Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Apa yang akan terjadi pada anak-anakmu setelah aku membunuhmu?” ejek Bellatrix, marah seperti tuannya, sambil berloncatan sementara kutukankutukan Molly mengepungnya. “Ketika Ibu lenyap seperti Freddie?”

“Kau – tidak – akan – pernah – menyentuh – anak – kami – lagi!” seru Nyonya Weasley.

Bellatrix mengeluarkan tawa gembira seperti tawa sepupunya Sirius ketika roboh ke belakang melalui selubung, dan mendadak Harry tahu apa yang akan terjadi.

Kutukan Molly meluncur di bawah lengan Bellatrix yang terentang dan menghantamnya di dada, tepat di atas jantungnya.

Senyum Bellatrix membeku, matanya tampak menonjol ke luar: untuk sepersekian detik dia sadar apa yang terjadi, dan kemudian dia roboh, dan kerumunan penonton bersorak-sorai dan Voldemort menjerit.

Harry merasa seolah-olah dirinya masuk adegan gerak-lambat: dia melihat McGonagall, Kingsley dan Slughorn terpental ke belakang, menggeliat-geliat kesakitan ketika amarah Voldemort atas jatuhnya pembantu terbaiknya, meledak bagaikan bom, Voldemort mengangkat tongkatnya dan mengarahkannya ke Molly Weasley.

“Protego!” seru Harry, dan Mantera Pelindung mengambang di tengah Aula, dan Voldemort menatap sekelilingnya, mencari sumber mantera itu ketika Harry akhirnya menanggalkan Jubah Gaib.

Jeritan kaget, seruan gembira dan teriakan: “Harry! DIA MASIH HIDUP!” terdengar sekaligus. Kerumunan itu takut, dan keadaan mendadak sangat hening ketika Voldemort dan Harry berpandangan satu sama lain, dan pada saat yang sama saling mengitari satu sama lain.

“Aku tak mau ada yang membantu”, kata Harry keras-keras, dan dalam keheningan total suaranya terdengar bagaikan terompet perang. “Beginilah seharusnya. Akulah yang harus melakukannya”

Voldemort mendesis.

“Potter tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya”, katanya, mata merahnya melebar. “Bukan begini cara dia bertindak, bukan?. Siapa yang akan kau jadikan pelindungmu kali ini, Potter?”

“Tidak ada”, kata Harry. “Tak ada lagi Horcrux. Cuma kau dan aku. Yang satu takkan bisa hidup jika yang satunya selamat, dan salah satu di antara kita akan lenyap untuk selamanya…”

“Salah satu?” ejek Voldemort, sekujur tubuhnya menegang dan mata merahnya menatap tajam, bagai seekor ular yang siap menyerang. “Kau pikir kaulah orangnya bukan? Anak yang telah selamat karena kebetulan, dan karena Dumbledore telah meninggalkan kalian?”

“Kebetulankah, ketika ibuku mati menyelamatkanku?” tanya Harry. Mereka berdua masih bergerak ke samping, membentuk lingkaran penuh, menjaga jarak yang tetap dari satu sama lain, dan bagi Harry tak ada siapapun di sana kecuali Voldemort . “Kebetulankah, ketika aku memutuskan bertarung di pekuburan? Kebetulankah, bahwa aku tak membela diri malam ini, tapi masih selamat, dan kembali untuk bertarung lagi?”

“Kebetulan!” teriak Voldemort, tapi dia masih belum menyerang, dan kerumunan yang menonton diam membatu seolah-olah terkena mantera Pembeku, dan tampaknya dari ratusan orang yang berada di Aula hanya mereka berdualah yang bernafas. “Kebetulan dan untung-untungan, dan fakta bahwa kau meringkuk dan merengek di balik para pria dan wanita yang lebih hebat, dan membiarkanku membunuh mereka demu kau!”

“Kau takkan membunuh siapapun lagi malam ini”, kata Harry sementara mereka memutar dan saling menatap mata masing-masing, yang hijau ke yang merah.

“Kau tak akan mampu membunuh siapapun dari mereka malam ini. Kau masih belum mengerti juga? Aku siap mati untuk menghentikanmu menyakiti orang-orang ini -”

“Tapi kau tidak mati!”

“Aku bersungguh-sungguh, dan aku melakukannya. Aku sudah melakukan apa yang dilakukan ibuku dulu. Mereka terlindung darimu. Belum kau perhatikan jugakah bahwa tak satupun manteramu yang sanggup mengikat mereka? Kau tak bisa menyiksa mereka. Kau tak bsia menyentuh mereka. Kau tak belajar dari kesalahanmu, begitu kan Riddle?”

“Beraninya kau –“

“Ya, aku berani”, kata Harry. “Aku mengetahui apa yang tak kau ketahui, Tom Riddle. Aku mengetahui banyak hal penting yang kau tak tahu. Mau dengar beberapa, sebelum kau bikin kesalahan besar lain?

Voldemort tak bicara, tapi gerakannya terhenti sejenak, dan Harry tahu kalau dia untuk sementara terpancing, menduga-duga apakah benar Harry memang tahu rahasia terakhirnya…

“Kau mau bilang, cinta lagi?”, kata Voldemort, wajah ularnya mengejek. “Solusi favorit Dumbledore, cinta, yang dia bilang mengalahkan maut, meskipun cinta tak menghentikannya jatuh dari menara? Cinta, yang tak menghentikanku menginjak ibumu si darah-lumpur bagaikan kecoa, Potetr – dan tampaknya tak seorangpun cukup mencintaimu hingga mau maju saat ini untuk menerima kutukanku. Jadi apa yang akan bikin kau tak mati kalau aku serang?”

“Cuma satu”, kata Harry, dan mereka terus mengitari satu sama lain, tertahan oleh satu rahasia terkahir.

“Kalau bukan cinta yang akan menyelamatkanmu kali ini”, kata Voldemort, “kau pasti mengira kau punya sihir yang tak aku miliki, atau sebuah senjata yang lebih hebat dari punyaku?”

“Aku kira keduanya”, kata Harry dan dia melihat wajah mirip ular itu memancarkan ekspresi terguncang, meski sebantar kemudian hilang; Voldemort mulai tertawa, dan suaranya lebih menakutkan daripada jeritan; tanpa humor dan gila, menggema di Aula yang hening.

“Kau pikir kau lebih tahu sihir dibanding aku?” katanya. “Dibanding Tuan Voldemort yang telah mempraktekkan sihir yang bahkan belum pernah dimimpikan oleh Dumbledore?”

“Oh, dia memimpikannya”, kata Harry, “tapi dia tahu lebih banyak darimu, tahu untuk tidak melakukan apa yang telah kau lakukan”

“Maksudmu dia manusia lemah!” teriak Voldemort. “Terlalu lemah untuk bersikap berani, terlalu lemah untuk merebut apa yang bisa menjadi miliknya, apa yang akan jadi milikku!”

“Tidak, dia lebih pintar darimu”, kata Harry, “ahli sihir dan pria yang lebih baik darimu”

“Akulah yang membuat Albus Dumbledore mati!”

“Pikirmu begitu”, kata Harry, “tapi kau keliru”.

Untuk pertama kalinya kerumunan penonton bergerak ketika ratusan orang di sekeliling dinding menarik nafas secara serentak.

“Dumbledore sudah mati!” Voldemort melontarkan kata-kata itu seakan-akan bisa membuat Harry kesakitan. “Mayatnya membusuk di makam pualam di halaman kastil ini. Aku sudah melihatnya, Potter, dan dia takkan kembali!”

“Ya, Dumbledore sudah mati”, kata Harry tenang, “tapi kau tidak membunuhnya. Dia memilih sendiri caranya mati, memilihnya berbulan-bulan sebelum mati, merencanakan semua bersama orang yang kau kira adalah pelayanmu”.

“Kau berkhayal”, kata Voldemort, tapi masih juga belum menyerang, dan mata merahnya tidak berpaling dari mata Harry.

“Severus Snape bukan di pihakmu”, kata Harry. “Snape ada di pihak Dumbledore. Di pihak Dumbledore sejak kau mulai memburu ibuku. Dan kau tak pernah menyadarinya karena suatu hal yang tak bisa kau fahami. Kau tak pernah melihat Snape mengeluarkan Patronus, betul Riddle?”

Voldemort tak menjawab. Mereka terus memutari satu sama lain bagaikan serigala yang bersiap saling merobek.

“Patronus milik Snape adalah seekor kijang betina”, jawab Harry, “sama seperti punya ibuku, karena Snape mencintainya seumur hidupnya, sejak mereka masih kanak-kanak lagi. Kau seharusnya menyadari itu” dia berkata sambil melihat lubang hidung Voldemort mengembang, “Snape memintamu membiarkan ibuku tetap hidup, betul kan?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.