Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Lily mencapai pilar dan bersandar di sana, menatap wajah pucat dan kurus itu.

“Itu bukan apa-apa,” ujar Snape, “itu cuma lelucon, cuma itu—”

”Itu Sihir Hitam, dan kalau kau pikir itu lucu—”

”Lalu bagaimana dengan apa yang dilakukan Potter dan sobat-sobatnya?” tuntut Snape, wajahnya memerah lagi saat ia mengatakannya, sepertinya tidak dapat menahan kemarahan.

”Memangnya ada apa dengan Potter?” tanya Lily.

“Mereka menyelinap di malam hari. Ada seusatu yang aneh dengan Lupin. Ke mana dia selalu pergi?”

”Dia sakit,” ucap Lily, ”mereka bilang dia sakit.”

”Tiap bulan saat purnama?” tanya Snape.

”Aku tahu teorimu,” ujar Lily, dan dia terdengar dingin, ”Kau terobsesi dengan mereka kan? Kenapa kau begitu perhatian dengan apa yang mereka lakukan di malam hari?”

”Aku hanya mencoba menunjukkan padamu, mereka tidak semenakjubkan seperti orang-orang pikir.” Kesungguhan pandangan mata Snape membuat Lily tersipu.

”Walaupun begitu, mereka tidak menggunakan Sihir Hitam,” Lily menurunkan suaranya. ”Dan kau benar-benar tidak bisa berterima kasih. Aku dengar apa yang terjadi malam kemarin. Kau menyelinap ke terowongan di bawah Dedalu Perkasa dan James Potter menolongmu dari apapun yang terjadi di bawah sana—”

Seluruh wajah Snape berubah dan bicaranya bergetar, ”Menyelamatkan? Menyelamatkan? Kau kira dia sedang bermain peran sebagai pahlawan? Dia sedang menyelamatkan diri dan sobat-sobatnya juga. Kau tidak akan—aku tidak akan membiarkanmu—“

“Membiarkanku? Membiarkanku?”

Lily memicingkan mata hijaunya yang terang. Snape mundur seketika.

“Aku tidak bermaksud—Aku hanya tidak ingin kau memperolok—dia naksir kau, James Potter naksir kau!” kata-kata itu seperti meluncur keluar dari Snape di luar keinginannya. “Dan dia tidak … Tiap orang mengira … Pahlawan Quidditch—“ kebencian dan ketidaksukaan Snape membuat ia bicara tidak jelas, dan alis Lily semakin naik di keningnya.

“Aku tahu James Potter hanyalah seseorang yang sombong,” kata Lily memotong ucapan Snape. “Aku tidak perlu diberitahu olehmu. Tapi gagasan Mulciber dan Avery tentang humor itu jahat. Jahat, Sev. Aku tidak paham bagaimana kau bisa berteman dengan mereka.”

Harry ragu apakah Snape mendengarkan kritik Lily tentang Mulciber dan Avery. Saat Lily menghina James Potter, seluruh tubuh Snape menjadi tenang, rileks, dan saat mereka berjalan menjauh terasa ada kekuatan baru di setiap langkah Snape.

Adegan berubah lagi.

Harry mengamati lagi, saat Snape meninggalkan Aula Besar setelah mengerjakan OWLnya untuk Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Mengamati saat Snape berjalan menjauhi kastil, melamun menyimpang dari jalan, tidak hati-hati, mendekati tempat di bawah pohon beech di mana James, Sirius, Lupin, dan Pettigrew duduk bersama. Tapi Harry menjaga jarak saat ini, karena dia tahu apa yang terjadi setelah James mengangkat Severus ke udara dan mengejeknya; ia tahu apa yag dilakukan dan dikatakan, dan samasekali tidak menyenangkan untuk mendengarnya lagi. Dari jauh ia mendengar Snape berteriak pada Lily dalam penghinaannya dan kemarahannya, kata yang tak termaafkan: Darah Lumpur.

Adegan berganti …

“Maafkan aku.”

“Aku tak tertarik.”

“Aku menyesal.”

“Percuma bicara.”

Saat itu malam. Lily mengenakan baju tidur, berdiri dengan tangan terlipat di depan lukisan Nyonya Gemuk di jalan masuk Menara Gryffindor.

“Aku hanya datang karena Mary bilang kau mau menginap di sini.”

”Memang. Aku tak pernah bermaksud memanggilmu Darah Lumpur, itu hanya—”

”Keceplosan?” Tak ada rasa kasihan pada suara Lily. ”Sudah terlambat. Aku sudah bertahun-tahun mengarang alasan untuk semua tindakanmu. Tak satupun temanku bisa paham kenapa aku bisa bicara padamu. Kau dan teman-teman Pelahap Mautmu yang berharga –kau lihat, kau bahkan tidak menyangkalnya. Kau bahkan tidak menyangkal bahwa itu adalah tujuanmu. Kau tak bisa menunggu untuk bergabung dengan Kau-Tahu-Siapa, bukan?”

Snape membuka mulut, tapi menutupnya lagi tanpa bersuara.

”Aku tak dapat berpura-pura lagi. Kau memilih jalanmu, aku memilih jalanku.”

”Tidak –dengar, aku tak bermaksud—”

“—memanggilku Darah Lumpur? Tapi kau memanggil semua yang kelahirannya sama denganku Darah Lumpur, Severus. Kenapa aku mesti dibedakan?” Snape berusaha untuk berbicara, tapi dengan pandangan menghina Lily membuang muka,

dan memanjat kembali lubang lukisan … Koridor mengabur dan adegan yang ini agak sulit tersusun. Harry seperti terbang melalui bentuk dan warna yang berubah-ubah hingga sekitarnya padat kembali, dan ia berdiri di atas bukit, sedih dan dingin dalam kegelapan, angin bertiup melalui cabang-cabang pohon yang tinggal sedikit daunnya. Snape dewasa terengah. Menoleh pada suatu tempat, tongkatnya dicengkeram erat-erat, menunggu seseorang atau sesuatu … Ketakutannya menular pada Harry, walau Harry tahu ia tidak mungkin dicelakai, dan ia memandang jauh, berpikir apakah yang sedang ditunggu Snape …

Kemudian seberkas cahaya putih membutakan melayang di udara; Harry mengira petir, tetapi Snape jatuh berlutut dan tongkatnya terlempar dari tangannya. “Jangan bunuh saya!” “Aku tidak berniat demikian.” Suara Dumbledore ber-Apparate ditenggelamkan oleh suara angin di cabangcabang pohon. Dumbledore berdiri di depan Snape dengan jubah melambai-lambai dan wajahnya diterangi cahaya dari tongkatnya. “Jadi apa, Severus? Pesan macam apa yang Lord Voldemort punya untukku?”

“Tidak –tidak ada pesan—saya datang atas keinginan sendiri!” Snape meremas tangannya; dia terlihat sedikit gila, dengan rambut hitam terurai di sekitarnya.

“Saya—saya datang dengan peringatan—bukan, sebuah permintaan— kumohon—“ Dumbledore menjentikan tongkatnya. Walau daun-daun dan cabang-cabang masih beterbangan di udara malam di sekitar mereka, tempat di mana ia dan Snape berada terasa sunyi. “Permintaan apa yang bisa kupenuhi dari seorang Pelahap Maut?” ”Ra—ramalan, … perkiraan … Trelawney …” ”Ah, ya,” sahut Dumbledore, ”seberapa banyak yang kau sampaikan pada Lord Voldemort?”

”Semua—semua yang saya dengar!” sahut Snape. “Karena itulah—untuk alasan itu—ia mengira itu berarti Lily Evans!” ”Ramalan itu tidak mengacu pada seorang wanita,” sahut Dumbledore, ”isinya mengenai anak laki-laki yang lahir di akhir Juli—”

”Anda tahu apa yang saya maksud! Pangeran Kegelapan mengira itu adalah anak Lily, ia akan memburu Lily—membunuhnya—” ”Kalau Lily memang berarti begitu banyak bagimu,” sahut Dumbledore, “tentu saja Lord Voldemort akan mengampuninya? Tidakkah kau bisa meminta untuk mengasihani ibunya, sebagai ganti anaknya?”

”Saya—saya sudah meminta padanya—” ”Kau membuatku jijik,” sahut Dumbledore, dan Harry belum pernah mendengar suara Dumbledore begitu merendahkan. Snape terlihat sedikit menyusut.

“Kau tidak peduli akan kematian suami dan anaknya? Mereka boleh mati, asal kau mendapat apa yang kau inginkan?”

Snape tidak berbicara, hanya memandang Dumbledore. “Kalau begitu, sembunyikan mereka,” sahutnya parau, “Selamatkan dia—mereka— Kumohon.”

”Dan apa yang kau berikan padaku sebagai imbalan, Severus?”

”Sebagai—sebagai imbalan?” Snape terperangah pada Dumbledore, dan Harry mengharap Snape akan protes, tetapi setelah saat yang lama ia menyahut, ”Segalanya.”Puncak bukit itu tersamar, dan Harry berdiri di kantor Dumbledore, dan sesuatu berbunyi seperti binatang terluka. Snape merosot di kursinya, dan Dumbledore berdiri di depannya, nampak suram. Sesaat Snape mengangkat wajahnya, ia nampak seperti orang yang sudah hidup beratus tahun dalam penderitaan sejak meninggalkan puncak bukit itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.