Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Aku tahu”, kata Ginny, dan suaranya serak. “Semua akan baik-baik saja”

Gelombang dingin menyapu kulit Harry. Betapa ingin dia berteriak, ingin Ginny menyadari kehadirannya, ingin Ginny tahu kemana dia hendak pergi. Dia ingin dihentikan, diseret, dikirim pulang…

Tapi dia sudah di pulang. Hogwards adalah rumah pertama dan terbaik yang pernah dia kenal. Dia dan Voldemort dan Snape, para anak laki-laki yang terlantar, sudah menemukan rumah di sini…

Ginny sekarang sedang berlutut disamping gadis yang terluka itu, menggenggam tangannya. Dengan usaha keras, Harry memaksa terus melangkah. Rasanya dia melihat Ginny memandang ke sekeliling ketika Harry melewatinya, dan bertanyatanya apakah inderanya menangkap adanya seseorang berjalan di sana, tapi Harry tak bicara, dan tak melihat ke belakang.

Pondok Hagrid muncul dari kegelapan. Tak ada cahaya, tak ada suara Fang mengonggong menyambutnya. Seluruh kunjungannya ke Hagrid, dan kemilau kuali tembaga di atas tungku, dan kue-kue keras dan makanan-makanan besar, dan wajah besarnya yang dipenuhi jenggot, dan Ron yang muntah, dan Hermione yang menolongnya menyelamatkan Norbert…

Dia terus berjalan, dan sekarang mencapai tepi hutan, lalu dia berhenti.

Sekawanan dementor sedang meluncur di antara pepohonan; dia bisa rasakan hawa dingin mereka, dan dia tak yakin apakah bisa lewat dengan selamat. Dia tak punya kekuatan lagi untuk mengeluarkan Patronus. Dia tak bisa lagi mengendalikan gemetar tubuhnya. Ternyata tak semudah itu untuk mati. Dalam setiap tarikan nafasnya, bau rerumputan dan udara dingin di wajahnya terasa begitu berharga; kalau memikirkan betapa orang memiliki tahun demi tahun, waktu untuk dibuang percuma, sementara dia bergelantung pada setiap detik. Pada saat yang bersamaan dia berpikir tak sanggup lagi untuk melanjutkan, sekaligus sadar kalau dia harus. Pertandingan yang panjang berakhir sudah, Snitch telah tertangkap, waktunya untuk meninggalkan udara…

Snitch. Jemarinya sejenak meraba-raba kantung di lehernya, lalu dia menarik benda itu keluar.

I open at the close.

Dengan nafas yang kencang dia menatap benda itu. Sekarang ketika dia ingin waktu bergerak selambat mungkin, rasanya dia makin cepat, dan pemahamannya datang begitu cepatnya seolah-olah telah melewatinya. Inilah the close (penutupannya). Inilah saatnya.

Dia tekankan logam keemasan itu ke bibirnya dan berbisik, “Aku segera akan mati”

Kulit logam itu pecah terbuka. Dia rendahkan tangannya yang gemetaran, mengangkat tongkat Draco di bawah Jubah dan menggumam, “Lumos”

Batu hitam yang retak bergerigi ke bagian tengah terletak di dalam Snitch yang terbelah dua. Batu Bertuah (Resurrection Stone) itu telah retak secara vertikal, melambangkan Tongkat Sihir Tua-tua (Elder Wand). Segitiga dan lingkaran melambangkan Jubah dan batu itu masih bisa terlihat sebagai batu.

Dan lagi-lagi Harry mengerti tanpa harus berpikir. Tak perlu membawa mereka kembali, karena dia sendiri akan bergabung dengan mereka. Bukan dia yang menjemput mereka. Merekalah yang menjemputnya.

Dia menutup mata dan diputarnya batu itu dalam tangannya tiga kali.

Dia tahu hal itu sudah terjadi karena dia mendengar gerakan-gerakan kecil di sekelilingnya, seperti gerakan tubuh-tubuh lemah yang menggeser pijakannya di atas tanah bertabur ranting-ranting yang menandai tepi luar hutan itu. Dia buka matanya dan memandang ke sekeliling.

Mereka bukanlah hantu bukan pula tubuh jasmani, itulah yang dia lihat. Mereka lebih kelihatan seperti Riddle yang lolos dari perpustakaan di waktu dulu sekali, yaitu ingatan yang hampir-hampir membentuk zat padat. Kurang dari tubuhtubuh yang hidup, tapi lebih dari hantu. Mereka bergerak ke arahnya. Dan pada tiap wajah mereka tersungging senyum penuh kasih sayang.

Tinggi James persis sama dengan Harry. Dia mengenakan pakaian yang dipakainya ketika meninggal, dan rambutnya acak-acakan, dan kacamatanya agak berat sebelah, seperti kepunyaan Tuan Weasley.

Sirius jangkung dan tampan, dan jauh lebih muda dibanding yang pernah Harry lihat ketika dia masih hidup. Dia melompat dengan anggun, tangan di dalam saku dan wajah menyeringai.

Lupin juga jauh lebih muda, dan lebih langsing, dan rambutnya lebih lebat dan hitam. Dia terlihat bahagia kembali ke tempat yang sangat dia kenal ini, tempat yang begitu banyak dia jelajahi di masa mudanya.

Senyuman Lily adalah yang paling lebar. Dia sibakkan rambut hitamnya ke belakang sementara dia mendekati Harry, dan mata hijaunya, begitu mirip dengan matanya, memandangi wajah Harry tanpa puas, seakan-akan takkan pernah cukup baginya memandangnya.

“Kau telah bertindak sangat berani”

Dia tak sanggup bicara. Matanya terpusat kepada Lily, dan dia pikir dia mau berdiri memandanginya untuk selamanya, dan itu saja sudah cukup.

“Kau sudah hampir sampai”, kata James. “Dekat sekali. Kami….sangat bangga terhadapmu”

“Sakitkah rasanya?”

Pertanyaan kekanak-kanakan itu terlontar begitu saja dari mulut Harry tanpa bisa dicegahnya.

“Mati? Tidak sama sekali”, kata Sirius. “Lebih cepat dan lebih mudah daripada jatuh tertidur”

“Dan dia akan menginginkan cepat terjadinya. Dia ingin semua berakhir”, kata Lupin.

“Aku tidak menginginkan kalian mati”, jawab Harry. Kata-kata ini terlontar begitu saja. “Kalian semua. Maafkan aku –“

Kata-kata itu lebih ditujukannya kepada Lupin dibanding yang lain, dengan nada memohon.

“- tepat setelah kau punya anakmu…Remus, aku menyesal-“

“Aku juga menyesal”, kata Lupin. “Menyesal tak lagi bisa mengenalnya…tapi dia akan tahu mengapa aku mati dan aku harap dia akan mengerti. Aku telah mencoba membuat sebuah dunia dimana dia bisa menjalani hidup yang lebih bahagia”

Hembusan angin dingin yang seolah keluar dari pusat hutan itu mengangkat rambut di bagian kening Harry. Dia tahu mereka akan tidak akan menyuruhnya pergi. Dia sendirilah yang harus mengambil keputusan itu.

“Kalian akan menemaniku?”

“Sampai pada akhirnya”, kata James.

“Mereka tak akan bisa melihat kalian?”

“Kami adalah bagian dirimu”, kata Sirius. “Tak terlihat oleh siapapun”

Harry menatap ibunya.

“Dekatlah terus denganku”, ucapnya lirih.

Dan dia beranjak. Hawa dingin membeku dari Dementor tidak mengalahkannya, dia lewat bersama para pengiringnya, dan mereka bertindak bagaikan Patronus-Patronus untuknya, dan bersama-sama mereka beriringan melewati pepohonan tua yang tumbuh rapat, cabang-cabangnya saling melilit, akar-akarnya berbonggol-bonggol dan berpilin-pilin di bawah kaki mereka. Harry menutupi dirinya rapat-rapat dengan Jubah Gaib dalam kegelapan, berjalan masuk dan masuk terus ke dalam hutan, tanpa punya gambaran dimana Voldemort berada tapi yakin Voldemort akan menemukannya. Di sampingnya James, Sirius, Lupin dan Lily berjalan hampir tanpa menimbulkan suara, dan kehadiran mereka adalah keberaniannya, dan alasan yang membuatnya mampu menggerakkan kakinya ke depan.

Tubuh dan pikirannya secara aneh rasanya terpisah sekarang, anggota-anggota tubuhnya bekerja tanpa instruksi, seolah-olah dia adalah seorang penumpang, bukan juru mudi atas tubuh yang sebentar lagi akan dia tinggalkan. Orang-orang mati yang berjalan di sisinya menembus hutan terasa lebih nyata dibanding mereka yang masih hidup dalam kastil: Ron, Hermione, Ginny dan semua orang lainlah yang terasa seperti hantu sementara dia tertatih-tatih menyongsong akhir hidupnya, menuju Voldemort.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.