Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

”Tuanku, kukira tak akan ada pertanyaan, tentulah—”

”—tapi memang ada pertanyaan, Severus. Memang ada.”

Voldemort berhenti, dan Harry dapat melihatnya lagi saat dia menyelipkan Elder Wand di antara jari-jarinya yang putih, memandang Snape.

“Mengapa kedua tongkat yang kugunakan gagal saat aku arahkan pada Harry Potter?”

”Aku—aku tak bisa menjawabnya, Tuanku.”

”Tak dapatkah?”

Tikaman kemarahan terasa seperti sebuah paku ditancapkan ke kepala Harry: ia memaksakan kepalan tinjunya ke dalam mulut agar ia tidak berteriak kesakitan. Ia menutup matanya, dan tiba-tiba ia menjadi Voldemort, melihat wajah Snape yang pucat.

”Tongkatku yang dari kayu yew itu melakukan apapun yang kuminta, Severus, kecuali membunuh Harry Potter. Dua kali ia gagal. Ollivander mengatakan padaku di bawah siksaan tentang dua inti tongkat. Aku diminta menggunakan tongkat orang lain. Aku melakukannya, tetapi tongkat Lucius malah hancur waktu bertemu Potter.”

”Aku—aku tak punya penjelasannya, Tuanku.”

Snape tidak sedang melihat pada Voldemort sekarang. Matanya yang gelap masih terpancang pada ular yang melingkar dalam sangkar pelindungnya.

“Aku mencari tongkat ketiga, Severus. The Elder Wand, Tongkat Takdir, Tongkat Kematian. Aku mengambilnya dari tuannya terdahulu. Aku mengambilnya dari kuburan Albus Dumbledore.”

Dan sekarang Snape memandang Voldemort, dan wajah Snape nampak seperti topeng kematian [Death Mask—topeng kematian, adalah cetakan yang dibuat dari plester/gips/semen diambil dari wajah orang mati. Bukan seutuhnya istilah Inggris karena ini juga digunakan di Paris untuk mencatat wajah orang tak dikenal yang tenggelam di sungai Seine. Dengan demikian, wajah Snape diibaratkan seperti topeng kematian, sangat pucat/putih dan tak ada gerakan— persis seperti topeng kematian. Diambil dari HP Lexicon] Wajahnya putih pualam dan kaku, sehingga saat dia bicara, suatu kejutan melihat ada orang hidup di balik mata yang kosong itu.

“Tuanku—biarkan aku mencari anak itu—“ ”Semalaman ini, saat aku berada di tepi kemenangan, aku duduk di sini,” sahut Voldemort, suaranya hanya lebih keras dari bisikan, ”berpikir, berpikir, kenapa Elder Wand menolak apa yang harus dia lakukan, menolak melakukan seperti kata legenda, ia harus mau melakukan apa yang diinginkan oleh pemilik yang berhak … dan kupikir aku tahu apa jawabannya.”

Snape tak menjawab.

”Mungkin kau sudah tahu jawabannya? Kau pandai, Severus. Kau sudah menjadi pelayan yang baik dan setia, dan aku menyesali apa yang harus terjadi.”

”Tuanku—”

”Elder Wand tidak dapat melayaniku dengan baik, Severus, karena aku bukan tuannya yang sejati. Elder Wand adalah milik penyihir yang membunuh pemiliknya yang terakhir. Kau pembunuh Albus Dumbledore. Selagi kau masih hidup, Severus, Elder Wand tak bisa sepenuhnya menjadi kepunyaanku.”

“Tuanku!” protes Snape, mengangkat tongkatnya.

“Tentu tidak bisa dengan cara lain,” sahut Voldemort. “Aku harus menguasai

tongkat itu, Severus. Kuasai tongkat, dan aku akan menguasai Potter akhirnya.”

Dan Voldemort membelah udara dengan Elder Wand. Tongkat itu seperti tidak melakukan apa-apa pada Snape yang untuk sedetik berpikir dia telah mendapat pengampunan: tapi kemudian tujuan Voldemort menjadi jelas. Kandang ular itu berputar di udara dan sebelum Snape bisa berbuat apapun selain berteriak, ular itu sudah melingkarinya, kepala dan bahu, dan Voldemort berbicara dalam Parseltongue.

“Bunuh.”

Jeritannya mengerikan. Harry melihat wajah Snape kehilangan sedikit warna yang tersisa, wajahnya memutih saat mata hitamnya melebar saat taring ular itu menghunjam lehernya, saat ia gagal mendorong kandang bermantra itu, saat lututnya menyerah, dan ia jatuh ke lantai.

“Aku menyesalinya,” sahut Voldemort dingin.

Ia pergi; tak ada rasa sedih padanya, tak ada penyesalan. Ini sudah waktunya meninggalkan gubuk dan mengambil alih, dengan tongkat yang sekarang akan mengerjakan apapun yang dimintanya. Ia mengacungkannya pada kandang yang berisi ular, mengarah ke atas, melepaskan Snape yang jatuh menyamping di lantai, darah mengalir dari luka di lehernya. Voldemort berayun keluar dari ruangan tanpa memandang ke belakang lagi, dan ular besarnya melayang di belakangnya dalam perlindungannya.

Kembali ke terowongan dan kembali ke pikirannya sendiri, Harry membuka matanya: ia berdarah, menggigit buku jarinya sedemikian agar ia tak berteriak. Sekarang ia melihat celah antara peti dan tembok, mengamati kaki dengan sepatu boot hitam gemetar di lantai.

”Harry,” Hermione berbisik di belakangnya, tapi Harry sudah mengacungkan tongkatnya pada peti yang menghalangi pandangan. Peti itu terangkat satu inci dan bergerak ke samping tanpa suara. Sediam mungkin ia menyelinap ke dalam ruangan.

Ia tak tahu mengapa ia melakuan hal ini, mengapa ia mendekati orang yang sedang sekarat ini: ia tidak tahu apa yang ia rasa saat melihat wajah putih Snape, dan jemari yang mencoba menghentikan luak berdarah di lehernya. Harry melepaskan Jubah Gaib dan melihat ke bawah, melihat pada orang yang ia benci, orang yang mata hitamnya melebar menemukan Harry saat ia berusaha bicara. Harry membungkuk di atasnya: dan Snape menangkap bagian depan jubahnya dan menariknya mendekat.

Sebuah suara serak berdeguk mengerikan keluar dari kerongkongan Snape.

”Ambil … itu … Ambil … itu.”

Sesuatu yang lebih dari darah merembes keluar dari Snape. Biru keperakan, bukan gas bukan cairan, memancar dari mulutnya, dari telinganya, dari matanya, dan Harry tahu itu apa, tapi Harry tidak tahu apa yang harus ia lakukan—

Sebuah tabung tercipta dari udara, dijejalkan pada tangan gemetar Harry oleh Hermione. Harry menampung bahan keperakan itu ke dalam tabung dengan tongkatnya. Saat tabung itu penuh, dan Snape terlihat seakan tak ada darah tersisa lagi padanya, cengkeramannya pada jubah Harry mengendur.

”Pandang … aku,” ia berbisik.

Mata yang hijau beradu dengan yang hitam, tapi setelah sedetik sesuatu di kedalaman dari pasangan yang gelap nampaknya lenyap: meninggalkannya kaku, hampa dan kosong. Tangan yang memegang Harry bergedebuk di lantai, dan Snape tak bergerak lagi.

 

Bab 33 Kisah Pangeran

Harry tetap berlutut di samping Snape, hanya menatapnya, hingga sebuah suara melengking dingin berbicara sangat dekat pada mereka, sampai-sampai Harry terlonjak berdiri, mencengkeram tabungnya erat-erat, mengira Voldemort telah kembali ke ruangan itu.

Suara Voldemort bergaung dari dinding, dari lantai, dan Harry menyadari bahwa dia berbicara pada Hogwarts dan daerah sekitarnya, agar penduduk Hogsmeade dan semua yang masih bertempur di kastil akan mendengarnya sejelas bila ia berdiri di samping mereka, napasnya di belakang leher, mengembuskan kematian.

“Kalian telah bertempur,” sahut suara melengking dingin itu, “dengan gagah berani. Lord Voldemort paham caranya menghargai keberanian.”

“Tapi kalian menderita kekalahan yang besar. Kalau kalian bertahan, tetap menolakku, kalian akan mati semuanya, satu persatu. Aku tak menginginkan ini terjadi. Setiap tetes darah sihir yang tertumpah adalah suatu kehilangan, suatu penghamburan.”

“Lord Voldemort bermurah hati. Aku perintahkan pasukanku untuk mundur sekarang juga.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.