Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Kami ada ratusan meter di atas tanah! Dan Stan bukan dirinya sendiri! Bila aku

membuatnya pingsan, dia akan jatuh dan mati! Tidak ada bedanya bila aku memakai Avada Kedavra! Expelliarmus telah menyelamatkanku dari Voldemort dua tahun yang lalu,” tambah Harry. Lupin mengingatkan Harry pada Zacharias Smith, anak Hufflepuff, yang mengejek dirinya saat Harry mengajari Laskar Dumbledore Mantra Perlucutan Senjata.

“Tentu saja, Harry,” kata Lupin mengalah, “dan ratusan Pelahap Maut melihatmu melakukannya! Maafkan aku, tapi itu bukanlah mantra yang umum bila kau ada di ujung kematian. Dan kau memakainya lagi di depan para Pelahap Maut yang pernah melihatmu, atau paling tidak mendengarmu, melakukannya di saat kau terancam.”

“Jadi lebih baik bila aku membunuh Stan Shunpike?” kata Harry marah.

“Tentu saja tidak,” kata Lupin, “tapi, para Pelahap Maut, dan banyak orang lain, mengharapkanmu untuk melawan mereka! Expelliarmus adalah mantra yang berguna, Harry. Tapi sepertinya Pelahap Maut menganggap bahwa itu adalah penanda, mantra yang selalu kau pakai. Dan aku ingatkan kau untuk tidak membiarkannya menjadi penandamu.”

Lupin membuat Harry merasa seperti orang idiot tapi Harry masih ingin melawan.

“Aku tidak ingin meledakkan orang yang menghalangi jalanku,” kata Harry. “Itu kerjaan Voldemort.”

Lupin tidak sempat membalas karena Hagrid, yang akhirnya bisa membebaskan dirinya dari pintu, berjalan terhuyung, jatuh terduduk, dan menjatuhi Lupin. Harry langsung bertanya lagi pada Lupin.

“Apakah George akan baik-baik saja?”

Semua kemarahan Lupin tiba-tiba menguap saat mendengar pertanyaan itu.

“Semoga saja. Walau tidak mungkin untuk mengembalikan telinganya, tidak mungkin bila disebabkan oleh kutukan.” Terdengar suara dari luar. Lupin langsung berlari keluar dari dapur. Harry meloncati kaki

Hagrid dan mengekor keluar. Dua orang telah muncul di halaman dan terlihat Hermione, yang sudah kembali

ke bentuk semula, bersama Kingsley, keduanya memegangi gantungan baju. Hermione langsung melingkarkan lengannya untuk memeluk Harry, tapi Kingsley tidak terlihat senang.

Melalui bahu Hermione ia melihat Kingsley mengangkat tongkat dan mengarahkannya ke dada Lupin. “Apa kata-kata terakhir yang Dumbledore katakan pada kita?” “’Harry adalah harapan kita. Percayalah padanya,’” kata Lupin tenang. Kingsley mengarahkan tongkatnya pada Harry, tapi Lupin berkata, “Itu memang dia,

sudah kuperiksa.”

“Baiklah,” kata Kingsley yang langsung memasukkan tongakatnya ke dalam jubah. “Tapi seseorang berkhianat! Mereka tahu, mereka tahu tentang malam ini!” “Sepertinya,” jawab Lupin, “tapi sepertinya mereka tidak tahu kalau akan ada tujuh orang

Harry.” “Untung sekali,” kata Kingsley geram. “Siapa saja yang sudah kembali?” “Hanya Harry, Hagrid, George, dan aku.” Hermione terperanjat dan mengatupkan tangan menutupi mulutnya. “Apa yang terjadi pada kalian?” tanya Lupin pada Kingsley. “Diburu lima Pelahap Maut, berhasil melukai dua orang, dan mungkin membunuh

seorang,” kata Kingsley sambil terhuyung, “dan berhadapan langsung dengan Kau-Tahu-Siapa, dia datang di tengah pengejaran lalu menghilang. Remus, dia bisa…”

“Terbang,” potong Harry. “Aku juga bertemu dengannya, dia mengejarku dan Hagrid.” “Jadi itu alasannya dia menghilang, untuk mengejarmu!” kata Kingsley. “Aku tidak tahu mengapa dia tiba-tiba pergi. Tapi mengapa dia tiba-tiba mengubah target?”

“Harry bersikap terlalu baik pada Stan Shunpike,” kata Lupin.

“Stan?” ulang Hermione. “Tapi, aku kira dia ada di Azkaban.” Kingsley tertawa suram. “Hermione, telah terjadi pelarian besar-besaran yang tidak diberitakan oleh Kementrian.

Tudung Traver terlepas saat aku melawannya, dan dia seharusnya ada di Azkaban juga. Apa yang terjadi padamu Remus? Di mana George?” “Dia kehilangan salah satu telinganya,” kata Lupin. “Kehilangan apa?” ulang Hermione dengan nada tinggi. “Hasil kerja Snape,” kata Lupin.

“Snape?” teriak Harry. “Kau tidak bilang…” “Tudungnya terlepas saat pengejaran. Sectusempra memang sudah jadi spesialisasi Snape. Rasanya aku ingin membalasnya, tapi aku harus memegangi George di atas sapu setelah dia terluka, dia kehilangan begitu banyak darah.”

Mereka berempat terdiam saat menatap ke langit. Tidak ada tanda apa pun di sana. Hanya bintang yang tidak berkedip dan tampak sama. Di mana Ron? Di mana Fred dan Mr. Weasley? Di mana Bill, Fleur, Tonks, Mad-Eye, dan Mundungus?

“Harry, tolong aku!” kata Hagrid yang terjepit lagi di pintu. Lega saat harus melakukan sesuatu, Harry menarik Hagrid hingga terlepas dari pintu, lalu masuk ke dalam dapur dan terus ke ruang duduk, di mana Mrs. Weasley dan Ginny masih merawat George. Mrs. Weasley berhasil menghentikan pendarahan, dan di bawah sinar lampu Harry bisa melihat sebuah lubang, di mana seharusnya ada telinga George.

“Bagaimana keadaannya?”

Mrs. Weasley menoleh dan berkata, “Aku tidak dapat menumbuhkannya kembali, tidak

bisa kalau hilang karena Ilmu Hitam. Tapi bisa saja lebih buruk… untung saja dia masih hidup.” “Ya,” kata Harry. “Syukurlah.” “Rasanya aku mendengar yang lain di halaman,” kata Ginny. “Hermione dan Kingsley.” “Syukurlah,” bisik Ginny. Mata mereka saling memandang. Ingin rasanya Harry

memeluknya, bergantung padanya, ia bahkan tidak peduli ada Mrs. Weasley di sana, tapi sebelum Harry melakukan apa yang ia inginkan terdengar suara teriakan dari dapur.

“Akan kubuktikan diriku, Kingsley, tapi setelah aku melihat keadaan anakku. Sekarang

minggir kalau kau tahu apa harus kau lakukan!” Harry tidak pernah mendengar Mr. Weasley berteriak sebelumnya. Ia menerobos masuk ke ruang duduk. Kepalanya yang botak dipenuhi keringat dan kacamatanya miring. Fred berdiri di belakangnya. Keduanya tampak pucat tapi tidak terluka.

“Arthur!” isak Mrs. Weasley. “Oh, syukurlah!” “Bagaimana keadaannya?” Mr. Weasley langsung berlutut di sebelah George. Untuk pertama kalinya Harry melihat

Fred kehilangan kata-kata. Ia berdiri di belakang sofa melihat luka kembarannya dan sepertinya tak percaya akan apa yang ia lihat. Mungkin karena mendengar suara kedatangan Fred dan ayahnya, George mulai sadar. “Bagaimana perasaanmu, Georgie?” tanya Mrs. Weasley. George memegang sisi kepalanya. “Seperti seorang malaikat,” gumamnya.

“Ada apa dengannya?” teriak Fred ketakutan. “Apakah otaknya juga terganggu?” “Seperti seorang malaikat,” ulang George sambil menatap saudaranya. “Kau tahu… aku holy (suci). Holey (berlubang)*, Fred, ngerti?”

Suara isakan Mrs. Wealey semakin keras. Wajah pucat Fred mulai berwarna.

“Menyedihkan!” kata Fred pada George. “Menyedihkan! Dari begitu banyak humor tentang telinga di dunia ini, kau pilih holey?” “Ah, menyebalkan,” George tersenyum pada ibunya yang sedang menangis. “Sekarang

kau bisa membedakan kami, Bu.” George memerhatikan sekelilingnya. “Hai Harry! Kau Harry, kan?” “Ya,” kata Harry sambil mendekat ke sofa. “Paling tidak, kami bisa membantumu,” kata George. “Mengapa Ron dan Bill tidak ada

di sini dan menangisi aku?” “Mereka belum kembali, George,” kata Mrs. Weasley. Senyum George langsung

menghilang. Harry memandang Ginny dan memintanya untuk menemaninya ke halaman belakang. Saat mereka berjalan melewati dapur, Ginny berbicara perlahan, “Ron dan Tonks harusnya akan datang sebentar lagi. Jarak mereka tidak terlalu jauh. Rumah bibi Muriel tidak jauh dari sini.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.