Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

”Tuanku,” sahut sebuah suara, putus asa dan tak berdaya. Ia menoleh: Lucius Malfoy duduk di sudut paling gelap, compang-camping, masih ada bekas-bekas hukuman yang ia terima setelah pelarian terakhir anak itu. Satu matanya tertutup dan bengkak. ”Tuanku … Tolong … anak saya …”

”Kalau anakmu mati, Lucius, itu bukan salahku. Ia tidak datang bergabung seperti para Slytherin yang lain. Mungkin dia memutuskan untuk berteman dengan Harry Potter?”

“Tidak—tidak pernah,” bisik Malfoy.

“Kau harus berharap ia tidak akan pernah.”

“Apakah—apakah kau tak takut, Tuanku, bahwa Potter bisa saja mati di tangan orang lain selain tanganmu?” tanya Malfoy, suaranya terguncang. “Tidakkah lebih baik … ampuni hamba … lebih bijaksana untuk menghentikan perang ini, masuk ke kastil dan mencarinya s-sendiri?”

“Jangan berpura-pura, Lucius. Kau yang ingin agar perang ini berhenti supaya kau bisa tahu apa yang terjadi dengan anakmu. Dan aku tidak perlu mencari Potter. Sebelum malam berlalu, Potter yang akan mencariku.”

Voldemort menurunkan pandangan sekali lagi pada tongkat di jemarinya. Tongkat ini menyusahkannya .. dan hal-hal yang menyusahkan Lord Voldemort harus dibereskan.

”Pergi dan jemput Snape.”

”Snape, T-Tuanku?”

”Snape. Sekarang. Aku perlu dia. Ada satu—pelayanan—yang kuperlukan darinya.

Pergi.” Ketakutan, sedikit tersandung dalam kegelapan, Lucius meninggalkan ruangan.

Voldemort terus berdiri, memutar-mutar tongkat di jemarinya, memandanginya. ”Ini satu-satunya jalan. Nagini,” bisiknya, melihat sekeliling, di sana ada seekor ular besar, gemuk tertahan di tengah-tengah udara, bergulung anggun dalam tempat yang telah ia buat, dimantrai, dilindungi, antara kandang dan tangki, berkilat dan transparan. Dengan napas tertahan, Harry menarik diri dan membuka matanya: saat yang bersamaan telinganya diserbu suara jeritan, tangisan, bantingan dan ledakan peperangan.

”Dia ada di Shrieking Shack. Ularnya bersamanya, ular itu dilindungi oleh pelindung sihir di sekelilingnya. Dia baru saja mengirim Lucius Malfoy untuk mencari Snape.” ”Voldemort duduk di Shrieking Shack?” sahut Hermione, seperti terhina, ”Dia tidak—dia bahkan tidak bertempur?”“Ia pikir tidak perlu bertempur,” sahut Harry, “Ia kira aku yang akan mendatanginya.”“Tapi kenapa?”“Dia tahu aku mencari Horcruxes—dia menjaga Nagini dekatnya—jelas aku harus pergi padanya agar bisa mendekati ular itu—“ “Baik,” sahut Ron sambil menegakkan bahunya, “Jadi kau tak bisa pergi, itu yang dia inginkan, yang dia harapkan. Kau tinggal di sini, jaga Hermione, aku akan pergi dan mendapatkannya—”Harry memotong Ron. ”Kalian berdua tinggal di sini. Aku pergi di bawah Jubah dan akan kembali segera setelah aku—” ”Tidak,” sahut Hermione, ”lebih masuk akal kalau aku memakai Jubah dan—” ”Jangan coba-coba memikirkannya,” geram Ron pada Hermione. Sebelum Hermione bisa lebih jauh dari, ”Ron, aku sama mampunya dengan—” hiasan gantung di atas tangga di mana mereka berdiri, disobek terbuka. ”POTTER!” Dua Pelahap Maut bertopeng berdiri di sana, tapi sebelum mereka mengacungkan tongkat, Hermione berteriak, “Glisseo!”

Anak-anak tangga di bawah kaki mereka jadi rata seperti seluncuran. Hermione, Harry, dan Ron meluncur ke bawah, tidak dapat mengendalikan kecepatannya tapi sedemikian cepat sehingga Mantra Bius para Pelahap Maut meleset di atas kepala mereka. Mereka terus meluncur melalui hiasan gantung yang tersembunyi di dasar tangga, berputar di lantai, menubruk dinding.

”Duro!” jerit Hermione, menunjukkan tongkatnya pada hiasan gantung itu, dan terdengar dua derakan yang menyakitkan dan keras saat hiasan itu berubah

menjadi batu dan kedua Pelahap Maut yang mengejar mereka terbentur di sana.

”Minggir!” seru Ron, dan dia, Hermione, dan Harry merapatkan diri di sebuah pintu di saat sekawanan meja berderap riuh rendah melewati mereka, digembalakan oleh Profesor McGonagall yang sedang berlari cepat. Dia nampaknya tidak memperhatikan mereka bertiga: rambutnya acak-acakan, ada bekas luka di pipi. Saat ia membelok di tikungan, mereka mendengar ia berteriak, ”CHARGE!”

“Harry, pakai Jubah,” sahut Hermione, “Jangan pedulikan kami—“

Tapi dia melemparkannya agar menutupi mereka bertiga: cukup besar untuk mereka bertiga, dia ragu apakah ada orang yang bisa melihat kaki-kaki mereka melalui debu yang menutupi udara, batu-batu yang terus berjatuhan, kilatankilatan mantra.

Mereka berlari turun di tangga berikutnya, menemkan koridor penuh dengan para petarung. Lukisan di kedua sisi penuh dengan sosok-sosok, meneriakkan saran-saran dan dukungan, di mana para Pelahap Maut bertopeng atau tidak bertarung dengan para siswa dan guru. Dean sudah memperoleh tongkat, dia sedang bertarung dengan Dolohov, Parvati dengan Travers. Harry, Ron, dan Hermione mengacungkan tongkat saat itu juga, siap-siap menyerang, tapi para petarung sedang mengayunkan dan melontarkan manta sedemikian rupa sehingga besar kemungkinan melukai salah satu dari pihak mereka sendiri kalau mereka merapal mantra. Bahkan saat mereka berdiri terpaku, mencari kesempatan untuk bertindak, terdengar suara keras, wheeeeeeeeeeee, dan saat Harry melihat ke atas ia menemukan Peeves membubung ke udara menjatuhkan polong kacang Snargaluff pada para Pelahap Maut, kepala-kepala mereka tiba-tiba ditelan umbi-umbian hijau menggeliat-geliut sepeti cacing-cacing gemuk.

“Argh!”

Sekepalan umbi mengenai Jubah di kepala Ron, akar hijau berlendir tergantung di udara saat Ron mencoba melepaskannya.

“Seseorang tak terlihat di sana!” teriak seorang Pelahap Maut menunjuk.

Dean menjadikan seorang Pelahap Maut yang teralih perhatiannya, menjatuhkannya dengan Mantra Pembius: Dolohov mencoba membalas dendam dan Parvati menembakkan Mantra Ikat Tubuh padanya.

“AYO!” Harry berteriak, dan dia, Ron, dan Hermione bersama di bawah Jubah lebih rapat lagi, kepala dirundukkan di antara para petarung, terpeleset sedikit di kolam cairan Snargaluff, menuju ke tangga marmer ke Pintu Masuk.

“Aku Draco Malfoy. Aku Draco,aku di pihakmu!”

Draco sedang di atas, memohon pada seorang Pelahap Maut bertopeng. Harry meMingsankan Pelahap Maut itu saat mereka lewat: Malfoy mencari-cari, sambil berseriseri, mencari penolongnya, dan Ron meninjunya dari bawah Jubah. Malfoy terjengkang menindih Pelahap Maut yang tadi, mulutnya berdarah, benar-benar melongo.

“Dan itu kali kedua kami menyelamatkan hidupmu malam ini, dasar bajingan bermuka dua!” Ron berteriak.

Lebih banyak lagi yang sedang bertempur di mana-mana, di tangga dan di Pintu Masuk, Pelahap Maut di mana-mana yang Harry lihat: Yaxley dekat pintu depan bertarung dengan Flitwick, seorang Pelahap Maut bertopeng berduel dengan Kingsley tepat di sisi mereka. Siswa-siswa berlarian ke segala arah, beberapa membawa atau menyeret teman yang luka. Harry mengarahkan Mantra Pembius pada Pelahap Maut bertopeng, luput tapi nyaris kena Neville, yang muncul entah dari mana dan melepas sepemelukan Venomous Tentacula yang berjungkir balik dengan gembira di sekitar Pelahap Maut terdekat dan mulai menggulungnya.

Harry, Ron, dan Hermione berjalan cepat ke arah tangga pualam: pecahan kaca di kiri mereka, jam pasir Slytherin yang menandai poin asrama, batu jamrudnya berceceran di mana-mana, sehingga orang terpeleset dan berjalan terhuyunghuyung saat mereka berlari di situ. Dua sosok jatuh dari balkon di atas saat mereka sampai ke atas dan Harry melihat samar-samar seekor binatang berkaki empat berlari cepat melintas Aula untuk menancapkan giginya pada yang jatuh.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.