Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Masih ada lagi”, kata Harry. “Kenapa tongkatku mematahkan tongkat yang dia pinjam?”

“Kalau soal itu, aku tidak begitu yakin”

“Kalau begitu cobalah menebak”, kata Harry dan Dumbledore tertawa.

“Yang harus kau pahami, Harry, adalah bahwa kau dan Tuan Voldemort telah bepergian bersama ke dalam alam gaib yang hingga kini belum dikenal dan belum diuji. Tapi aku pikir beginilah yang terjadi, dan ini peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan tak satu pembuat tongkatpun yang pernah meramalkan atau menjelaskan hal ini kepada Voldemort.

“Sebagaimana kau tahu sekarang, bahwa tanpa dia inginkan Voldemort telah melipatduakan ikatan antara kalian berdua ketika dia kembali ke wujud manusia. Sebagian jiwanya masih melekat ke jiwamu, dan dia mengambil bagian dari pengorbanan ibumu ke dalam dirinya karena mengira itu akan memperkuat dirinya. Seandainya saja dia memahami kekuatan yang hebat dari pengorbanan itu, dia mungkin tak akan berani menyentuh darahmu…Tapi kalau dia bisa memahaminya tentu dia bukanlah Voldemort dan dia tak akan pernah melakukan pembunuhan.

“Setelah memastikan ikatan timbal-balik ini, setelah membungkus takdir kalian lebih pasti daripada yang pernah terjadi diantara dua ahli sihir manapun dalam sejarah, Voldemort berlanjut dengan menyerangmu menggunakan sebuah tongkat yang bahan intinya sama dengan kepunyaanmu. Dan sekarang hal yang sangat aneh terjadi. Inti tongkat itu bereaksi sebagaimana Voldemort -yang tak pernah tahu kalau tongkatmu adalah kembaran tongkatnyamenginginkannya.

“Dia lebih ketakutan dibanding kau malam itu, Harry. Kau telah menerima, bahkan menyambut kemungkinan mati, suatu hal yang takkan pernah mampu dilakukan Voldemort. Keberanianmu telah menang, tongkatmu memngungguli tongkatnya. Dan ketika terjadi, sesuatu terjadi dengan kedua tongkat itu, sesuatu yang mencerminkan hubungan antara masing-masing tuannya..

“Aku percaya tongkatmu telah menyerap sebagian kekuatan dan sifat tongkat Voldemort malam itu, yang berarti tongkatmu mengandung sebagian kecil dari diri Voldemort sendiri. Jadi tongkatmu mengenalinya ketika dia mengejarmu, mengenali pria yang adalah kerabat sekaligus musuh bebuyutan, dan tongkatmu memuntahkan sebagian dari sihir Voldemort melawan dia sendiri, sihir yang jauh lebih hebat dibanding yang pernah dilakukan oleh tongkat Lucius. Tongkatmu sekarang mengandung daya hebat dari keberanianmu, plus keahlian Voldemort sendiri: bagaimana mungkin tongkat Lucius Malfoy bisa bertahan?

“Tapi jika tongkatku begitu hebatnya, kenapa Hermione sanggup mematahkannya?” tanya Harry.

“Anakku sayang, efeknya hanya tertuju kepada Voldemort saja, yang begitu menyimpang terhadap hukum-hukum sihir terdalam. Hanya terhadap dialah tongkat itu secara tak biasa menjadi berkekuatan hebat. Di luar itu, tongkat itu cuma sebuah tongkat biasa saja, sama seperti yang lain, walaupun aku yakin tetaplah tongkat yang bagus”, Dumbledore mengakhiri.

Harry duduk merenungkan semua itu untuk beberapa lama, atau bisa jadi hanya sekian detik. Sukar sekali mengetahui hal-hal semacam waktu di tempat ini.

“Dia membunuhku dengan tongkatmu”

“Dia gagal membunuhmu dengan tongkatku”, koreksi Dumbledore. “Aku pikir kita bisa setujui bahwa kau tidak mati – walau, tentu saja, “katanya menambahkan, seakan takut bersikap telah lancang, “Aku tak menganggap remeh penderitaanmu, yang pastilah sangat luar biasa”

“Tapi saat ini aku merasa senang”, kata Harry sambil memandangi tangan Dumbledore yang bersih tanpa cacat. “Kita ini sebenarnya ada di mana?”

“Wll, justru aku yang ingin bertanya kepadamu”, kata Dumbledore sambil melihat sekeliling. “Menurutmu kita ada di mana?”

Harry tak tahu sebelum Dumbledore bertanya. Tapi sekarang dia tahu dia sudah siap dengan jawaban.

“Kelihatannya”, katanya perlahan, “seperti stasiun King’s Cross. Kecuali yang ini lebih bersih dan kosong, dan tak kelihatan ada kereta api” “Stasiun King’s Cross!” Dumbledore tertawa kecil, “Wah, betulkah?”

“Memangnya Anda pikir dimana?” tanya Harry, sedikit membela diri.

“Nak, aku tak tahu sama sekali. Ini, ibarat kata orang, adalah pestamu”

“Harry tak mengerti apa artinya itu; Dumbledore sedang membuatnya marah. Harry meliriknya, lelu teringat akan pertanyaan yang lebih penting dibanding soal tempat ini.

“Deathly Hallows”, katanya, dan dia senang melihat kata-kata itu menghapus senyuman di wajah Dumbledore.

“Ah, ya”, katanya. Dia malah terlihat agak kuatir.

“Well?”

Untuk kali pertama sejak Harry bertemu Dumbledore, dia terlihat seperti bukan seorang yang berumur tua, sangat kurang dari itu. Sekilas dia terlihat bagaikan anak kecil yang tertangkap basah melakukan pelanggaran.

“Bisakah kau memaafkanku?”, katanya. “Bisakah kau memaafkanku yang tidak mempercayaimu? Tidak menceritakan kepadamu, Harry? Aku Cuma takut kau akan gagal sebagaimana aku telah gagal. Aku cuma kuatir kau akan melakukan kesalahan yang aku lakukan. Aku mengharapkan pengampunanmu Harry. Sakarang aku menyadari kalau kau ternyata lebih baik daripada yang aku kira”

“Anda ini bicara apa?” tanya Harry yang kaget dengan nada suara Dumledore, dengan airmata yang mendadak ada di matanya.

“Hallows, Hallows,” gumam Dumbledore. “Impian seorang yang putus asa!”“Tapi itu nyata!”“Nyata dan berbahaya, dan pemikat orang-orang bodoh”, kata Dumbledore. “Dan aku salah

satu orang bodoh itu. Tapi kau tahu bukan? Aku tak punya rahasia lagi darimu. Kau tahu”“Aku tahu apa?”Dumbledore memutar tubuhnya menghadap Harry, dan airmata masih berkilauan di mata

biru terangnya.

“Penguasa Maut , Harry, penguasa Maut! Apakah pada akhirnya aku lebih baik dariVoldemort?”“Tentu saja”, kata Harry. “Tentu saja – kenapa Anda bisa bertanya begitu? Anda tak pernah

membunuh jika Anda bisa menghindarinya”“Betul, betul”, kata Dumbledore, dan dia bagaikan anak kecil yang mencari peneguhan. “Namun begitu, aku juga mencari cara mengalahkan kematian, Harry”

“Tapi tidak dengan cara yang dia lakukan”, jawab Harry. Setelah semua amarahnya terhadap Dumbledore, rasanya ganjil duduk di sini, di bawah langit-langit berkubah, dan membela Dumbledore terhadap dirinya sendiri. “Hallows, bukan Horcrux”

“Hallows,” gumam Dumbledore, “bukan Horcrux. Tepat sekali.”

Ada jeda sejenak. Makhluk di belakang mereka merintih, tapi Harry tak lagi menoleh.

“Grindelwald juga mencarinya?” tanyanya.

Dumbledore menutup matanya sejenak, lalu mengangguk.

“Itulah hal utama yang menarik kami bersama”, katanya perlahan. “Dua anak pintar dan sombong dengan obsesi bersama. Dia ingin menjadi Godric’s Hollow, sebagaimana aku yakin kau sudah bisa menebaknya, karena makam Ignotus Peverell. Dia ingin menjelajahi tempat dimana sang saudara ke-3 wafat”.

“Jadi itu semua benar?” tanya Harry, “Peverell bersaudara –“

“- adalah tiga bersaudara hikayat itu”, kata Dumbledore sambil mengangguk. “Ya, aku pikir begitu. Kalau tentang apakah mereka berjumpa dengan Maut di jalanan sunyi…aku kira lebih condong kalau Peverell bersaudara adalah ahli-ahli sihir berbakat dan berbahaya yang berhasil menciptakan benda-benda jimat tersebut. Hikayat bahwa mereka adalah benda Keramatnya (the Hallows) sang Maut sendiri, rasanya cuma legenda yang mungkin timbul di sekitar jimat-jimat ciptaan mereka itu.

“Jubah Gaib, sebagaimana kau tahu, diteruskan turun temurun abad demi abad, ayah ke anak laki-laki, ibu ke anak perempuan, terus sampai kepada keturunan terakhir Ignotus yang masih hidup, yang tempat lahirnya sama dengan Ignotus, di Godric’s Hollow”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.