Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Selamat ulang tahun, Harry,” kata Tonks sambil memeluknya erat-erat.

“Tujuh belas tahun, heh!” kata Hagrid saat menerima anggur dalam gelas seukuran ember dari Fred. “Sudah enam taun sejak kita bertemu, Harry. Masih ingat?”

“Tidak juga,” Harry tersenyum pada Hagrid. “Kalau tidak salah kau merobohkan pintu depan, memberi ekor babi pada Dudley, dan berkata bahwa aku seorang penyihir, kan?”

“Aku lupa detailnya,” kekeh Hagrid. “Pa kabar, Ron, Hermione?”

“Kami baik,” kata Hermione. “Bagaimana denganmu?”

“Er, tidak buruk. Cukup sibuk, ada beberapa bayi unicorn baru. Akan aku tunjukkan saat kalian kembali nanti.” Harry menghindari tatapan Ron dan Hermione saat Hagrid sibuk dengan sakunya. “Ini, Harry – aku tidak tau harus memberi apa, tapi aku langsung ingat ini.” Hagrid mengeluarkan sebuah tas kecil berbulu dengan tali panjang yang sepertinya dikenakan di sekitar leher. “Mokeskin. Dapat sembunyikan apapun di dalamnya dan hanya pemiliknya yang bisa ngambil. Barang yang jarang ada.”

“Hagrid, terima kasih!”

“Bukan apa-apa,” Hagrid mengayunkan tangannya yang sebesar tutup tempat sampah. “Dan itu Charlie! Aku selalu suka padanya – hey! Charlie!” Charlie mendekat sambil menyentuh sedih potongan rambut barunya yang super pendek.

Charlie sedikit lebih pendek dari Ron dengan luka bakar dan luka gores di atas tangannya yang berotot. “Hai, Hagrid, apa kabar?”

“Aku berusaha tulis surat. Bagaimana kabar Norbert?” “Norbert?” tawa Charlie, “Naga Punggung Bersirip Norwegia itu? Kami memanggilnya Norberta, sekarang.”

“Apa – Norbert itu betina?” “Iya,” kata Charlie. “Bagaimana kalian tahu?” tanya Hermione. “Karena lebih ganas,” kata Charlie. Ia menoleh lalu merendahkan suaranya. “Semoga

Dad cepat pulang. Mum mulai tidak tenang.”

Mereka melihat ke arah Mrs. Weasley. Ia sedang berbicara dengan Madame Delacour dan sesekali menatap ke arah pintu pagar. “Aku rasa kita mulai pestanya tanpa Arthur,” katanya setelah beberapa saat. “Dia pasti

tertahan di – oh!” Semua melihat hal yang sama. Kilatan keperakan datang menuju ke arah meja yang

kemudian berubah bentuk menjadi musang yang berdiri dengan kedua kaki belakangnya dan berbicara dengan suara Mr. Weasley. “Menteri Sihir datang bersamaku.” Patronus itu menghilang diikuti decak kagum keluarga Fleur. “Kami harus pergi,” kata Lupin tiba-tiba. “Harry – maaf – akan kujelaskan lain kali.”

Lupin merangkul pinggang Tonks dan menariknya pergi. Mereka berlari ke arah pagar, dan menghilang. Mrs. Weasley menatap kebingungan.

“Sang Menteri – tapi – mengapa? Aku tidak mengerti.”

Tak ada waktu berdiskusi karena beberapa saat kemudian, Mr. Weasley muncul di pintu gerbang ditemani oleh Rufus Scrimgeour, yang langsung dapat dikenali dengan rambut singanya.

Dua orang itu berjalan menyebrangi halaman menuju meja yang diterangi lentera, di mana semua orang duduk terdiam melihat mereka mendekat. Saat Scrimgeour terkena cahaya, Harry merasa ia tampak lebih tua dari saat Harry terakhir kali bertemu dengannya, lebih kurus dan suram.

“Maaf mengganggu,” kata Scrimgeour saat baru saja mendekati meja. “Aku tahu aku menjadi perusak suasana di sini.”

Matanya terhenti sejenak pada kue Snitch raksasa.

“Selamat ulang tahun.”

“Terima kasih,” kata Harry.

“Aku ingin berbicara secara pribadi denganmu,” lanjut Scrimgeour. “Juga dengan Mr. Ronald Weasley dan Miss Hermione Granger.”

“Kami?” kata Ron terkejut. “Mengapa kami?”

“Akan kuberitahu saat kita bisa pindah ke tempat yang lebih pribadi,” kata Scrimgeour.

“Apakah ada?” pintanya pada Mr. Weasley.

“Ya, tentu saja,” kata Mr. Weasley terlihat gugup. “Er, ruang duduk, kalian bisa menggunakannya.”

“Tunjukkan,” kata Scrimgeour pada Ron. “Kau tak perlu menemani kami, Mr. Weasley.”

Mr. Weasley bertukar pandang gugup dengan Mrs. Weasley saat Ron dan Hermione berdiri. Mereka berjalan dalam diam menuju rumah. Harry tahu sahabatnya memikirkan hal yang sama dengannya. Scrimgeour pasti, entah bagaimana, tahu bahwa mereka akan keluar dari Hogwarts.

Scrimgeour tidak mengatakan apa-apa saat melewati dapur yang berantakan dan langsung ke ruang duduk. Walau di kebun dipenuhi lembutnya cahaya malam, tapi ruangan ini begitu gelap. Harry mengayunkan tongkatnya ke arah lampu dan langsung menyala dan menerangi ruangan lusuh tapi nyaman itu. Scrimgeour duduk di kursi malas yang biasa

ditempati Mr. Weasley, dan Harry, Ron, dan Hermione duduk berdesakan di sofa. Saat

semua tenang, Scrimgeour berbicara. “Aku ingin bertanya beberapa hal pada kalian bertiga, dan akan lebih baik bila dilakukan sendiri-sendiri. Aku rasa kalian berdua,” Scrimgeour menunjuk Harry dan Hermione, “bisa menunggu di atas, aku akan mulai dengan Ronald.”

“Kami tidak akan ke mana-mana,” kata Harry diikuti anggukan Hermione. “Kau harus

berbicara pada kami atau tidak sama sekali.” Scrimgeour menatap Harry dingin. Harry merasa bahwa sang Menteri sedang berpikir apakah berarti bila harus bersikap bermusuhan saat ini.

“Baiklah, bersamaan,” katanya sambil mengangkat bahu. Ia berdeham. “Aku di sini karena, aku tahu kalian sudah tahu, keinginan Albus Dumbledore.”

Harry, Ron, dan Hermione saling bertukar pandang. “Kalian terkejut! Kalian tidak tahu, kalau begitu, bahwa Dumbledore meninggalkan seseuatu untuk kalian?”

“Ka-kami?” kata Ron. “Aku dan Hermione juga?” “Ya, kalian…” Harry memotongnya. “Dumbledore sudah meninggal sebulan lalu. Mengapa butuh waktu yang begitu lama

untuk memberikannya pada kami?”

“Sudah jelas, kan?” kata Hermione sebelum Scrimgeour menjawab. “Mereka

ingin memeriksanya terlebih dahulu. Kalian tidak punya hak!” suaranya bergetar. “Kami punya,” kata Scrimgeour. “Dekrit Hak Penyitaan memberi Kementrian hak untuk

menyita barang, bila…” “Hukum itu ditujukan untuk menghentikan para penyihir yang memindahkan artifak Ilmu

Hitam,” kata Hermione, “dan Kementrian seharusnya punya bukti kuat untuk menyita barang! Kau pikir Dumbledore akan memberikan barang yang dikutuk pada kami?” “Apakah kau berencana bekerja di Departemen Hukum Sihir, Miss Granger?” tanya

Scrimgeour. “Tentu tidak,” jawab Hermione. “Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang benar!” Ron tertawa. Mata Scrimgeour menatap Ron lalu kembali ke Harry saat Harry berbicara.

“Jadi, mengapa kau memutuskan untuk memberikannya pada kami sekarang? Tidak punya alasan lain untuk bisa menahannya?”

“Bukan, karena batas tiga puluh satu hari mereka sudah habis,” kata Hermione. “Mereka tidak boleh menyimpan suatu benda lebih lama kalau memang tidak terbukti berbahaya.”

“Apakah kau dekat dengan Dumbledore, Ronald?” tanya Scrimgeour mengacuhkan Hermione. Ron terkejut.

“Aku? Tidak – tidak juga… biasanya Harry yang…”

Kata Ron sambil menoleh ke arah Harry dan Hermione yang memberinya tatapan ’Diam’! Tapi sudah terlambat. Scrimgeour sudah mendapatkan apa yang ingin ia dengar. Ia langsung menyambar jawaban Ron seperti seekor burung yang sudah mengincar mangsanya.

“Kalau kau tidak terlalu dekat dengan Dumbledore, apa yang kau katakan bila kau ada dalam wasiatnya? Dia telah memilih beberapa orang untuk menerima barang peninggalannya. Begitu banyak peninggalannya – perpustakaan pribadi, benda-benda sihir, barang-barang pribadi – yang tertinggal di Hogwarts.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.