Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Saya kira … Anda akan … menjamin dia … selamat.” ”Dia dan James menyimpan kepercayaan pada orang yang salah,” sahut Dumbledore,

”Hampir seperti dirimu, Severus. Bukankah kau berharap Lord Voldemort akan mengampuninya?”Napas Snape terdengar pendek.

“Anak laki-lakinya selamat,” ujar Dumbledore. Dengan sentakan kecil di kepalanya, Snape terlihat membunuh lalat yang menjengkelkan. ”Putra Lily hidup. Ia punya mata Lily, persis mata Lily. Kau ingat bentuk dan warna mata Lily Evans, kan?””JANGAN!” lenguh Snape, ”Pergi … Meninggal…””Apakah ini penyesalan, Severus?””Saya harap … Saya harap saya mati …”“Lalu apa gunanya untuk orang lain?” sahut Dumbledore dingin, ”Kalau kau mencintai Lily Evans, kalau kau benar-benar mencintainya, jalan untukmu terbuka lebar.”

Snape nampak melalui perih yang samar-samar, dan arti kata-kata Dumbledore terlihat lama sekali sampai kepadanya. ”Apa—apa maksud Anda?” ”Kau tahu bagaimana dan mengapa Lily meninggal. Pastikan kematian itu tidak sia-sia. Bantulah aku melindungi anak Lily.” ”Dia tidak perlu perlindungan. Pangeran Kegelapan sudah pergi—” ”—Pangeran Kegelapan akan kembali, dan pada saat itu Harry Potter akan berada dalam bahaya besar.” Ada sunyi yang lama, dan perlahan Snape bisa mengendalikan diri lagi, menguasai napasnya lagi. Akhirnya ia berucap, ”Baiklah. Baiklah. Tapi jangan pernah— jangan ceritakan, Dumbledore! Ini hanya di antara kita saja! Bersumpahlah! Saya tidak bisa menanggung … khususnya anak Potter … Saya ingin Anda berjanji!” “Janjiku, Severus, bahwa aku tidak pernah akan memperlihatkan sisi terbaikmu?”

Dumbledore mengeluh, menatap wajah garang Snape yang diliputi kesedihan yang mendalam. “Kalau kau bersikeras …” Kantor Kepala Sekolah memudar tapi langsung terbentuk kembali. Snape sedang berjalan mondar-mandir di depan Dumbledore.

“—biasa saja, sombong seperti ayahnya, kecenderungan untuk melanggar peraturan, suka melihat dirinya terkenal, mencari perhatian, tidak sopan—““Kau melihat apa yang ingin kau lihat, Severus,” sahut Dumbledore tanpa mengangkat matanya dari Transfigurasi Terkini*. ”Guru lain melaporkan bahwa anak itu rendah hati, cukup disenangi, dan berbakat. Kurasa dia cukup menarik.”

Dumbledore membalik lembaran bacaannya dan berkata tanpa mengangkat matanya, “Tolong perhatikan Quirrell, ya?”

Seputaran warna dan semuanya gelap, Snape dan Dumbledore berdiri agak jauh di Pintu Masuk, saat orang terakhir dari Pesta Dansa Natal melintasi mereka untuk pergi tidur.

“Jadi?” gumam Dumbledore.

“Tanda Kegelapan Karkaroff menjadi lebih gelap juga. Dia panik, dia takut pembalasan; Anda tahu sejauh mana ia membantu Kementerian setelah

kejatuhan Pangeran Kegelapan.” Snape melihat ke samping melalui sosok hidung bengkok Dumbledore. ”Karkaroff berniat untuk melarikan diri jika Tanda itu terbakar.”

”Apakah demikian?” sahut Dumbledore lembut, saat Fleur Delacour dan Roger Davis lewat terkikik-kikik bangkit dari tanah. ”Apakah kau tergoda untuk bergabung dengannya?”

”Tidak,” sahut Snape, matanya tertuju pada sosok Fleur dan Roger yang makin mengecil. ”Saya bukan pengecut.”

”Bukan,” Dumbledore setuju, ”Kau jauh lebih berani daripada Igor Karkaroff. Kau tahu, kadang aku merasa kita Menyeleksi terlalu cepat …”

Dumbledore berjalan menjauh, meninggalkan Snape yang terlihat mematung.

Dan sekarang Harry berdiri di Kantor Kepala Sekolah lagi. Saatnya malam dan Dumbledore merosot di kursinya yang seperti singgasana di balik meja, nyatanyata setengah sadar. Tangan kanannya terjuntai di sisinya, menghitam dan terbakar. Snape sedang menggumamkan mantra, menujukan tongkatnya pada pergelangan tangan Dumbledore, saat yang sama tangan kirinya menuangkan piala berisi ramuan kental keemasan ke dalam tenggorokan Dumbledore. Setelah beberapa saat, kelopak mata Dumbledore bergetar dan membuka.

”Mengapa,” sahut Snape tanpa basa-basi, ”mengapa Anda mengenakan cincin itu? Di dalamnya terkandung Kutukan, pasti Anda mengetahuinya. Mengapa bahkan Anda menyentuhnya?”

Cincin Marvolo Gaunt tersimpan di meja dekat Dumbledore. Cincin itu retak; pedang Gryffindor terletak di sebelahnya.

Dumbledore meringis.

“Aku … bodoh. Aku tergoda …”

“Tergoda oleh apa?”

Dumbledore tak menjawab.

“Suatu keajaiban Anda berhasil kembali kesini,” Snape terdengar geram, “Cincin itu mengandung Kutukan dari kekuatan yang luarbiasa, kita hanya bisa berharap kita bisa menahannya; saya sudah memerangkap kutukan itu di satu tangan untuk sementara.”

Dumbledore mengangkat tangan yang menhitam dan sudah tak berguna lagi, memperhatikannya dengan ekspresi seperti seseorang yang sedang diperlihatkan barang ajaib yang menarik.

“Kau bekerja sangat baik, Severus. Berapa lama kau kira aku bisa bertahan?”

Nada suara Dumbledore sangat biasa, sebiasa seperti kalau dia sedang bertanya ramalan cuaca. Snape ragu, kemudian berucap, ”Saya tidak bisa mengatakannya. Mungkin setahun. Tidak ada yang bisa menghentikan mantra itu untuk selamanya. Mantra itu pasti akan menyebar, ini termasuk Kutukan yang menguat setiap saat.”

Dumbledore tersenyum. Kabar bahwa ia hanya punya kurang dari satu tahun untuk hidup nampaknya hanya sedikit atau bahkan tidak berpengaruh sama sekali padanya.

”Aku beruntung, sangat beruntung, bahwa aku punya kau, Severus.”

”Kalau saja Anda memanggil saya lebih cepat, saya mungkin bisa berbuat lebih baik lagi, memberikan Anda lebih banyak waktu,” sahut Snape geram. Ia melihat pada cincin yang retak dan pedang. ”Apakah Anda pikir merusak cincin bisa mematahkan Kutukan?”

”Sesuatu seperti itulah … aku lupa daratan, tak ada keraguan …” sahut Dumbledore. Dengan susah payah ia menegakkan diri di kursi. ”Yah, sebenarnya ini membuat masalah-masalah lebih terlihat mudah.”

Snape terlihat benar-benar kebingungan. Dumbledore tersenyum.

“Aku mengacu pada rencana Lord Voldemort yang berputar di sekitarku. Rencananya ialah membuat putra Malfoy yang malang itu membunuhku.”

Smape duduk di kursi yang sering Harry duduki, di seberang meja Dumbledore. Harry dapat mengatakan bahwa Snape ingin mengatakan lebih banyak lagi tentang tangan Dumbledore yang terkena Kutukan, tapi Dumbledore menolak untuk membahasnya lebih lanjut, dengan sopan. Sambil memberengut, Snape menyahut, “Pangeran Kegelapan tidak mengharapkan Draco berhasil. Ini semua hukuman untuk kegagalan Lucius. Siksaan yang pelan untuk orangtua Draco, saat mereka menyaksikan Draco gagal dan mendapat ganjarannya.”

”Singkatnya, anak itu sudah mendapat vonis mati, aku yakin,” sahut Dumbledore.

Sekarang, aku mengira, pengganti untuk melakukan pekerjaan itu, sekali Draco gagal, adalah kau sendiri?”

Hening sejenak.

”Saya kira ya, itu memang rencana Pangeran Kegelapan.”

”Lord Voldemort memperkirakan dalam jangka pendek ia tidak memerlukan mata-mata lagi di Hogwarts?”

”Ia percaya sekolah ini akan berada dalam genggamannya, ya betul.”

”Dan jika sekolah ini benar-benar jatuh ke dalam genggamannya,” sahut Dumbledore, dalam suara rendah, ”aku dapat jaminan bahwa kau akan berusaha sekuatmu untuk melindungi para siswa di Hogwarts?”

Snape mengangguk kaku.

”Bagus. Sekarang. Prioritas pertama, temukan apa yang sedang dituju oleh Draco. Seorang ABG yang sedang ketakutan merupakan bahaya untuk orang lain juga bagi dirinya sendiri. Tawarkan padanya pertolongan dan bimbingan, ia harus menerimanya, ia suka padamu—”

”—sekarang berkurang sejak ayahnya tidak disukai. Draco menyalahkan saya, ia mengira saya telah merampas posisi Lucius.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.