Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Fleur memandang ke penjuru ruangan, terlihat sisa air mata membekas di wajahnya yang cantik, ia menantang bila ada yang tak sependapat. Tak seorang pun. Suara yang terdengar hanya isakkan Hagrid. Harry melihat Hagrid, yang sudah membahayakan diri untuk menyelamatkan Harry. Hagrid yang ia sayang, yang ia percaya, yang dengan mudah ditipu dan telah menukarkan informasi penting pada Voldemort dengan sebutir telur naga…

“Tidak,” kata Harry keras, dan semuanya menoleh padanya, terkejut. Sepertinya

Firewhisky telah memperbesar suaranya. “Maksudku… bila seseorang melakukan kesalahan,” lanjut Harry, “dan tanpa sengaja memberitahukannya pada orang lain, aku tahu mereka tidak bermaksud seperti itu. Itu bukan kesalahan mereka,” ulang Harry, sudah dengan suaranya yang biasa. “Kita harus percaya satu sama lain. Aku percaya pada kalian semua. Aku yakin tak seorang pun di ruangan ini yang akan menyerahkanku pada Voldemort.”

Tak ada yang menjawab. Semua tetap melihat Harry. Harry merasa panas, ia meminum Firewhiskynya sedikit. Lalu ia teringat Mad-Eye. Mad-Eye yang selalu mengomentari kebiasaan Dumbledore yang selalu percaya pada orang lain.

“Bagus sekali, Harry,” kata Fred.

“Ya, benar-benar bagus,” imbuh George sambil menatap Fred.

Lupin menatap Harry dengan sebuah ekspresi aneh. Menatapnya penuh rasa kasihan, atau sayang. “Kau pikir aku idiot,” tantang Harry. “Tidak. Kupikir kau seperti James, “yang menganggap bahwa mengkhianati teman

adalah aib paling memalukan.” Harry tahu ke mana arahnya. Ayahnya pernah dikhianati oleh temannya sendiri, Peter Pettigrew. Entah mengapa tiba-tiba Harry merasa marah. Tapi Lupin sudah menoleh,

meletakkan gelasnya, dan berbicara pada Bill, “Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Aku bisa meminta Kingsley, kalau kau…” “Tidak,” kata Bill, “akan ku lakukan.” “Mau ke mana?” kata Tonks dan Fleur bersamaan. “Mayat Mad-Eye,” kata Lupin, “kami harus mengambilnya.” “Tidak bisakah kalian…” Mrs. Weasley memohon pada Bill. “Menunggu?” kata Bill. “Tidak, kecuali bila kau ingin Pelahap Maut menemukannya

lebih dulu.” Semuanya diam. Tiap orang berdiri saat Lupin dan Bill berpamitan. Setiap orang kembali duduk di kursi masing-masing kecuali Harry, yang tetap berdiri. “Aku harus pergi,” kata Harry. Sepuluh pasang mata memandanginya. “Jangan bodoh, Harry,” kata Mrs. Weasley. “Apa yang kau bicarakan?” “Aku tidak bisa tinggal di sini.” Harry menggosok dahinya. Bekas lukanya terasa menusuk lagi. Rasanya tak pernah

sesakit ini dalam setahun terakhir. “Kalian dalam bahaya bila aku tetap tinggal di sini. Aku tidak ingin…” “Jangan bersikap bodoh, kalau begitu!” kata Mrs. Weasley. “Tujuan utama seluruh

rencana malam ini adalah untuk membawamu ke sini dalam keadaan hidup. Dan untung

saja berhasil. Bahkan Fleur sudah setuju untuk menikah di sini daripada di Perancis.

Semua sudah diatur agar semua orang bisa berkumpul di sini dan menjagamu.” Mrs. Weasley tidak mengerti. Ia bahkan membuat Harry merasa lebih buruk. Bukan lebih baik.

“Bila Voldemort tahu aku ada di sini…” “Mengapa dia harus tahu?” tanya Mrs. Weasley. “Kau mungkin saja di salah satu dari selusin rumah perlindungan lain, Harry,” kata tuan

Weasley. “Kau-Tahu-Siapa tidak akan tahu di mana kau akan berada.” “Bukan itu yang aku khawatirkan!” kata Harry. “Kami tahu,” kata tuan Weasley tenang, “tapi seluruh usaha kami malam ini jadi sia-sia bila kau pergi.”

“Kau tidak akan pergi ke mana-mana,” geram Hagrid. “Ya ampun, Harry, setelah semua hal yang kita lalui malam ini.” “Yah, bagaimana dengan telingaku?” kata George sambil menaikkan tubuhnya di atas

bantal. “Aku tahu, tapi…” “Mad-Eye tidak akan…” “AKU TAHU!” teriak Harry. Ia merasa semua bersekongkol untuk melawannya. Mereka pikir Harry tidak tahu apa

yang telah mereka lakukan untuknya. Apa mereka tidak mengerti justru karena itulah Harry ingin pergi, sebelum mereka lebih menderita demi Harry? Ada kecanggungan panjang di antara mereka. Bekas luka Harry semakin menusuk dan menyakitinya. Kesunyian itu akhirnya dipecah oleh Mrs. Weasley.

“Di mana Hedwig, Harry?” bujuknya, “kita bisa membawanya bersama Pigwidgeon dan

memberinya makan.” Rasanya isi perutnya mengepal menjadi satu. Ia tidak bisa menceritakannya. Ia menghabiskan Firewhiskynya menghindar dari menjawab pertanyaan. “Tunggu hingga hal itu muncul lagi, Harry,” kata Hagrid. “Lakukan lagi nanti saat kau berhadapan dengan Kau-Tahu-Siapa!”

“Itu bukan aku!” kata Harry. “Itu tongkatku. Tongkatku melakukannya sendiri.”

Setelah beberapa saat, Hermione berkata lembut, “Tapi tidak mungkin, Harry. Mungkin maksudmu, kau melakukan sihir tanpa kau bermaksud begitu, kau bereaksi sesuai nalurimu.”

“Bukan,” kata Harry, “saat itu sepeda motornya sedang jatuh, dan aku tidak

tahu Voldemort ada di mana, tapi tongkatku bergerak sendiri dan menembakkan mantra yang bahkan aku tidak kenal. Aku tidak pernah membuat pancaran api keemasan sebelumnya.”

“Terkadang,” kata tuan Weasley, “saat kau berada dalam keadaan terpojok, kau dapat menciptakan sihir yang bahkan tidak bisa kau bayangkan. Biasanya hal itu terjadi pada anak-anak, bahkan sebelum mereka…”

“Bukan itu,” geram Harry dengan giginya terkatup. Bekas lukanya terasa terbakar. Ia merasa marah dan tertekan. Dia benci akan gagasan bahwa ia memiliki kekuatan yang dapat menandingi Voldemort.

Tak ada yang berbicara. Harry tahu tidak ada yang percaya padanya. Sekarang ia memikirkannya, ia tidak pernah mendengar bahwa tongkat bisa menghasilkan sihir sendiri.

Bekas lukanya benar-benar menyakitkan. Dia berusaha keras agar tidak mengerang keras-keras. Sambill bergumam tentang udara segar, Harry meletakkan gelasnya dan meninggalkan ruangan.

Saat ia berjalan di halaman gelap, Thestral yang besar melihatnya, mengepakkan sayapnya yang seperti sayap kelelawar, kemudian melanjutkan merumput. Harry berhenti di dekat pagar, melihat ke arah tanaman yang tumbuh liar. Ia menggosok dahinya yang kesakitan. Ia sedang memikirkan Dumbledore.

Dumbledore pasti akan memercayainya, ia tahu itu. Dumbledore tentu tahu bagaimana dan mengapa tongkatnya bereaksi sendiri, karena Dumbledore selalu tahu jawabannya. Dumbledore juga tahu tentang tongkatnya, bagaimana ia menjelaskan tentang hubungan antara tongkatnya dan tongkat Voldemort. Tapi Dumbledore, seperti Mad-Eye, Sirius, orang tuanya, dan burung hantunya yang malang, telah pergi sehingga Harry tidak bisa berbicara padanya lagi. Ia merasa tenggorokannya terbakar dan itu tidak ada hubungannya dengan Firewhisky.

Lalu, rasa sakit di bekas lukanya memuncak. Saat ia memegangi dahinya dan menutup matanya, ia mendengar suara teriakan di dalam kepalanya.

“Kau bilang masalahnya akan selesai bila aku menggunakan tongkat yang berbeda!”

Lalu dalam pikirannya ia melihat sebuah gambaran tentang seorang pria tua kurus berbaring di atas kain kumal di lantai batu. Ia berteriak ketakutan. Berteriak karena rasa sakit yang luar biasa.

“Jangan! Jangan! Aku mohon, aku mohon…” “Kau berbohong pada Lord Voldemort, Ollivander!” “Tidak… aku tidak…” “Sepertinya kau ingin membantu Potter, membantunya melarikan diri!” “Sumpah, aku tidak… setahuku dengan tongkat yang berbeda…” “Jelaskan yang terjadi, kalau begitu. Tongkat Lucius hancur begitu saja!” “Aku tidak tahu… hubungan itu… hanya terjadi… antara kedua tongkat…” “Pembohong!” “Tolong… aku mohon…” Lalu Harry melihat sebuah tangan putih mengangkat tongkat dan merasakan kemarahan

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.