Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Ia berlari, setengah percaya bahwa ia bisa meninggalkan kematian sendiri, mengacuhkan kilasan cahaya dalam kegelapan di sekeliling, dan suara danau yang berombak bagai laut, dan Hutan Terlarang berbunyi keriat-keriut walau malam itu tak berangin, melalui tanah yang nampaknya bangkit dan memberontak, ia lari lebih cepat dari yang pernah ia lakukan dalam hidupnya, dan dialah yang pertama melihat pohon besar itu, Dedalu yang melindungi rahasia di akarnya dengan dahan-dahannya yang bagai cambuk.

Terengah-engah Harry berlari lebih pelan, menyusuri dahan-dahan Dedalu yang mengayukan pukulan, memandang tajam lewat kegelapan melalui cabangcabangnya yang tebal, mencoba melihat tonjolan pada pohon tua yang akan melumpuhkannya. Ron dan Hermione berhasil mengejarnya, Hermione benarbenar kehabisan napas, dia tak bisa bicara.

“Bagai—bagaimana kita masuk?” sahut Ron terengah-engah, “Aku bisa— melihatnya— kalau kita harus—Crookshanks lagi—”

“Crookshanks?” cuit Hermione, membungkuk mencengkeram dadanya. “Apa kau penyihir, atau apa?”

”Oh—betul—yeah—”

Ron melihat sekeliling, lalu mengarahkan tongkatnya pada ranting di tanah dan berkata, ”Winggardium Leviosa!”. Ranting itu melayang dari tanah, berputar di udara seperti diputarkan oleh angin, lalu meluncur tepat pada batang di mana dahan-dahan Dedalu memukul. Ranting itu menusuk dekat akar, dan saat itu juga pohon yang menggeliat itu terdiam.

”Sempurna,” sahut Hermione.

”Tunggu.”

Untuk sedetik, saat dentuman dan ledakan pertempuran mengisi udara, Harry ragu. Voldemort menginginkan dia melakukannya, ingin ia datang … apakah dia menuntun Ron dan Hermione ke dalam perangkap?

Tapi kenyataan nampaknya menutupi segalanya, kejam dan perih: satu-satunya jalan untuk maju adalah membunuh ular itu, dan ular itu berada di mana Voldemort ada, dan Voldemort ada di ujung terowongan …

”Harry, kami datang, ayo masuk,” sahut Ron, mendorongnya maju.

Harry turun ke jalan masuk tersembunyi di akar pohon. Lebih sesak dari waktu terakhir mereka masuk ke situ. Terowongan itu berlangit-langit rendah: empat tahun yang lalu mereka harus meringkuk untuk maju, sekarang terpaksa merangkak. Harry masuk pertama, tongkatnya bercahaya, ia bersiaga akan adanya rintangan setiap saat, tapi tak ada. Mereka bergerak dalam kesunyian, pandangan Harry terpancang pada cahaya di ujung tongkat yang digenggamnya.

Akhirnya terowongan sampai pada tanjakan dan Harry melihat cahaya keperakan di depan. Hermione menyentuh pergelangan kakinya.

”Jubah,” Hermione berbisik, ”Pakai Jubahnya!”

Harry meraba-raba di punggungnya, dan Hermione menjejalkan buntalan kain licin itu ke tangan Harry yang kosong. Dengan kesulitan, ia mengerudungkan pad adirinya, bergumam ‘Nox’ memadamkan cahaya tongkatnya, dan meratakan Jubah di tangan dan di lututnya sesunyi mungkin, semua indranya tegang, bersiaga tiap saat bisa ketahuan, bersiaga mendengar suara dingin dan jernih, bersiaga melihat kilasan cahaya hijau.

Lalu ia mendengar suara yang datang dari ruangan yang tepat di hadapan mereka, hanya dihalangi oleh, nampaknya bukaan terowongan di ujung terowongan telah dihalangi oleh sesuatu yang seperti peti mati. Nyaris tak berani bernapas, Harry maju ke bukaan dan mengintip ke celah kecil di antara peti dan dinding.

Ruangan itu remang-remang, tapi dia bisa melihat Nagini, bergelung seperti ular bawah air, aman dalam kurungannya yang sudah dimantrai, terapung tanpa penopang di tengah udara. Ia bisa melihat tepi meja dan sebuah tangan putih berjari panjang memainkan tongkat. Lalu Snape bicara, dan jantung Harry nyaris terlepas: Snape hanya beberapa inci jauhnya dari tempat ia meringkuk bersembunyi.

”…Tuanku, perlawanan mereka buruk—”

”—dan sama saja tanpamu,” sahut Voldemort, dengan suaranya yang tinggi dan jernih. ”Penyihir dengan ketrampilan sepertimu, Severus, kupikir kau tak akan membuat banyak perubahan. Kita hampir tiba … hampir.”

”Biarkan aku menemukan anak itu. Biarkan aku membawa Potter. Aku tahu aku bisa menemukannya, Tuanku. Please.”

Snape berjalan melewati celah, dan Harry begerak mundur sedikit, menjaga matanya tetap pada Nagini, bertanya-tanya apakah ada mantra yang bisa menembus perlindungan ular itu, tapi dia tak dapat memikirkannya. Satu percobaan saja gagal, sama saja dengan dia membuka rahasia di mana ia berada.

Voldemort berdiri, Harry dapat melihatnya sekarang, melihat matanya yang merah, wajahnya yang rata seperti ular, kepucatannya yang bersinar di ruangan setengah gelap.

”Aku ada masalah, Severus,” sahut Voldemort pelan.

”Tuanku?” sahut Snape.

Voldemort mengangkat Elder Wand, memegangnya dengan lembut, mirip sekali dengan tongkat konduktor.

“Mengapa tongkat ini tidak bisa berfungsi untukku, Severus?”

Dalam kesunyian Harry membayangkan ia bisa mendengar ular itu mendesis pelan saat ia bergelung, atau apakah itu suara keluhan Voldemort yang berdesis?

”Tu-Tuanku?” tanya Snape hampa. ”Aku tak mengerti. Anda—Anda telah menampilkan sihir yang istimewa dengan tongkat itu.”

”Tidak,” sahut Voldemort. ”Aku hanya menampilkan sihir yang biasa. Aku memang istimewa, tetapi tongkat ini … tidak. Tongkat ini tidak menampilkan keistimewaan yang dijanjikan.Aku tidak merasakan perbedaan antara tongkat ini dengan tingkat yang kudapat dari Ollivander.”

Nada suara Voldemort seperti merenung, tenang, tapi bekas luka Harry mulai berdenyut, nyeri sedang dibangun di keningnya dan dia bisa merasakan Voldemort mengendalikan kemarahan di dalamnya.

”Tak ada perbedaan,” sahut Voldemort lagi.

Snape tidak bicara. Harry tidak dapat melihat wajahnya: ia ingin tahu apakah Snape bisa mengendus adanya bahaya, dan mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menenangkan tuannya.

Voldemort mulai bergerak sekeliling ruangan. Harry kehilangan pandangan selama beberapa detik saat Voldemort berputar, berbicara dengan suara yang terukur, saat nyeri dan kemarahan memuncak di kepala Harry.

“Aku sudah berpikir lama dan keras, Severus, … tahukah kau kenapa aku memanggilmu kembali dari pertempuran?”

Dan untuk sesaat Harry bisa melihat sosok Severus: matanya terpancang pada ular yang sedang bergelung di kandang bermantra.

“Tidak, Tuanku, tapi kumohon ijinkan aku kembali. Biarkan aku menemukan Potter.”

”Kau kedengaran seperti Lucius. Tak ada di antara kalian yang mengerti Potter sepertiku. Dia tidak usah dicari. Potter yang akan datang padaku. Aku tahu kelemahannya, kau tahu, satu kesalahannya yang besar. Ia akan benci melihat orang lain gugur di sekitarnya, tahu bahwa itu terjadi untuknya. Ia akan menghentikannya dengan segala cara. Ia akan datang.”

”Tapi, Tuanku, dia bisa saja tak sengaja terbunuh oleh orang lain selain dirimu—”

”Perintahku untuk para Pelahap Maut sudah jelas. Tangkap Potter. Bunuh temannyamakin banyak makin baik—tapi jangan bunuh dia.”

“Tapi aku berbicara tentangmu, Severus, bukan Harry Potter. Kau sangat berharga untukku. Sangat berharga.”

“Tuanku tahu aku hanya ingin melayanimu. Tapi—biarkan aku pergi dan mencari anak itu, Tuanku. Biarkan kubawa dia padamu. Aku tahu aku bisa—” ”Sudah kukatakan, tidak!” sahut Voldemort dan Harry melihat kilatan merah pada matanya saat ia menoleh lagi, dan kibasan jubahnya seperti ular merayap, dan ia merasaka ketidaksabaran Voldemort di bekas lukanya yang membara. ”Perhatianku pada saat ini Severus, adalah apa yang akan terjadi jika aku bertemu dengan anak itu.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.