Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“…Maaf, Tuney, aku menyesal. Dengar—“ ia menangkap tangan saudarinya dan memegangnya erat-erat walau Petunia mencoba untuk melepasnya. “Mungkin setibanya aku di sana, tidak, dengar Tuney! Mungkin setibanya aku di sana, aku bisa pergi ke Profesor Dumbledore dan membujuknya untuk berubah pikiran!”

“Aku tidak—ingin—pergi,” sahut Petunia, dan dia menarik tangannya dari pegangan saudarinya, ”Kau ingin aku pergi ke kastil bodoh itu dan belajar jadi—jadi—”

Mata pucatnya menelusuri peron, pada kucing-kucing yang mengeong di tangan pemiliknya, pada burung hantu yang mengibaskan sayap dan ber-uhu sesama mereka di sangkar, pada pada siswa sebagian sudah memakai jubah hitam panjang, memuat koperkoper mereka di kereta api uap merah atau saling bertukar salam dengan teriakan kegembiraan setelah berpisah selama satu musim panas.

“—kau pikir aku ingin jadi orang—orang sinting?”

Mata Lily penuh dengan air mata tatkala Petunia berhasil menarik tangannya.

”Aku bukan orang sinting,” ujar Lily, ”kau mengatakan hal-hal yang mengerikan!”

”Itulah tempat yang kau tuju,” nampaknya Petunia menikmati betul ucapannya. ”Sekolah khusus untuk orang sinting. Kau dan pemuda Snape … orang aneh, itulah kalian berdua. Bagus kalau kalian dipisahkan dari orang normal. Untuk keselamatan kami.”

Lily memandang orangtuanya yang sedang sepenuh hati menikmati pemandangan di peron. Dan dia melihat saudaranya lagi dan suaranya rendah dan kasar.

“Kau tidak memandang sebagai sekolah untuk orang sinting waktu kau menulis untuk Kepala Sekolah dan memohon padanya untuk menyertakanmu.”

Wajah Petunia memerah.

“Memohon? Aku tidak memohon!”

“Aku melihat jawaban Dumbledore. Ia sangat baik.”

Kau tidak boleh membaca“ bisik Petunia. “Itu barang pribadiku—bagaimana kau-?”

Lily membuka rahasianya sendiri dengan setengah memandang ke tempat Snape berdiri, di dekatnya. Petunia menahan napas.“Anak itu menemukannya! Kau dan

anak itu mengendap-endap di kamarku!””Tidak—tidak mengendap-endap—“ sekarang Lily yang membela diri. “Severus melihat amplop itu dan dia tidak percaya bahwa seorang Muggle bisa menghubungi Hogwarts, itu saja. Dia bilang pasti ada penyihir menyamar bekerja di kantor pos untuk menangani—“ ”Jelas-jelas penyihir ikut campur di mana-mana,” sahut Petunia, wajahnya pucat seperti baru dibilas. ”Orang Sinting!” dia meludah pada saudaranya, menggelepakkan badannya karena marah, ia kembali pada orangtuanya.

Adegan berganti lagi. Snape tergesa-gesa menyusuri koridor Hogwarts Express saat kereta itu menyusuri pinggir kota. Ia sudah berganti pakaian dengan jubah sekolah, mungkin mempergunakan kesempatan pertama untuk menyingkirkan baju Mugglenya yang mengerikan. Akhirnya ia berhenti di luar sebuah kompartemen di mana sekumpulan anaklaki-laki sedang ribut berbicara. Meringkuk di sudut kursi dekat jendela ternyata adalah Lily, wajahnya ditekankan pada jendela kaca.

Snape menggeser pintu kompartemen dan duduk di seberang Lily. Lily memandang Snape sekilas lalu memandang ke jendela lagi. Dia baru saja menangis. “Aku tak ingin bicara denganmu,” katanya dalam suara tertahan. “Kenapa?” “Tuney m—membenciku. Karena kita melihat surat dari Dumbledore itu!” “Memangnya kenapa?” Lily melontarkan pandangan tak suka.

”Karena dia saudaraku!” ”Dia hanya seorang—” Snape cepat menghentikan ucapannya; Lily terlalu sibuk mencoba mengelap matanya tanpa terlihat, tidak mendengarkan ucapannya.

”Tapi kita pergi!” sahut Snape, tak dapat menahan kegembiraan dalam suaranya. ”Inilah dia, kita menuju Hogwarts!” Lily mengangguk, mengelap matanya, tapi dia setengah tersenyum.

“Kau lebih baik berada di Slytherin!” sahut Snape, membesarkan hati agar Lily gembira sedikit.

“Slytherin?”Salah satu anak yang berbagi kompartemen, yang dari tadi mengacuhkan Lily maupun Snape, memperhatikan kata itu, dan Harry yang dari tadi memperhatikan Lily dan Snape, melihat ayahnya: langsing, rambut hitam seperti Snape tetapi terlihat jelas bahwa ia berasal dari keluarga berada, diperhatikan bahkan dikagumi, hal-hal yang tidak ditemukan pada diri Snape.

“Siapa yang mau di Slytherin? Kalau aku ditempatkan di Slytherin, aku akan pergi, bagaimana denganmu?” James bertanya pada anak laki-laki yang duduk di seberangnya. Dengan satu sentakan Harry menyadari bahwa itu Sirius. Sirius tidak tersenyum.

”Seluruh keluargaku di Slytherin.” katanya. ”Blimey,” sahut James, ”dan kukira kau baik-baik saja.” Sirius menyeringai. ”Mungkin aku akan memecahkan tradisi. Kalau begitu, kau mau ke mana?” James menarik pedang yang hanya ada dalam bayangan. “’Gryffindor, dimana tempat berkumpulnya pemberani’. Seperti ayahku.” Snape membuat bunyi yang meremehkan. James menoleh padanya. “Kau keberatan?” “Tidak,” sahut Snape walau seringai sekilasnya mengemukakan sebaliknya, “jika kau merasa lebih baik punya otot daripada punya otak—“

“Kalau begitu kau sendiri mau ke mana, sedangkan kau tak memiliki keduanya?” Sirius menyela. James tertawa terbahak-bahak. Lily bangkit, terlihat marah dan menatap James hingga Sirius dengan perasaan tak suka. ”Ayo, Severus, kita cari kompartemen lain!” ”Ooooooo…” James dan Sirius menirukan suara tinggi Lily; James berusaha menjegal kaki Snape saat ia lewat.

”Sampai jumpa, Snivellus!” sebuah suara terdengar, saat pintu kompartemen dibanting.

Dan adegan berganti lagi.

Harry berdiri tepat di belakang Snape saat mereka menghadapi meja asrama yang diterangi ribuan lilin, barisan yang penuh wajah-wajah penuh perhatian. Kemudian Profesor McGonagall berkata, ”Evans, Lily!”

Harry menyaksikan ibunya berjalan ke depan dengan kaki gemetar dan duduk di bangku reyot itu. Profesor McGonagall menjatuhkan Topi Seleksi ke atas kepala Lily, dan tak lebih dari sedetik sesudah Topi Seleksi menyentuh rambut merah tua itu, Topi berteriak, Gryffindor!

Harry mendengar Snape mengerang. Lily melepaskan Topi, mengembalikannya pada Profesor McGonagall, kemudian bergegas bergabung dengan para

Gryffindor, saat ia memandang balik pada Snape, ada senyum sedih di wajahnya. Harry melihat Sirius menggerakkan bangku agar ada ruangan untuk Lily. Lily melihat Sirius lama sekali, nampak mengenalinya waktu di kereta, melipat lengannya dan tidak menoleh lagi padanya.

Pemanggilan diteruskan. Harry menyaksikan Lupin, Pettigrew, dan ayahnya bergabung dengan Lily dan Sirius di meja Gryffindor. Akhirnya, saat hanya tinggal selusin siswa yang tersisa untuk diseleksi, Profesor McGonagall memanggil Snape.

Harry berjalan bersamanya ke kursi, menyaksikan ia menempatkan Topi di atas kepalanya. Slytherin!, teriak Topi Seleksi.

Dan Severus Snape bergerak ke ujung lain di Aula, jauh dari Lily, di mana para Slytherin menyambutnya, di mana Lucius Malfoy, dengan lencana Prefek berkilauan di dadanya, menepuk punggung Snape saat Snape duduk di sampingnya.

Dan adegan berganti…

Lily dan Snape berjalan melintasi halaman kastil, jelas sedang bertengkar. Harry bergegas mengejar mereka, untuk mendengar lebih jelas. Saat ia mencapai mereka, ia sadar bahwa mereka sudah jauh lebih tinggi sekarang, nampaknya mereka sudah melewati beberapa tahun setelah Topi Seleksi.

”…meski kita seharusnya berteman?” Snape berkata, ”Teman baik?”

”Kita berteman, Sev, tapi aku tidak suka beberapa temanmu. Maafkan aku, tapi aku benci Avery dan Mulciber. Mulciber! Apa yang kau lihat dari mereka, Sev? Dia penjilat. Apakah kau tahu apa yang dia lakukan pada Mary Macdonald kemarin dulu?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.