Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Jeritan-jeritan membahana di subuh hari itu, dan Neville terbakar, terpaku di tempat, tak dapat bergerak dan Harry tak lagi bisa menahannya: Dia mesti bertindak –

Kemudian banyak peristiwa terjadi pada saat yang bersamaan.

Mereka mendengar hingar-bingar dari perbatasan luar kompleks sekolah ketika apa yang terdengar seperti ratusan orang bergerombol melompati dinding menyerbu kastil sambil meneriakkan jerit perang. Pada saat yang sama, Grawp datang dari balik kastil dengan langkah beratnya dan berseru “HAGGER!”. Teriakannya dibalas kegaduhan kedua raksasa milik Voldemort: mereka berlari ke arah Grawp, langkah-langkah mereka menimbulkan getaran bagai gempa bumi. Lalu datanglah derap kaki-kaki berkuku dan bunyi busur yang ditarik, dan mendadak anak-anak panah menghujani para Pelahap Maut yang menjerit kaget lalu membubarkan barisan. Harry menarik Jubah Gaib dari balik jubahnya, mengenakannya dan melompat bangkit, sementara Nevill juga bergerak.

Dengan satu gerakan tangkas lagi lentur Neville membebaskan diri dari Kutuk Ikatan Tubuh; Topi Seleksi yang sedang menyala telah terjatuh lepas darinya dan dia menarik sesuatu dari dalamnya, keperakan, dengan gagang batu delima yang berkilau –

Tebasan bilah keperakan itu tak terdengar, tenggelam oleh hingar bingar kerumunan yang sadang datang atau bunyi para raksasa yang sedang bertarung atau derap kaki para centaur, namun begitu semua mata seolah tertuju ke sana.

Dengan satu ayunan Neville menebas putus kepala si ular yang lalu terlontar tinggi ke udara, berkilat dalam pancaran cahaya dari dalam ruang masuk aula, dan mulut Voldemort terbuka meneriakkan jerit amarah yang tak terdengar oleh siapapun, lalu tubuh ular itu berdebam ke tanah, dekat kakinya –

Tersembunyi di balik Jubah Gaib, Harry melontarkan Mantera Pelindung di antara Neville dan Voldemort sebelum Voldemort mengangkat tongkatnya. Lalu, mengatasi semua jeritan dan hingar-bingar dan dentaman kaki para raksasa yang teru bertarung, teriakan Hagrid terdengar paling nyaring.

“HARRY!” teriak Hagrid, “HARRY – DIMANA HARRY?”

Kekacauan merajalela. Centaur-centaur yang menyerbu membuat para Pelahap Maut kocar-kacir, tiap orang berusaha lolos dari injakan kaki para raksasa, dan bunyi bala bantuan yang satang menyerbu entah dari mana makin mendekat, Harry melihat makhluk-makhluk bersayap membubung di sekeliling kepala raksasa-raksasa milik Voldemort, thestral dan Buckbeaksang Hippogriff mencakari mereka sementara Grawp meninju mereka bertubi-tubi, dan kini para ahli sihir, pembela-pembela Hogwarts begitu juga para Pelahap Maut terdesak masuk ke dalam kastil. Harry menembakkan sihir dan kutukan kepada setiap Pelahap Maut yang terlihat, dan mereka rebah tanpa tahu apa atau siapa yang telah menghantam mereka, dan tubuh mereka terinjak-injak kerumunan yang mundur itu.

Masih tersembunyi di balik Jubah Gaibnya Harry masuk ruang depan aula: Dia sedang mencari Voldemort dan melihatnya di seberang ruangan, sibuk melontarkan mantera dari tongkatnya sambil mundur ke dalam Aula Besar, sambil tak lupa memberi instruksi kepada para pengikutnya. Harry melontarkan lebih banyak Mantera Pelindung, dan calon korban Voldemort, Seamus Finnigan dan Hannah Abbott ebrgerak melewatinya ke dalam Aula Besar, dimana mereka bergabung dalam pertempuran yang sudah berlangsung sejak tadi.

Dan kini semakin banyak, jauh lebih banyak orang menyerbu naik anak tangga depan, dan Harry melihat Charlie Weasly menyusul Horace Slughorn yang masih mengenakan piyama zamrudnya. Mereka sepertinya kembali memimpin orang-orang yang tampaknya adalah para anggota keluarga dan sahabat-sahabat dari siswa-siswa Hogwarts yang terus bertarung bersama para pemilik toko dan rumah di Hogsmeade. Centaur Bane, Ronan dam Magorian menerjang masuk aula dengan gemerincing kuku mereka, sehingga daun pintu yang menuju dapur di belakang Harry terhempas lepas dari engselnya.

Peri-peri eumah Hogwarts berbondong-bondong masuk ruang depan aula, menjerti-jerit sambil melambai-lambaikan pisau dan golok, dan yang memimpin mereka adalah Kreacher yang mengenakan liontin Regulus Black di dadanya. Suaranya yang besar terdengar mengatasi keriuhan.: Lawan! Lawan! Lawan demi Tuanku, pembela peri-peri rumah! Lawan Pangeran Kegelapan, demi nama Regulus yang gagah perkasa! Lawan!”

Mereka menyayat dan menusuk mata dan pergelangan kaki para Pelahap Maut, wajah mereka dipenuhi kebencian, dan dimana-mana Harry melihat para Pelahap Maut terdesak oleh jumlah lawan yang begitu banyak, ditaklukkan dengan mantera, menarik anak panah yang tertancap di tubuh, ditikam di kaki oleh para peri rumah, atau mencoba melarikan diri, tapi tertelan kerumunan yang menerjang masuk

Tapi semua belum berakhir: Harry bergerak cepat melewati mereka yang sedang bertarung, orang-orang yang tertawan dan masuk ke Aula Besar.

Voldemort berada di tengah-tengah pertempuran, dan dia sedang memukul dan menghantam segala yang terjangkaunya. Harry tak bisa menemukan sudut yang bagus untuk menyerang, tapi dia terus mendekat, masih tak terlihat, dan Aula Besar makin dan makin ramai ketika setiap orang berusaha memaksa masuk.

Harry melihat Yaxley terhempas ke lantai dikalahkan George dan Lee Jordan, melihat Dolohov terjatuh sambil menjerit dikalahkan Flitwick, melihat Walden Macnair terlempar ke seberang ruangan oleh Hagrid, menghantam dinding dan menggelincir tak sadar di lantai. Dia melihat Ron dan Neville menjatuhkan Fenrir Greyback, Aberforth menghantam Stunning Rookwood, Arthur dan Percy membuat Thicknesse tergeletak dilantai, dan Lucius dan Narcissa Malfoy berlari menerobos kerumunan, tanpa niat bertarung, menjerit-jerit mencari anak mereka.

Voldemort sekarang berduel dengan McGonagall, Sloughorn dan Kingsley sekaligus, dan kebencian yang dingin memancar dari wajahnya sementara mereka menyerang dan mengelak di sekelilingnya tanpa bisa menghabisisnya –

Bellatrix juga sedang bertarung, lima puluh meter jauhnya dari Voldemort, dan seperti tuannya dia melawan tiga orang sekaligus: Hermione, Ginny dan Luna, yang bertarung sekuat tenaga, namun Bellatrix dapat mengimbangi mereka, dan perhatian Harry teralih ketika lontaran Kutukan Pembunuh begitu dekat ke arah Ginny, meleset hanya satu inci –

Dia berubah haluan, berlari bukan ke arah Voldemort tapi Bellatrix, tapi belum jauh dia berlari mendadak tubuhnya terdorong ke samping.

“JANGAN PUTERIKU, DASAR PEREMPUAN JALANG!”

Nyonya Weasley melemparkan mantelnya sambil berlari, membuat lengannya bebas bergerak. Bellatrix berputar di tempatnya, tertawa terbahak-bahak melihat penantang barunya.

“BERI AKU JALAN!” teriak Nyonya Weasley kepada ketiga gadis itu, dan dengan satu kibasan diapun memulai duel. Harry menyaksikan dengan ngeri bercampur gembira sementara tongkat Molly Weasley mengayun dan berputar, dan senyum Bellatrix Lestrange berubah jadi geraman. Percikan-percikan cahaya meloncat terbang dari kedua tongkat mereka, lantai di sekeliling kedua ahli sihir itu menjadi panas dan retak-retak; kedua perempuan itu bertarung untuk membunuh.

“Jangan!” teriak Nyonya Weasley ketika beberapa siswa maju untuk membantunya. “Mundur! Mundur! Dia milikku!”

Ratusan orang kini berbaris dekat dinding menyaksikan kedua pertarungan itu, Voldemort melawan tiga penantangnya dan Bellatrix vs Molly, dan Harry berdiri tak terlihat, bimbang antara keduanya, ingin menyerang tapi juga melindungi, tak bisa yakin kalau serangannya tak akan mengenai pihak yang tak bersalah.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.