Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Voldemort yang luar biasa. Lalu ia melihat pria tua yang lemah itu menggeliat-geliat menahan sakit…

“Harry?” Semua berhenti secepat saat tiba. Harry berdiri gemetar dalam gelap. Tangannya mencengkeram pagar. Jantungnya berdetak kencang. Bekas lukanya masih terasa nyeri. Butuh beberapa saat sebelum ia menyadari bahwa Ron dan Hermione ada di sampingnya. “Harry, masuklah ke dalam rumah,” bisik Hermione. “Kau sudah tidak berpikir untuk pergi, kan?”

“Kau harus tinggal, sobat,” kata Ron sambil menepuk punggung Harry.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Hermione yang sudah cukup dekat sehingga bisa melihat wajah Harry. “Kau kelihatan kacau!” “Mungkin,” kata Harry, “tapi aku masih lebih baik daripada Ollivander…” Setelah Harry selesai menceritakan apa yang ia lihat, Ron melihatnya terkejut ngeri dan

Hermione benar-benar ketakutan. “Tapi seharusnya hal itu berhenti! Bekas lukamu – seharusnya ini tidak terjadi lagi!

Tidak seharusnya kau membuka hubungan itu lagi – Dumbledore ingin kau menutup pikiranmu!” Saat Harry tidak menjawab, Hermione menarik tangan Harry.

“Harry, dia sudah menguasai Kementrian, koran, dan separuh dunia sihir! Jangan biarkan dia mengambil alih pikiranmu juga!”

=================

* Holy dan Holey memiliki cara pengucapan yang sama.

 

Bab 6 HOUL YANG MEMAKAI BERPIYAMA

Kegemparan atas meninggalnya Mad-Eye berlangsung selama beberapa hari. Harry tetap berharap bahwa Mad-Eye akan muncul dari pintu belakang seperti anggota Orde lainnya, yang keluar masuk membawa berita baru. Harry merasa bahwa hanya ada satu hal bisa membantunya meredakan rasa sedih dan bersalahnya, yaitu pergi mencari dan menghancurkan Horcrux secepatnya.

“Yah, kau tidak bisa melakukan apa-apa dengan…” mulut Ron mengucapkan kata Horcrux tanpa bersuara, “sampai berumur tujuh belas tahun. Kau masih dipantau. Dan kita bisa menata rencana di sini. Atau,” Ron mengecilkan suaranya, “kau sudah yakin kau-tahu-apa berada di mana?”

“Tidak,” aku Harry.

“Kukira Hermione sedang melakukan penelitian,” kata Ron. “Katanya dia menyiapkan sesuatu untukmu.”

Mereka berdua duduk di meja sarapan. Mr. Weasley dan Bill baru saja berangkat bekerja. Mrs. Weasley pergi ke atas untuk membangunkan Hermione dan Ginny. Sedangkan Fleur sedang mandi.

“Pelacak itu akan hilang pada tanggal tiga puluh satu nanti,” kata Harry. “Itu artinya aku hanya perlu tinggal di sini empat hari lagi. Tidak perlu…”

“Lima hari,” Ron mengoreksinya. “Kau harus tinggal untuk pesta pernikahan. Atau kau akan dibunuh mereka.”

Harry sadar bahwa mereka yang dimaksud adalah Mrs Weasley dan Fleur.

“Hanya ditambah sehari,” kata Ron pada Harry.

“Apa mereka tidak tahu seberapa pentingnya…”

“Tentu mereka tidak tahu,” kata Ron. “Mereka sama sekali tidak tahu. Oh iya, aku ingin memperingatkanmu tentang itu.”

Ron melihat ke arah pintu memastikan Mrs. Weasley belum kembali, lalu ia mendekat ke arah Harry.

“Mum bertanya padaku dan Hermione, tentang apa yang akan kita lakukan. Dia akan bertanya padamu nanti, jadi persiapkan dirimu. Dad dan Lupin juga bertanya. Tapi saat kami katakan bahwa Dumbledore ingin hanya kami yang tahu, mereka menyerah. Tapi tidak dengan Mum. Dia benar-benar ingin tahu.”

Prediksi Ron terjadi beberapa jam kemudian. Sesaat sebelum makan siang, Mrs. Weasley memisahkan Harry dari yang lain dengan memintanya membantu mengenali kaus kaki yang tidak punya pasangan. Begitu ia berhasil memojokkan Harry di dapur, ia memulainya.

“Ron dan Hermione sepertinya berpikir bahwa kalian bertiga akan keluar dari Hogwarts,” Mrs Weasley memulai dengan nada seperti biasa.

“Oh,” kata Harry. “Iya.”

Alat pencuci pakaian di pojok ruangan sedang memeras sesuatu yang tampak seperti rompi Mr. Weasley.

“Bolehkan aku tahu mengapa kau memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikanmu?” kata Mrs. Weasley.

“Dumbledore menyuruhku untuk… melakukan sesuatu,” gumam Harry. “Ron dan Hermione tahu dan ingin membantu.”

“’Sesuatu’ apa?”

“Maaf, aku tidak bisa…”

“Sejujurnya, menurutku, aku dan Arthur punya hak untuk tahu, dan aku yakin Mr. dan Mrs. Granger juga!” kata Mrs. Weasley. Harry sudah bersiap-siap dengan serangan orang tua yang merasa cemas. Ia memaksa dirinya untuk melihat langsung ke mata Mrs. Weasley, yang langsung menyadari bahwa matanya berwarna coklat seperti Ginny. Ini tidak membantu.

“Dumbledore tidak ingin orang lain tahu, Mrs. Weasley. Maafkan aku. Ron dan Hermione tidak harus ikut bersamaku. Itu adalah pilihan mereka sendiri…”

“Kupikir kau pun tidak harus pergi!” bentak Mrs. Weasley tidak lagi berpurapura. “Kau bahkan belum dewasa! Ini sama sekali tidak masuk akal. Jika Dumbledore membutuhkan sesuatu, dia bisa menyuruh anggota Orde! Harry, kau pasti sudah salah paham. Mungkin dia mengatakan apa yang ingin dia lakukan. Namun kau mengartikannya sebagai apa yang dia ingin kau lakukan.”

“Aku tidak salah paham,” kata Harry datar. “Yang dia maksud pasti aku.”

Harry mengambil kaus kaki yang Mrs. Weasley pegang di belakang punggungnnya. Kaus kaki berpola semak emas.

“Itu bukan milikku. Aku tidak mendukung Puddlemere United.”

“Oh, tentu tidak,” kata Mrs. Weasley yang sudah kembali dengan nada biasanya. “Seharusnya aku tahu. Harry, selama kau di sini, apakah kau tidak keberatan bila membantu persiapan pesta pernikahan Bill dan Fleur? Begitu banyak hal yang harus dipersiapkan.”

“Tidak – aku – tentu saja tidak,” kata Harry yang kebingungan dengan pergantian topik pembicaraan yang tiba-tiba.

“Bagus sekali,” jawabnya sambil tersenyum kemudian meninggalkan Harry di dapur.

Selanjutnya, Mrs. Weasley membuat Harry, Ron, dan Hermione sibuk dengan persiapan pesta pernikahan sehingga mereka tidak punya waktu untuk berpikir. Alasan Mrs. Weasley adalah untuk mengalihkan perhatian mereka dari kesedihan mengenang Mad-Eye dan dari perjalanan mencekam yang telah mereka lalui. Setelah dua hari tanpa henti membersihkan, mencocokkan warna pita dan bunga, membersihkan jembalang dari kebun, dan membantu Mrs. Weasley memasak canapé** yang sangat banyak, Harry menebak ada alasan lain. Semua pekerjaan ini ditujukan agar Harry, Ron, dan Hermione tidak punya waktu untuk berkumpul dan berbicara sejak malam ia tiba di sini, saat ia bercerita tentang Voldemort yang sedang menyiksa Ollivander.

“Mum pikir dia bisa mencegahmu pergi atau menyusun rencana. Paling tidak dia pikir dia bisa memperlambat keberangkatanmu,” bisik Ginny saat mereka menyiapkan meja makan pada malam ketiga.

“Lalu dia pikir apa yang akan terjadi?” bisik Harry. “Akan ada orang lain yang akan membunuh Voldemort sementara di sini dia menyuruh kami untuk membuat vol-auvents***?”

Harry bicara begitu saja tanpa sempat berpikir dan melihat wajah Ginny yang memucat.

“Jadi benar?” katanya. “Itu yang akan kau lakukan?”

“Aku – tidak – aku hanya bercanda,” elak Harry.

Mereka saling berpandangan. Dan Harry melihat tidak hanya ekspresi terkejut yang ada di wajah Ginny. Tiba-tiba Harry menyadari bahwa ini pertama kalinya ia bisa berduaan dengan Ginny sejak masa-masa di Hogwarts. Harry yakin bahwa Ginny juga mengenangnya. Keduanya terkejut saat pintu terbuka dan Mr. Weasley, Kingsley, dan Bill masuk.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.