Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Harry, Ron, dan Hermione tidak bergabung di meja sarapan, sejak Madame Delacour, Fleur, dan Gabrielle turun, dapur makin penuh sesak.

“Akan kurapikan untukmu,” kata Hermione senang, mengambil hadiah-hadiah Harry saat mereka bertiga menuju ke atas, “aku hampir selesai berkemas, tinggal menunggu celana kalian selesai dicuci.”

Pembicaraan mereka berhenti saat pintu terbuka di lantai ke dua.

“Harry, bisakah kau kemari sebentar?”

Ginny. Ron tiba-tiba berhenti, tapi Hermione menggandengnya dan memaksanya untuk terus menaiki tangga. Harry mengikuti Ginny memasuki ruangan, merasa gugup.

Harry tidak pernah masuk ke sini. Ruangan itu kecil tapi terang. Ada sebuah poster besar band penyihir Weird Sister di dinding, dan sebuah potret Gwenog Jones, kapten tim Quidditch Holyhead Harpies. Sebuah meja diletakkan di dekat jendela. Dari sini terlihat kebun di mana ia pernah bermain Quidditch bersama Ron dan Hermione, di mana sekarang berdiri sebuah tenda putih besar. Bendera keemasan tepat ada di depan jendela kamar Ginny.

Ginny menatap wajah Harry, menarik nafas dalam, dan berkata, “Selamat ulang tahun ketujuh belas.”

“Terima kasih.”

Ginny menatap Harry dalam-dalam, sedangkan Harry merasa sulit untuk menatap balik, serasa melihat cahaya yang menyilaukan.

“Pemandangannya bagus,” kata Harry pelan, mengarah keluar jendela.

Ginny diam saja.

“Aku tidak tahu harus memberikan hadiah apa,” kata Ginny.

“Kau tidak perlu memberikan apa-apa.”

Ginny tidak peduli.

“Aku tidak tahu apa yang akan berguna untukmu. Sesuatu yang tidak terlalu besar, agar dapat kau bawa.”

Harry mencoba memandang wajah Ginny. Tidak tampak air mata di sana. Itu adalah salah satu hal luar biasa dari Ginny, ia jarang menangis. Mungkin mempunyai enam orang kakak laki-laki membuatnya tangguh.

Ginny meju selangkah mendekati Harry.

“Lalu aku pikir, lebih baik memberikan sesuatu yang bisa kau kenang. Kau tahu, bila kau bertemu Veela saat perjalananmu nanti.”

“Jujur saja, kecil kemungkinan untuk berkencan.”

“Ada sebuah garis perak yang aku cari,” bisik Ginny yang lalu mencium Harry seperti ia tak pernah menciumnya, dan Harry membalasnya. Dan ini adalah sebuah kebahagiaan yang tak terlupakan, jauh lebih baik dari Firewhisky. Ia adalah hal yang paling penting di dunia ini, Ginny, merasakannya, satu tangan memeluk punggungnya dan tangannya lain membelai rambutnya yang panjang, harumnya manis…

Pintu tiba-tiba terbuka lebar dan mereka melompat berpisah.

“Oh,” kata Ron. “Maaf.”

“Ron!” desis Hermione yang ada tepat di belakangnya. Ada ketegangan di antara mereka, lalu Ginny berkata dengan nada datar, “Selamat ulang tahun, Harry.” Telinga Ron memerah, Hermione tampak gelisah. Ingin rasanya Harry

membanting pintu di depan muka mereka. Rasanya ada cairan dingin masuk mengaliri ruangan saat pintu terbuka tadi, dan masa-masa indah Harry pecah seperti gelembung sabun. Segala alasan untuk putus dari Ginny, untuk menjaga jarak darinya, sepertinya semua alasan itu tidak terbukti.

Harry menatap Ginny, ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu apa, tapi Ginny terlanjur membalikkan tubuhnya. Harry mengira Ginny akan menangis, dan Harry tidak bisa menenangkannya di depan Ron.

“Sampai jumpa,” kata Harry keluar ruangan diikuti dua sahabatnya. Ron turun, melewati dapur yang masih kacau, dan terus menuju halaman

belakang, dan Harry terus mengikutinya, Hermione mengekor di belakang terlihat ketakutan. Saat mereka tiba di ujung halaman belakang yang rumputnya barus saja

dipotong, Ron berbalik menghadap Harry.

“Kau telah mencampakkannya. Lalu apa yang kau lakukan barusan? Mempermainkannya?” “Aku tidak mempermainnkanya,” kata Harry. Hermione mencoba menengahi. “Ron…” Tapi Ron mengangkat tangannya. Memintanya tetap diam. “Dia benar-benar sedih waktu kau memutuskannya.” “Aku juga. Kau tahu mengapa aku memutuskannya. Dan kau tahu aku tidak ingin

putus dengannya.” “Iya, tapi sekarang kau menciumnya dan memberinya harapan…” “Dia bukan orang bodoh, dia tahu hal itu tidak akan terjadi, dia tidak mungkin

mengira bahwa kami akhirnya akan – akan menikah, atau…” Saat Harry mengatakannya, sebuah bayangan nyata muncul di dalam pikiran

Harry. Ginny dalam gaun putih menikah dengan seorang pria tanpa wajah. Dan pada saat itu, Harry terasa terpukul. Masa depannya bebas dan tanpa beban… yang bisa ia lihat di depan hanyalah Voldemort.

“Berani kau menggerayanginya lagi…”

“Tak akan terjadi lagi,” kata Harry kasar. Hari itu cerah. Tapi Harry merasa bahwa matahari telah menghilang, “ok?”

Ron tampak separuh marah, separuh malu. Ia bergoyang ke depan dan belakang di atas tumitnya lalu berkata, “Ya sudah, kalau begitu…”

Ginny tidak lagi berusaha untuk berdua-duan dengan Harry sepanjang hari itu. Tidak ada hal khusus yang Ginny tunjukkan bahwa mereka baru saja melakukan sesuatu yang lebih dari percakapan biasa di kamarnya. Kedatangan Charlie seperti menjadi suatu hal yang melegakan baginya. Membuat Mrs. Weasley sibuk memaksa Charlie untuk duduk diam agar Mrs. Weasley bisa memotong rambutnya.

Makan malam pada hari ulang tahun Harry tidak bisa dilaksanakan di dapur bahkan sebelum kedatangan Charlie, Lupin, Tonks, dan Hagrid. Akhirnya beberapa meja dikeluarkan dan ditata di kebun. Fred dan George menyihir lentera besar berwarna ungu yang bertuliskan “17” melayang di atas meja. Keahlian Mrs. Weasley membuat luka George tampak bersih dan rapi. Tapi Harry tidak terbiasa melihat sebuah lubang di sisi kepala, sedangkan si kembar malah bercanda terus-terusan dengan itu.

Hermione membuat pita ungu dan emas dan menghiasnya di atas pohon dan semak.

“Bagus,” kata Ron saat Hermione memberi sentuhan akhir yang mengubah warna daun pohon apel menjadi keemasan. “Kau ahli dalam hal seperti ini.”

“Terima kasih, Ron!” Hermione terlihat senang dan bingung dalam saat yang bersamaan. Harry berputar dan tersenyum sendiri. Ia membayangkan apa yang akan dibacanya di Twelve Fail-Safe Ways to Charm Witches saat ia punya waktu untuk membacanya nanti. Harry bertemu mata dengan Ginny dan tersenyum padanya sebelum ia ingat janjinya pada Ron yang langsung membuatnya tiba-tiba ingin berbicara dengan Monsieur Delacour.

“Permisi, minggir!” kata Mrs. Weasley, datang dari arah pintu membawa sesuatu yang tampak seperti Snitch sebesar bola pantai melayang di depanya. Yang baru kemudian Harry sadari sebagai kue ulang tahunnya. Saat kue itu akhirnya mendarat di tengahtengah meja, Harry berkata, “Luar biasa

sekali, Mrs. Weasley.”

“Oh, ini bukan apa-apa, sayang,” kata Mrs. Weasley penuh cinta. Melalui bahu Mrs. Weasley, Harry dapat melihat Ron mengacungkan jempolnya dan mulutnya bergerak, Bagus.

Pada pukul tujuh, semua tamu sudah datang, dibawa masuk oleh Fred dan George yang menunggu mereka di ujung jalan. Hagrid datang dengan mengenakan setelan terbaiknya, yaitu jubah berbulu kecoklatan yang mengerikan. Walau Lupin tersenyum saat menjabat tangan Harry, Harry menganggapnya sedang tidak senang. Sungguh aneh, melihat di samping Lupin ada Tonks yang berseri-seri.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.