Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Aku kira dia tahu mengenai hal itu. Aku kira dia tahu apa yang membuatku takut. Aku tunda-tunda berjumpa dengannya hingga akhirnya terasa terlalu memalukan kalau menolak terus. Orang-orang bermatian dan dia tampaknya tak terhentikan, dan aku harus melakukan apa yang aku bisa.”

“Well, kau tahu apa yang terjadi selanjutnya. Aku memenangkan duel itu. Aku memenangkan tongkat itu.”

Kembali hening. Harry tidak menanyakan apakah Dumbledore sudah tahu siapa yang membunuh Ariana. Dia tak ingin tahu, dan lebih tak ingin lagi Dumbledore memberitahunya. Akhirnya dia tahu apa yang Dumbledore akan lihat sewaktu dia memandang ke dalam cermin Erised, dan kenapa Dumbledore begitu mengerti akan pesona cermin itu atas Harry.

Mereka duduk dalam diam untuk beberapa lama, dan rintihan makhluk di belakang mereka tak lagi mengusik Harry.

Akhirnya dia berkata, “Grindelwald mencoba mencegah Voldemort mengejar tongkat itu. Dia berbohong, berpura-pura dia tak pernah memilikinya, walau Anda tahu.”

Dumbledore mengangguk, menunduk, air mata masih berkilauan di hidung bengkoknya.

“Orang-orang bilang dia menyesal bertahun-tahun sesudahnya, sendirian di selnya di Nurmengard. Aku harap itu benar. Aku ingin dia merasa ngeri dan malu akan apa yang telah dilakukannya. Mungkin saja kebohongannya terhadap Voldemort adalah bentuk upayanya untuk menebus kesalahannya…mencegah Voldemort merebut Benda-benda Keramat itu…”

“…atau mencegahnya menerobos makam Anda?”, Harry berpendapat, dan Dumbledore menyeka matanya.

Setelah jeda pendek Harry berkata, “Anda mencoba menggunakan Batu Kebangkitan (Resurrection Stone)”

Dumbledore mengangguk.

“Ketika kutemukan setelah begitu lama, terkubur di rumah Gaunts yang terlantar, Benda Keramat yang paling aku dambakan, meskipun di masa mudaku aku menginginkannya untuk maksud yang sama sekali lain – aku lupa diri, Harry, aku lupa kalau kini aku adalah sebuah Horcrux, bahwa cincin itu pasti akan membawa kutukan. Aku mengambilnya, aku mengenakannya, dan untuk sedetik lamanya aku membayangkan akan bertemu Ariana, dan ibuku, dan ayahku, dan mengatakan berapa aku sangat, sangat menyesal. Aku…”

“Aku bodoh sekali, Harry. Setelah begitu lama aku tak belajar apapun. Aku tak layak menyatukan Benda-benda Keramat, aku sudah membuktikannya dulu, dan yang ini adalah bukti terakhir.

“Kenapa?”, kata Harry. “Itu wajar! Anda ingin bertemu mereka kembali. Apa salahnya?”

“Mungkin yang bisa menyatukan Benda-benda Keramat adalah satu di antara sejuta, Harry. Aku cuma layak memiliki yang paling tak berarti, yang paling tak luar biasa. Aku layak memiliki Elder Wand (tongkat Tua-tua) dan tidak menyombongkannya dan tidak memakainya untuk membunuh. Aku diperlayakkan memakai dan menjinakkannya, karena aku mengambilnya bukan demi keuntungan, tapi demi menyelamatkan orang lain darinya”

“Tapi Jubah Gaib, aku mengambilnya karena penasaran, ajdi Jubah itu takkan pernah bisa berfungsi untukku sebagaimana ia berfungsi untukmu, pemilik sejatinya. Batu itu aku akan pakai untuk memanggil kembali mereka yang sudah tenang di alam sana, bukan untuk mempraktekkan pengorbanan diri, seperti yang kau lakukan. Kaulah yang pantas jadi pemilik Benda-benda Keramat itu.”

Dumbledore menepuk tangan Harry, dan Harry menatap mata kakek itu dan tersenyum; tak bisa ditahannya dirinya. Siapa yang masih bisa marah kepada Dumbledore sekarang?

“Kenapa Anda harus membuatnya begitu sukar?”

Senyum Dumbledore bergetar.

“Aku mengandalkan Nona Granger untuk memperlambat kau, Harry. Aku kuatir kepala panasmu itu akan menguasai hatimu yang baik. Aku takut kalau aku beberkan semuanya lengkap dengan fakta-fakta tentang benda-benda penuh godaan itu, kamu akan merebut Benda-benda Keramat seperti yang aku lakukan, pada waktu yang keliru, untuk tujuan yang keliru. Jika kau memegang bendabenda itu, aku mau kau melakukannya dengan cara selamat. Kaulah penguasa sejati maut, karena penguasa sejati tak akan lari dari Maut. Dia pasrah bahwa dia akan mati, dan dia mengerti bahwa ada hal-hal yang jauh lebih buruk di dunia orang hidup dibanding dunia orang mati.

“Dan Voldemort tak pernah tahu tentang Benda-benda Keramat itu?”

“Aku pikir begitu, karena dia tak mengenali Batu Kebangkitan yang dia ubah menjadi sebuah Horcrux. Tapi seandainyapun dia tahu, Harry, Aku ragu dia akan tertarik dengannya kecuali benda yang pertama. Dia tak akan merasa butuh JubahGaib, dan mengenai batu itu, memangnya siapa yang dia ingin hidupkan lagi? Dia takut alam kematian. Dia tidak punya cinta”

“Tapi Anda memperkirakan dia akan mencari tongkat itu?”

“Aku yakin dia akan mencoba, sejak tongkatmu mengalahkan tongkat Voldemort di pemakaman Little Hangleton. Awalnya dia kuatir kau telah mengalahkan dia karena keahlianmu yang luar biasa. Tapi setelah menculik Ollivander dia baru tahu tentang adanya inti ganda. Dia pikir itu menjelaskan semua. Tapi ternyata tongkat pinjaman itu tidak lebih baik dari punyamu! Jadi Voldemort, alih-alih memikirkan kualitas apa di dalam dirimu yang membuat tongkatmu begitu kuat, karunia apa yang kau miliki, justr pergi mencari tongkat yang katanya bisa mengalahkan tongkat lain manapun. Buat dia Tongkat Tua-tua (Elder Wans) sudah menjadi sebuah obsesi, menyaingi obsesinya terhadamu. Dia percaya Elder Wand menghilangkan kelemahan terakhirnya dan membuatnya benar-benar tak terkalahkan. Severus yang malang…”

“Kalau Anda merencanakan kematian Anda bersama Snape, berarti Anda memperkirakan dia pada akhirnya memegang Elder Wand bukan?”

“Aku akui memang itulah yang aku harapkan”, kata Dumbledore, “tapi kenyataannya tidak seperti itu bukan?”

“Tidak”, kata Harry, “tidak seperti yang Anda harapkan”

“Makhluk di belakang mereka menyentak dan melenguh, dan Harry dan Dumbledore duduk tanpa bicara untuk waktu yang begitu lama. Perlahan-lahan bagaikan salju yang melayang jatuh, pikiran Harry mulai menyadari akan apa yang akan terjadi selanjutnya

“Aku harus kembali, begitu bukan?”

“Itu terserah padamu”

“Apa aku punya pilihan?”

“Oh ya”, Dumbledore tersenyum. “Katamu kita sedang berada di King’s Cross? Aku pikir jika kau putuskan untuk tidak kembali, kau akan bisa…katakanlah…naik kereta api”

“Dan kemana keretanya akan membawaku?”

“Terus”, sahut Dumbledore pendek.

Hening kembali.

“Voldemort sudah mendapatkan Elder Wand”

“Betul. Voldemort sudah mendapatkan Elder Wand” “Tapi Anda ingin agar aku kembali?”

“Aku pikir”, kata Dumbledore, “jika kau memilih untuk kembali, ada kemungkinan dia akan tamat riwayatnya untuk selamanya. Aku tak bisa menjamin. Tapi satu hal yang kutahu, Harry adalah ini: apa yang kau takutkan kalau kau kembali, tidaklah sebesar apa yang ditakutkan olehnya”

Harry kembali melirik makhluk kasar yang sedang gemetar dalam bayang-bayang di bawah kursi itu.

“Jangan kasihani mereka yang mati, Harry. Kasihanilah mereka yang hidup, dan yang terutama, mereka yang hidup tanpa cinta. Dengan kembalinya kau, bisa dipastikan akan berkruang jiwa-jiwa yang disiksa, berkurang keluarga-keluarga yang dicerai-beraikan. Jika menurutmu itu cukup sebagai tujuan, maka untuk saat ini kita ucapkan selamat berpisah”.

Harry mengangguh dan mendesah. Meninggalkan tempat ini takkan sesukar berjalan masuk hutan sebelumnya, tapi di sini hangat, terang dan damai dan dia tahu dia akan kembali ke tampat dimana ada kesakitan dan rasa takut akan lebih banyak korban. Dia bangkit berdiri, dan Dumbledore berbuat yang sama, dan mereka saling berpandangan begitu lamanya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.