan saat kucing perak itu menghilang. Semua bungkam memandangi tempat Patronus tadi muncul, lalu seseorang berteriak.

Harry dan Hermione berlari menerobos kerumunan orang yang panik. Para tamu berlari ke segala arah, beberapa di antaranya ber-Disapparate, perlindungan the Burrow telah rusak.

”Ron!” teriak Hermione. “Ron, kau di mana?”

Saat mereka menerobos di tengah lantai dansa, Harry dapat melihat sosok bertudung dan bertopeng muncul. Lalu ia melihat Lupin dan Tonks mengangkat tongkat mereka dan keduanya berteriak ”Protego!”, dan terdengar tangisan menggema.

”Ron! Ron!” panggil Hermione yang hampir menangis saat mereka berada di tengahtengah para tamu yang ketakutan. Harry meraih tangan Hermoine meyakinkan diri agar tidak terpisah. Lalu kilatan cahaya melewati atas kepala mereka.

Akhirnya mereka menemukan Ron, yang langsung meraih tangan Hermione yang lain, lalu Harry merasa tempat itu berputar. Semuanya berubah gelap. Dan yang bisa Harry rasakan hanya tangan Hermione yang menggenggamnya erat. Harry merasa mereka menjauh dari the Burrow, dari Pelahap Maut yang berdatang, bahkan dari Voldemort.

“Kita ada di mana?” terdengar suara Ron.

Harry membuka matanya. Sesaat ia pikir mereka masih di pesta pernikahan, karena mereka masih dikelilingi oleh banyak orang.

”Jalan Totenham Court,” kata Hermione terengah-engah. ”Jalan. Kita harus menemukan tempat untuk berganti pakaian.”

Harry menurut. Mereka setengah berlari di sebuah jalan yang lebar dan gelap yang dipenuhi pejalan kaki. Di kedua sisi jalan berjajar toko-toko yang sudah tutup, dan bintang-bintang berkedip di atas mereka. Saat sebuah bus tingkat berhenti dan penumpang di dalamnya menatap mereka saat mereka berlari melewatinya. Harry dan Ron masih mengenakan jubah pesta mereka.

”Hermione, kita tidak membawa pakaian ganti,” kata Ron saat seorang wanita tertawa keras melihatnya.

”Mengapa aku tidak membawa Jubah Gaib?” Harry mengutuki kebodohannya sendiri. ”Tahun lalu aku membawanya ke mana-mana.”

‘‘Tenang, aku membawa Jubahmu, dan aku membawa pakaian ganti untuk kita semua,” kata Hermione. ‘‘Sekarang bersikaplah seperti biasa, masuk kemari.”

Hermione berbelok masuk ke dalam gang kecil yang gelap.

‘‘Saat kau bilang kau membawa Jubah dan pakaian…” kata Harry sambil mengerutkan dahinya ke arah Hermione yang hanya membawa tas manik kecil, yang jelas tidak punya banyak ruang di dalamnya.

‘‘Bagaimana mungkin…”

‘‘Mantra Perluasan yang Tak Terdeteksi,” kata Hermione. ‘‘Sulit memang, tapi aku rasa aku sudah melakukannya dengan baik. Aku sudah memasukkan semua yang kita butuhkan.”Hermione mengayunkan tas kecilnya yang kemudian terdengar gema seperti kotak dengan banyak muatan yang berguling di dalam. ‘‘Oh, sial, pasti buku-buku itu,” kata Hermione sambil mengintip ke dalam tas, ‘‘padahal sudah kutata sesuai dengan abjad… ah sudahlah… Harry, pakai Jubah Gaibmu. Ron, cepat ganti pakaianmu.”

‘‘Kapan kau mengemasi semua ini?” tanya Harry saat Ron melepas jubahnya.

‘‘Sudah kubilang di the Burrow, kan? Aku mengemasi barang-barang yang kita butuhkan. Kau tahu, siapa tahu kita harus kabur tiba-tiba. Aku mengemasi ranselmu tadi pagi, Harry, setelah kau ganti baju… dan aku masukkan ke sini semua… saat itu aku merasa…”

‘‘Kau memang benar-benar luar biasa,” kata Ron yang menyerahkan gulungan jubahnya.

‘‘Terima kasih,” kata Hermione yang berusaha memasukkan jubah Ron ke dalam tasnya. ‘‘Harry, cepat pakai Jubahmu!”

Harry memakai Jubah Gaib di bahunya dan memakai tudung untuk menutupi kepalanya, dan ia menghilang dari penglihatan. Harry baru saja menyadari apa yang baru saja terjadi.

‘‘Yang lain — orang-orang di pesta pernikahan…”

‘‘Kita tidak bisa mengkhawatirkan mereka sekarang,” bisik Hermione. ‘‘Mereka mencarimu, Harry, dan akan lebih membahayakan mereka bila kau kembali ke sana.”

‘‘Hermione benar,” kata Ron yang seperti tahu kalau Harry akan berkomentar walau Ron tidak bisa melihatnya. ‘‘Hampir semua anggota Orde ada di sana. Mereka akan mengatasinya.”

Harry mengangguk, lalu teringat kalau mereka tidak bisa melihatnya dan berkata, ‘‘Benar.” Lalu Harry teringat akan Ginny dan ia merasa perutnya dipenuhi cairan asam.

‘‘Ayo, aku rasa kita harus pergi,” kata Hermione.

Mereka kembali ke jalan dan melihat segerombolan orang yang bernyanyi bersama saat menyebrang jalanan.

‘‘Hanya ingin tahu, mengapa Jalan Tottenham Court?” tanya Ron pada Hermione.

‘‘Entahlah, muncul begitu saja di kepalaku. Tapi aku yakin kita akan lebih aman di dunia Muggle, mereka tidak akan mengira kita akan kemari.”

‘‘Benar,” kata Ron sambil melihat sekeliling, ‘‘tapi apa tidak terlalu – terbuka?”

‘‘Memang mau di mana lagi?” kata Hermione yang terlihat ngeri saat gerombolan pria di sebrang jalan bersiul padanya. ‘‘Kita tidak mungkin bisa memesan kamar di Leaky Cauldron, kan? Lalu Grimmauld Place, Snape bisa saja masuk ke sana… kurasa kita bisa mencoba bersembunyi di rumah orang tuaku, walau mungkin saja mereka akan kembali… oh, aku harap mereka tidak akan bilang apa-apa.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.