Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Oh,” kata Harry berusaha berdiri dari kasur lipat tuanya. “Hermione, aku tidak bermaksud…”

Tapi, diiringi derak keras dari per kasur yang berkarat, Ron mendahuluinya. Satu tangan memeluk Hermione, dan tangan lain berusaha mengambil saputangan yang baru ia gunakan untuk membersihkan oven dari saku jeansnya. Dengan tergesa-gesa mengeluarkan tongkatnya dan menunjuk ke arah saputangan dan berkata, “Tergeo.”

Tongkatnya menghapus kotoran. Ron terlihat cukup puas dan memberikan saputangan yang masih berasap ke Hermione.

“Oh… terima kasih, Ron… maaf…” ia membersit hidungnya dan terisak. “Sungguh mengeri-kan, ya. Tepat setelah Dumbledore… aku ti-tidak pepernah membayangkan Mad-Eye meninggal, dia begitu tangguh!”

“Ya, aku tahu,” kata Ron mempererat pelukannya. “Tapi kau tahu apa yang akan dikatakannya kalau dia ada di sini.”

“’Te-tetap waspada’,” kata Hermione sambil mengusap matanya.

“Benar,” angguk Ron. “Dia pasti menyuruh kita untuk belajar atas apa yang telah terjadi padanya. Dan yang telah aku pelajari adalah jangan pernah percaya pada si pengecut Mundungus.”

Hermione tertawa gemetar lalu mengambil dua buku lain. Beberapa saat kemudian Ron melepaskan pelukannya saat Hermione menjatuhkan The Monster of Monsters di kakinya. Buku itu terlepas dari ikatannya dan langsung menggigit pergelangan kaki Ron.

“Maaf, maaf!” kata Hermione saat Harry berusaha melepaskan buku itu dari kaki Ron dan mengikatnya kembali.

“Apa yang kau lakukan dengan buku-buku itu?” tanya Ron sambil berjalan timpang ke arah tempat tidur.

“Memilah buku mana yang harus kita bawa,” kata Hermione, “saat kita mencari

Horcrux.” “Oh, tentu saja,” kata Ron sambil menepukkan tangannya ke dahi. “Aku lupa bahwa kita akan mengejar Voldemort dengan perpustakaan berjalan.”

“Ha, ha,” kata Hermione yang masih melihat Kamus Spellman’ Syllbary. “Apa nanti kita akan mengartikan huruf Rune? Mungkin saja… aku rasa lebih baik aku membawanya, untuk berjaga-jaga.”

Ia meletakkannya ke tumpukan yang lebih besar dan mengambil buku History of Hogwarts.

“Dengar,” kata Harry. Ia duduk tegak. Ron dan Hermione menatapnya dengan mimik yang sama dan juga menantang.

“Aku tahu, saat pemakaman Dumbledore, kalian berkata ingin ikut pergi bersamaku,” Harry memulai.

“Dia mulai lagi,” kata Ron sambil memutar matanya. “Seperti yang kita duga,” desah Hermione yang kembali sibuk dengan buku-buku. “Sepertinya aku akan membawa Sejarah Hogwarts. Walau kita tidak akan kembali ke sana, rasanya aneh bila tidak…”

“Dengarkan aku!,” kata Harry lagi.

“Tidak, Harry, kau yang harus dengar,” kata Hermione. “Kami akan pergi bersamamu. Dan sudah diputuskan seperti itu berbulan-bulan – bertahun-tahun yang lalu, bahkan.” “Tapi…” “Diamlah,” kata Ron menyarankan. “… apa kalian sudah benar-benar memikirkannya?” Harry berkeras. “Dengar,” kata Hermione yang membanting buku Travels with Trolls ke tumpukan buku

yang tidak terpakai sambil menatap tajam. “Aku sudah berkemas sejak berharihari yang lalu, jadi kita bisa langsung pergi begitu waktunya tiba, dan agar kau tahu aku sudah melakukan sihir yang sulit untuk mempersiapkannya, bahkan aku menyelundupkan semua simpanan Ramuan Polijus milik Mad-Eye di bawah hidung ibu Ron.

“Aku juga sudah memodifikasi ingatan orang tuaku sehingga mereka mengira bahwa mereka adalah Wendell dan Monica Wilkins, dan ambisi hidup mereka adalah pindah ke Australia, dan di sanalah mereka sekarang. Aku melakukan itu untuk mencegah Voldemort mencari dan mengintrogasi mereka tentang aku, atau kau – aku bercerita sedikit banyak bercerita tentangmu.

“Berharap kita akan selamat setelah mencari Horcrux, aku akan mencari Mum dan Dad dan menghapus sihirnya. Bila tidak – aku sudah melakukannya dengan baik sehingga mereka akan tetap aman dan bahagia. Kau tahu, Wendell dan Monica Wilkins tidak tahu kalau mereka punya seorang putri.”

Mata Hermione bergelimang air mata lagi. Ron berdiri dari kasur dan meletakkan tangannya di pundak Hermione lagi dan mengerutkan dahinya pada Harry memintanya bersikap bijaksana. Harry tidak bisa berkata apa-apa, karena tidak biasanya Ron mengajari seseorang tentang kebijaksanaan.

“Aku – Hermione, aku minta maaf – aku tidak…”

“Tidak sadar bahwa Ron dan aku tahu apa yang akan terjadi bila ikut pergi denganmu? Kami tahu Harry. Ron, tunjukkan pada Harry apa yang telah kau lakukan.”

“Jangan, Harry baru saja makan,” kata Ron.

“Ayo, Harry harus tahu!”

“Oh, baiklah. Harry kemari.”

Lalu Ron menarik tangannya lagi dari pundak Hermione dan berjalan ke arah pintu.

“Ayo.”

“Mengapa?” tanya Harry sambil mengikuti Ron keluar kamar.

“Descendo,” gumam Ron mengarahkan tongkatnya ke langit-langit rendah. Sebuah lubang membuka tepat di atas kepala mereka, dan sebuah tangga meluncur turun tepat ke kaki mereka. Terdengar suara setengah menghisap, setengah mengerang yang mengerikan keluar dari lubang itu, bersamaan dengan bau yang tidak enak.

“Itu ghoulmu, kan?” tanya Harry yang sebenarnya tidak pernah melihat makhluk yang terkadang mengganggu ketenangan malam.

“Iya,” kata Ron menaiki tangga. “Kemari dan lihat dia.”

Harry mengikuti Ron menaiki beberapa anak tangga ke loteng. Kepala dan pundaknya masuk dan saat ia melihat sesuatu yang bergelung beberapa meter darinya, tertidur dengan mulut terbuka lebar.

“Tapi… itu… Apa ghoul biasanya memakai piyama?”

“Tidak,” kata Ron. “Mereka juga biasanya tidak berambut merah atau bernanah.”

Harry memerhatikannya dan merasa jijik. Makhluk itu berbentuk dan berukuran seperti manusia dan memakai, sekarang mata Harry mulai bisa melihat jelas di kegelapan, piyama tua milik Ron. Setahu Harry, ghoul tidak memiliki rambut dan berkulit polos, bukannya memiliki rambut dan dipenuhi bisul keunguan.

“Itu aku, mengerti?” kata Ron.

“Tidak,” kata Harry. “Aku tidak mengerti.”

“Akan kujelaskan di kamar, aku tidak tahan baunya,” kata Ron. Mereka menuruni tangga, menutup langit-langit, dan kembali bergabung dengan Hermione yang masih memilah buku.

“Saat kita pergi, ghoul itu akan tinggal di kamarku,” kata Ron. “Aku rasa dia akan senang

– tapi, entahlah, dia hanya bisa mengerang dan berliur – tapi, mengangguk terus-terusan saat aku tawarkan itu padanya. Dia akan menjadi aku yang sedang terkena spattergoit. Bagus, kan?”

Harry menatapnya kebingungan.

“Aduh!” kata Ron kesal saat Harry tidak mengerti ide brilian ini. “Dengar, saat kita tidak kembali ke Hogwarts, mereka akan berpikir aku dan Hermione juga pergi bersamamu, kan? Itu artinya para Pelahap Maut akan langsung menyerang orang tua kami untuk mencari informasi tentang di mana dirimu.”

“Tapi semoga saja mereka akan mengira bahwa aku pergi bersama Mum dan Dad. Banyak anak kelahiran Muggle yang pergi untuk bersembunyi untuk beberapa saat,” kata Hermione.

“Dan, tidak mungkin menyembunyikan seluruh keluargaku, terlalu mencurigakan dan mereka juga harus pergi bekerja,” kata Ron. “Jadi, aku membuat cerita bahwa aku sakit parah karena terkena spattergoit sehingga aku tidak bisa kembali ke sekolah. Bila ada yang datang dan ingin cari tahu, Mum atau Dad akan menunjukkan ghoul di atas tempat tidurku, berselimut, dan penuh dengan bisul bernanah. Spattergoit sangat menular. Jadi tidak akan ada yang berani mendekatinya. Tidak masalah kalau nantinya ghoul itu tidak bisa berbicara, kau sendiri tidak akan bisa bicara kalau lidahmu dipenuhi jamur.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.