Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Terdengar suara berdebuk dan bisikan: ada makhluk lain dekat sini. Harry berhenti di bawah Jubah, mengamati keadaan sekeliling, mendengar, dan ayahibunya, Lupin dan Sirius turut berhenti.

“Ada orang di situ”, terdengar bisikan kasar dari jarak dekat sekali. “Dia punya Jubah Gaib. Apa mungkin –?“

Dua sosok muncul dari balik pohon dekat sana. Tongkat mereka menyala, dan Harry melihat Yaxley dan Dolohov menatap ke dalam kegelapan, tepat ke tempat Harry dan yang lainnya berdiri. Rupanya mereka tak melihat apapun.

“Tadi aku yakin dengar sesuatu”, kata Yaxley. “Menurutmu apa, binatang?”

“Hagrid memelihara banyak binatang di sini”, kata Dolohov sambil melirik lewat bahunya.

Yaxley melihat jamnya.

“Waktunya hampir habis. Porter tak datang”

“Sebaiknya kita kembali”, kata Yaxley. “Kita cari tahu ada rencana apa sekarang” Dia dan Dolohov berbalik dan berjalan masuk ke dalam hutan. Harry mengikuti mereka, tahu kalau mereka akan memandunya tepat ke tempat yang ingin dia capai. Dia melirik ke samping, dan ibunya tersenyum kepadanya, dan ayahnya mengangguk memberi semangat. Mereka baru berjalan sebentar ketika Harry melihat cahaya di depan, dan Yaxley dan Dolohov melangkah ke sebuah tempat terbuka yang diketahui Harry sebagai lokasi dimana Aragog yang mengerikan itu pernah tinggal. Sisa-sisa jaringnya masih ada, tapi kawanan anak-anak yang dia telurkan telah diusir oleh para Pelahap Maut untuk berperang bagi mereka.

Api menyala di tengah tempat terbuka itu, dan kerlap-kerlipnya menerangi segerombol Pelahap Maut yang duduk waspada dalam kebisuan. Sebagian dari mereka masih mengenakan topeng dan tudung kepala, sebagian lagi menampakkan wajah. Dua raksasa berdiri di sisi luar kelompok itu, menghasilkan bayangan yang besar sekali, wajah mereka kejam dan kasar seperti batu. Harry melihat Fenrir mengendap-endap sambil menggigit kuku panjangnya; Rowle si pirang sedang menjilati bibirnya yang berdarah. Dia melihat Lucius Malfoy, yang terlihat kalah dan ketakutan, dan Narcissa yang matanya yang cekung dan penuh keprihatinan.

Setiap mata tertuju pada Voldemort, yang berdiri dengan kepala tertunduk, dan sementara tangannya yang putih terlipat di atas Tongkat Tua-tua (Elder Wand) di depannya. Dia agaknya sedang berdoa, atau menghitung dalam hati. Di belakang kepalanya si besar Nagini masih melayang meliuk-liuk di dalam kandangnya yang gemerlapan, seperti lingkar halo yang mengerikan.

Ketika Dolohov dan Yaxley kembali bergabung dengan lingkaran itu, Voldemort mengangkat kepala.

“Tak ada tanda-tanda keberadaannya Tuanku”, kata Dolohov.

Raut wajah Voldemort tak berubah. Mata merah itu terlihat terbakar di dalam cahaya api. Dengan perlahan ditariknya Tongkat Tua-tua (Elder Wand) di antara jemarinya yang panjang.

“Tuanku –“

Bellatrix berbicara: dialah yang duduknya paling dekat dengan Voldemort, kusut dan sedikit berdarah tapi selain itu tidak terluka.

Voldemort mengangkat tangan menyuruhnya diam, dan diapun tak mengucapkan apapun lagi, tapi menatapnya dengan pandangan terpukau seorang pemuja.

“Aku kira dia akan datang”, kata Voldemort dalam nada tinggi jernih, matanya tertuju pada cahaya api. “Aku berharap dia akan datang”.

Tak seorangpun berbicara. Mereka terlihat sama takutnya dengan Harry, yang saat ini merasakan jantungnya melompat-lompat mendesak dadanya seakanakan berniat melesat dari tubuhnya yang segara akan dienyahkan..Tangannya basah oleh keringat sementara dia menarik lepas Jubah Gaib dan menaruhnya dibawah jubahnya, beserta tongkatnya. Dia tak ingin digoda untuk bertarung.

“Aku, agaknya…keliru”, kata Voldemort.

“Kau tidak keliru”

Harry mengucapkannya senyaring dia mampu, dengan mengumpulkan seluruh kekuatan yang dia sanggup himpun: dia tak ingin terdengar takut. Batu Bertuah (Resurrection Stone) menggelincir dari antara jemarinya yang mati rasa, dan dari sudut matanya dia melihat orangtuanya, Sirius dan Lupin menghilang pada saat dia melangkah masuk kedalam cahaya api. Pada saat itu dia merasa tak seorangpun yang panting selain Voldemort. Kini hanya tinggal mereka berdua saja.

Ilusi itu segera lenyap secepat datangnya. Kedua raksasa itu meraung sementara para Pelahap Maut serentak bangkit, dan banyak yang menjerit, terhenyak bahkan tertawa. Voldemort membeku diam di tempatnya berdiri, tapi mata merahnya telah menemukan Harry, dan dia menatap terus sementara Harry bergerak ke arahnya, tanpa sesuatupun di antara mereka kecuali api.

Kemudian terdengar seruan, “HARRY! JANGAN!”

Dia berbalik: Hagrid terikat pada sebatang pohon, tubuhnya terbelit tali-temali. Tubuh besarnya mengguncang cabang-cabang di atasnya ketika dia berusaha mati-matian memberontak.

“JANGAN! JANGAN! HARRY, APA YANG KAU –““

“DIAM!” teriak Rowley, dan dengan kibasan tongkatnya Hagrid terdiam.

Bellatrix yang telah berdiri mengalihkan matanya dengan penuh minat dari Voldemort ke Harry, dadanya membusung. Yang bergerak saat ini hanyalah lidah api dan si ular, meliuk-liuk di dalam kandang di belakang kepala Voldemort.

Harry bisa merasakan tongkatnya menekan dadanya, tapi dia tak berusaha menghunusnya. Dia tahu bahwa si ular terlalu terlindungi, tahu bahwa jika dia berhasil mengarahkan tongkatnya ke arah Nagini, lima puluh kutukan akan menghantamnya lebih dulu. Voldemort dan Harry masih memandang satu sama lain, dan sekarang Voldemort memiringkan kepalanya sedikit, menimbang-nimbang anak yang sedang berdiri di hadapannya, dan sebentuk senyum tanpa kegembiraan melengkung di mulutnya yang tanpa bibir.

“Harry Potter,” katanya dengan suara sangat halus. Tapi suaranya seakan-akan terbuat dari lontaran api. “Anak Yang Selamat”

Tak satupun dari Pelahap Maut yang bergerak. Mereka menunggu. Segalanya menunggu. Hagrid memberontak dan Bellatrix terengah-engah, dan Harry entah kenapa memikirkan Ginny, parasnya yang bercahaya, dan bibirnya yang dia rasakan di –

Voldemort telah mengangkat tongkatnya. Kepalanya masih miring ke satu sisi, seperti anak kecil yang penasaran akan apa yang terjadi jika dia meneruskannya. Hary balas menatap ke dalam mata merah itu, menginginkannya terjadi saat itu juga, cepat, selagi dia masih bisa berdiri, sebelum dia lepas kendali, sebelum rasa takutnya terkuak Dia melihat mulut yang bergerak dan kilatan cahaya hijau, dan lenyaplah semuanya.

 

BAB 35: JEMBATAN RAJA

Dia berbaring tertelungkup, mendengar kesunyian. Tak ada yang mengawasi. Tak ada orang lain di sana. Dia sendiri tak yakin berada dimana.

Lama sesudahnya, atau tanpa ada jeda waktu sama sekali, timbul pikirannya bahwa dia pastilah ada, pastilah lebih dari sekadar pikiran tanpa tubuh, karena dia sedang berbaring, benar-benar sedang berbaring di atas permukaan sesuatu. Karenanya dia punya indera perasa, dan benda yang menahan tubuhnya tentunya ada juga.

Segera setelah dia mencapai kesimpulan ini, Harry menjadi sadar bahwa dia telanjang. Yakin sedang sendirian di sana, dia tak kuatir, tapi keadaan itu membuatnya sedikit penasaran. Dia bertanya-tanya apakah sebagaimana dia bisa merasa, dia juga bisa melihat? Ketika membukanya, sadarlah dia bahwa dia punya mata.

Dia berbaring di kabut yang terang, sekalipun bukan jenis kabut yang pernah dialaminya. Sekelilingnya tak tertutup uap berawan; atau tepatnya uap berawan belum lagi terbentuk di sekelilingnya. Lantai dimana dia berbaring terlihat berwarna putih, tidak hangat tidak pula dingin, benda datar yang semata-mata ada di sana.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.