Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Stop”

Harry mengira Hagrid pastilah dipaksa mentaati perintah Voldemort itu, karena Dia berhenti dengan sedikit sentakan. Dan kini hawa turun di tempat mereka berdiri, dan Harry mendengar bunyi kasar nafas para dementor yang berjagajaga di sekitar pepohonan tepi luar hutan. Mereka tak menimbulkan akibat apaapa baginya sekarang. Fakta akan keselamatannya menyala dalam dirinya, menjadi azimat terhadap mereka, seolah-olah rusa jantan ayahnya berjaga-jaga di hatinya.

Seseorang lewat dekat Harry, dan dia tahu itu adalah Voldemort sendiri karena dia berbicara sesaat kemudian, suaranya secara sihir berlipat kali ganda sehingga membahana, menghantam gendang telinga Harry.

“Harry Potter sudha mati. Dia terbunuh ketika melarikan diri, berusaha mencari selamat sementara kalian menyerahkan nyawa kalian demi dia. Kami bawa mayatnya sebagai bukti kalau pahlawan kalian telah tiada”

“Peperangan ini sudah kami menangkan. Kalian telah kehilangan setengah dari pejuang. Para Pelahap Mautku lebih banyak dibanding kalian, dan Anak Yang Selamat itu sudah tamat riwayatnya. Jangan ada lagi perang. Barangsiapa ingin terus menentang, baik laki-laki, perempuan, atau anak kecil, akan dibantai, begitu juga anggota keluarganya. Keluarlah dari kastil sekarang, berlututlah di hadapanku, dan kalian akan diampuni. Orangtua dan anak-anak kalian, saudarasaudara kalian akan hidup dan dimaafkan, dan kalian akan bergabung denganku di dunia baru yang akan kita bangun bersama”

Ada keningan baik di luar maupun di dalam kastil. Voldemort begitu dekat dengannya sampai-sampai Harry tak berani membuka mata lagi.

“Mari”, kata Voldemort dan Harry mendengarnya bergerak maju, dan Harry dipaksa mengikuti. Sekarang Harry membuka sedikit matanya dan melihat Voldemort melangkah di depan mereka, membawa si ular besar Nagini di pundaknya, kali ini sudah tanpa kandangnya. Tapi Harry tak mungkin menghunus tongkat di balik jubahnya tanpa terlihat para Pelahap Maut yang berjalan di kedua sisi mereka sementara kegelapan perlahan makin menipis.

“Harry”, isak Hagrid. “Oh, Harry…Harry…”

Kembali Harry menutup rapat matanya. Dia tahu mereka sedang mendekati kastil dan menajamkan telinganya untuk memisahkan antara suara para Pelahap Maut dan derap kaki mereka dengan tanda-tanda kehidupan dari dalam kastil sana.

“Stop.”

Para Pelahap Maut berhenti. Harry mendengar mereka menyebar membentuk garus menghadap pintu masuk sekolah itu. Dia bisa lihat, meski lewat matanya tertutup, kilau kemerahan yang adalah cahaya yang diarahkan kepadanya dari dalam aula masuk. Dia menunggu. Sewaktu-waktu orang-orang yang dia coba selamatkan dengan kematiannya akan melihatnya, terbaring mati dipangkuan Hagrid.

TIDAK!”

Teriakan itu terasa mengerikan karena dia tak pernah menduga atau memimpikan bahwa that Professor McGonagall mampu mengeluarkan suara semacam itu. Dia mendengar seorang wanita lain tertawa di dekatnya, dan tahu kalau Bellatrix gembira sekali atas keputusasaan McGonagall. Dia kembali membuka mata sekejap, dan melihat pintu masuk yang terbuka dipenuhi orang sementara mereka yang selamat dari pertempuran berjalan ke anak tangga luar untuk menghadap penakluk mereka dan melihat kebenaran tentang matinya Harry dengan mata mereka sendiri. Dia melihat Voldemort berdiri sedikit di depannya, mengeluselus kepala Nagini dengan satu jari putihnya. Dia tutup matanya kembali.

“Tidak!”

“Tidak!”

“Harry! HARRY!”

Suara Ron, Hermione, dan Ginny lebih mengerikan dari suara McGonagall; satusatunya keinginan Harry sata itu adalah untuk membalas panggilan mereka, tapi dia tetap berbaring diam. Dan teriakan mereka tadi memicu teriakan dan jeritan orang-orang lain, memaki-maki para Pelahap Maut, hingga –“

“DIAM!” seru Voldemort, dan terdengar letusan disertai kilatan cahaya terang, dan mereka semua dipaka diam. “Semua sudah berakhir. Turunkan dia, Hagrid, di kakiku, tempat dimana dia seharusnya berada!”

Harry merasakan tubuhnya diturunkan ke atas rerumputan.

“Kalian lihat?” kata Voldemort, dan Harry merasa dia melangkah maju-mundur di samping tempatnya tergeletak. “Harry Potter sudah mati! Kalian mengerti sekarang, kalian orang-orang yang tertipu?”Dia tidak ada apa-apanya, dari dulu, Cuma anak yang mengandalkan orang lain berkorban untuk dirinya!”

“Dia mengalahkanmu!” teriak Ron, dan mantera Voldemort tadi pecah dan para pembela Hogwarts kembali menjerit-jerit dan berteriak-teriak hingga letusan kedua, yang lebih nyaring melenyapkan suara mereka kembali.

“Dia terbunuh sewaktu mencoba menyelinap keluar dari halaman kastil”, kata Voldemort, ada kenikmatan dalam suaranya ketika mengucapkan kebohongan itu, “terbunuh sewaktu mencari selamat sendiri-“

Tapi ucapan Voldemort tiba-tiba terputus: Harry mendengar perkelahian, dan suara letusan lagi, kilatan cahaya, dan jerit kesakitan; dibukanya matanya sedikit sekali. Seseorang telah melompat keluar dari kerumunan dan menyerang Voldemort; dia lihat orang itu terjatuh ke tanah. Voldemort melucutinya dan membuang tongkat si penantang sambil tertawa.

“Dan siapa ini?”, dia bertanya dengan suara desisan ular. “Siapa yang rela menunjukkan apa yang terjadi kepada mereka yang terus melawan padahal sudah kalah?”

Bellatrix melontarkan tawa gembira.

“Itu Neville Longbottom, Tuanku! Anak yang begitu merepotkan Carrow! Anak sang Auror, Tuanku ingat?”

“Ah, ya, Aku ingat”, kata Voldemort sambil menatap Neville yang sedang berusaha berdiri kembali, tanpa senjata, tanpa perlindungan, berdiri di tanah tak bertuan di tengah-tengah para pejuang yang selamat dan para Pelahap Maut. “Tapi kau ini berdarah murni, bukan, Bocah berani?” Voldemort bertanya kepada Neville yang berdiri menghadapnya, tangan kosongnya mengepal.

“Memangnya kalau betul kenapa?” kata Neville dengan suara nyaring.

“Kau memperlihatkan semangat dan keberanian, dan kau berasal dari keturunan ningrat. Kau akan menjadi Pelahap Maut yang sangat berguna. Kami perlu orang semacam kau, Neville”

“Aku akan bergabung jika neraka dingin membeku”, kata Neville. “Laskar Dumbledore !” teriaknya dan dibalas seruan dari kerumunan itu, agaknya Mantera Penenang Voldemort tidak cukup kuat menahan mereka.

“Baiklah kalau begitu”, kata Voldemort, dan Harry mendengar adanya lebih banyak bahaya dalam suara halusnya dibanding kutukan paling hebat. “Jika itu pilihanmu, Longbottom, kita kembali ke rencana semula. Berdiri tegak” katanya pelan, “jadilah seperti itu”

Masih mengamati dari bulu matanya, Harry melihat Voldemort menggerakkan tongkatnya. Sesaat kemudian dari salah satu jendela kastil yang rusak, sesuatu yang mirip burung berbentuk aneh terbang dan mendarat di tangan Voldemort. Dia melambai-lambaikan benda itu dengan ujung jarinya dan benda itu terayunayun, kosong dan acak-acakan: Topi Seleksi (Sorting Hat)

“Takkan ada lagi Topi Seleksi di sekolah Hogwarts,” kata Voldemort. Takkan ada lagi pembagian kelompok. Lencana, perisai dan warna-warna leluhurku, Salazar Slythering cukup untuk semua orang. Bukankah begitu, Neville Longbottom?”

Dia mengarahkan tongkatnya kepada Neville, yang diam kaku, dan memaksakan topi itu ke kepala Neville, sampai turun melewati matanya. Ada gerakan-gerakan dari kerumunan yang menyaksikan di depan kastil, dan serentak para Pelahap Maut mengangkat tongkat mereka, menghempang para pejuang Hogwarts itu.

“Neville sekarang akan mendemonstrasikan apa yang akan terjadi kepada orang yang begitu bodoh terus menentangku”, kata Voldemort, dan dengan jentikan tongkatnya dia membuat Topi Seleksi terbakar hangus.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.