Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Wajahnya seketika berwarna; air mata kebahagiaan mengalir dari matanya.

“Tuanku tahu aku mengatakan kebenaran.”

“Tidak ada kehormatan yang melebihi ini… bahkan jika dibandingkan dengan

pesta besar, yang kudengar berlangsung di kediaman keluargamu minggu ini?”

Mata Bellatrix terbelalak, bibirnya membuka, dan dia terlihat kebingungan. “Saya tidak mengerti maksud anda, Tuanku.”

“Aku membicarakan keponakanmu, Bellatrix. Dan tentunya keponakan kalian juga, Lucius dan Narcissa. Dia baru menikah dengan si manusia serigala, Remus Lupin. Kalian pasti merasa bangga.”

Terdengar tawa mencemooh di sekitar meja. Beberapa wajah maju ke depan untuk memperlihatkan sirat kegembiraan; yang lain memukul meja dengan tinju mereka. Ular besar, yang membenci keributan, membuka mulutnya lebar dan mendesis marah, tetapi para Pelahap Maut tidak mendengarnya, mereka menikmati penghinaan yang ditujukan pada Bellatrix dan keluarga Malfoy.

Wajah Bellatrix, yang berseri gembira, seketika berubah seakan-akan ditumbuhi bisul jelek dan merah.

“Dia bukan keponakan kami, Tuanku,” dia menangis saat yang lain terlihat gembira. “Kami – Narcissa dan aku – tidak pernah berhubungan dengan saudara kami sejak dia menikah dengan si darah lumpur. Anak itu tidak punya hubungan apapun dengan kami berdua, begitu juga binatang buas yang dia nikahi.”

“Bagaimana denganmu, Draco?” tanya Voldemort, suara pelannya mampu menyaingi ledekan dan cemohoohan. “Apakah kau akan merawat anaknya itu?”

Kegembiraan memuncak, Draco Malfoy menatap ngeri pada ayahnya, yang hanya menunduk melihat kakinya sendiri, lalu beralih menatap ibunya. dia menggelengkan kepalanya nyaris tak terlihat, dan kembali menatap lurus ke arah dinding yang berlawanan.

“Cukup,” kata Voldemort, menepuk ular yang marah. “Cukup.”

Dan tawapun langsung berhenti.

“Kebanyakan generasi sejak generasi tertua kita semakin lama semakin terinfeksi,” dia berbicara saat Bellatrix menatapnya, sambil menahan napas dan memohon, “Kau harus menjaga generasi keluargamu, tetap menjaganya sehat dengan memotong komponen yang mengancam kemakmurannya.”

“Ya Tuanku,” bisik Bellatrix, dan sekali lagi matanya dipenuhi air mata terimakasih. “Dikesempatan pertama!”

“Kau harus melakukannya,” kata Voldemort. “Di keluarga kalian, juga didunia…

kita akan membuang penyakit yang menginfeksi kita sampai hanya mereka yang berdarah murni yang tersisa…”

Voldemort mengangkat tongkat Lucius Malfoy, mengarahkannya langsung pada sosok yang berputar pelan yang terikat terbalik di atas meja, dan memberinya sedikit jentikkan. Sosok itu mulai sadar dengan rintihan dan mulai berusaha melepaskan ikatan tak terlihat yang mengikatnya.

“Apa kau mengenali tamu kita, Severus?” tanya Voldemort.

Snape mendongak dan melihat pada wajah kacau balau yang terikat terbalik itu. Semua Pelahap Maut menatap tawanan itu, seolah mereka diberi izin untuk memperlihatkan keingintahuan mereka. Saat wanita itu berputar menghadap perapian, wanita itu mengeluarkan suara ketakutan dan gemetar, “Severus! Tolong aku!”

“Ah, ya,” kata Snape ketika tawanan itu berputar pelan sekali lagi.

“Dan kau, Draco?” tanya Voldemort, menepuk pelan moncong ular itu dengan tongkatnya. Draco menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Saat wanita itu kembali terbangun, Draco tidak mampu melihatnya lagi.

“Kau tidak perlu mengambil kelasnya,” kata Voldemort. “Bagi kalian yang belum tahu, kita kedatangan seseorang untuk bergabung dengan kita malam ini, Charity Burbage yang, sampai beberapa waktu yang lalu, mengajar di sekolah Sihir Hogwarts.”

Terdengar bisikan kecil yang penuh dengan pemahaman. Di atasnya, gigi wanita tersebut bergemelutuk.

“Ya … Professor Burbage mengajar para penyihir muda tentang Muggle… bahwa mereka tidak berbeda dari kita… “

Salah satu Pelahap Maut meludah ke lantai. Charity Burbage berputar menatap Snape sekali lagi.

“Severus… kumohon… tolong…”

“Diam,” kata Voldemort, menjentikkan tongkat Malfoy, dan Charity langsung terdiam. “Merasa kurang dengan mengotori dan merusak pikiran para penyihir muda, minggu lalu Profesor Burbage menulis ketertarikan pada Darah Lumpur di Daily Prophet. Dia berkata, penyihir harus menerima pengetahuan dan sihir dari para pencuri tersebut. Berkurangnya darah murni, Profesor Burbage berkata, adalah keadaan yang sangat penting… Dia ingin kita semua berteman dengan Muggle… atau, tidak diragukan lagi, manusia serigala…”

Tak ada seorangpun yang tertawa kali ini. Ada kemarahan dan penghinaan dalam suara Voldemort. Untuk ketiga kalinya, Charity Burbage berputar menatap wajah Snape. Air mata mengalir dari matanya dan membasahi rambutnya. Snape balas menatapnya, terlihat tenang, setenang putaran Charity yang menjauh dari pandangannya.

“Avada Kedavra!”

Kilatan sinar hijau menerangi setiap sudut ruangan. Charity jatuh, bedebam keras, jatuh ke atas meja, yang bergetar dan retak. Beberapa Pelahap Maut terlonjak dari kursi mereka. Draco jatuh ke lantai.

“Makan malam, Nagini,” kata Voldemort dengan dingin, dan ular besar itu berjalan turun dari bahunya ke lantai yang mengkilap.

 

Bab 2 Kenangan

Harry terluka. Ia menggenggam tangan kanannya dengan tangan kirinya, menyumpahnyumpah dalam bisikan. Ia membuka pintu kamar dengan bahunya. Terdengar suara pecahan perabot porselen, dan sebuah pecahan cangkir berisi teh dingin tergeletak di lantai depan pintu kamarnya.

“Apa-apaan…?”

Ia melihat sekelilingnya, rumah nomor empat, Privet Drive yang sepi. Sepertinya ide cangkir teh ini adalah salah satu ide jebakan terbaik dari Dudley. Menjaga agar tangannya yang terluka tetap terangkat, Harry mengambil semua pecahan cangkir itu dengan tangannya yang lain, dan membuangnya ke tempat sampah di dekat pintu kamarnya. Lalu ia langsung ke kamar mandi untuk mencuci lukanya.

Sungguh benar-benar bodoh dan membosankan, bahwa ia harus menghabiskan empat minggu menahan diri untuk tidak menggunakan sihir… tapi ia merasa bahwa luka di jarinya dapat memaksanya untuk melakukan sihir. Sayangnya ia tak pernah belajar bagaimana mengobati luka, dan sekarang ia mulai berpikir bagaimana cara melakukannya. Ia berencana untuk menanyakan caranya pada Hermione, Sekarang ia menggunakan banyak tisu untuk membersihkan tumpahan tehnya sebelum ia kembali ke kamar dan membanting pintu kamarnya.

Harry menghabiskan pagi ini untuk mengosongkan koper yang selalu ia gunakan selama enam tahun terakhir. Pada tahun pertamanya, ia memenuhi kurang lebih tiga perempatnya lalu kadang mengganti atau menambahkan isinya tiap tahun, dan meninggalkan sisa-sisa di dasar koper – pena bulu lama, mata kumbang yang telah mengering, dan kaus kaki yang sudah tidak cukup lagi. Beberapa menit sebelumnya, Harry memasukkan tangannya ke dalam tumpukan itu, dan menghasilkan rasa sakit yang luar biasa dan pendarahan di keempat jari tangan kanannya.

Kini ia lebih berhati-hati. Ia berlutut di sebelah kopernya, ia meraba-raba dasar kopernya dan menemukan sebuah lencana tua yang berkedip-kedip antara DUKUNG CEDRIG DIGGORY dan POTTER BAU, Teropong Musuh rusak yang sudah tak bisa dipakai lagi, sebuah liontin emas dengan sebuah catatan dari

R.A.B. di dalamnya, dan akhirnya ia menemukan apa yang melukai jarinya. Ia langsung mengenalinya. Sebuah pecahan cermin sepanjang lima senti pemberian bapak baptisnya, Sirius. Harry meletakkannya dan melanjutkan mencari peninggalan lain dari bapak baptisnya. Tapi yang tersisa hanya sisa pecahan cermin yang tersebar di dasar kopernya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.