Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Dumbledore membuka matanya. Snape nampak terkejut.

“Anda membiarkannya hidup agar ia bisa mati pada saat yang tepat?”

”Jangan terkejut, Severus. Berapa banyak laki-laki dan perempuan yang kau amati kematiannya?”

”Akhir-akhir ini hanya mereka yang tidak bisa saya selamatkan,” sahut Snape. Ia beranjak berdiri. ”Anda memperalat saya.”

”Maksudnya?”

”Saya memata-matai untuk Anda, berbohong untuk Anda, menempatkan diri saya dalam bahaya kematian untuk Anda. Semuanya ditujukan untuk menjaga keselamatan putra Lily. Sekarang Anda mengatakan pada saya, Anda membesarkannya seperti babi siap untuk disembelih—”

”Menyentuh sekali, Severus,” sahut Dumbledore serius. ”Apakah kau sekarang sudah punya rasa peduli pada anak itu?”

”Pada anak itu?” teriak Snape, ”Expecto patronum!”

Dari ujung tongkatnya keluar rusa betina perak, rusa itu mendarat di lantai kantor, melambung sekali melintasi kantor dan meluncur ke luar dari jendela. Dumbloedore mengamati rusa itu melayang pergi, dan saat cahaya keperakannya mulai lenyap, Dumbledore menoleh pada Snape, matanya basah.

“Selama ini?”

“Selalu,” sahut Snape.

Dan adegan berganti. Sekarang Harry melihat Snape sedang berbicara pada lukisan Dumbledore di belakang meja.

“Kau akan memberikan tanggal pasti keberangkatan Harry dari rumah paman dan bibinya pada Voldemort,” sahut Dumbledore. “Tidak melakukannya berarti membangkitkan kecurigaan karena Voldemort percaya kau selalu punya informasi bagus. Tapi kau harus menanamkan gagasan umpan pengalih perhatian—yang kukira bisa menjamin keselamatan Harry. Coba memantrai Mundungus dengan Confundus. Dan Severus, jika kau terpaksa untuk mengambil bagian dalam pengejaran, berperanlah dengan meyakinkan … Aku mengandalkanmu untuk tetap dalam hitungan Voldemort selama mungkin, agar Hogwarts tidak jatuh ke tangan Carrows …”

Sekarang Snape berhadapan dengan Mundungus di rumah minum yang tidak dikenal, wajah Mundungus terlihat kosong, Snape mengerutkan kening berkonsentrasi.

”Kau akan mengusulkan pada Orde Phoenix,” Snape bergumam, ”bahwa mereka akan menggunakan umpan pengalih perhatian. Ramuan Polijus. Potter kembar. Itu satusatunya yang mungkin berhasil. Kau akan melupakan bahwa aku yang mengusulkan itu. Kau akan mengajukannya sebagai gagasanmu sendiri. Paham?”

”Aku paham,” gumam Mundungus, matanya tak fokus …

Sekarang Harry terbang di sisi Snape di atas sapu di malam gelap yang bersih; dia disertai para Pelahap Maut bertudung, di depan ada Lupin dan seorang Harry yang sebenarnya adalah George … seorang Pelahap Maut maju mendahului Snape dan mengangkat tongkatnya, menunjuk langsung pada punggung Lupin –”

”Sectumsempra!” teriak Snape.

Tapi mantra yang dimaksud pada tangan bertomgkat dari Pelahap Maut itu meleset dan mengenai George—”

Selanjutnya Snape sedang berlutut di kamar lama Sirius. Air mata berlinang dari hidungnya yang bengkok saat ia membaca surat lama dari Lily. Halaman kedua surat itu hanya berisi beberapa kata:

kok bisa sih berteman dengan Gellert Grindelwald. Kukira dia sudah gila!

Penuh cinta, Lily Snape mengambil halaman yang bertandatangan Lily, dan cintanya, diselipkan ke dalam jubahnya. Ia merobek foto yang sedang dipegangnya, ia menyimpan bagian Lily sedang tertawa, dan menjatuhkan bagian James dan Harry, jatuh di bawah lemari.

Dan sekarang Snape berdiri lagi di ruang baca Kepala Sekolah, saat Phineas Nigellus bergegas datang dalam lukisannya.

“Kepala Sekolah! Mereka sedang berkemah di Hutan Dean. Darah Lumpur itu—”

”Jangan gunakan kata itu!”

”—baiklah, gadis Granger itu menyebut nama tempat itu saat ia membuka tasnya dan aku mendengarnya!”

”Bagus. Bagus sekali!” teriak Dumbledore dari belakang kursi Kepala Sekolah.

Sekarang, Severus, pedangnya! Jangan lupa bahwa pedang itu hanya bisa diambil dalam kondisi memerlukan, dan dengan keberanian—dan dia tidak boleh tahu kau yang memberinya! Jika Voldemort membaca pikiran Harry dan melihat kau bergerak untuknya—“

“Saya tahu,” sahut Snape kaku. Ia mendekati lukisan Dumbledore dan menarik sisinya. Lukisan itu mengayun maju, memperlihatkan rongga tersembunyi di belakangnya, dari situ Snape mengambil Pedang Gryffindor.

”Dan Anda masih belum akan memberitahu saya mengapa sebegitu penting untuk memberi Potter sebuah pedang?” sahut Snape sembari mengayunkan mantel bepergian di atas jubahnya.

”Kurasa tidak,” sahut lukisan Dumbledore. ”Ia tahu apa yang harus dilakukan. Dan Severus, berhati-hatilah, mereka tidak akan berbaik hati pada kemunculanmu setelah peristiwa George Weasley—”

Snape menuju pintu.

”Tidak usah khawatir, Dumbledore,” sahutnya dingin, ”saya punya rencana…”

Dan Snape meninggalkan ruangan. Harry bangkit, keluar dari Pensieve, sesaat kemudian ia tergeletak di lantai berkarpet di ruangan yang sama; Snape mungkin baru saja menutup pintu.

 

BAB 34: KEMBALI KE HUTAN

Pada akhirnya, kebenaran. Sambil berbaring dengan wajah menekan karpet berdebu di dalam ruangan yang dianggapnya dulu sebagai tempat yang mengajarkannya rahasia kemenangan, Harry akhirnya mengerti kalau dia tak semestinya selamat. Tugasnya adalah melangkah tenang ke dalam pelukan Kematian sekaligus memutuskan hubungan yang masih tersisa antara Voldemort dengan kehidupan. Maka ketika akhirnya dia melemparkan diri menghadapi Voldemort dan tidak menghunus tongkatnya untuk membela diri, kesudahannya akan jelas, dan tugas yang mestinya telah tuntas di Godric’s Hallow akhirnya akan selesai. Tak seorangpun akan hidup, tak seorangpun akan selamat.

Dia merasakan gemuruh jantung yang berdentam-dentam dalam dadanya. Betapa anehnya, dalam ketakutannya akan maut jantung itu malah memompa dengan begitu kencangnya, menjaganya tetap hidup. Tapi jantung itu mesti berhenti, segera. Detaknya tinggal menghitung waktu. Berapa banyak waktu yang diperlukan, sementara dia bangkit dan melangkah sepanjang kastil itu untuk terakhir kalinya, untuk berjalan keluar dan pergi memasuki hutan?

Rasa ngeri mencengkeramnya ketika berbaring di lantai, dan genderang penguburan bertalu-talu dalam jantungnya. Akankah kematian itu menyakitkan? Selama ini dia telah menduga bahwa itu akan terjadi, dan dia akan selamat, dan tak pernah dia memikirkan tentang kematian itu sendiri. Kemauannya untuk hidup jauh lebih besar dibanding rasa takut akan kematian. Namun sekarang tak terpikir olehnya sama sekali untuk mencoba mengelak, untuk melarikan diri dari Voldemort. Semua sudah berakhir, dia tahu, dan yang tersisa hanyalah satu hal: mati.

Seandainya saja dia mati di malam musim panas lalu ketika meninggalkan Privet Drive No.4 untuk terakhir kalinya, ketika tongkat sihir berbulu Phoenix menyelamatkannya! Seandainya saja dia mati seperti Hedwig, begitu cepat sampai dia tak menyadarinya! Atau seandainya saja dia melemparkan diri menerima serangan tongkat demi menyelamatkan orang yang dicintainya…Sekarang dia iri dengan kematian kedua orangtuanya. Langkah dingin menuju kehancurannya sendiri memerlukan jenis keberanian yang lain. Dirasakannya jari-jemarinya agak gemetaran dan dia berusaha mengendalikannya meski tak seorangpun melihat; potret-potret di dinding semua kosong tak berpenghuni.

Dengan amat perlahan dia duduk dan mulai merasa lebih hidup dan lebih sadar akan tubuhnya dibanding sebelumnya. Kenapa tak pernah dia menghargai betapa dia adalah sebuah keajaiban, otak dan saraf dan jantung yang berdetak? Semua itu akan berlalu, atau setidaknya dia akan berlalu dari semua itu. Nafasnya mulai melambat dan dalam, dan mulut serta tenggorokannya kering sama sekali, tapi begitu pula dengan matanya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.