Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

”TIDAK!” jerit Hermione dan dengan ledakan yang menulikan dari tongkatnya, Fenrir Greyback terlempar ke belakang dari tubuh Lavender Brown yang gerakannya sudah lemah. Fenrir menabrak sandaran tangga marmer dan sedang berjuang untuk berdiri kembali. Lalu dengan kilasan cahaya putih dan suara berderak, sebuah bola kristal jatuh dari atas kepalanya, dia jatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi.

“Aku masih punya lagi,” jerit Profesor Trelawney dari atas pegangan tangga. “Lebih banyak untuk siapapun yang mau! Sini—“

Dengan gerakan seperti servis tenis, ia mengeluarkan bola kristal yang besarnya luar biasa dari dalam tasnya, mengayunkan tongkatnya di udara dan menyebabkan bola itu meluncur melintas aula dan pecah kena jendela. Pada saat yang sama, pintu depan dari kayu yang berat tiba-tiba terbuka dan lebih banyak lagi laba-laba raksasa memaksa masuk ke Pintu Masuk.

Teriakan ngeri memecah udara: yang sedang bertempur pun bertemperasan.

Pelahap Maut maupun penghuni Hogwarts sama saja, dan kilasan sinar merah dan hijau beterbangan di tengah-tengah monster-monster yang datang, mengerikan, lebih mengerikan dari apa yang ada.

“Bagaimana kita bisa keluar?” pekik Ron di antara jeritan-jeritan, tapi sebelum Harry atau Hermione menjawab, mereka terpaksa menepi: Hagrid telah datang dari tangga menenteng payung pink berbunga.

“Jangan sakiti mereka, jangan sakiti mereka!” ia berteriak.

”HAGRID, JANGAN!”

Harry lupa segalanya: ia berlari secepat ia bisa keluar dari Jubah, lari membungkuk untuk menghindari Kutukan-kutukan yang membuat Aula terang benderang.

”HAGRID, KEMBALI!”

Tapi Harry bahkan belum setengah jalan saat ia melihatnya terjadi: Hagrid lenyap di antara para laba-laba, yang berlari ke sana kemari, dengan gerakan mengerumuni, labalaba itu mundur di bawah serangan gencar mantra, Hagrid terkubur di tengahnya.

”HAGRID!”

Harry mendengar seseorang memanggil namanya, tak tahu kawan atau lawan dia tak peduli: ia berlari secepat ia bisa di tanah gelap dan laba-laba itu pergi dengan mangsanya, dan ia tidak bisa melihat Hagrid sama sekali.

”HAGRID!”

Harry mengira dia bisa menciptakan tangan besar dari tengah kerumunan labalaba; tapi saat ia mengejar mereka, langkahnya terhenti dengan adanya kaki yang besar terayun dari kegelapan membuat bumi tempat ia berdiri bergetar. Harry melihat ke atas: seorang raksasa berdiri di hadapannya, tinggi duapuluh kaki, kepalanya tersembunyi di balik bayangan, tak ada selain bahwa dia seperti pohon, rambut disinari cahaya dari pintu kastil. Dengan satu gerakan brutal, raksasa itu menghunjamkan tinju pada jendela di atas Harry, dan pecahan kaca menghujani Harry, memaksanya mundur dengan lindungan pintu.

”Oh—” jerit Hermione, saat dia dan Ron mencapai Harry dan memandang ke atas ke raksasa yang sedang mencoba menangkap orang dari jendela di atas.

”JANGAN!” Ron berteriak, menangkap tangan Hermione yang sudah mengacungkan tongkatnya. “Pingsankan dia dan dia akan menghancurkan setengah kastil—“ “HAGGER?”

Grawp datang dengan tiba-tiba dari sudut kastil; baru sekarang Harry menyadari bahwa Grawp memang raksasa berukuran mini. Monster yang besar sekali itu sedang mencoba menghancurkan orang-orang di lantai atas, melihat sekeliling dan menggeram. Undakan batu bergetar saat raksasa itu menghentakkan kaki pada sebangsanya yang lebih kecil dan mulut miring Grawp terbuka, memperlihatkan gigi sebesar setengah batu bata dan kuning, lalu mereka saling menyerang dengan kebuasan singa.

“LARI!” raung Harry; malam itu dipenuhi oleh teriakan-teriakan dan pukulanpukulan mengerikan saat kedua raksasa itu bergulat, Harry menangkap tangan Hermione dan melangkahi undakan, Ron mengikuti. Harry tak kehilangan harapan untuk menemukan dan menyelamatkan Hagrid; dia lari begitu cepatnya hingga mereka sudah setengah jalan ke Hutan sebelum mereka sadar.

Udara di sekitarnya membeku: Harry tercekat dan dadanya memadat. Bentukbentuk bergerak dalam kegelapan, sosok-sosok berputar hitam pekat, bergerak dalam gelombang besar menuju kastil, wajahnya bertudung, napasnya gemeretak …

Ron dan Hermione mendekat ke sampingnya saat suara pertempuran di belakang tiba-tiba terhenti, mati, karena keheningan hanya bisa diawa oleh Dementor, turun di malam hari …

”Ayo, Harry!” sahut suara Hermione, dari suatu tempat yang rasanya jauh sekali. ”Patronus, Harry, ayo!”

Ia mengangkat tangannya, tapi rasa keputusasaan menyebar dalam dirinya: Fred sudah pergi, Hagrid pasti sekarat atau bahkan sudah mati: berapa banyak lagi yang terbaring mati yang dia belum tahu: ia merasa nyawanya seperti sudah setengah meninggalkan tubuhnya …

”HARRY, AYO!” pekik Hermione.

Seratus Dementor mendekat, meluncur menuju mereka, menghisap jalan keputusasaan Harry, seperti janji untuk berpesta …

Ia melihat anjing terrier perak milik Ron meluncur ke udara, bekelip lemah dan berlalu: ia melihat berang-berang kepunyaan Hermione berputar di udara dan menghilang, dan tongkatnya sendiri bergetar di tangannya, nyaris ia menyambut pelupaan yang sedang datang, janji akan ketiadaan, tak ada rasa …

Lalu seekor kelinci perak, seekor babi hutan, dan seekor rubah melayang melampaui kepala Harry, Ron, dan Hermione: Dementor-dementor itu mundur sebelum makhlukmakhluk itu mendekat. Tiga orang datang dari kegelapan, berdiri di samping mereka, tongkat mereka terulur, terus merapal Patronus mereka: Luna, Ernie, dan Seamus.

”Iya, betul,” sahut Luna memberi semangat, seperti saat mereka ada di Kamar Kebutuhan dan ini hanyalah latihan mantra untuk Laskar Dumbledore, ”Itu betul, Harry … ayo, pikirkan sesuatu yang membahagiakan …”

”Sesuatu yang membahagiakan?” sahutnya, suaranya tercekat.

”Kami masih di sini,” ia berbisik, ”kami masih bertempur. Ayo …”

Lalu ada percikan api perak, lalu cahaya berkelap-kelip, lalu dengan usaha yang teramat keras yang pernah dilakukan Harry, seekor rusa jantan meluncur keluar dari ujung tongkat Harry. Rusa jantan itu maju miring, dan sekarang para Dementor benar-benar tercerai berai, segera saja malam menjadi sejuk kembali, tapi suara-suara pertempuran memekakkan telinga.

”Tak cukup rasa terima kasih,” sahut Ron masih gemetar, menoleh pada Luna, Ernie, dan Seamus, ”Kalian menyelamatkan—”

Dengan raungan dan getar seperti gempa bumi, satu raksasa lain datang keluar dari kegelapan dari arah Hutan menjinjing pentungan yang tingginya melebihi siapapun.

”LARI!” Harry berteriak lagi, tapi yang lain tka perlu diingatkan: mereka bertemperasan, dan tak terlalu cepat karena kaki lebar makhluk itu jatuh berdebam tepat di mana tadi mereka berdiri. Harry menoleh, Ron dan Hermione mengikutinya, tapi ketiga yang lain telah menghilang kembali ke kancah pertempuran.

”Ayo keluar dari sini!” teriak Ron, saat raksasa itu mengayunkan pentungannya lagi, dan bunyinya bergema memintasi malam, melintasi tanah di mana kilasankilasan merah dan hijau menerangi kegelapan.

“Dedalu Perkasa!” sahut Harry. ”Ayo!”

Ia membentenginya tinggi-tinggi, menyimpannya di ruangan kecil yang tak dapat ia lihat sekarang: pikiran tentang Fred dan Hagrid, dan ketakutannya akan orang-orang yang ia cintai yng ada di dalam dan luar kastil, semua harus menunggu, karena mereka harus berlari, harus mencapai ular itu, dan Voldemort karena itu seperti kata Hermione, satusatunya jalan untuk mengakhirinya …

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.